Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Terbongkar Juga


__ADS_3

Tiga bulan sudah Belinda merasakan kegelapan disetiap detik demi detik dihidupnya. Ia sengaja tidak bekerja karena ingin istirahat. Belinda tergopoh dengan tongkatnya duduk diruang tamu.


Ben juga saat itu tidak bekerja, Aldo lah yang menggantikannya.


Tiffany datang mengendap-endap seperti seorang bandit.


"Sayang, aku rindu" ucap Tiffany seraya berbisik.


"Jangan berisik, nanti Bella mendengarnya" bisik Ben.


Tiffany mencium Ben dengan gemas walau di hadapan mereka telah duduk Belinda dengan tatapan memandang kedepan.


"Siapa itu?" tanya Belinda yang merasakan ada pergerakan seseorang.


"Tak ada siapapun disini" Balas Ben.


"Aku mendengar suara perempun berbisik-bisik Mas" Belinda pun mencium parfum beraroma Rose ada di dekatnya.


"Perasaanmu saja" balas Ben.


Belinda hanya mengangguk.


"Sayang, aku ingin kamu hari ini" ucap Tiffany sembari melepaskan kancing demi kancing baju Ben.


"Jangan disini. Bagaimana jika Bella tahu" Ben tak ingin melakukannya depan Belinda.


"Tidak akan sayang, Kak Bella tidak akan melihat kita. Aku janji tidak akan me"de*ah kok. Ayo kita lakulan di atas meja makan itu" Tiffany menunjuk meja makan yang ada di ruang sebelah. Ruangan itu masih jelas terlihat dari tempat duduk Belinda saat ini.


Nafsu binatang telah merasuki kedua insan ini. Ben mengiyakan sembari menuntun Tiffany kearah meja makan itu. Sebelumnya Ben memperingatkan Lilis untuk diam dilantai atas dan jangan sampai keluar jika dirinya belum memanggilnya.


Ben memangku tubuh ramping itu, lalu mendudukannya diatas meja makan berukir kayu jati.


"Sayang, apa kamu tidak rindu pada tubuh ini?" tanya Tiffany menggoda.


"Kenapa kau bertanya? Jelas kau tahu jawabannya sayang" ucap Ben sembari m*luc"ti baju Tiffany dengan mulutnya.


Ada kilatan gairah yang membuncah dimata keduanya. Pelepasan adalah jalan satu-satunya agar belenggu hormonal yang mengganggu otaknya dapat tersalurkan dengan lancar.


Ben mendaratkan ciumannya bertubi-tubi dan meninggalkan jejak kepemilikan disana.


"Oughhhhh... Ben sayang berikan aku lebih" Tiffany mengiba.


"Puaskan dahagaku" ucap Tiffany kembali.


"Dengan senang hati my queen" balas Ben.


mereka pun berpacu dalam sirkuit asmara yang menggelora.


Beribu hentakan Ben lesatkan pada tubuh yang ada dalam kungkungannya. Sebisa mungkin Tiffany tidak m*nd*s*h karena takut Belinda akan mendengarnya.


"Binatang" gumam Belinda dengan netra masih memandang lurus kedepan.


Tak ada yang mencurigai apapun darinya.


Karena merasa tidak tega, akhirnya Lilis berjalan menarik tangan Belinda. Ia sangat jelas melihat adegan menjijikan itu, tetapi ia enggan memperlama melihat itu, yang perlu dia lakukan adalah menyelamatkan Belinda.


"Nyonya, saya akan mengajak anda ketaman belakang!" ucap Lilis gugup.


"Kenapa Bik? Bukannya seru adegan binatang yang sedang bercinta!" ucap Belinda dengan air mata yang menganak deras.


"Maksud anda Nyonya?" Lilis berpura-pura tidak tahu.


"Bik Lilis melihatnya?" tanya Amora.


"Melihat apa Nyonya? Tidak ada yang terjadi" Lilis masih berpura-pura.


