Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Tetap mendoakan


__ADS_3

Makan malam pun tiba! Tidak ada suara hanya ada denting sendok, garpu dan piring yang saling beradu. Tiffany duduk dekat Belinda. Akhirnya makan malam pun selesai, tetapi mereka tidak langsung meninggalkan meja makan.


"Bagaimana keadaan perusahaan kak?" tanya Tiffany.


"Baik, aman dan terkendali" jawab Belinda seadanya.


"Memang perusahaan itu cocoknya hanya di pegang oleh kau kak! Aku sih sebenarnya tidak minat. Aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga saja dan mengabdikan diri ini pada suami. Benarkan Kak Ben? " ucap Tiffany yang membuat Ben terkejut.


"Hmmmm oh iya. Itu pilihan yang bagus" ucap Ben gugup.


Tiffany malam ini tidak akan menggangu Ben! Dia yakin Ben tidak akan tergoda oleh Belinda. Dia pun lelah dan ingin tidur saja.


Di dalam kamar, Belinda masih memegang laptopnya untuk memeriksa e-mail dari Victoria asisten pribadinya.


"Istirahatlah Bella" ucap Ben.


Entah kenapa Ben merebahkan tubuhnya di ranjang. Nalurinya ingin tidur dekat Bella.


"Sebentar lagi hanya mengecek e-mail dari aspriku saja. Kamu tidur saja duluan" ucap Belinda tanpa menoleh ke lawan bicaranya.


Ben pun terpejam tapi entah tak ingin tidur.


Belinda menyusul Ben ke atas ranjang. Dia bersandar pada dinding ranjang dan seketika menengadahkan tangannya ke atas. Hal itu tak luput dari pengamatan Ben.


"Ya Tuhan terimakasih atas segala nikmat dan karuniamu padaku! Maafkan segala dosaku dan dosa keluargaku. Maafkan aku belum bisa menjadi seorang hamba yang taat. Ya Tuhan aku berharap engkau selalu memberikanku kesehatan agar kubisa terus bekerja dan memberi manfaat untuk seluruh karyawanku. Hidup mereka adalah tanggungjawabku. Semoga engkau memberikan kesehatan untuk suamiku dan sedikit membuka hatinya padaku! Dan semoga adikku secepatnya diberikan jodoh yang tepat..... Amin" Belinda pun menangkup kan kedua tangannya ke wajahnya.


Ben mengaminkan dalam hatinya.


"Terimakasih Bella kau sudah mendoakan pria bejat sepertiku" Ucap Ben dalam hatinya.


Belinda pun tertidur di sisi Ben dengan posisi membelakangi dan meringkuk. Ben bangun dan menyelimuti tubuh indah itu dia pun memeluk Belinda dari belakang dan membenamkan kepalanya di rambut Belinda.


Pagi pun tiba, pasangan suami istri itu masih tertidur dengan posisi saling berpelukan namun Ben yang sudah bangun merasa terkejut dan sontak menggeser tumbuhnya dari dekapan Belinda.


"Oh god apa yang sudah ku lakukan? Bagaimana jika Tiffany tahu! Kenapa bisa kecolongan begini sih! Tapi aku sangat nyaman dengan posisi tidur seperti itu" Ben pun segera masuk kedalam kamar mandi.


Sesudah selesai mandia dia langsung berganti pakaian yang sudah Belinda siapkan tadi malam di dalam walk in closet.


Belinda pun bangun dan melihat Ben sudah berganti pakaian.


"Mau kemana sepagi ini mas?" tanya Belinda.


"Aku berangkat pagi karena ingin mempersiapkan rapat tahunan" jawabnya.


"Dasimu miring mas! Aku benerin ya" Belinda meraih dasi itu membuat mereka berdua saling pandang dengan tatapan dalam.


"Terimakasih Bella. Aku berangkat kerja duluan. Aldo akan menjemputmu satu jam lagi dari sekarang" Ben pun keluar dari kamar di susul Belinda mengekorinya. Tiffany yang sudah rapih juga hendak pergi.


