Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Hadiah Dari Opa Nakamura


__ADS_3

Haruni sudah dua minggu tidak menyapa Tiffany. Hatinya kesal karena menurutnya Tiffany lah penyebab Belinda menghilang. Tubuhnya tampak lebih kurus dan tak banyak bicara.


"Ma, kenapa belum di makan pudingnya?" tanya Dhanu melihat sang istri hanya diam saja.


"Mama hanya ingin Bella kembali" ucapnya singkat.


"Mama jangan begini. Masih ada Tiffany" bujuk Dhanu.


"Tidak! Aku hanya ingin putriku kembali tidak ingin siapun" Haruni lalu melangkahkan kaki berjalan menuju kamarnya.


Haruni bertemu Tiffany karena pagi ini dia datang kerumah orang tuanya. Tiffany semenjak menikah dengan Ben, dia tinggal di apartemen Ben karena Listyo menolak serumah dengannya karena masih kesal dengan perceraian menantu idamannya yaitu Belinda.


"Pagi ma!" sapa Tiffany, tetapi Haruni hanya melengos sembari memandang nyalang pada Tiffany.


"Dasar anak sia*an" umpatnya lalu masuk kedalam kamar.


Hal ini membuat Tiffany tak terima.


Toktoktok!!!!! Ketukan pintu kamar Haruni.


Haruni pun membuka pintu itu.


"Apa?" tanyanya ketus.


"Kenapa mama bilang begitu padaku?" Tiffany sudah berapi-api.


"Apa yang salah dengan ucapanku?" tantang Haruni.


"Mama jadi berubah semenjak Kak Bella pergi!" Tiffany mulai terisak.


"Karena kamu sudah menyakiti anaku! Membuat dia pergi dan tak tahu aku harus mencarinya kemana" ucap Haruni emosi.


"Aku juga anakmu ma" pekik Tiffany.


"Tapi kau selalu menyakitiku dan Kakakmu. Ingat ya Fany, jika Bella tidak kembali, kau dan Ben adalah orang yang akan aku benci selamanya" Haruni berkata dengan meledak-ledak dan langsung menutup pintu dengan kasarnya didepan wajah Tiffany.


"Mama buka ma, kenapa mama jadi pilih kasih begitu? Ma, Kak Bella pergi atas kemauan dia sendiri. Ma, buka kita harus bicara" Tiffany menggedor-gedor pintu kamar itu sampai dia lelah sendiri.


Dhanu menghampiri Tiffany.


"Ada apa ini?" tanya Dhanu heran.


"Aku cape pa, mama selalu menyalahlanku atas perginya Kak Bella" Tiffany berkata dengan tangisan.


"Sudah, biarkan saja mamamu sendiri dulu. Dia butuh waktu menerima ini semua. Sudah ya, papa berangkat kerja dulu" Dhanu segera pergi dari hadapan sang putri.

__ADS_1


"Ini tidak adil! Kak Bella kau sudah menghilang saja selalu di tangisi, di ratapi oleh mama. Kenapa tidak kau mati saja" Ucap Tiffany menggelegar.


Brakkkkkkk!!! Pintu kamar haruni kembali terbuka memperlihatkan sang empu berdiri dengan dada kembang kempis menahan amarah.


"Bilang apa kau?" bentak Haruni.


"Mama tidak adil, selalu saja memihak pada Kak Bella" Tiffany balas membentak.


"Karena Bella putriku, paham! Dia yang bisa keluarga ini andalkan bukan kau. pernah tidak selama hidupmu membuat keluarga bangga? Aku sudah sabar mengghadapimu dengan sikap kurang ajar seperti ini. Kau tak bisa sedikit saja menghormati kakakmu. Kepergian Bella entah kemana karena pikirannya terlalu kacau dengan drama yang kau dan Ben buat" cecar Haruni.


"Lihatlah papamu, setiap hari pergi kekantor lalu pulang dengan badan lemas karena lelah, pernah tidak sedikitpun kau kasihan terhadap papamu? Kau hanya mementingkan egomu sendiri Fany. Aku kecewa padamu" cecar haruni lagi.


"Yang harus di salahkan atas hilangnya Kak Bella itu ya dirinya sendiri, ma. Kenapa dia pergi selepas bercerai. Aku tidak merebut Ben, aku hanya mengambil apa yang seharusnya jadi miliku ma" jawab Tiffany tidak terima.


"Pergi dari sini" Haruni lalu mendorong tubuh Tiffany hingga keluar lalu menguncinya..


Haruni tak ambil pusing mendengar Tiffany teriak dan menggedor pintu rumahnya. Saat ini Haruni hanya menangis meratapi hancurnya keluarga ini.


"Apakah akan membuat keluargaku hancur untuk yang kedua kalinya, Ratna?" gumam Haruni sembari menyebut nama adik tirinya yang sudah tiada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini haruni sudah berada di pemakaman umum di depan batu nisan yang bertuliskan Ratna Sumarni.


