
"Bisa kan loe healing minggu depan? Gue benci penolakan. Diana saja sudah setuju kok" ucap Andreas dari balik telepon.
"Kok maksa sih anda?" kesal Belinda.
"Gue bukan memaksa tetapi gue mengajak. You know lah gue tahu loe jarang sekali healing. Diana akan pergi sama anaknya si Aurel dan Gue bakal sama pacar gue. Loe ajak aja pacar loe kan impas" ucap Andreas kekeh.
"Gue sibuk" ucap Belinda.
"Gue gak mau tahu, by" Andreas langsung mematikan panggilan teleponnya.
"Ishh dasar si gobl*k" sungut Belinda.
Untung Andreas sahabat sejatinya, kalau orang lain yang bersikap pemaksa maka Belinda tentu sudah pasti menghajarnya.
Dia pun mau tak mau menyanggupi ajakan itu.
Belinda pun langsung menghubungi Aldo.
"Hallo, sayang" ucap Aldo diseberang panggilan telepon.
"Sayang, apa minggu depan tidak sibuk?" tanya Belinda.
"Hmmm, Ada rapat antar divisi. Memangnya ada apa?" tanya Aldo.
"Andreas mengajakku healing, tepatnya memaksa dan aku tak bisa menolaknya" jawab Belinda.
"Kapan?" tanya Aldo yang tak kuasa menolak.
"Minggu depan. Tapi kalau kamu sibuk tak apa" ucap Belinda lesu.
"Tidak sibuk dong sayang. Kita berangkat saja" balas Aldo.
Sementara Listyo sedang mendengarkan Ben menelepon seseorang.
"Bicara dengan siapa, dia?" Listyo curigation dengan sikap sang anak akhir-akhir ini.
Terlihat Ben sangat serius.
"Jadi bagaimana apakah saya bisa menikah dengan mantan istri saya walaupun sudah saya jatuhkan talak tiga?" tanya Ben pada seseorang itu.
"kalau itu anda tidak bisa langsung menikahinya Pak Ben. Talak tiga memang agak berat untuk bisa bersatu kembali. Jika ingin maka mantan istri anda harus menikah dengan orang lain" jawab seseorang itu.
"Oh begitu. Jadi mantan istri saya harus menikah dahulu lalu berhubungan layaknya suami istri jika mereka bercerai baru saya bisa menikahinya?" tanya Ben kembali.
" Benar Pak Ben. Sesuai syariat memang seperti itu" jawabnya
__ADS_1
"Yasudah jika begitu. Terimakasih atas penjelasannya maaf mengganggu waktu luang anda" ucap Ben kemudian mematikan sambungan telepon itu.
Brakkkkkkkkkkkk!!!!!
Listyo menendang pintu ruangan yang Ben tempati.
"Kau habis teleponan dengan siapa?" tanya Listyo naik pitam.
"Dengan kolega" jawabnya.
"Bohong. Sejak kapan kau pintar berdusta padaku Ben? Bilang padaku kau mengobrol dengan siapa bodoh?" Listyo sudah merangsek kerah baju sang putra.
"Aku menelepon pihak pengadilan agama" jawab Ben sembari tertunduk.
"Arghhhhhhhhh, gobl*k anak si*an bedebah. Mau apalagi kau begini Ben? Mau apalagi?" Lisyto menampar Ben saking marahnya.
"Aku ingin kembali pada Bella pi. Aku sangat mencintai Bella pi, apa aku salah jika ingin memperjuangkan cintaku? Aku tidak bisa hidup tanpa Bella" kali ini Ben menangis tergugu dihadapan sang ayah.
"Lantas mau kau apakan Tiffany? Sekeras apapun kau mencoba segala cara agar Bella bisa kembali, tetap saja kau tidak jodoh Ben sadarlah kau jangan menyia-nyiakan hidupmu. Dan ingat pesan papi Ben, Apa Bella masih ingin menerimamu? Papi rasa tidak apalagi sekarang dia sudah bersama Aldo" ucap Listyo.
"Ben tidak tahu pi" Ben semakin larut dalam kesedihan.
"Sudahlah sekarang jalani saja hidupmu Ben. Berikan Tiffany cinta seperti yang kau lakukan dahulu padanya. Jangan sampai kau sudah kehilangan Bella lalu kehilangan Tiffany kau akan menyesal" ucap Listyo lalu pergi meninggalkan Ben yang tertunduk seperti orang bodoh.
"Tidak bisa, aku harus kembali memiliki Bella apapun caranya" Ben mengepalkan tangannya kemudian dia membaringkan tubuhnya diatas sofa.
"Bella, aku tidak mimpi kan kau datang menemui ku disini?" tanya Ben dengan senyum bahagia.
