
Dua hari lagi Belinda akan pulang ke Indonesia. Rasa hati ingin memaki sang suami sangat besar. Ben yang dia pikir enggan menyentuhnya karena belum mencintainya ternyata dia malah bermain cinta dengan wanita yang dia pikir seorang j@l@ng.
"Arghhhh aku sangat bodoh ternyata. Ben yang akhir-akhir ini bersikap manis padaku ternyata hanya mengelabuhiku saja" ucapnya lirih...
Ponselnya berdering dan itu Ben yang menghubungi. Rasa malas menjalar pada dirinya. Entah sesudah ini bagaimana dia bersikap pada pria yang pandai berkamuflase itu. Jarinya mendial layar yang berwarna hijau.
"Hallo Ben" ucap Belinda dingin.
"Bella, kamu sedang apa? Kapan akan pulang?" tanya Ben dengan senyuman Buayanya🐊🐊.
"Kenapa kau bertanya demikian Ben?" tanya Belinda singkat.
"Tidak, aku hanya bertanya saja. Bolehkan aku melihat wajamu Bella?" Ben mendial tombol Video Call.
Belinda pun menerima panggilan video call itu. Terlihatlah wajah Belinda yang tampak lelah dengan mata yang sedikit sembab.
"Bella, kau sehat?" tanya Ben.
"Sehat!" jawabnya.
"Mentalku yang tidak sehat" ucapnya dalam hati.
"Bella, apa kau tahu, aku disini kebingungan karena tidak ada yang membangunkanku, menyiaplan baju dan membetulkan dasi miringku" Ben berkata tulus dari dalam hatinya.
Memandang wajah sang istri ada debaran menenangkan di hati Ben.
"Kalau hanya untuk seperti itu kau bisa saja menyuruh Bik Lilis Ben" ucap Belinda singkat.
"Istriku itu kamu Bella" Ben sedikit tak suka.
"Ya, ya, ya! Tapi kau belum mempersistriku secara hatimu dan prilaku Ben! Yasudah aku mengantuk. By" Belinda segera mematikan sambungan video call itu.
Ben sebenarnya ingin bertanya kapan detailnya Belinda pulang agar dia, orang yang pertama menyambutnya tapi sayangnya Belinda ogah berbicara lama-lama dengannya.
"Bella kau kenapa seperti sedang menyembunyikan sesuatu padaku?" Ben menghela nafas panjang. Ingatannya langsung pada Victoria yang memergokinya ketika sedang bercinta dengan Tiffany, dia takut jika gadis itu mengadu pada Belinda.
"Apa dia mengadu pada Bella? Argghhhhhh si*al harus bagaimana ini" Ben merutuki dirinya. Prasangka buruk langsung menghantui dirinya. Ben pun langsung menelepon Tiffany dengan perasaan khawatir.
"Hallo sayang' Ucap Tiffany dari seberang sana.
"Sayang sepertinya asisten pribadi Bella mengadu soal hal yang dia lihat tadi" ucap Ben.
"Apa? Victo mengadu? Kenapa kau berkata demikian Ben?" tanya Tiffany.
"Sewaktu ku telepon,
Bella acuh padaku" jawab Ben kacau.
"Tapi rasanya tidak mungkin dia melaporkan itu" ucap Tiffany dengan nada ragu.
"Atau Kak Bella sedang cape saja Ben! Kau tak usah berasumsi sendiri" Tiffany mencoba menenangkan Ben.
Ben pun menutup panggilan telepon itu. Dia memandangi poto pernikahannya yang baru selesai di cetak kemarin.
"Bella, kamu sangat cantik, tapi sayang lebih dahulu masuk kerelung hatiku adalah Tiffany" ucapnya dengan jari tangan mengusap-usap poto itu.
Pagi pun tiba, seperti biasa Victoria sudah mejeng anggun di kursi kerjanya. Tidak biasa Tiffany datang lebih awal membuat Victoria dan Reyna heran.
"Victo, tumben si nenek lampir datangnya pagi" celetuk Reyna.
"Tak tahu lah mungkin dia sudah sadar" jawab Victoria.
Interkom di mejanya pun berdering, Victoria segera mengangkatnya.
"Selamat pagi, dengan PT Cipta Sejahtera, ada yang bisa kami bantu?" ucap Victoria sopan.
__ADS_1
"Victo keruang saya sekarang" suara tegas orang yang ada di balik panggilan interkom itu.
"Baik Bu" jawab Victoria.
