Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Salah Masuk


__ADS_3

"Sayang, sudah ku isi bathtub nya dengan air hangat" ucap Belinda pada sang suami.


"Yasudah, ayo" ajak Aldo.


"Ayo bagaimana? Kamu mau mandi kan?" tanya Belinda bingung.


"Ayo kita berendam berdua! Aku ingin relax denganmu di bathub" jawab Aldo.


Sesudah percintaan maraton mereka semalam membuat tubuh keduanya terasa pegal. Aldo seperti gladiator jika sedang bercinta. Staminanya sangat luar biasa membuat Belinda kewalahan. Tetapi seorang wanita di manapun di dunia ini akan sangat bahagia bila mempunyai suami yang perkasa dan tahan lama termasuk Belinda. Dalam utuhnya rumah tangga jika hubungan di atas ranjangnya buruk maka sekaya apapun seorang pria akan menimbulkan berbagai macam konflik dan hinaan dari istrinya.


Pepatah mengatakan dalam rumah tangga itu yang penting uang dan harta berlimpah, tetapi sesungguhnya ranjang lah yang paling penting karena ranjang lah yang menjadi faktor banyaknya perceraian selain masalah ekonomi.


"Sayang, jangan mengajak yang aneh-aneh deh! Kita semalaman begitu apa kamu tidak lelah? Dan di kamar mandi itu akan tempat iblish, jangan di pakai begitu" Belinda mencoba menolak takut akan di ajak bercinta oleh Aldo kembali.


"Hei, kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh sayang. Aku hanya ingin mengajakmu berendam berdua. Ayo, aku ingin memijat punggungmu" Aldo menggandeng lengan Belinda memasuki kamar mandi.


Di dalam bathub, Aldo mendudukkan Belinda di depan dirinya. Tangannya memijat lembut punggung Belinda.


"Enak?" tanya Aldo memastikan.


"Banget! Kamu ternyata pintar memijat ya!" ucap Belinda.


Bukan Aldo namanya kalau hasrat kejantanannya tidak timbul ketika dekat dengan sang istri. Ia sekarang sedang berusaha mati-matian menahan sesuatu yang mengeras di bawah sana.


Belinda pun merasakan ada yang menusuk area belakangnya


"Sayang, itu!" lirih Belinda.


"Ya! Diam lah jangan banyak bergerak atau aku akan menerkam mu di sini" ucap Aldo tepat di telinga Belinda.


Belinda hanya mengangguk saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini Victoria sang aspri masih lembur di kantor karena selama Belinda pergi, dirinya lah yang menghandle semua pekerjaan Belinda.


"Lelah!" gumam nya.


Scurity kantor itu sampai menghampiri Victoria karena waktunya kantor itu tutup.


"Bu Victo masih lama? Saya pegal nunggu terus nih" keluh Damar sang scurity.


"Bapak mau pulang?" tanya Victoria sembari mematikan laptopnya.


"Ini sudah lewat waktu pulang" jawab Damar sedikit kesal.


"Yasudah maaf ya pak Damar yang sangat tampan membahana. Saya pulang nikh" Victoria pun akhirnya meninggalkan kantor itu.


"Mobilnya mana bu?" tanya Damar.


"Mobil saya lagi di service. Saya sudah pesan grab car" ucap Victoria.


Victoria berdiri di depan kantor, matanya berbinar kala ada mobil yang sedang terdiam di sana. Pikirnya itu adalah grab yang ia pesan.


Victoria tak tinggal diam, ia langsung masuk tanpa memperdulikan apapun.


"Jalan pak" ucapnya.


Seseorang dari balik kemudi mengernyit kebingungan karena tiba-tiba seseorang masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


"Pak, nanti berhenti di depan aprilmart ya. Saya ada yang harus di beli" ucap Victoria kembali.


Pengemudi hanya diam saja memperhatikan Victoria dari balik kaca spion nya.


"Siapa gadis ini, kenapa dia menganggap ku supir?" gumamnya dalam hati.


Victoria tampak sangat lelah sekali hingga ia merenggangkan tubuhnya hingga dua kancing bajunya terlepas. Hal itu membuat dua gunung kembarnya menyembul keluar.


"Si@l" geram pria didepannya.


Tiba-tiba, ponsel Victoria berdering. Ternyata supir grab yang sebenarnya menelepon karena ia sudah menunggu sesuai titik.


"Hallo" sapa Victoria.


"Dengan ibu Victoria Diva? Maaf saya dengan grab car, saya sudah menunggu anda lumayan lama. Posisi anda dimana?" tanya supir grab itu.


"Lah bukannya ini grabnya? Pak saya sudah naik mobil. Saya kira ini mobil anda" ucap Victoria malu.


