
"Aku pulang ya sayang. Besok kemari lagi" Belinda pamit pada Aldo.
"Aku masih rindu. Tadi tante Mieke merusak suasana romantis kita" Aldo sedikit cemberut.
"Sabar ya sayang" Belinda mengecup kening Aldo lalu pulang ke rumahnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sementara di rumah sang mertua, Tiffany tampak tidak betah karena Listyo secara tegas melarangnya datang kerumah orang tuanya.
Janji yang sudah dibuat dengan sang besan mengenai cara memisahkan agar Ben tidak sering bertemu Belinda benar-benar Listyo jalankan.
"Pi, boleh ya aku ke rumah papa" rengek Tiffany pada sang mertua.
"Boleh tapi kamu sendiri tidak bersama Ben..Ingat Fany, kau harus menjaga agar suamimu tidak selalu mengganggu Bella" ucap Listyo.
"Tau tuh Kak Bella seneng banget goda suamiku" ucap Tiffany kesal.
"Bukan Bella yang mengganggu suamimu. Tapi suamimu yang selalu mengganggu Bella" balas Listyo sembari berlalu.
Tiffany pun pergi sendiri kerumah Dhanu dengan terlebih dahulu menemui sang suami di kantornya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Di kantor, Elsa merasa sangatlah bahagia karena memenangkan kasus hukum melawan mantan suaminya dan hari ini dia akan keluar dari kantor Ben untuk fokus merawat sang anak.
Suara ketukan pintu terdengar di balik ruang kerja Ben.
"Masuk" ucap Ben.
Elsa pun masuk.
"Selamat pagi Pak Ben! Saya membawa kabar soal kasus saya bersama Bima" ucap Elsa dengan wajah berbinar bahagia.
"Bagaimana kasusnya?" tanya Ben yang berpura-pura tidak tahu padahal sang pengacara sudah memberitahu soal kemenangan kasusnya.
"Puji syukur saya menang melawan Bima. Dan semua harta saya kembali. Bima pun masuk penjara empat puluh tahun beserta pelakornya" ucap Elsa dengan wajah haru.
"Selamat ya Elsa. Kamu sudah mendapatkan apa yang menjadi hak mu. Kedepannya kamu akan bagaimana?" tanya Ben.
"Sebelumnya saya sangat berterimakasih atas semua bantuan yang anda berikan pada saya sebagai wanita lemah. Ada harga yang akan saya berikan pada anda Pak Ben dan tolong terima walau hadiah ini mungkin anda juga mampu. Saya juga akan berhenti dari perusahaan bapak karena saya akan fokus mengurus Gerry dan mengurus perusahaan mendiang papa saya" ucap Elsa sembari menyerahkan amplop cokelat.
"Pak, apakah saya boleh memeluk anda sebagai ungkapan rasa terimakasih" ucap Elsa kembali dengan malu-malu.
__ADS_1
Ben pun berdiri dan merentangkan tangannya. Elsa langsung berhambur memeluk Ben sembari menangis.
"Terimakasih Pak Ben, berkat anda saya menjadi wanita kuat" ucap Elsa menangis sesegukan di pelukan Ben.
Ben pun mengelus surai panjang itu.
"Kamu wanita yang sangat luat biasa. Semoga kamu bahagia" balas Ben.
Tak disangka Tiffany membuka pintu ruangan itu dan sangat terkejut melihat sang suami sedang berpelukan denan sang aspri.
"Apa-apaan ini?" Tiffany segera berjalan menghampiri keduanya
"Fany!" gumam Ben seraya melepaskan pelukan itu.
Elsa pun merasa sangat tidak enak karena Tiffany tentu saja akan salah paham padanya.
"Jelaskan Ben! Dan kamu kenapa berpelukan dengan suami saya?" Tiffany sudah naik pitam.
"Maaf sebelumnya sudah membuat anda marah. Boleh kita bicara dengan kepala dingin agar tidak salah faham" ucap Elsa dengan tenang. Dia tahu tipikal wanita seperti Tiffany dengan emosi meledak-ledak jika tidak di bicarakan dengan tenang maka masalahnya tidak akan selesai.
Mereka pun kini duduk bertiga dikursi ruangan Ben.