"Mau kemana kamu Fany?" tanya Belinda.


"Ke kantor lah kak! Oh ya kaka ipar boleh ikut nebeng? Soalnya tanganku pegal untuk menyetir sendirian" Tiffany sengaja memelas.


"Baiklah ayo" ucap Ben.


Merekapun berangkat berdua tetapi tujuannnya bukan ke kantor, melainkan ke sebuah restoran mewah. Pekerjaan Ben sudah dia limpahkan kepada Aldo. Pasangan tak berperasaan ini pergi untuk bermesraan.

__ADS_1


Belinda yang tidak percaya dengan ucapan Tiffany kemudian menelepon asistennya Victoria.


"Hallo Bu Bella! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Victoria.


"Hallo Victo, kamu sudah di kantor?" tanya Belinda.


"Saya belum sampai Bu! Masih di dalam taksi" jawabnya.


"Saya minta jika Bu Tiffany datang ke kantor segera beritahu saya" ucap Belinda.


"Baik Bu" jawab gadis itu.


Tak lama Aldo pun sampai di halaman rumah Belinda. Lilis yang sedang menyiram bunga langsung mempersilahkan pria tampan itu untuk masuk. Aldo pun masuk dan menunggu Belinda di ruang tamu.


"Pak Aldo anda menjemput saya?" tanyanya.


"Ya. Apakah anda sudah siap berangkat?" tanya Aldo.


"Sudah" jawabnya.


Mereka pun langsung berangkat menaiki mobil yang Aldo kemudikan.


Di kursi penumpang, Belinda sesekali melirik pria berwajah tampan itu. Rahangnya tegas, Hidung mancung, bibir sedikit tebal dan alis yang hitam membuat pikiran kotor Belinda bangkit.


"Bagaimana rasanya jika bercinta dengan Aldo? Menari di atas tubuh kekarnya dan menikmati setiap hujaman yang Aldo lakukan ketika mengungkungku. Tapi tidak, tidak ini tidak boleh. Duh otak kenapa kau mesum sekali. Suamiku Ben bukan Aldo" gumamnya dalam hati.


Mereka pun akhirnya sampai di kantor milik Belinda.


"Sudah sampai Bu!" seru Aldo.


"Bu Bella ini saya kembalikan kotak bekal anda yang kemarin" Aldo menyerahkan kotak makan itu dan segera di terima oleh Belinda.


Belinda berjalan menuju keruangannya.


Dia melihat Victoria sedang menata berkas di meja kerjanya.


"Selamat pagi Bu Bella" ucap Vicroria sembari membungkuk.


"Pagi Victo! Bagaimana apakah Bu Fany sudah datang?" tanya Belinda.


"Belum datang Bu! Saya menunggunya dari tadi untuk meminta berkas yang akan Bu Fany kerjakan!" ucap Virctoria.


Belinda menjadi kesal dengan sang adik. Dia langsung menghubungi Tiffany.


"Hallo kak!" ucap Tiffany di seberang telepon.


"Dimana kamu hah? Kamu bilang akan berangkat ke kantor, tapi tidak ada. Victoria sudah menunggu hasil kerjamu. Itu materi Meeting kita bersama Mrs Jeniffer lincoln nanti jam sepuluh. Apa berkasnya sudah selesai Fany?" tanya Belinda dengan kesal.


"Belum! Aku lupa maaf ya kak Bella" ucapnya tanpa merasa berdosa.


"Dasar bodoh. Begitu saja tidak becus! Dimana kamu sekarang?" Belinda sudah tak sabar lagi dengan tingkah laku sang adik.


"Kau tak usah membentaku!" ucap Tiffany ketus.


"Kau dimana sekarang? Cepat kembali ke kantor atau aku cari dan seret di sepanjang jalan! Kau tahu meeting akan di adakan dua jam lagi dan berkasnya belum kau buat, Manusia macam apa kau ini dek! Jika kerjasama ini batal makan kita akan kehilangan jutaan dolar. paham kau!" Belinda sudah berapi-api.