"Lah bukan bu. Saya menunggu ibu sesuai titik" balas supir itu.


"Yasudah pak, cancel aja. Nanti saya transfer lewat ODO ongkosnya. Sekali lagi maaf ya pak" Victoria sangat malu.


Lalu dirinya langsung melihat siapa sosok yang sedang mengemudikan mobil di depannya. Wajah pria itu melihat ke arah Victoria.


"Pak!" ucap Victoria sembari tersenyum malu.


"Hmmmm!" hanya di balas deheman olehnya.


"Jadi anda bukan driver grab?" tanya Victoria polos.


"Bu-kan" ucapnya dengan suara baritonnya.


"Pak, sebelumnya saya minta maaf atas kesalahan saya" ucap Victoria sembari menangkupkan tangannya.


"Bupak bapak, memangnya saya bapak kamu, hah? Lagipula siapa sih kamu ini, main naik ke mobil orang sembarangan saja" pria itu tak henti-hentinya mengomel.


"Saya kira kamu supir grab! Aduh bagaimana ya pak, Maaf" Victoria hanya bisa meringis menahan malu.


"Turun dari mobil saya, sekarang!" usir pria itu.


"Hahhh? Yang benar saja pak, ini area sepi. Atau begini saja antarkan saya ke kostan saya, nanti saya bayar. Di lebihkan saja pak" ucap Victoria.


"Saya tidak butuh uangmu. Keluar cepat!" bentak pria itu.


Victoria pun dengan terpaksa keluar dari mobil itu. Ia rasanya ingin menangis sekerasnya, karena jalanan ini sepi sekali.


"Anda tega" ucap Victoria sembari menutup pintu.


Victoria berjalan sembari mengusap air matanya melewati jalan yang sepi. Sorot lampu jalan menjadi perwakilan dikala rasa takut itu.


"Aku doakan semoga cowok itu jadi impoten! Argghhhhhhhhh" teriaknya.


"Aku gak takut setan. Di Kalimantan banyak yang lebih seram. Aku takut orang jahat" Victoria menangis duduk di trotoar jalan.


Tak di sangka mobil itu kembali lagi, lalu berhenti di depan Victoria.


"Naik!" ucapnya.


Victoria hanya diam tidak menanggapi, ia masih menangis.

__ADS_1


Lalu pria itu membuka mobilnya, tak di sangka langsung mengangkat tubuh Victoria ala pengantin.


"Hei, lepaskan" Victoria meronta sembari memukul-mukul kan tangannya pada dada kokoh itu.


"Nona diam lah, atau aku akan menodaimu disini. Aku tahu pasti kau masih perawan kan?" tanyanya lagi.


"Breng*ek. Dasar mesum" maki Victoria.


Didalam mobil, Victoria hanya menangis.


"Nona, diam lah kenapa kamu menangis terus sih. Berisik tahu!" ucap pria itu.


"Saya takut di perko$a olehmu" ucap Victoria lemah.


"Astaga, memangnya aku predator kela*in apa? Gila saja. Dimana rumahmu?" tanya pria itu.


"Di jalan Akasia no 13" jawabnya.


"Yasudah jangan menangis. Aku bukan orang jahat kok" ucapnya.


"Benarkah? Tapi kamu diam di depan kantor tempat kerjaku sedang apa?" tanya Victoria memberanikan diri.


"Aku sedang menunggu seseorang!" jawabnya.


"Siapa?" tanya Victoria.


"Tiffany!" jawabnya.


"Bu Tiffany Angela?" tanya Victoria kembali.


"Ya" jawabnya.


"Untuk apa? Beliau kan sudah menikah, dan sudah hamil besar. Kamu mau jadi pebinor ya?" tanya Victoria.


"Apa, hamil? Bukannya mau cerai sama si Ben?" tanya pria itu.


"Tidak jadi" jawab Victoria.


"Btw, aku belum tahu namamu" ucap Victoria lagi.


"Mario" hanya itu.


"Aku Victoria, asisten pribadi bu Belinda" ucap Victoria.


"Si Bella, apa kabarnya ya? Sudah lama tidak berhubungan dengan dia" ucap Mario.


"Jadi kamu kenal dengan beliau" tanya Victoria.


"Kenal lah. Dia itu teman SMA ku dulu" jawabnya.


Mario pun sudah sampai di depan kosannya Victoria.


"Mana kosan kamu?" tanya Mario.


"Itu! Terimakasih ya sudah mau mengantarku!" ucap Victoria.


Mario hanya mengangguk saja lalu menjalankan mobilnya.


"Arghhhhh Tiffany, kenapa kamu susah sekali untuk aku miliki. Jika sudah begini aku menyerah saja" ucap Mario.

__ADS_1


__ADS_2