Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Jujur Tapi Bohong


__ADS_3

Aldo dan Belinda pun akhirnya sampai di indonesia setelah duduk diam dalam pesawat selama delapan belas jam.


"Bu Bella, mau langsung pulang ke rumah?" Aldo ingin mengantarnya karena mobil pribadinya sudah ada di bandara.


"Emzzz, mau langsung saja ke kantor" Jawabnya.


"Baiklah ayo saya antar" Aldo pun mengantarkan Belinda ke kantor tanpa memberitahu siapa-siapa yang ada disana termasuk Tiffany.


Di dalam mobil terasa sekali kecanggungan antara Aldo dan Belinda mengingat hal yang semalam membuat Belinda begitu kepikiran.


Skip


Belinda menginjakan kakinya lagi kantor milik papanya. Dia sudah berperasaan tidak enak karena semacam mencium ketidak beresan.


Tiba di kantor, dia berjalan melewati meja kerja Victoria yang kosong, lalu berjalan ke ruang kerja Tiffany.


Pintu di buka dan alangkah terkejutnya jika map pekerjaan numpuk sampai seratus dua puluh dua buah map mangkrak di atas meja kerja yang tuannya entah kemana.


"Breng*ek"


"Tidak bisa di andalkan"


"Binatang kau Fany"


Belinda terus memaki sang adik. Dia membuka satu persatu map itu dan membuat dia jengkel pada sang adik adalah persetujuan gajihan seluruh karyawan kantor dan buruh pabriknya, bulan ini belum dia tandatangani.


Brukkkkkk!!! Belinda keluar dari ruangan itu menuju aula besar mengumpulkan setiap karyawan di kantornya. Pagi itu pun sangat riuh.


"Saya mengumpulkan kalian disini pagi ini karena sangat kecewa dan prihatin! Jujur saja saya baru sampai bandara langsung kemari tidak sempat istirahat ataupun sarapan! Saya mengetahui barusan kenapa gaji kalian dan buruh pabrik belum di cairkan" Belinda saat ini menaikan sedikit suaranya.


"Maaf Bu sebelumnya karena Ibu Fany belum menandatangani surat cairnya gaji karyawan" ucap Abraham memberanikan diri.


"Kenapa kalian seratus persen mengandalkan dia? Dia itu meski adik saya tapi sama sekali tidak bisa di harapkan! Kenapa Abraham, kamu tidak menelepon saya? Kamu itu yang mengurusi soal gaji karyawan kan? Lihat karyawan yang pulang hanya menggunakan angkot tidak punya mobil seperti kamu, jika belum gajihan dia tidak punya ongkos untuk bekerja! Kamu bisa membayangkan bagaimana nasib karyawan saya yang punya bayi? Jika belum gajihan darimana untuk membeli susu anaknya? Bagaimana jika karyawan saya yang hidupnya di kontrakan, mereka belum gajihan lantas di keluarkan dari tempat tinggalnya? Kalian yang bekerja di kantor bisa berpikir itu tidak? Kalian memang tidak butuh uang? Abraham hidup itu harus kreatif dan berinovasi sendiri, tidak selamanya taat aturan itu baik. Cairkan semua gaji karyawan dan buruh sekarang. Ini kali pertama perusahaan kita telat membayar karyawan dan buruh pabrik.


Bubar sekarang kembali lagi ke meja kalian masing-masing.


Seluruh karyawan membubarkan diri semua. Hal ini tak luput gosif oleh mereka.


"Bu Bella hero banget! Gue kagum sama dia! Dia sebegitunya memperhatikan kita semua" ucap Reyna.


"Jiwa tanggung jawabnya besar banget! Gue malu banget sebagai stap keuangan di tegur langsung sama dia" Timpal Ambraham.


"Cepet cairkan uang gajihan kita Baham! Gue udah gak punya uang lagi" ucap Vallen.


"Siap bos dan berhasil" Abraham mencairkan seluruh gaji karyawan dan buruh pagi ini.


