
Malam ini Aldo mengajak Belinda untuk mengunjungi Hilda sang ibu. Pasalnya wanita tua itu selalu menelepon Aldo untuk mengunjunginya. Padahal masih ada anak dari mendiang suaminya, tetapi Aldo lah yang sangat istimewa.
"Hello Kak Aldo! Apa perlu sarah jemput sekarang?" tanya sarah sang adik tiri.
"Aku akan ke rumah ibu sekarang" jawab Aldo.
"Ibu terus menanyakan perihal kekasihmu kak. Malam ini bawa ya kemari" ucap Sarah.
"Ya cerewet!" ucap Aldo yang dibalas tawa oleh Sarah.
Panggilan telepon itu diakhiri, kini tinggal Aldo berdua dengan Belinda.
"Sayang kenapa hanya diam?" tanya Aldo yang melihat sang kekasih diam.
"Aku malu dan grogi" jawabnya.
"Ada aku tenang saja" Aldo mengusap pucuk kepala Belinda dengan lembut.
Lalu sampailah disebuah rumah besar. Aldo menghentikan mobilnya.
"Ini rumah ibumu?" Belinda bertanya seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut depan rumah itu.
"ya ini rumah ibu! Rumah yang pernah menjadi saksi bisu sakitnya seorang anak kecil yang dicampakkan" ucap Aldo dengan nada pilu.
Belinda paham dengan kekecewaan yang pernah Aldo rasakan.
"Ayo kita masuk, sayang" Aldo menggandeng tangan Belinda.
Pintu itu diketuk, Sarah sang aduk segera membukanya, seketika terpaku dengan seseorang yang ada dalam gandengan sang kakak.
"Kak Aldo!" ucapnya ramah.
"Sarah, aku ingin bertemu dengan ibu, karena beliau selalu menghubungiku" ucap Aldo.
"Kau bisa kemari kapan saja kak, oh ya ini kekasihmu? Wah cantik sekali" ucap Sarah.
"Hai, saya Bella" ucap Belinda seraya menyalami Sarah dengan ramah.
"Saya Sarah, adik Kak Aldo. Ayo masuk ibu sudah menunggu" ucapnya.
Mereka pun masuk kedalam menuju kamar Hilda sang ibu.
Terlihat wanita tua itu tengah duduk bersandar pada dashboard ranjangnya dengan memakai daster dan rambut yang sudah memutih.
"Selamat malam bu" ucap Aldo sembari mengecup kening Hilda.0
Hilda menangis merindukan sang putra.
"Malam nak! Ibu rindu padamu" Hilda dengan tertatih memeluk sang putra.
"Saya kemari dengan seseorang" ucap Aldo sembari memandang Belinda.
Belinda pun berjalan kearah Hilda dan langsung menyalaminya.
"Saya Bella, kekasih Aldo. Senang bertemu dengan ibu" ucap Belinda.
"Ibu senang sekali karena Aldo sudah membawa kekasihnya kemari. Nak, bisa tinggalkan ibu bersama Bella berdua disini?" ucap Hilda.
__ADS_1
"Ya bu silahkan" Aldo dan Sarah pun keluar dari kamar sang ibu dan kini tinggal lah Belinda bersama Hilda dalam kamar itu.
Hilda meraih tangan Belinda.
"Nak, semoga hubungan kalian sampai pelaminan ya. Ibu ingin melihat Aldo bahagia dihari pernikahannya. Ibu nitip Aldo padamu, ibu mohon jangan sakiti dia seperti dulu ibu memperlakukannya" ucap Hilda seraya menangis.
"Saya janji tidak akan menyakiti Aldo" ucap Belinda sembari mengelap air mata wanita tua itu.
"Sudah saatnya Aldo bahagia. Dan ibu percaya padamu nak. Ibu percaya kamu adalah wanita terbaik untuk anak ibu. Sedari kecil Aldo hidup hanya dengan ayahnya karena kesalahan dimasa lalu ibu. Penyesalan selalu hadir di hidup ibu" Hilda lagi-lagi tak kuasa menahan tangisnya.
"Ibu jangan sedih lagi, itu sudah berlalu dan Aldo pun sudah memaafkannya bukan? Yang terpenting kita jangan mengulang kembali kepahitan yang pernah kita lakukan" ucap Belinda.
"Ya, kamu benar nak Bella" Hilda memeluk Belinda cukup lama lalu terlepas.
"Nak, bisa ambilkan sesuatu di lemari itu? Kotak beludru bertuliskan tinta emas" ucap Hilda sembari menunjuk lemarinya.
"Baiklah bu, saya ambilkan" Belinda langsung mengambil sesuatu didalam lemari itu.
Kala benda itu sudah ditangan Belinda, dia segera memberikannya pada Hilda.
"Nak, tolong panggilkan Aldo kemari" ucap Hilda.
Nyuruh terus ya nenek Hilda ini...🤣🤣
Tak lama Aldo pun menghampiri sang ibu.
"Ada apa bu?" tanya Aldo.
