
Kini Aldo sudah memarkirkan mobilnya didepan rumah sang paman. Dia malam ini membawa Belinda ke rumah keluarganya lagi.
"Sayang, ini rumah siapa?" tanya Belinda bingung kala melihat rumah megah yang Aldo sambangi setelah rumah sang ibu.
"Rumah pamanku. Ayo kita masuk" Aldo memegangi tangan Belinda, lalu membuka pintunya.
Terlihat Mieke sedang mengurut kaki Djoko diatas sofa.
"Malam tan" ucap Aldo.
Mieke dan Djoko seketika tertegun melihat siapa wanita yang Aldo gandeng.
"Malam nak. Kau bawa siapa?" tanya Mieke yang langsung berdiri.
"Kenalkan tan, ini kekasihku" ucap Aldo mantap.
"Astaga Aldo cantik sekali" ucap Djoko.
"Mas ikh, tau aja barang bening" cebik Mieke.
"Selamat malam om dan tante! Saya Bella, kekasih Aldo senang bertemu dengan om dan tante" Bella berkata sembari menjabat tangan Djoko dan Mieke.
"Malam juga nak Bella kami juga senang bertemu denganmu. Ayo silahkan duduk nak" ucap Mieke ramah.
"Om senang kamu bisa mengajak kekasihmu kemari. Dan jika om boleh jujur, nak Bella lah satu-satunya wanita yang Aldo ajak kemari" ucap Djoko terharu.
"Apa benar begitu?" tanya Bella dengan senyuman terindahnya.
"Benar nak. Aldo itu tidak pernah punya kekasih, tante kira dia belok" ucap Mieke sembari tertawa cekikikan.
"Idih amit-amit. Aku normal tan" Aldo seketika memberengut.
"Yasudah mending kita makan malam saja. Bik Sari sudah masak banyak untuk kita" ucap Mieke sembari berdiri.
"Aldo, bantu om berdiri. Asam urat kambuh lagi kaki om sakit" ucap Djoko sembari meringis memegangi kakinya.
Aldo pun segera membantu sang paman untuk berjalan.
Kini mereka tengah makan malam dengan hikmat dan tanpa adanya suara kecuali denting sendok, garpu dan piring yang saling beradu.
Selesai makan, Mieke mengajak Belinda kesalahsatu ruangan.
"Sayang, ayo ikut tante sebentar dan Aldo kamu urut saja kaki om kamu" ucap Mieke sembari melangkah menggandeng tangan Belinda.
Belinda hanya ikut saja apa ajakan dari wanita paruh baya itu.
Kini sampailah disebuah ruangan yang dipenuhi perhiasan, tas mewah dan sepatu itu.
"Sayang, ambil apapun yang kamu inginkan" ucap Mieke sesantai mungkin.
"Maksud tante?" tanya Belinda yang mengetahui jika semua yang ada didalam tempat itu barang-barang yang punya nilai yang fantastis.
Mieke terkekeh meski dia tahu bahwa wanita berkelas seperti Belinda sudah tidak asing dengan perhiasan yang bertahtakan berlian ataupun tas hermes dari kulit buaya darat.
"Hadiah kecil dari tante untukmu. Ambil yang kamu mau" ucap Mieke meyakinkan.
"Tidak perlu tante, maaf sekali lagi" Belinda sangat tak enak hati dengan ini semua.
"Hmmm,, baiklah apa tante saja yang mengambilkan untukmu. Tante tahu nak, wanita highclass sepertimu sudah sering melihat ini semua, tetapi anggap saja ini hadiah jadian mu dengan Aldo" Mieke mengulum tawa.
"Hmmm, apa ini sebuah sogokan agar saya tetap bersama Aldo tan?" tanya Belinda sembari tertawa.
"Ya bisa dibilang begitu" balas Mieke sembari tertawa.
Dia pun mengambil salah satu gelang berliannya, lalu membawanya kehadapan Belinda.
__ADS_1
"Sini tanganmu" ucap Mieke.
Belinda pun memberikan tangannya lalu Mieke memasangkan gelang itu ditangan Belinda.
Belinda memandang kagum gelang yang tersemat ditangannya.