Rasa cape kian terasa apalagi dia masih jatlag! Mata Belinda sudah tidak mampu menopang lagi akhirnya dia pun tertidur di sofa ruangannya.


¥


Sementara di kantor milik Ben, Aldo sedang di mintai hasil kerjanya oleh Listyo.


"Aldo bagaimana keadaan kantor kita disana?" tanya Listyo.

__ADS_1


"Semua sudah stabil om! Mr Nguyen sudah di tangkap dan semua uang hasil korupsi sudah di kembalikan" jawab Aldo.


"Good job" Listyo pengacungkan kedua tangannya.


"Apa menantuku sudah pulang?" Listyo sangat mencemaskan Belinda.


"Sudah om! Dia pulang bersama saya, bahkan dia tidak pulang ke rumahnya melainkan langsung ke kantornya"ucap Aldo.


" Kasihan sekali dia tidak sempat istirahat" Gumam Listyo.


Ben langsung beranjak dari kursinya tak kala mendengar Belinda langsung ke kantornya.


"Mau kemana kau Ben?" tanya sang papi.


"Mau jemput istriku pulang" Jawabnya sembari berlalu.


Skip


Ben memasuki ruangan kerja sang istri. Di lihatnya Belinda sedang tidur dengan pulasnya tanpa memakai bantal di kepalanya.


Wajah lelah terpampang nyata disana. Ben mendekati Belinda, lalu duduk dan menjadikan pahanya sebagai bantal untuk sang istri.


Di tatapnya wajah cantik itu, di usapnya bibir ranum Belinda dengan ibu jari tangan Ben, Pipinya di elus lembut. Ben pun mencium bibir sang istri sekilas.


"Aku ini suamimu, berhak menciumu dan menyentuhmu. Tapi aku terlanjur janji dan janji itu tak boleh menyentuhmu walau hati dan raga ini meronta" Gumamnya.


Ben pun ikut tidur di sofa.


"Ben! Kenapa dia ada disini?" gumamnya.


Belinda pun beranjak dan merebahkan tubuh sang suami di sofa. Belinda segera menyelimuti sang suami dan dia langsung mencuci wajahnya.


"Ben memberikan pahanya untuk jadi bantal tidurku" Belinda bergumam dalam hatinya.


Tapi video Ben dengan wanita itu selalu berputar dalam otaknya dan seketika hatinya menjadi nyeri kembali. Dia pun keluar dari kamar mandi dan sudah mendapati Ben bangun dari tidurnya.


"Bella kenapa tidak langsung pulang ke rumah?" Ben menghampiri sang istri.


"Kenapa aku harus pulang?" tanya Belinda.


"Karena kamu pasti sangat kelelahan Bella. Aku mengkhawatirkanmu" Ben tampak sedikit tersulut emosi.


"Aku memang cape tapi tidak selelah bercinta dengan j@l*ng" Belinda to the point karena hatinya sudah sangat sakit.


Ben tersentak dengan ucapan Belinda.


"Apa maksudmu Bella?" Ben nampak pucat.


Belinda kemudian memperlihatkan sebuah hasil screanshortnya membuat Ben panik bukan kepalang.


"Ini apa Ben Lazuardy Mahardika? Siapa yang sedang menempa wanita itu? Kau tentu mengenalnya bukan siapa sosok pria ini?" Belinda berkata dengan dinginnya.


"Ternyata aku kalah dengan seorang pel*c*r" Bella seketika terduduk lemas.

__ADS_1


"Maafkan aku Bella, aku di jebak. Aku di beri minuman obat tidur oleh pesaingku, saat aku aku benar-benar lemas. Aku akui aku salah. Wanita itu Pel*c*r jalanan. Wanita penghibur" Ben mengguncang-guncangkan bahu sang istri.


