
Ben selalu setia menemani Belinda ruang rawatnya, meski tak sedikit ia harus bertengkar dengan Tiffany.
"Luangkan waktu untuku Ben! Aku butuh kamu disisiku" ucap Tiffany dengan nada kecewa.
"Fany dengar, kamu sehat sedangkan Bella untuk makan pun harus dilayani" Kesal Ben pada wanita yang manja itu.
"Aku ini kekasihmu Ben, Wajar bukan aku ingin selalu dekat denganmu?" tanya Tiffany mengiba.
Tak ada rasa empati sedikit pun pada sang kakak! Tiffany hanya memikirkan dirinya sendiri. Di kantor pun hanya Dhanu yang bekerja di bantu oleh Victoria.
" Tapi Bella istriku. Bella yang lebih membutuhkan bantuan" Ben pun mematikan panggilan telepon itu.
Kaki Belinda melangkah dengan tangan yang meraba apa saja yang ada di dekatnya. Ia belum terbiasa dengan kebutannnya. Ben dengan sigap memapahnya.
"Bell mau kemana?" tanya Ben.
"Pip*s" ucapnya singkat.
Semenjak sadar dari kecelakaan itu, Belinda semakin cuek pada Ben. Bahkan untuk menyapa namanya saja tidak pernah.
Ben mendudukan sang istri di kloset dan membuka celananya.
"Sudah aku malu! Aku bisa sendiri" ucap Belinda menahan tangan Ben yang hendak menurunkan celananya lebih bawah.
"Tak apa Bella, itu sudah tugasku" ucap Ben.
Ben setia menunggui istrinya itu, bahkan saat Belinda ingin membersihkan area segitiganya, Ben lah yang mengambil peran itu.
"Biarkan aku yang membersihkannya" ucap Ben tulus.
"Aku bukan bayi Mas!" ucap Belinda sangat malu.
"Kau istriku" Ben pun dengan telaten membersihkan area segitiga itu sampai bersih dengan tangannya.
"Sudah bersih, aku pakaikan lagi celanamu ya!" Ben dengan telaten memasangkan celana sang istri.
Ben, membopong tubuh sang istri dan di baringkan di ranjang rawatnya.
"Bella, aku akan menyuapimu" ucap Ben.
"Aku bisa makan sendiri! Aku tak mungkin salah memasukan nasi kedalam telingaku mas" Belinda menolak kebaikan Ben.
"Izinkan aku merawatmu" tegas Ben.
Belinda tak dapat berkata-kata lagi selain membiarkan Ben melakukan apa saja sesukanya.
Hari ini Ben izin bekerja, Aldo lah yang diminta untuk menjaga Belinda.
Aldo datang dengan membawa bucket bunga tulip warna putih.
Merasakan kehadiran seseorang, Belinda langsung menyapanya.
"Siapa itu?" tanyanya.
"Coba tebak siapa aku?" tanya Aldo kembali.
"Hmmmzzz, dari suaranya tampak tidak asing lagi" Belinda terkekeh.
"Bella apa kabar?" tanya Aldo sembari berjalan kearah Belinda.
"Baik! Hanya saja semuanya gelap" lirihnya.
"Kamu harus tetap semangat dan yakin kamu akan bisa melihat kembali" ucap Aldo.
"Wangi bunga" Belinda mencium wangi bunga segar.
__ADS_1
"Bunga tulip untukmu" Aldo menyerahkan bunga itu dipangkuan Belinda.
"Terimakasih Aldo!" Belinda mencium bunga itu dengan dalam.
"Bella, aku ingin mengajakmu jalan-jalan di taman rumasakit ini, apa kamu mau?" tanyanya.
"Ya aku mau!" jawab Belinda.
Aldo segera mengambilkan kursi roda untuk Belinda.
Di taman, Belinda berasakan kehangatan mentari pagi. Hidup sebagai orang buta newbee membuat semuanya terasa asing.