"Tidak Ben. Ben kamu baik-baik saja kan?" tanya Belinda sembari ikut barbaring disamping Ben lalu memeluk tubuh kokoh itu.
Ben mengusap surai panjang nan lembut itu. Memindai wajah yang selalu ia rindukan, lalu menatap manik jelaga itu dengan sangat dalam. Ben merasa apa yang dia lakukan terhadap Belinda memang sukar dimaafkan tetapi dia akan terus mengejarnya sampai bunga itu bisa dihirup kembali aromanya, itulah ungkapan sang kumbang yang bernama Ben.
"Bella aku merindukanmu" ucap Ben.
"Aku juga Ben" jawabnya.
"Bella aku sangat mencintaimu" ucap Ben.
"Aku juga sayang" balas Belinda sembari membuka satu persatu kancing baju Ben.
"Bella kamu mau apa?" tanya Ben heran.
"Ben, aku ingin memberikanmu kenikmatan duniawi. Aku merindukan saat kau menyentuhku hingga aku menjerit-jerit dalam buaian gairah" ucap Belinda.
"Aku akan memberikannya sayang" balas Ben lalu balik mengungkung tubuh Belinda.
__ADS_1
Ben semakin dalam menyusuri setiap jengkal tubuh mulus itu.
"Achhhhhhhhhhhhhhhh" Belinda akhirnya mengeluarkan suara laknatnya.
"Aku masukan ya sayang" ucap Ben sembari mengarahkan senjatanya.
"Sekarang sayang" balas Belinda.
Byurrrrrrrrrr!!!!!! Tiba-tiba air mengguyur tubuh Ben dan membangunkannya dari alam mimpi.
"Arghhhhhhhhhhhhhh,, Si*lan" Ben mengamuk karena tubuhnya basah kuyup.
"Mimpi apa kau bodoh?" tanya Listyo geram karena Ben mende@ah-des@h lalu menciumi guling yang ada dalam pelukannya.
"Tidak pi" bohong Ben.
"Kau mimpi jorok kan? Dan kenapa kau memanggil-manggil nama Belinda sembari mengungkung guling itu? Kurasa kau sudah tidak waras Ben. Pulang sana aku muak melihat tingkahmu" usir Listyo
"Papi mengacaukan segalanya. Baru juga mau masuk sudah di siram air" Ben pun marah-marah lalu keluar dari kantornya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Aldo sudah berada di rumah Djoko sang paman. Pria paruh baya dan istrinya Mieke selalu menagih cucu pada Aldo.
"Ada apa om panggil aku kemari? Aku sedang sibuk!" tanya Aldo.
"Aku tahu kau sibuk. Om hanya ingin menanyakan bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Bella?" ucap Djoko.
"Aku masih pacaran dengan dia, memangnya kenapa om?" tanya Aldo heran.
"Kapan kau akan menikahinya Aldo? Om rasa kalian sudah sama-sama cocok tunggu apa lagi?" tanya Djoko.
"Entahlah aku bingung" ucap Aldo.
"Apa yang membuatmu bingung? Tante lihat dia wanita yang cocok dan bisa membuat pria sedingin kulkas menjadi hot. Kami ini sudah tua, kami ingin menimang cucu" keluh Mieke.
"Bukan begitu tan, inginnya aku pun segera menikahi Bella, tetapi sepertinya dia belum sepenuhnya yakin akan mau menjalin pernikahan kembali dalam waktu dekat" Aldo pun berbicara dengan nada seakan putus asa.
"Apa dia masih trauma dengan pernikahannya yang gagal itu? Aldo kau harus bisa meyakinkannya bahwa kau tidak seperti mantan suaminya terdahulu. Apa kau yang tidak yakin, hem?" tanya Mieke.
"Bisa dibilang begitu. Aku hanya takut Bella menerimaku hanya sebagai pelampiasannya saja tan, Aku takut sakit dikemudian hari tapi hatiku sangat mencintai Bella" kini Aldo tertunduk air mata kejantanannya meleleh seketika.
"Saran dariku, kamu tanyakan saja padanya apakah dia mau serius padamu? Dan om harap kau segera melamarnya" tegas Djoko.
"Baiklah om, aku akan membicarakan itu dengan Bella" jawab Aldo.
__ADS_1
Hatinya bimbang antara yakin dan tidaknya Belinda mencintainya sepenuh hati. Pernah sekali Aldo mengutarakan niatnya untuk mengajaknya menikah, tetapi Belinda tidak menjawab apapun dia hanya menjawab dengan senyuman yang entah apa artinya. Bayang-bayang masa lalu akan perasaan Belinda pada Ben masih membekas di ingatan Aldo.