"Aldo, putraku kemari lah nak!" ucap Hilda.
Aldo pun duduk di samping Hilda.
"Cincin untuk apa itu bu?" Aldo heran.
"Ini cincin pemberian dari ayahmu sewaktu kami tunangan dan menikah dulu. Ibu dengan tidak tahu malunya masih menyimpan ini" ucapnya sembari tersenyum miris.
"Lantas bagaimana bu?" tanya Aldo kembali.
"Berikan ini kepada kekasihmu sekarang. Pasangkan di jarinya" ucap Hilda.
"Tapi bu!" Aldo sedikit bingung.
"Apa kamu ragu dengan nak Bella?" tanya Hilda.
"Tidak bu, tidak ada keraguan di hati saya pada Bella" jawab Aldo mantap.
"Kalau begitu pasangkan cincin itu sekarang" titah Hilda dengan rona bahagia.
Aldo pun berlutut dihadapan Belinda.
"Bella, aku tidak tahu apa ini sebuah lamaran atau apa tapi aku mohon terimalah cincin ini sebagai tanda kasihku padamu" ucap Aldo.
"Aku terima" Belinda berkata sembari menitikkan air mata bahagia dan harunya.
Cincin bertahtakan berlian itu kemudian bertengger dijari tangan manis Belinda.
Aldo pun mencium tangan Belinda dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
"Cantik sekali" ucap Sarah.
"Terimakasih" ucap Belinda.
Tiba-tiba ponsel Aldo berdering tertulis nama tante Mieke.
"Tunggu sebentar tante Mieke menghubungiku" ucap Aldo pada Belinda.
Hal itu disambut was-was oleh Hilda karena terakhir bertemu dengan Mieke, istri sang mantan adik ipar, Hilda dimaki-maki olehnya karena perkataan Mieke yang setajam silet.
"Hello tan, ada apa?" tanya Aldo.
"Aldo kamu dimana? Katamu ingin kemari menjenguk pamanmu?" tanya Mieke diseberang telepon.
"Tan, sekarang aku sedang di rumah ibu" ucap Aldo sedikit pelan.
"Apa? Sedang apa kau di rumah wanita sia*an itu? Wanita kejam. Giliran sudah renta saja ingin dijenguk olehmu. Pulang Aldo sekarang" Tegas Mieke berapi-api.
"Aku sudah memaafkannya tan. Yasudah aku kesana sekarang jangan marah-marah lagi" ucap Aldo.
"Cepat" tegasnya.
Panggilan itu pun diputus.
"Ibu, saya pulang sekarang ya. Nanti saya kemari lagi" ucap Aldo mengelus tangan Hilda.
"Ibu kira kalian bakal menginap disini" wajah Hilda sedih.
"Nanti jika saya tidak sibuk, ibu saja yang akan saya bawa ke rumah" jawab Aldo.
"Nak, ibu takut dengan Mieke. Wajahnya selalu murka pada ibu. Tolong sampaikan permintaan maaf ibu pada paman dan tantemu. Ibu sebenarnya ingin bertemu dengan mereka, hanya saja ibu takut" Hilda berkata dengan penuh kecemasan.
"Ibu tenanglah semua akan baik-baik saja. Sebenarnya tante Mieke itu baik sekali, hanya saja mungkin dia belum menerima semua ini" ucap Aldo mencoba menenangkan sang ibu.
Hilda hanya mengangguk saja.
Aldo dan Belinda pun pulang menuju rumah sang tante yang dikenal galak itu dan hanya akan baik pada Aldo.
Belinda tak henti-hentinya memandang cincin yang tersemat di jarinya. Dia tidak menyangka bahwa Aldo lah yang akan menjadi pria yang benar-benar menyenangkan hatinya. Jauh sekali dengan Ben yang terlalu banyak menyakiti hatinya. Belinda yang mengira Aldo adalah pria misterius karena tidak banyak bicara tidak menyangka akan jadi seperti ini. Belinda seakan salah menebak jika sebenarnya Aldo sosok pria agresif, manjalita, dan sungguh perhatian.
"Oh senangnya hati ini bila mengenalmu" Belinda bersenandung dalam hatinya.
Tidak ada keraguan apapun dihatinya tentang Aldo sang pria tampan nan gagah itu dan jangan lupakan ekor depannya yang selalu tercetak ulala berurat shayyyyyy.
"Sayang, kamu suka cincinnya?" pake tanya lagi Aldo ini.
"Sangat, sayang terimakasih" jawab Belinda.
"Aku sangat mencintaimu. Tetaplah berjalan di sisiku, aku berjanji akan selalu membahagiakan apapun. Apapun aku janji asal kamu tidak memintaku untuk hamil karena aku tidak punya rahim" kelakar Aldo.
"Menghamili ku mau?" tanya Belinda sembari terkekeh.
"Yuk sekarang!" ucap Aldo.
"Hei, jangan sekarang juga kali" Belinda langsung mencubit pinggang Aldo.
"Iya, iya kan belum halal" jawab Aldo.
__ADS_1
Mereka pun tertawa terbahak.