"Bella, aku mau mengangkat kakimu" ucap Aldo.
"Untuk apa?" Belinda heran.
"Supaya kakimu yang sakit terkena sinar mentari pagi" Aldo dengan telaten menjukurkan kaki Belida agar terkena sinar matahari.
"Bella, aku ingin mengundurkan diri sebagai asisten pribadi Pak Ben!" ucap Aldo spontan.
"Kenapa? Bukannya kalian sudah menjadi partner sejak lama?" tanya Belinda.
"Sudah saatnya aku keluar dari lingkup Ben dan memulai semuanya yang baru. Perusahaan ayahku sudah menantiku" jawab Aldo dengan nada serius.
"Kau punya perusahaan? Lantas kenapa memutuskan untuk menjadi aspri Ben sekian lamanya?" Belinda heran denga Aldo.
"Nanti saja ya cantik ceritanya! Mentari sudah terik, Kita masuk saja ke dalam" Aldo berkata sembari menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah pucat Belinda, lalu menyelipkannya di belakang telinganya.
Ada perasaan hangat dihati Belinda mendapat perlakuan dari Aldo.
Aldo mendorong kursi roda yang Belinda naiki menuju ruang rawatnya.
Aldo menidurkan Belinda diranjang pasien dengan sangat lembut.
"Aku ingin makan buah saja" ucapnya.
Dengan sigap Aldo menguspaskan apel untuk Belinda.
Tiffany siang ini di suruh oleh sang mama untuk menemani Belinda. Walaupun sempat menolak tetapi Haruni mendesaknya.
Satu jam sebelum Tiffany tiba di rumasakit:
"Fany, untuk hari ini, mama minta kamu jaga kakakmu di rumasakit. Temani dia dan layani dia!" ucap Haruni sembari memasukan makanan untuk bekal Tiffany nanti di rumasakit.
"Mama kenapa harus aku, kan ada Ben disana!" ucap Tiffany.
"Ben bekerja! Mama masih sibuk dirumah, papa pun tak bisa karena di kantor ada rapat. Hanya kamu yang santai nak" Haruni terus membujuk Tiffany.
"Ma aku tak tahan bau rumasakit ma" ucap Tiffany mengeluh.
"Fany, kenapa sih kamu gak ada sedikitpun rasa iba terhadap kakakmu, hah? Bella tidak pernah merepotkanmu sebelumnya, justru kamu lah yang selalu merepotkan dia selama ini. Mama tidak mau tau, temani kakakmu sekarang" ucap Haruni tegas
Dengan terpaksa Tiffany pun mengiyakan perintah sang mama.
Tiffany hendak memasuki ruang rawat Belinda, namun pandangannya malah tertuju pada sosok Aldo yang tengah menyisiri rambut Belinda dengan lembut, lalu menyuapi sepotong apel kemulut Belinda. Tiffany tidak tinggal diam, ia memvideo semuanya adegan yang Aldo lakukan pada Belinda.
"Aku akan memperlihatkan ini pada Ben" gumamnya.
"Sudah kenyang?" tanya Aldo pada Belinda yang di suapi potongan buah apel.
"Sudah! Terimakasih Aldo" ucap Belinda dengan senyum terbaiknya.
"cantik" ucap Aldo sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Belinda.
"Aldo, kamu terlalu berlebihan" Belinda merasa malu atas perlakuan aspri suaminya itu.
__ADS_1
"Itu tidak berlebihan menurutku Bella" balas Aldo sembari terkekeh.
"Aldo, apa kamu pernah mempunyai kekasih?" Belinda kepo dengan kehidupan asmara seorang cool man seperti pria yang ada di hadapannya itu.
Aldo seketika memindai wajah pucat dihadapannya, tersenyum, lalu menghembuskan kasar nafasnya. Wanita di hadapannyalah yang selama ini mengisi ruang hampa hatinya dari dulu sampai sekarang tak pernah tergantikan.