"Siapa Victo?" tanya Reyna.
"Bu Fany nyuruh gue ke ruangannya. Apa ya kok perasaan gue gak enak begini" Victoria terlihat was-was.
"Relax ya beb! Apapun yang terjadi loe harus hadapi karena gue tahu loe tidak salah" Reyna terus saja menyemangati kawannya itu.
Victoria pun melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki ruangan Tiffany.
Dia mengetuk pintu ruangan milik Tiffany.
"Masuk!" ucapnya tegas.
Victoria langsung masuk dan mendapati Tiffany sudah berkacak pinggang dan langsung melemparkan map kearah Victoria.
"Lihat itu! Saya tidak menyangka kamu sudah berbuat kriminal di perusahaan saya." ucap Tiffany berapi-api.
"Apa maksud anda?" Victoria terlihat bingung.
"Saya mendapatkan laporan bahwa kamu sudah menggelapkan uang perusahaan sejak satu tahun terakhir!" ucap Tiffany sembari melotot ngeri.
"Penggelapan apa Bu? Saya tidak pernah bermain kotor dengan uang perusahaan! Lagi pula saya tidak mengurusi soal uang di perusahaan ini. Saya hanya asisten pribadi Bu Bella, itu saja" Victoria tidak terima dengan tuduhan keji itu.
"Itu alibi kamu saja. Lihat itu laporan. Semua kebocoran dana tertulis disana dan tanda tangannya pun, tandatanganmu kan Victo?" Tiffany terus bermain kata-kata.
Victoria memeriksa map itu dan alangkah terkejutnya jika tanda tangannya ada dalam setiap data penyelewengan uang perusahaan. Seketika itu juga badan Victoria merosot luruh di atas lantai.
"Ini tidak benar Bu!" ucap Victoria sudah tidak bisa menahan tangisnya.
"Alah sudahlah jangan bersandiwara depan saya. Hari ini kamu saya pecat! Silahkan bereskan seluruh barang-barangmu. Saya tidak akan melaporkan kamu ke polisi karena saya masih berbaik hati padamu. Sebelum kamu pergi dari perusahaan ini kerjakan dulu tugas saya! Dan ingat satu hal jangan pernah berhubungan lagi dengan Bu Bella" ucapnya.
"Ckkk!!! Sebenarnya ini hanya akal-akalan anda saja memecat saya dengan tuduhan keji. Tuduhan murahan! Sebenarnya anda takut kan jika aksi menjijikan anda kemarin saya bongkar? Tenang saja saya bukan manusia yang suka membongkar aib orang lain. Tapi ingat suatu hari juga akan terbongkar" ucap Victoria berapi-api.
"Kurangajar kamu berani sekali padaku! Sebelum kamu benar-benar pergi kerjakan dulu pekerjaan saya" ucapnya tidak tahu malu.
"Saya punya harga diri. Dan anda bukan atasan saya lagi. Saya mengabdi hanya pada Bu Bella" Victoria pun langsung keluar dari ruangan itu.
Tiffany merasa limbung tak kala mengetahui jika Victoria tidak mengatakan apapun dan dia sudah terlanjur memecat karyawan terbaik di kantor ini.
"Argghhh si*l aku terlalu gegabah" umpatnya.
Victoria menangis di meja kerjanya sembari membereskan barang-barangnya kedalam sebauh kardus. Hal itu memantik rasa penasaran semua karyawan disana.
"Victo, loe kenapa?" tanya Vallen rekan seruangannya.
"Gue di pecat Vallen" ucap Victoria sembari sesegukan menangis.
"Apa? Kok bisa loe di pecat?" tanya Reyna yang ikut mengerubungi Victoria.
"Gue di Fitnah korupsi di kantor ini. Siapa yang tega membuat laporan itu. Secuil pun gue tidak pernah mengambil yang bukan milik gue dan anehnya tanda tangan gue ada disana" Victoria semakin memangis.
"Sepertinya ada yang bermain disini" Tuduh Reyna.
"Gue curiga pada dua orang disini" seloroh Vallen.
"Maksud loe Vallen?" tanya Reyna.
"Jika itu bukan tanda tangan Victo, pasti disini ada yang bisa menirukan tanda tangan orang lain dan ada yang memanifulasi data. Gue curiga sama Pak Hilmi. Dia kan jago niruin tanda tangan orang" ucap Vallen.
Victo pun langsung berlari keruangan Hilmi.
Brukkkk!!! Map itu di lemparlan kewajah Hilmy yang sedang bekerja membuat dia terperanjat.
