Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Dropnya Semua Orang


__ADS_3

"Ceraikan aku sekarang juga!" kini Tiffany yang sudah sangat murka dengan ulah Ben.


"Fany!" bentak Dhanu.


"Tidak pa, aku benar-benar muak dengan Ben. Selama ini aku berusaha sabar tetapi inilah puncaknya. Aku tak kuat pa" Tiffany luruh lantai.


Haruni segera memeluk sang putri. Keadaan semakin tidak terkendali. Ben tidak menyangka bahwa perbuatannya akan menimbulkan huru-hara yang maha dahsyat.


"Fany, maafkan aku" ucap Ben lirih.


"Ceraikan aku sekarang. Aku tahu kau sudah tidak mencintaiku dan untuk apa aku bertahan dalam hubungan yang penuh dengan kepalsuan ini" ini Tiffany sudah di kuasai hawa kemurkaan.


"Jika kau ingin bersatu dengan kak Bella silahkan! Tapi yang jadi pertanyaannya kak Bella mau atau tidak dengan dirimu" ucap Tiffany kini sedikit lebih tenang.


"Sayang, tenanglah jangan begini. Semua akan baik-baik saja" Haruni menenangkan Tiffany.


Sementara Belinda kini berlari mengejar Aldo, tak sempat menyusul, tiba-tiba Belinda jatuh tersungkur dan langsung pingsan.


Listyo yang membantu mengejar Belinda langsung meraih tubuh yang masih berbalut gaun pengantin itu.


"Astaga Bella. Ya Ampun.. Tolong, tolong" Listyo teriak-teriak agar bantuan datang.


Dhanu yang baru melihat Belinda pingsan di pangkuan Listyo segera menghampirinya.


"Bung, ada apa ini?" tanya Dhanu.


"Bella pingsan" jawab Listyo.


"Arghhhh, Bella" Dhanu teriak sembari memegang dadanya.


Sepertinya penyakit jantungnya kumat. Dhanu langsung tersungkur ditempat.


"Bung Dhanu, bangun bung" Listyo menjadi semakin keos.

__ADS_1


Kini semua orang mengerubungi mereka.


Tiffany menjerit melihat Dhanu dan Belinda sudah pingsan. Karena suasana semakin tidak terkendali, Listyo pun malah ikut-ikutan jantungnya mendadak sakit dan pingsan sembari menopang Belinda.


"Papa, papi, Kak Bella... Arghhhhhhhhhhh" Jerit Tiffany.


Ben pun melihat tiga orang sudah terkapar tak sadarkan diri. Penyesalan pun sudah tak ada gunanya. Dirinya yang gegabah membuat semua orang harus menderita termasuk papinya sendiri.


"Papi bangun pi" Ben menopang kepala sang papi dengan tangisan.


Tak lama ambulance datang membawa ketiganya.


Aldo yang sempat mendengar keributan tidak menghiraukannya. Ia langsung masuk kedalam mobilnya untuk pulang ke rumah pribadinya. Meskipun Djoko sempat memintanya untuk ikut ke rumahnya tetapi Aldo menolaknya.


Ketika sudah sampai di rumahnya, emosi Aldo membuncah. Ia menghempaskan apa saja yang berada di hadapannya. Rasa resak, malu, dan tentu saja benci bercampur jadi satu dalam dirinya. Peristiwa ini bagaikan membangunkan macan tidur dalam diri Aldo. Rasa sakit ketika semasa kecil di campakkan oleh Hilda sang ibu, tidak sebanding dengan apa yang Ben dan Belinda lakukan terhadapnya.


Air mata lelakinya mengalir, tangan kekarnya terkepal menunjukan urat-uratnya.


Aldo pun langsung menyambar kembali kunci mobilnya. Ia pergi ke bar malam ini. Dalam otaknya, mungkin minum whisky sampai pagi akan meringankan beban pikirannya.


Kasihan sebenarnya jadi Aldo. Malam pengantin harusnya menjadi ajang silaturahmi kel@m*n malah berakhir menyedihkan.. Sabar ya Aldo.😢


Sementara Mieke sudah berada di kediaman Hilda karena Sarah memberitahu kondisi sang ibu menjadi drop selepas tragedi menyesakan yang di alami Aldo.


"Bagaimana keadaan mbak sekarang?" tanya Mieke memandang iba pada perempuan tua yang sedang berbaring di atas ranjang.


"Nafasku sesak, Miek. Badanku berasa tidak bertulang. Aku sakit melihat anakku sakit dan di permalukan di sana. Miek aku tidak menyangka Bella akan selicik ini" tangis Hilda pecah dengan bibir bergetar.