"Pernah!" ucapnya singkat.
"Oh ya? Wanita itu sangat beruntung pernah dicintai pria sebaik kamu" ucap Belinda berbinar.
"Kamu sangat beruntung Bella" ucap Aldo dalam hatinya.
"Wanita itu sudah menikah! Kami bertemu tidak sengaja sewaktu aku berkuliah di Tokyo" ucap Aldo lirih.
"Di Tokyo? Aku pun kuliah di Tokyo hanya dua tahun, lalu melanjutkan lagi di Berlin" ucap Belinda.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Aldo yang ingat dahulu Bella pergi dari hadapannya begitu terburu-buru bahkan Aldo belum sempat mengucapkan terimakasih.
"Papa yang memintaku melanjutkan kuliah disana! Di Tokyo aku hanya tinggal sendiri, sementara di Jerman ada pamanku. Papa lebih percaya jika aku ada yang mengawasi" ucapnya.
"Bella, maaf aku ingin bertanya-------" ucapan Aldo tertahan manakala Tiffany masuk kedalam ruanga itu karena di pegal hanya berdiri mendengarkan obrolan yang unfaedah menurutnya.
"Kak Bella, bagaimana keadaanmu?" tanya Tiffany sembari menaruh bekal makanannya di nakas.
"Kamu bisa lihat sendiri, orang buta tidak bisa melakukan apapun dan tentunya sangat tidak baik-baik saja" jawab Belinda cuek.
"Semoga saja Kak Bella secepatnya bisa melihat, aku cape terus duduk di kursi kantor" Tiffany mengeluh sembari mendudukan bokongnya di sofa.
"Itu bukan perusahaanku Fany, kau juga punya andil di dalamnya untuk mengurus. Bantu papa sebisamu" Belinda mengatakan dengan nada malas.
"Aku sebenarnya tidak tertarik untuk bekerja! Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untuk suamiku kelak! Tumpang kaki, arisan, shoping ! Akh itu impian yang sangat sempurna" tutur Tiffany.
"Dan modal ngangkang begitu?" sela Belinda.
"Ya dong Kak! Apalagi selain bisa memuaskan hasrat suami" balas Tiffany.
"Itu hakmu mau bagaimana juga Fany! Tapi tolong untuk saat ini bantu papa sampai mataku bisa melihat dengan normal kembali. Tidak banyak yang bisa aku lakukan kecuali hanya berbaring dan duduk saja" ucap Belinda.
"Ya, aku akan membantu papa" ucapnya dengan nada malas.
Melihat Aldo yang dari tadi hanya diam, membuat Tiffany menemukan ide untuk pulang.
"Sepertinya Pak Aldo betah disini!" sindir Tiffany.
"Saya hanya di tugaskan Pak Ben menjaga istrinya" balas Aldo dingin.
"Maka dari itu, titip kakak saya ya Pak Aldo! Saya sebenarnya tidak tahan bau obat di rumasakit ini" Tiffany ingin sekali keluar dari rumasakit, dia ingin shoping.
"Pergilan Fany, tidak ada menyuruhmu menjagaku" ucap Belinda ketus.
"Siapa juga yang mau menjagamu Kak" gumannya dalam hati.
"Yasudah aku pergi" Tiffany pun pergi dari ruangan itu.
Dia berjalan cepat karena diskonan tas di mall sedang di buka! Tak sadar dari lawan arah dia menabrak seseorang.
"Woooiiiii, breng**k jalan pakai mata tolol" Tiffany mengumpat sosok pria di hadapannya yang sedang merunduk.
Pria itu seketika menatap sosok yang menabraknya namun malah memarahinya.
"Loe?" ucap pria itu sembari menunjuk.
"Loe?" ucap Tiffany yang panik.
Tiffany segera berlari menghindari pria itu.
__ADS_1