"Sudahlah Bik, jangan berpura-pura untuk menyenangkan apapun pada saya. Jawab yang jujur apakan Bik Lilis melihat sepasang anjing sedang k*w*n diatas meja makan?" tanya Amora.


Deg Deg Deg!!!.


Lilis memandang netra jelaga itu. Memindai ekspresi majikannya itu yang masih memandang lurus medepan.

__ADS_1


"Nyony tahu?" suara Lilis sudah tercekat menahan tangis


Amora hanya mengangguk lesu.


"Berarti nyonya?" Lilis tidak mempu melanjutkan kata-katanya sembari menutup mulutnya.


"Saya sudah bisa melihat satu bulan yang lalu Bik" jawab Belinda jujur.


"Nyonya kenapa anda tidak jujur pada saya?" tanya Lilis dengan air mata yang berbinar.


"Saya sengaja Bik! Untuk tahu apakan Ben tulus pada saya, tetapi faktanya ia tak bisa melepaskan adik saya. Asal Bik Lilis tahu saya sudah urus surat perceraian" Belinda berkata dengan segenap ketegaran yang tersisa pada dirinya.


"Saya mendukungnya Nyonya" balas Lilis.


"Ambilkan saya pisau dan dua handuk. Saya akan menghubungi orang tua saya sekarang" ucap Belinda.


Tanpa banyak bicara, Lilis segera mengambilkan pisau dan dua handuk.


Sementara kedua oran tuanya langsung pergi kerumah Belinda setelah dihubungi.


Sementara Ben masih bergerak liar diatas sang kekasih. Ben memacunya seperti seorang koboy menaiki kudanya.


Meja kokoh itu berderit, menandakan ada aktivitas li*r diatasnya.


Belinda berjalan kearah mereka masih memakai tongkat butanya agar kedua manusia lucnut ini tidak menyadari keberadannya.


"Mas, kamu dimana? Aku haus tolong ambilkan air" ucap Belinda sembari menyaksikan adegan menjijikan yang ada di hadapannya.


Tiba-tiba Ben dilanda rasa cemas tak kala Belinda sudah berdiri di depan mereka.


Tiffany memberi isyarat agar Ben tak menjawab dan melanjutkan tumbukannya.


"Mas apa kamu lelah ya? Oh ya mas, aku sewaktu pergi ke America, aku melihat dipantai beberapa pasangan bercinta didepanku. Sangat menjijikan bukan? Mas kamu sedang apa?" Belinda masih terus mengacaukan konsentrasi Ben.


"Oh ya mas, aku mimpi kamu bercinta dengan babi diatas meja makan rumah ini. Babi nya mirip adiku" ucap Belinda semakin ekstrim berkata-kata.


Ben dan Tiffany pun mulai gelisah.


"A..aku di..di...disini Bella" ucap Ben menahan gairah.


"Suaramu kenapa Mas?" tanya Belinda.


"Bella, kenapa kamu membawa pisau dan dua handuk?" Ben sudah menguasai keadaan tetapi tubuh masih menempa Tiffany.


"Untuk kalian binatang" Sentak Belinda murka.


Brakkkkkkkk!!!!! Ia melemparkan pisau itu tepat disebelah tubuh polos Tiffany hingga pisau itu menancap sempurna di meja makan kayu itu.


"Bella kau?" Ben langsung menc*b*t belalainya yang menyatu dengan Tiffany. Tiffany langsung berdiri lemah sembari mengumpulkan segenap tenaga.


Belinda melemparkan kedua handuk itu pada keduanya.


"Sungguh sangat menjijikan" ucapnya dengan senyum kedengkian.


"Apakah hal yang barusan sangat mengasikan?" tanya Belinda kembali.


Ben dan Tiffany tak bisa berkata-kata. mereka tak bisa mengelak lagi dengan hal yang baru saja dilakukannya.


"Bella maafkan aku" Ben ingin berhambur kepada Belinda.


"Jangan sentuh aku pria kotor! Pria binatang berotak babi. Kau cocok memang dengan wanita itu" Belinda menunjuk Tiffany yang tertunduk lesu.