__ADS_1
"Ini ulah loe kan Hilmi? Loe memanifulasi tanda tangan gue? Ngaku loe?" Victoria sangat geram dengan pria tambun di hadapannya.
Hilmy tampak gugup tersirat di wajahnya.
"Ngomong apa sih loe Victo? Jangan fitnah ya loe. Gue gak tahu" jawabnya dengan gugup.
"Loe berani berbohong? Gara-gara ini gue di pecat! Ngaku gak atau gue bilang ke kakek gue yang di Kalimantan buat mindahin burung loe ke kening. Ngaku loe ngaku Hilmy" Desak Victoria.
"Ya gue ngaku itu ulah gue! Tapi sumpah demi apapun gue di suruh" Akhirnya Helmy mengakuinya.
"Disuruh siapa?" Victoria semakin geram.
"Gue disuruh Bu Fany. Gue di ancam kalau gak nurutin kemauan dia, gue bakal di pecat. Loe tahu kan istri gue baru melahirkan butuh banyak biaya. Maafin gue Victo" Hilmy tampak merasa bersalah sekali.
"Sudah gue duga memang itu ulah dia. Siapa lagi yang terlibat?" tanya Victo.
"Pak David yang membuat data fiktipnya" Hilmy pun tak ingin di salahkan sendirian.
"Kepa*at kalian berdua" Victoria berlari keruangan David.
Disana tampak David terlihat mengantuk dan kelelahan.
Plakkkk!! Map itu di lemparkan pada wajah David membuat dia tersentak.
"Apa-apaan kau ini tak sopan sekali" David langsung marah-marah.
"Bagaimana lelah bukan membuat data murahan? Kenapa anda lakukan ini pada saya? Jujur atau saya akan melakukan sesuatu padamu?" ucap Victoria.
"Apasih! Kamu ngancam saya Victo?" tanya David dengan gurat ketakutan karena dia tahu Victo punya darah orang dayak.
"Siapa yang menyuruhmu Pak David?" Victo berkata sekali lagi.
"Oke saya jujur, saya di suruh Bu Fany merekayasa data itu. Saya tersiksa semalaman tidak tidur. Dia mengancam saya jika tidak mau akan memecat saya" ucap David.
"Maafkan saya Victo" David akhirnya meluruh dan mengakui kesapahannya.
"Breng*ek" ucapnya sembari keluar dari ruangan David.
Skip.
Dengan langkah gontai, Victoria keluar dari kantor itu. Kantor yang sudah lima tahun menjadi tempat dia mengais rejeki sebagai asisten pribadi Belinda. Dia pun mengambil ponselnya lalu menelepon Belinda. Tak butuh waktu lama Belinda pun mengangkatnya.
"Hallo Victo!" sapa Belinda.
"Bu Bella...Hikhikhik... Maafkan saya jika selama bekerja dengan anda saya banyak salah" Ucapnya sembari menangis. Lalu seketika mematikan telepon secara sepihak. Victoria langsung mematahkan kartu sim nya agar Belinda tak bertanya-tanya nantinya.
Belinda merasa heran dengan sikap gadis itu. Lalu dia langsung menghubungi Tiffany.
"Fany, Mana Victo?" tanya Belinda langsung pada intinya.
"Victo sudah kupecat!" jawabnya.
"Apa? Kau pecat Victo? Kenapa kau lancang sekali itu aspriku" Belinda menjadi bingung.
"Dia sudah korupsi di perusahaan kita sejumlah sepuluh milyar. Kemana saja kau selama ini kenapa tidak mengetahui ulah licik dia?" ucap Tiffany berusaha menyakinkan.
"Jangan main-main dengan ku Fany! Victo tidak mungkin melakukan hal sejahat itu. Dia gadis yang jujur" Belinda tidak percaya.
"Oke jika kau tidak percaya, akan ku kirimkan datanya lewat e-mail. Kak Bella boleh periksa sendiri" Tiffany pun mengirimkan sata itu.
Belinda segera memeriksanya dan benar saja tanda tangan Victoria ada dalam laporan itu membuat dia syok.
"Victoria aku tidak menyangka ternyata kau jahat" gumam Belinda dengan air mata yang sudah keluar.
"Kurang apa aku selama ini padamu Victo, gaji tiga puluh juta satu bulan beserta tunjangan-tunjangannya ternyata belum cukup puas untuk mu" Belinda hanya diam dengan dada menyesakan.
__ADS_1