Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Kesedihan Elsa


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak pulang semalam?" tanya Dhanu pada Belinda.


"Aku menginap pa!" jawabnya santai.


"Kamu menginap di rumah Reyna apa dirumah Andreas?" Dhanu ingin memastikan.


"Tidak pa" jawabnya.


"Lantas kamu tidur dimana Bella?" Dhanu semakin kepo.


"Dirumah Aldo!" jawabnya.


Uhukkkkkk... Uhukkkkk. Tiba-tiba Ben tersedak mendengarnya.


"Apasih reaksimu begitu banget" Tiffany kesal dengan reaksi Ben.


"Kamu menginap dirumah Aldo? Apartemennya kan sesak hanya ada satu kamar? Apa yang kalian lakukan?" Ben merasa marah.


"Kau kenapa sih Ben? Terserah mau aku tidur dengan siapapun asalkan aku tidak melakukan hal yang iya iya. Tidak sepertimu. Kau tidak banyak tahu tentang Aldo sebenarnya. Aku ini wanita single, bebas apapun yang ingin kulakukan. Dan aku juga sebenarnya tidak begitu nyaman dengan kehadiran kalian dirumah ini, begini saja aku atau kalian yang pindah rumah?" Belinda jengah karena Ben dan Tiffany masih tinggal bersama dirumah Dhanu.


"Kau mengusirku Kak?" tanya Tiffany mulai memanas.


"Bukannya jika salah satu dari kita pergi dari rumah ini akan lebih baik? Ingat ya Fany, aku dengan Ben adalah mantan suami istri, bukannya itu tidak baik harus tetap serumah begini. Apa kau tidak takut akan ada apa-apa? Berpikir dewasa bisa kan? Jangan cuma pintar goyang saja" balas Belinda.


"Itu benar Fany. Kita harus menghindari fitnah" ucap Dhanu mengiyakan.


"Ben, rumah kita dulu kan kosong. Bawa saja istrimu tinggal disana" Belinda mencoba jalan aman.


"Tidak bisa Bella karena rumah itu hadiah pernikahan untukmu" balas Ben.


"Belikan aku rumah yang baru" Tiffany emosi.


"Apasih kau ini, tempati saja rumah itu. Jika kau ingin tetap disini, sebaiknya aku yang mengalah untuk tinggal dirumah itu. Lagi pula ada Bik Lilis yang akan menemaniku" ucap Belinda.


"Sebaiknya kalian saja yang tinggal dirumah itu. Fany mengertilah nak! Mama bukan mengusir kalian berdua, hanya saja ini semua demi kebaikan kalian juga. Bella ini mantan istri Ben, jadi kalian harus menghindari fitnah. Mama akan membantu membereskan barang-barang kalian" Haruni mengambil jalan tengahnya saja akan permasalahan kedua putrinya.


Tiffany pun akhirnya setuju dengan keputusan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Siapkan materi untuk saya rapat diluar, Elsa. Jam satu siang kamu harus sudah selesai reservasi resto itu. Tempatnya terserah kamu asal yang ada ruang khusus meeting" ucap Ben pada Elsa asprinya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita adakan pertemuan itu Malinaou Resto saja pak?" tanya Elsa.


"Ide bagus. Yasudah reservasi sekarang" Ben ingin tempat yang nyaman.


"Baiklah pak" ucap Elsa kemudian keluar dari ruang kerja Ben.


Diluar, Elsa sudah ditunggu oleh karyawan lain untuk bergosif seperti biasa.


"Kebiasaan deh kepo stadium lima" cebik Elsa pada geng cilok, sebutan karyawan satu ruangnya yang sangat kepo.


"Elsa, loe tuh kan cantik coba deh caper sama Pak Ben!" ucap Dina.


"Eling loe Dina, Pak Ben itu udah menikah..Istighfar loe" ucap Amini.


"Loe nyuruh gue jadi pelakor ya? Ogah amit-amit mening gue janda seumur hidup" timpal Elsa.


"Ye loe ini ditawarin lahan basah malah menolak. Nie ya gue prediksi tongkat saktinya bos kita tuh gede, panjang dan tentunya tebal" kekeh Dina yang di juluki cewek somplak.


"Tau dari mana loe t*i💩?" tanya Amel kesal sekaligus ingin tertawa dengan kemesuman Dina staf keuangan itu.


"Gue pernah perhatiin jempol tangannya" jawabnya seraya terkekeh.


Malinaou Resto......