"Kamu suka nak?" tanya Mieke memandang tangan Belinda.
"Sangat suka tante gelangnya cantik. Terimakasih" ucap Belinda sedikit malu.
"Sama-sama sayang. Jangan sungkan pada tante karena Aldo sudah dianggap anak sendiri oleh tante" balas Mieke panjang lebar.
"Maaf tan, kalau anak tante kemana?" tanya Belinda karena dari tadi tidak menemukan siapa-siapa kecuali para pelayan di rumah itu.
"Tante tidak punya anak. Hanya berdua dengan om Djoko saja" ucapnya sedikit lemah.
Belinda jadi merasa bersalah menanyakan anak pada Mieke.
"Maafkan saya tan, sungguh tidak bermaksud membuat tante sedih" ucap Belinda sembari tertunduk.
"No problem sayang. Tante sudah menerima takdir itu. Aldo lah yang sudah kami anggap anak sendiri. Semua yang kami punya adalah milik Aldo dan nanti akan jadi milikmu juga. Berbahagialah dengan Aldo, nak. Jangan buat dia bersedih dan kecewa. Restu tante dan om selalu menyertai hubungan kalian" Mieke mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca lalu memeluk Belinda dengan lembut.
"Terimakasih tante sudah memberikan restu pada kami. Saya tidak akan membuat Aldo kecewa" janji Belinda dengan mantap.
"Tante percaya padamu nak" balas Mieke.
Belinda seakan dapat berjuta-juta keberuntungan malam ini. Restu dari keluarga Aldo dan berhasil membawa cincin dan gelang bertahtakan berlian. Ternyata disakiti Ben, lalu dicintai Aldo dengan sepenuh jiwanya. Tidak ada hal yang akan membuat Belinda mengecewakan Aldo.
Mereka pun keluar dari ruangan itu, lalu menghampiri Aldo dan Djoko. Pria tua itu sedang kesal pada Aldo pasalnya dia menemui ibunya.
"Kenapa mas marahi Aldo?" tanya Mieke yang langsung mendudukkan bokongnya diatas sofa.
"Aku marah sebab dia menemui ibunya. Aku hanya masih marah pada wanita kejam itu.
"Giliran sudah reyot begitu meminta maaf padamu. Dulu kemana saja. Apalagi si Sugeng breng*ek itu. Pria miskin dengan berjuta tipu muslihatnya" geram Mieke.
"Sudah tan, dia sudah meninggal tak baik kita mencelanya. Yang penting semua sudah baik-baik saja walaupun aku tidak munafik bahwa hati kecilku masih terluka. Tapi aku sudah ikhlas. Aku juga tidak mau membuat seorang ibu mati dalam lautan penyesalan. Aku baru tahu jika hari meninggalnya papa sama dengan hari meninggalnya Sugeng suami ibu.
" Baiklah jika begitu pilihanmu Aldo, tante tidak akan memaksa. Yang penting kamu bahagia itu sudah membuat kami senang" tutur Mieke.
"Sebagai hadiah nanti jika kalian menikah, om akan membiayai seluruh resepsi pernikahan kalian, membelikan gaun pengantin dan tiket bulan madu kapal pesiar dan keliling eropa sepuasnya" ucap Djoko.
"Beneran om?" tanya Aldo bahagia.
Belinda pun ikut bahagia. Lumayan liburan gratis plus bisa main kuda-kudaan dengan Aldo dimanapun jika sudah halal.
"Memangnya aku pernah bohong padamu?" tanya Djoko cemberut.
"Terimakasih om, tapi tak sekalian sama mobil sport dan rumah mewahnya?" ucap Aldo dengan tidak tahu diri.
"Anak ini dikasih hati minta jeroan beserta ampas-ampasnya. Memang rumahmu yang di jalan kenari kan masih sangat layak huni bahkan sangat mewah, apakah masih kurang?" tanya Mieke sembari memukulkan raket listrik pada Aldo.
"Aku bercanda tan" balas Aldo.
Mereka pun tertawa dengan puasnya.
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, dua sejoli ini pun pulang menuju rumah Belinda.
