
SURAT PANGGILAN SIDANG PERCERAIAN DARI PENGADILAN AGAMA.
Membuat seketika badan Ben yang berbalut handuk itu meluruh bak tak bertulang.
"TIDAK! Bella maafkan aku Bella. Jangan begini" Ben menangis dikaki Belinda.
Tiffany hanya menangis. Hatinya pedih melihat Ben memohon seperti itu pada Belinda.
Aldo baru sampai karena ingin memberikan berkas kerja yang perlu Ben tandatangani.
Aldo melihat Ben yang saat ini sangat menyedihkan.
"Jangan sentuh aku, binatang! Kau kira aku tak tahu kegiatan gilamu dengan Tiffany? Aku tahu semuanya. Aku hanya berpura-pura tak tahu agarku tahu seberapa jauh kau mau berperan dalam rumahtangga ini. Ternyata kau tidak berubah padaku. Perhatian dan kata-kata manismu hanya sebuah tameng agar hubunganmu dengan Tiffany tetap aman! Aku muak denganmu" Belinda memekik lalu menendang kepala Ben.
"Kalian berdua manusia keji! Kenapa kalian tak bilang padaku bahwa kalian sebenarnya berpacaran hah? Kenapa kau mau d jodohkan dengaku jika akhirnya hanyalah kedzoliman yang kalian torehkan padaku. Talak aku sekarang" Emosi Belinda sudah diubun-ubun.
"Ben miliku" Tiffany berteriak membela dirinya.
Belinda langsung berjalan kearah dimana Tiffany tergugu. Tangannya mencengkram erat rahang sang adik. Kilatan amarah tercipta diantara pupil hazel itu.
"Aku tahu Ben hanya milikmu, sampai kau mau dijadikan tempat pembuangan cairan laknat milik Ben! Kau ini murahan, seperti~~~" Belinda tak melanjutkan perkataannya karena Haruni langsung memeluknya.
"Stop sayang, jangan teruskan" Haruni memeluk sang putri.
"Seperti siapa Kak? Seperti siapa?" Tiffany merangsek.
Plakkkk!!!!!
Belinda menampar sekali lagi pipi Tiffany.
"Seorang tersangka tak berhak memekik pada korban" gertak Belinda.
"Aku lah korban disini! Kau lah tersangka yang merebut Ben dariku" Tiffany mulai berani.
"Bahkan hukum pun takan berani mengadili tersangka jika diliput rasa ketidak tahuan" Balas Belinda.
"Arghhhhhhhhhhhh" Tiffany menjerit menangis sejadinya.
"Bella, aku mohon berikan aku kesempatan! Aku mencintaimu" ucap Ben lemas.
Ben masih ingin mempertahankan mahligai yang telah porak poranda itu. Hal yang sangat berat baginya untuk melepaskan Belinda, dikala balutan kasih sudah menguasai hatinya untuk sang istri.
"Aku harap kau tahu malu" bentak Belinda.
"Aku mencintaimu Bella" Ben terus mengungkapkan isi hatinya.
"Dan aku tak percaya!" tandas Belinda.
__ADS_1
"Sudahlah Ben, Kau jangan sakiti terus hati anakku! Ceraikan dia sekarang, kau boleh menikah dengan Tiffany. Stop berbuat kerusakan didunia ini dengan dosa-dosa itu. Kasihan Bella harus menanggung kepedihan sebegininya" Kali Ini Dhanu yang berbicara.
Ben hanya menggelengkan kepala penuh dengan kepasrahan.
"Ben mengertilah" Listyo mencoba membujuk Ben.
Ben pun mengangguk pilu. Ia berjalan menuju Belinda yang tengah berdiri. Dia memeluk Belinda dan menangis disana.
Air mata kejantannnya keluar, merasa bodoh dengan apa yang selama ini telah dilakulannya. Janji hanya tinggal janji, penyesalan hanya tinggal penyesalan. Dia pun menguraikan pelukan itu. Tangannya terangkat menyentuh kepala Belinda.
Sebuah ikrar talak dibacakan didepan keluarga mereka.
"Saya atas nama Ben Lazuardy Mahardika, dengan secara sadar dan merdeka menceraiakn engkau Belinda Zahrani Binti Dhanu. Maka dengan ini jatuhlah talak tiga untuknya" Ben langsung terdiam dengan kata yang barusan dia lontarkan.
Talak tiga? Sebuah talak yang pria berikan tidak akan bisa ia nikahi kembali kecuali sang wanita sudah di nikahi terlebih dahulu oleh pria lain, dan sudah berbagi ranjang dengannya.
Semua orang tampak tercenung mendengar talak level tinggi itu.