"Maaf sebelumnya telah jadi sebuah permasalahan atas tindakan saya dengan Pak Ben. Saya yang meminta untuk memeluk Pak Ben karena beliau sudah membantu saya merebut semua yang saya miliki dari mantan suami saya. Jujur saja saya ini wanita yang tertindas, tidak punya siapa-siapa bahkan anak pun direbut oleh mantan suami saya. Tetapi berkat beliau ini saya bisa merebut kembali harta dan anak yang dikuasai mantan suami saya. Tidak banyak harta saya sebenarnya hanya lima triliun beserta semua proferti dan perhiasan. Awalnya saya ingin mengikhlaskannya tetapi Pak Ben terus membujuk saya untuk berani melawan" tutur Elsa menjelaskan sedetail mungkin.
Tiffany manggut-manggut mengerti, amarahnya pun redam.
"Baiklah Bu maaf sekali lagi. Maafkan saya Pak Ben" Elsa benar-benar sangat malu.
Ben hanya mengangguk.
Elsa pun kini sudah berada dimeja kerjanya. Dia langsung membereskan barang-barang kedalam kardus.
"Elsa, loe mau kemana?" tanya Meli rekan kerjanya.
"Gue mau berhenti bekerja dan Fokus mengurus anak gue. Gue pamit ya gaes.. Sehat-sehat ya kalian. Sebagai tanda perpisahan gue, gue telaktir nanti kalian pulang kerja di Star Resto. Datang saja kesana nanti gue tungguin" ucap Elsa sedih lalu semua teman kerjanya memeluk.
"Beib gue bakal kehilangan loe banget" timpal Dini.
"Gue juga"
"Jangan lupain kita"
"Loe rekan kerja yang baik"
__ADS_1
"Elsa, gue akan memantaskan diri untuk bisa menikahi loe"
Itulah suara-suara dari semua rekan kerja Elsa. Dia pun pergi meninggalkan kantor Ben.
Sementara Ben dan Tiffany sudah baikan. Tiffany dengan sayangnya mencium inci demi inci wajah Ben.
"Fany, sebelum Elsa pergi, dia memberikanku amplop itu sebagai tanda terimakasih kamu buka sana apa sisinya" ucap Ben.
Tiffany pun mengambil amplop itu lalu membukanya. Seketika wajah Tiffany langsung tegang.
"Ada apa?" tanya Ben menghampiri.
"Elsa tau aja kita banyak dosa" ucap Tiffany.
"Apa Sih maksudnya!" Ben bingung lalu mengambil amplop itu dan membukanya.
Sebuah surat undangan pergi berhaji untuk dua orang membuat wajah Ben menjadi pucat.
"Aku belum siap" ucap Ben sembari meringis.
Mungkin Ben takut dosa-dosanya akan dibalas sewaktu di tanah suci.
"Elsa menyuruhmu tobat Ben" Tiffany langsung tertawa.
"Kau juga sayang" balas Ben sama tertawa.
"Ishhhh,, aku belum siap. Belum siap meninggalkan gaun-gaun seksiku. Hajjah kan harus tertutup" ucap Tiffany.
"Yasudah dari pada mubadzir, kita berikan saja sama scurity yang sudah lama bekerja disini. Namanya Pak Mahmud sudah bekerja dari perusahaan ini masih papi pegang" ucap Ben.
"Ya itu lebih baik" jawab Tiffany.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Belinda tengah tersenyum sumringah karena dia berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan asal Dubai terkait pembuatan skincare yang nantinya akan di ekspor ke timur tengah.
"Victoria, Tuan Abdurahman Al'faqih mempercayakan uangnya pada perusahaan kita sejumlah seratus milyar" ucap Belinda sembari berbunga-bunga.
"Itu proyek bukan kaleng-kaleng Bu Bella. Kita harus menambah tenaga ahli bahkan dokter kecantikan harus kita tambah untuk menguji kelayakan produk kita agar bisa lolos pasar ke timur tengah. Saya sangat senang sekali dengan pencapaian perusahaan ini" ucap Victoria bahagia.
"Jika produk kita sukses, maka akan ada harga untuk kegigihan kalian semua. Bonus akan turun sampai ke karyawan produksi beserta keamanan perusahaan kita. Tentunya saya tidak mau kaya sendirian" tutur Belinda.
"Semoga sukses dan kemarin saya mendapat telepon dari perusahaan Mrs Jeniffer di Canada bahwa skincare kita laku keras" ucap Victoria.
__ADS_1
"Segera kemas dan beritahu pihak produksi dalam jangka seminggu harus sudah sampai ke pelabuhan" ucap Belinda.
Victoria pun langsung melaksanakan tugas yang Belinda berikan.