"Aku datang Ratna!" ucap Haruni sembari meletakan bunga tulip di pusara itu.


"Bertahun-tahun aku mencoba melupakan kejadian itu, tetapi aku selalu teringat Ratna! Semoga Tuhan selalu memberikan kesabaran untuk ku bisa tetap tulus merawat Tiffany. semoga dia tidak menjadi Ratna yang baru. Aku pun mendo'akan mudah-mudahan tuhan senantiasa mengampuni segala dosa yang telah kau perbuat. Maafkan aku yang belum bisa menjadi orang tua yang bijak dan belum bisa mendidik anak dengan baik. Tenang ya disisinya" Haruni pun langsung beranjak pergi dari makan Ratna.


Haruni lantas masuk kedalam mobilnya, duduk termenung dibalik kemudi karena dia tak ingin ditemani supir. Tiba-tiba ponselnya berdering dan alangkah terkejutnya ternyata Belinda yang menghubungi.


"Hallo ma" sapa Belinda.


"Bella... Hikhikhik!!!! Kamu dimana sekarang nak? Mama sakit memikirkanmu!" ucap Haruni menangis.


"Maafkan aku ma karena lari, aku hanya belum sepenuhnya menerima kenyataan ini" Belinda pun ikut menangis dari seberang telepon.


"Mama ngerti nak, mama hanya ingin tahu dimana kamu sekarang?" tanya Haruni.


"Aku berada di Jepang ma, dan mama jangan khawatir soal perusahaan karena aku masih bekerja mengawasi perusahaan. Aku juga disini baik-baik saja. Mama harus menjaga kesehatan mama" Belinda sangat mengkhawatirkan Haruni.


"Mama lega nak sudah bisa mendengar suaramu. Mama akan katakan pada semuanya kalau kamu ada di Jepang" Haruni sangat bahagia.


"Jangan ma! Cukup mama dan papa saja yang tahu" sergah Belinda.


"Aldo?" tanya nya.

__ADS_1


"Jangan ma karena Aldo bukan siapa-siapa aku" jawab Belinda.


"Sayang, asal kamu tahu Aldo sangat mencintaimu" ucap Haruni yang membuat Belinda terkejut.


"Apa? Mama jangan bercanda ma" tanya Belinda seakan tak percaya.


"Tanyakan saja pada Aldo" Jawab Haruni sembari terkekeh.


"Bella, kamu disana tidak mungkin duduk saja kan, katakan selain mengawasi perusahaan apa kegiatanmu?" Haruni sangat kepo pada sang putri.


Panggilanpun beralih ke video call, tampak wajah haruni yang tirus, dan Belinda memakai baju suster.


"Mama sepertinya terlihat kurus?" tanya Belinda.


"Itu karena mama selalu memikirkanmu na! Dan kamu kok pakai baju suster?" Haruni heran dengan pakaian yang dikenakan Belinda.


"Mama, disini aku menjadi relawan mengurusi anak di panti asuhan dan panti jompo. Aku bahagia disini ma! Dan kadang juga menjadi tenanga kebersihan" jawab Belinda dengan santainya.


"Apa? Nak kau ini seorang CEO, walau tindakan itu mulia tetapi~~ Ah sudahlah mama akan menyusulmu kesana besok" Haruni berkata dengan nada mencebik sedikit kesal.


"Jangan ma! Biarkan hatiku tenang dulu nanti juga aku pulang sendiri" jawab Belinda.


"Baiklah kalau begitu nak! Jaga diri baik-baik ya disana" Haruni dan Belinda pun mengakhiri panggilan itu.


Saat ini, Belinda dan Sofie sedang mengantarkan makan siang ke kamar no 24, kamar itu milik opa Nakamura si mantan ketua gengster Yakuza.


Tok tok tok??!!!!


"Opa kami masuk ya" ucap Sofie.


"Hmmmmmmm" jawab Opa Nakamura dari dalam.


Keduanya pun masuk, dan mendapati pria tua itu sedang memegang dua kalung emas.


"Opa saatnya makan siang" Belinda dengan telaten menghidangkan makanan dinakas kecil.


Keduanya pun siap untuk keluar dari kamar itu, tetapi Opa Nakamura menahannya.


"Tunggu! Aku ingin memberikan kedua kalung ini untuk kalian berdua" ucap pria tua itu.


"Ini kalung apa Opa?" tanya Belida heran.


"Ini kalung anggota Yakuza" jawabnya.


"Apa? Tidak, tidak Oppa! Kami tidak ingin terlibat dengan organisasi manapun. Maaf kami tidak bisa menerima itu" Sofie dan Belinda ketakutan.

__ADS_1


"Ini tidak akan apa-apa! Dengan kalian memakai kalung ini maka kalian akan mendapatkan perlindungan tanpa harus bergabung dengan kelompok kami" ucap Opa Nakamura.


"Baiklah kami terima" Belinda dan Sofie segera menerima kalung itu dan memakainya.


__ADS_2