"Senang sekali kami bisa bekerjasama dengan perusahaan anda" ucap Ben pada rekan bisnisnya.


"Besar harapan kita akan sama-sama saling menguntungkan" ucap Broto sang rekan kerja.


"Pasti Pak Broto, anda harus yakin itu" ucap Ben kemudian mereka semua berjabat tangan.


Ben dan Elsa pun berjalan menuju pintu keluar, tetapi seseorang menabrak Elsa hingga dia terduduk dilantai.


"Aduhh....Jalan pakai mata dong" kesal Elsa.


"Sorry, sorry saya buru-buru" ucap pria itu.


Saat Elsa mendongakan wajahnya, seketika badannya bergetar menahan amarah.


"Bima!" ucapnya.


"Elsa? Oh jadi kau sekarang bekerja? Dan bos mu adalah Ben Lazuardy?" tanya Bima yang diketahui adalah mantan suami Elsa.

__ADS_1


"Kalian? Dimana Gerry? Apa dia sehat?" Elsa malah menanyakan keberadaan sang putra.


"Kau tidak perlu tahu keadaan anaku. Sebaiknya kau pergi yang jauh agar aku dan Gerry hidup bahagia!" bentaknya.


"Brengs*k jahanam memang kau Bima, sama kaya dia" Elsa menunjuk sang wanita seksi yang berada disamping Bima.


"Aku pastikan secepatnya Gerry akan berada ditanganku. Camkan itu.. Cuihhhh" Elsa marah sembari meludah tepat diwajah mantan suami.


"Kurang ajar dasar pel*c*r beraninya kau meludahiku" Bima hendak menampar wajah Elsa namun Ben menghentikan.


"Bima, hanya pria pengecut yang berani memukul wanita. Ku kira sifat pengecutmu sudah hilang ternyata masih ada" ucap Ben yang langsung menarik tangan Elsa menuju mobilnya.


Didalam mobil Elsa menangis sejadinya tidak peduli dengan keberadaan Ben.


"Elsa tenang Elsa" Ben merasa iba dengan asprinya.


"Ceritakan pada saya kenapa kamu bisa kenal dengan Bima Rafadya si bahlul?" tanya Ben.


"Dia itu mantan suami saya, dan wanita yang berdiri disampingnya adalah istrinya yang baru. Dia itu pelakor Pak. Dia awalnya aspri kami tetapi dia dengan tubuhnya berani menggoda Bima, ya akhirnya mereka menikah dan Bima menceraikan saya dan merampas hak asuh anak saya. Walaupun pengadilan sudah menyerahkan hak asuh itu pada saya" Elsa tambah menangis.


"Berarti kalian berdua pemilik perusahaan PT Cipta Abadi?" tanya Ben seakan tidak percaya.


"Tepatnya milik saya karena Bima tidak punya apa-apa. Saya dan dia memulai membangun usaha dengan modal dari papa saya. Pelan-pelan kami bangun dengan tertatih-tatih dari nol sampai perusahaan bisa sebesar itu tetapi saya malah ditendang dari kursi saya sendiri. Saya dimiskinkan oleh ayah dari anak saya sendiri. Sakit rasanya Pak" Elsa kembali bercerita sambil menangis.


"Ini gila, benar sungguh gila. Langkah selanjutnya kamu akan apa Elsa?" tanya Ben dengan kekepoannya.


"Saya tidak akan apa-apa hanya ingin Gerry anak saya bisa kembali pada saya pak itu saja. Soal harta, saya tidak memikirkan karena semua tindakan akan kembali pada diri sendiri bukan? Tidak ada yang saya takutkan didunia ini kecuali soal anak saya" tutur Elsa dengan dada tersenggal menahan emosi dalam dirinya.


Ben mengambil tisu kemudian mengelapi mata Elsa.


"Saya salut padamu Elsa. Kamu sabar sekali! Semoga masalah kamu cepat selesai" ucap Ben.


"Terimakasih Pak" Elsa sedikit tersenyum membuat lesung pipinya terlihat jelas.


"Kamu cantik sekali Elsa. Aku seperti melihat sosok Bella pada dirimu. Arghhhhhh Ben kau ini mikir apa sih" Ben menggusar rambutnya dengan acak.


"Pak kenapa?" tanya Elsa heran.


"Oh tidak Elsa. Hanya sedikit sakit kepala saya" ucap Ben.


Elsa pun hanya ber Oh ria...

__ADS_1


__ADS_2