"Sepertinya aku tak yakin jika kau di jebak. Kau tidak sedang dalam pengaruh obat saat itu aku tahu. Kau memang sengaja bermain dengan wanita itu. Aku muak melihatmu" Belinda menepis tangan tangan Ben lalu meninggalkannya sendiri dalam ruangan itu. Ben tentu tang tinggal diam, dia segera menyusul Belinda.


Belinda langsung menaiki mobil kantor, sementara Ben menyusulnya dari belakang dengan mobil miliknya.


"Si*l kenapa bisa ketahuan begini. Tapi sepertinya Bella tidak mengetahui kalau wanita itu Tiffany" Ben kesal, tangannya memukul-mukul kemudi hingga bunyi klakson sangat nyaring membuat pengguna jalan yang lainnya kesal.


"Bangs*t loe berisik! Jangan mentang-mentang punya mobil bagus, loe bisa bunyiin klakson seenak loe. Disini raja jalanan kita. Puihhhh" ucap seorang pria di dalam mobil tronton sembari meludah ke arah mobil Ben!.


"Kampungan loe" Teriak Ben sembari menancapkan gas mobilnya meninggalkan truk yang membawa pasir.


"Gue kubur hidup-hidup loe sama pasir yang gue bawa. Dasar orang kaya sombong" supir tronton itu terus memaki Ben yang sudah menjauhi truknya.


Tiba di rumahnya, Belinda langsung masuk kedalam kamarnya di susul oleh Ben!. Belinda langsung mengambil koper dan membereskan pakaiannya. Ben langsung mencegah itu karena dia tahu Belinda pasti akan pulang ke rumah papanya.


"Mau apa kau Bella?" Ben langsung merebut koper itu.


"Lepaskan koperku Ben! Aku muak dengan mu" Belinda meronta.


Ben langsung memeluk Belinda dari belakang.


"Bella maaflan aku! Jangan pergi tolong. Apa kau tidak kasihan pada papamu karena pernikahan kita baru seumur jagung dan kau sudah pergi dari sisiku? Bella aku mohon maafkan aku" Ben terus saja memohon tanpa melepaskan pelukannya.


"Jujur padaku Ben, apa kau sengaja memanggil j@l*ng? Kau tidak di jebak kan?" Belinda terus bertanya ingin kejujuran dari sang suami.


"Iya, iya! Ku akui aku memanggil wanita itu untuk melayaniku. Aku khilaf! Mohon maafkan aku" Ben sudah bersimpuh di kaki sang istri.


Belinda pun tertawa miris.


"Kau menolaku yang sudah jelas-jelas halal di mata agama tetapi kau malah mendatangi wanita lain. Dimana otakmu Ben dimana?" Belinda menangis luruh.


Ben memeluk Belinda. Dia pun menangis entah menangis karena bersalah atau hanya ingin Belinda percaya padanya saja.


"Apakah kamu pantas di maafkan?" tanya Belinda dengan suara tercekat.


"Aku memang bersalah! Tapi aku pun ingin kesempatan kedua. Ayo kita bangun pernikahan ini dari sekarang" ucap Ben merasa yakin.


Belinda hanya diam. Tiba-tiba telepon Ben berbunyi dan terlihat nama Red Lily menghubunginya. Hal itu terlihat oleh Belinda.


Ben pun langsung menjauh dan mengangkat panggilan itu.


"Hallo sayang!" ucap Ben pada Tiffany dengan suara pelan.


"Sayang tolong aku sayang. Ben kemarilah temui aku di Magnolia Hotel" ucap Tiffany dengan suara dibuat seperti seorang pesakitan.


"Kau kenapa sayang?" tanya Ben cemas.


"Cepat kemari sayang aku, akhhhhh.. Tutttt tuuuutttt tuuuuuut" Panggilan itu terputus secara sepihak membuat Ben semakin cemas dan seketika pergi meninggalkan Belinda yang masih kecewa.


Belinda mengetahui Ben pergi hanya menatapnya dengan nanar.


"Red Lily siapa dia? Akan kucari tahu" Gumam Belinda geram.

__ADS_1


__ADS_2