"Arghhhhhhh, aku salah bicara! Tidak, tidak.. Aku tak ingin menalak tiga Belinda" Ben semakin histeris.
"Ucapan sudah tak bisa ditarik kembali. Ayo pulang Ben" Listyo menggiring sang putra.
"Bung, Maafkan anak saya! Saya sebagai orang tuanya sangat malu akan hal ini" Listyo mengiba.
"Sudahlah bung, mereka sudah dewasa bisa menentukan jalan hidupnya masing-masing. Kita sebagai orang tua sudah sangat sering menasihati" Dhanu langsung memeluk Listyo.
"Bella, maafkan papi nak" Listyo kemudian menghampiri Belinda.
"Jangan bersedih nak! Hidup harus terus berjalan" Listyo mengucap haru.
"Papi benar" jawab Belinda.
Listyo pun mengajak Ben pulang.
Kini tinggal mereka berempat disana. Aldo sudah keluar dari rumah itu namun ia tak pulang, melainkan diam didalam mobil depan rumah Belinda.
"Kak Bella, maafkan aku. Aku salah" ucap Tiffany.
"Untuk apa kata maaf dariku? Bukannya kau senang ya? Kau bisa menikah sekarang dengan Ben, kau bisa bercinta dengannya tanpa dosa lagi. Ingat ya Fany, aku tahu segalanya tentang perasaanmu padaku. Perasaan benci dan iri terhadapku sedari lama. Bahkan sewaktu ku buta kau selalu mendatangi Ben untuk kau ajak bercinta. Aku merasa telah menyanyangi manusia ular. Cintaku pada seorang adik hanya dibalas pilu. Sedari kau kecil, aku yang mengurusmu karena papa dan mama sibuk bekerja, bahkan aku yang membersihkan kotoranmu Fany. Hikhikhik...... Aku benar-benar kecewa terhadapmu" Belinda berkata dengan begitu pedih.
"Seorang kakak memang harus selalu berkorban untuk adiknya" Tiffany mulai menjawab.
"Lantas kau berani menyakitiku, hah? Hidup tak sesederhana itu nona! Dalam hidup harus punya aturan. Harus tahu menghormati dan di hormati. Kau tak punya itu dalam dirimu" Ucap Belinda dengan nada yang berat.
"Papa kecewa padamu" ucap Dhanu sembari memegangi dadanya.
"Papa, kenapa pa?" Haruni langsung menghampiri sang suami.
__ADS_1
"Dada papa sakit ma" ucapnya.
Tubuh Dhanu pun merosot kelantai membuat semuanya panik.
"Argghhhhhhhhh, papa bangun pa" Belinda memeluk sang papa.
Belinda berlari kedepan rumah untuk mencari pertolongan.
Aldo yang masih ada disana pun langsung keluar.
"Bella, kenapa panik? Ada apa?" Aldo heran.
"Papa, Aldo tolong papaku" Belinda kembali berlari kedalam rumah bersama Aldo.
Aldo langsung membawa tubuh Dhanu, lalu dimasukan kedalam mobil.
"Aldo cepat aldo" Belinda menangis melihat keadaan Dhanu yang begitu lemah.
"Tenang Bella tenang" Aldo jadi tidak konsen membawa mobilnya.
Ahirnya mereka sampai dirumasakit.
Skip.
"Kondisi Pak Abdi sedang kritis. Mohon semuanya bersabar. Kami akan melakukan semaksimal mungkin" ucap seorang dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk papa saya, dok" Belinda memohon.
Sementara dirumah Listyo. Ben sedang dipukuli oleh sang papi memakai sabuk kulitnya.
"Ampun pi sudah" Ben mengiba.
"Memalukan, menjijikan! Aku tidak pernah mendidik seorang anak yang seperti ini. Kau harus menikahi Tiffany besok" ucapnya.
"Tidak pi. Aku ingin kembali pada Bella" Ben terus menangis seperti bocah.
"Bukannya itu yang kau mau, bodoh?" Listyo sudah murka.
"Tidak pi! Aku menyesal. Bella lah yang terbaik" Ben bersimpuh dikaki Listyo.
"Kenapa kau baru menyadarinya si*lan? Kemana saja selama enam bulan pernikahanmu" ucap Listyo.
"Aku sungguh menyesal pi" Ben menangis.
"Menyesal tiada guna Ben! Menikahlah dengan Tiffany besok, agar kau tak berbuat dosa lagi. Aku akan bicara dengan Pak Dhanu. Sekarang bersihkan tubuh kotormu" ucap Lisyto.
__ADS_1
Tiba-tiba Aldo datang kerumah itu.
"Om Tyo, Pak Dhanu masuk rumasakit" ucap Aldo.