"Sayang maaf pulangnya malam sekali" ucap Aldo sembari mengemudi dan tangan satunya mengelus kepala Belinda.
"Tak apa, aku senang bisa mengenal keluargamu" Belinda meraih tangan kekar itu lalu diciuminya.
Aldo seketika menepikan mobilnya dipinggir jalan.
__ADS_1
"Kok berhenti?" tanya Belinda.
Tanpa basa basi, Aldo segera memangku tubuh sang kekasih lalu mendudukkan di pangkuannya. Aldo terlebih dahulu memundurkan kursi mobilnya dahulu agar bisa leluasa dengan Belinda.
"Aku sangat mencintaimu" tegas Aldo sembari merengkuh tubuh sang kekasih dan sedikit menekan hingga Belinda bisa merasakan sesuatu benda tumpul mengeras dibawah sana.
"Ughh besar sekali" ucap Belinda dalam hati.
"Aku pun begitu" jawab Belinda sembari mengelus wajah tampan nan tegas itu.
Dari jarak mereka yang sangat dekat dan ditambah remangnya cahaya lampu mobil membuat aura ketampanan Aldo meningkat berpuluh-puluh kali lipat. Belinda pun tak tahan melihat bibir seksi sedikit tebal berwarna cerah itu, dia kemudian meraup benda kenyal itu. Aldo balas ciuman itu. Sangat penuh gairah tetapi kekhawatiran tiba-tiba membayangi Belinda dan langsung melepaskan pagutan itu.
"Kenapa, hem?" suara Aldo terdengar parau.
"Sayang, bagaimana jika ada yang melihat kita " Belinda takut jika perbuatannya diketahui orang lain lalu di viral kan mengingat mereka berdua adalah sama-sama pengusaha sukses maka akan berpengaruh pada keadaan perusahaan.
"Kamu tenang saja, kaca mobilku kan hitam tidak akan terlihat kegiatan apa yang kita lakukan dari luar" ucap Aldo.
Mereka berdua pun melakukan cumbuan itu kembali. Tak membiarkan tangannya menganggur, Aldo sudah membuka kancing baju Belinda hingga terbuka semuanya.
"Aldo, jangan" ucap Belinda parau.
"Kamu miliku. Percayalah aku takan melewati batas" Aldo menepis keraguan Belinda.
Wajahnya dia benamkan pada si kembar itu, menyesapnya seperti bayi yang kehausan.
Sapuan lidah Aldo terasa hangat disana.
"Aghhhhhhh" suara laknat itu lolos dari bibir Belinda.
"Jangan ditahan sayang" ucap Aldo disela-sela aksinya.
Kemudian Aldo merebahkan Belinda lalu meraih segitiga bermuda sang kekasih.
"Aldo jangan" Belinda memegangi selah pahanya tapi Aldo segera meyakinkannya.
Bagian terliar dalam diri pria pendiam itu keluar malam ini. Sisi agresifitas Aldo memuncak bak serigala yang sudah lama tertidur.
Aldo menenggelamkan wajahnya dalam segitiga bermuda itu, sesaat memandangnya dan sesaat kemudian memandang wajah sang kekasih yang sudah bersemu merah.
"Cantik sekali" lamat Aldo memperhatikan kelopak mawar merah itu.
Lalu kembali menenggelamkan wajahnya di sana.
"Aldo, euphhhhhhhhhhhh" Seakan tidak tahan dengan aktivitas yang Aldo lakukan dibawah sana.
Belinda meracau, mende**h, melenguh karena sesuatu meledak dibawah sana.
Aldo kemudian melepaskan itu, lalu memandang wajah sayu sang kekasih.
Dirinya sampai menggeram hebat karena menahan sesuatu yang sangat sesak pada selah pahanya sendiri
Belinda bisa melihat kefrustasian di wajah Aldo.
"Sayang, pasti sakit ya? Mau aku bantu?" tanya Belinda.
"Sesak sekali" gumam Aldo.
Belinda pun bergantian memanjakan sang kekasih.
Mereka pun menyudahi semuanya dengan nafas tersenggal.
"Pulang sekarang?" tanya Aldo.
"Ya" jawab Belinda.
__ADS_1
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.
Semoga lulus sensor...................