"Kenapa kau tega padaku?" Belinda berjalan kearah Tiffany yang bergelung handuk.


"Maaf!" ucap Tiffany lirih.


Plak!!!


Plak!!!


Plakkkk!!!!

__ADS_1


Sebuah tamparan bertubi-tubi Belinda layangkan pada Tiffany.


"Kenapa kau jahat sekali padaku jal*ng? Selama ini apa kurangku padamu? Apapun yang kau mau, pasti ku turuti. Ini balasnmu, hah?" Belinda meraih rambut Tiffany. Menariknya dengan keras. Lalu dia menyeret tubuh Tiffany keruang tamu.


Dhanu dan Haruni datang dan alangkah terkejutnya melihat Belinda memaki Tiffany.


"Ada apa ini?" tanya Dhanu heran.


"Maafkan aku pa! Papa harus melihat hal menjijikan itu siang ini" jawab Belinda.


Ben datang dengan masih memakai handuk sama dengan Tiffany.


"Jelaskan padaku yang sebenarnya Bella" Dhanu sudah merasa sesak didadanya.


"Dua binatang ini bercinta didepanku" ucap Belinda dengan suara memburu.


"Benar itu?" tanya Dhanu sembari memandang dua makhluk yang masih terbungkus handuk.


"Papa, maafkan saya" Ben bersimpuh dikaki Dhanu.


"Jawab aku!" Dhanu membentak.


Tiffany ikut berhambur kekaki sang papa.


"Papa maafkan kami" Tiffany menangis.


"Bella, telepon listyo sekarang" perintah Dhanu dengan gemuruh semakin kuat didadanya.


"Kalian hina! Kalian menjahati anaku. Kalian tak pantas dimaafkan" Dhanu menendang keduanya.


Suasana sangat panas saat ini. Tak lama Listyo datang.


"Ada apa ini?" tanyanya heran.


"Tanyakan saja pada putra anda" ucap Dhanu dingin.


"Ada apa Ben?" tanya Lisyto.


"Maafkan aku, pi" Ben bersimpuh dikaki Listyo.


"Jawab ada apa? Kenapa kau dan Tiffany bergelung handuk saja? Apa kalian~~~?" Listyo tak mampu berkata-kata selain menggelengkan kepala.


Ben hanya mengangguk lesu dengan tatapan nanar.


"Biar saya perjelas pi, Mereka bercinta didepan saya. Mereka mengira saya masih buta. Papi harus tahu jika anakmu selalu berbohong dan menyakiti saya semenjak awal menikah. Saya sudah banyak berkorban supaya dia sadar akan kesalahan dan meninggalkan ******* itu ( sembari menunjuk Tiffany) yang sudah harusnya ditinggalkan sewaktu kami ijab kabul, Ben selalu mendatangi yang bukan haknya dibanding saya yang sudah halal dimata Tuhan" suara Belinda menggelegar.


Listyo langsung meraih tubuh sang putra, dipandanginya sejenak dan...


Brughhhh


Brugghhhhh


Plakkkkkkk


Pukulan dan tamparan mendarat bertubi-tubi ditubuh Ben.


"Ampun pi, ampun. Maafkan aku" Ben menangis.


"Anak sialan! Selalu bikin aku malu. Sudah ku katakan tinggalkan Tiffany, hidup bahagia dengan istrimu tapi kau tidak pernah mendengarku. Terima akibatnya sekarang" Pekik Listyo.


Belinda berjalan dan langsung melemparkan sebuah surat pada Ben.


"Bella apa ini?" Ben berkata dengan lirih.


"Baca! Tentuny kau tidak buta huruf!" ucap Belinda tajam.


Ben membawa surat itu dan jreng jreng!!! Matanya terbelalak.


SURAT PANGGILAN SIDANG PERCERAIAN DARI PENGADILAN AGAMA.


Sedih ikh kena pelanggaran karena katanya mengandung p........o grafi...😭😭😭

__ADS_1


Padahal sudah aku samarkan kata-katanya sedemikian rupa..


__ADS_2