__ADS_1


Tiffany saat ini sedang bercumbu di pangkuan Ben di sebuah taman privat.


"Ben antarkan aku ke kantor! Kak Bella marah besar padaku karena aku lupa membuat berkas meeting dengan rekan bisnis dari America. Kak Bella itu macan tidur gawat kalau sudah marah" ucap Tiffany ketar-ketir.


Ben pun mengantarkan Tiffany ke kantornya.


Di kantor, Belinda tampak panik dan memerintahkan Victory membantunya menyusun materi meeting untuk presentasi.


" Victo ayo bantu saya buat materi untuk Meeting. Cepat kita tidak ada waktu lagi" ucap Belinda sembari mengoperasikan komputernya.


"Baik Bu ayo sekarang" Victory segera bekerja.


Dua jenius ini langsung gerak cepat melakulan pekerjaannya. Sementara Tiffany sedang tegang karena di jalan dia terjebak macet! Dia tak henti-hentinya menelepon Belinda tetapi nomor sang kakak tidak aktif.


Suasana tegang di kantor akhirnya mereda juga setelah materi Meeting selesai di kerjakan oleh Victoria dan Belinda.


"Sukurlah semua bisa teratasi. Terimakasih Victo" ucap Belinda.


"Sama-sama Bu. Senang bisa membantu" jawab Victoria.


"Oh ya berapa bulan lagi cicilan mobilmu Victo?" tanya Belinda.


"Tiga bulan lagi Bu" ucap gadis itu malu-malu.


"Saya akan melunasinya. Uangnya akan saya transfer ke rekening kamu sebagai tanda terimakasih saya karena kamu sudah membantu saya menyelamatkan perusahaan ini dari rasa malu" Belida langsung mentransfer sejumlah uang ke rekeining Victoria.


"Terimakasih Bu!" ucap Victoria dengan bahagia.


Tiffany pun akhirnya sampai di kantor! Disana sudah ada Belinda menunggu dengan murka di ruang kerjanya.


"Kak maaf tadi di jalan macet!" ucapnya sembari menyum-senyum.


Plakkkkkk! Belinda melemparkan berkas kosong kewajah sang adik.


"Selalu saja tidak becus dalam masalah apapun! Dengan siapa kau pergi Tiffany?" tanya Belinda.


"Kau tak usah kasar padaku! Aku pergi bersama kekasihku" jawabnya santai.


"Ckkk!! Dengan laki-laki pengecut yang tak ingin menampakan batang hidungnya pada keluargamu!" Belinda sangat muak.


"Jangan meremehkan kekasihku bodoh! Aku menghabiskan waktu dengan pujaanku itu keingiannku. Kau mana tahu artinya di cintai oleh pria! Kau ini hanya perawan tua yang menikah saja harus di jodohkan" timpal Tiffany tak mau kalah.


"Jaga batasanmu Tiffany. Mencintai dan di cintai bagiku tidaklah penting! Oh jangan-jangan kau memacari om-om tua ataukan kau memacari suami orang ya? Dan aku yakin kau sudah tidak perawan lagi. Awas akan ku cari pecundang itu jika perlu ku telanjangi depan papa dan mama" Belinda semakin memojokan sang adik.


"Hanya hubungan racun yang sembunyi-sembunyi" ucap Belinda lagi.


"Sialan kau kak! Lihat saja nanti suatu saat kau akan tahu kekasihku dan kau menangis darah sesudah itu" Tiffany mulai tersulut emosinya lagi.


"Oh ya? Buktikan saja" Ucap Belinda yang berjalan keluar dari ruangan Tiffany.


"Segera kau temui aku di ruang meeting! Dan bereskan kekacauan ini" ucap Belinda langsung menutup pintu ruangan itu.


Tiffany sangat kesal dengan sang kakak! Di balik sikap kalem dan diamnya ternyata dia sangat mengerikan.


"Bagaimana jika dia tahu kalau akulah kekasih Ben, apa dia aian membunuhku?" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2