Mieke meraih tangan mantan kakak iparnya itu. Ia juga menangis sesegukan.


"Hikhikhik... Mbak aku lebih dari sakit. Aldo sudah ku anggap anak sendiri. Aldo bahagia, maka aku akan bahagia. Sebaliknya jika Aldo sakit, aku pun merasakan itu" ucap Mieke sembari menangis.


Di ruangan itu, tak ada seorang pun yang tidak menangis termasuk ketika adik Aldo yaitu Sarah, Dimas, dan Sigit. Rasa bahagia ketika melihat Aldo yang tersenyum pada waktu di atas pelamin kini hancur lebur karena ulah Ben dan perjanjian si@lan yang di sebutkannya.

__ADS_1


"Bu, tante sebaiknya kita jangan biarkan kak Aldo sendiri. Saya takut akan terjadi apa-apa karena saya tahu pikirannya sedang kacau" ucap Dimas dengan suara khawatir.


"Benar yang kamu bilang. Mbak sebaiknya aku pergi ke rumah Aldo dulu. Sarah kamu jaga ibumu biar tante, om Djoko, Dimas dan Sigit ikut tante sekarang" ajak Mieke yang langsung di angguki oleh semuanya.


Sementara di rumah sakit, Belinda sudah sadar dari pingsannya. Ia langsung mencari keberadaan Aldo.


"Aldo, Aldo" teriak Belinda.


"Bella, tenang nak tenang!" ucap Haruni yang menunggui Belinda.


"Ma, dimana Aldo? Dimana Aldo sekarang ma?" tanya Belinda sembari menangis.


"Aldo tidak ada. Kamu harus tenang! Istirahat ya sayang" Haruni mencoba membantu Belinda berbaring di ranjang rawatnya.


"Hikhikhik... Aldo maafkan aku, aku tidak mencoba mengkhianatimu Aldo. Ini semua hanya akal-akalan Ben saja. Aldo jangan pergi, aku sungguh mencintaimu" Belinda menangis meraung-raung.


Perawat pun datang, lalu menyuntikan obat penenang untuknya. Ia pun langsung tertidur.


"Bagaimana keadaan mertua dan papi saya, dok?" tanya Tiffany yang sedang menunggui papa dan mertuanya yang saat ini masih belum sadarkan diri.


"Dari keadaan pasien, sepertinya Tuan Dhanu akan mengalami stroke jika beliau sudah siuman atau kemungkinan kami akan melakukan operasi pemasangan ring pada jantungnya dan untuk Tuan Listyo, karena riwayat beliau tidak ada penyakit jantung sebelumnya jadi beliau harus selalu tenang" jawab dokter.


Tiffany sangat sedih luar biasa. Ben yang membuat ulah hingga seperti ini, Ben juga sekarang menghilang.


"Ben, kau memang benar-benar anj**g" geram Tiffany dengan air mata yang meleleh.


Tiffany pun kini berada di ruang rawat Belinda. Melihat sang kakak terbaring lemah dengan selang infus tertancap pada nadinya dan wajahnya sangat pucat membuat ia tidak tega. Ia tahu bahwa Belinda tidak salah, Ben lah yang sangat terobsesi dengan Belinda hingga nekat menghancurkan hari bahagia sang kakak.


"Kak Bella, aku tahu kamu tidak bersalah dalam hal ini. Maafkan Ben yang sangat terobsesi padamu. Disini kita adalah korban" Tiffany memegang tangan lemah Belinda. Air matanya luruh mengingat ia tidak pernah akur dengan sang kakak, tetapi melihat kondisinya seperti ini membuat hatinya perih.


"Kak, walaupun kita tidak pernah akur, tapi aku hanya punya kamu, mama dan papa kak. Aku percaya padamu bahwa kamu tidak mungkin mengkhianati aku dan Aldo" ucap Belinda sekali lagi. Ia pun langsung memeluk Belinda yang masih tertidur akibat pengaruh obat penenang itu


Lain hal dengan Ben yang kini sedang berdiri di balkon sebuah hotel bintang lima. Dirinya amat menyesal melakukan hal bodoh itu. Selepas mengantarkan orang tuanya ke rumah sakit, ia langsung di pukuli oleh Tiffany secara membabi buta lalu Ben pun pergi ketempat yang sekarang ia sedang berdiri. Harapannya untuk bisa bersatu dengan Belinda pupus sudah. Tiffany pun saking kecewanya akan mengajukan perceraian bahkan Ben pun akan menghadapi kemarahan Listyo dan Dhanu jika mereka sudah kembali sadar.

__ADS_1


__ADS_2