Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Menerimamu


__ADS_3

Sore itu Aldo langsung berangkat kekantor Belinda niat hati ingin menjemput Belinda pulang bersamanya tetapi saat didalam area parkir kantor Belinda, Aldo melihat sebuah pemandangan yang mengiris hatinya sekaligus menodai pengelihatannya.


"Arghhhhhhhhhh Bella ternyata kamu begitu" Aldo amatlah emosi saat melihat Belinda dan Ben sedang berciuman tepatnya melihat Ben yang begitu agresif menyesap bibir Belinda.


"Rasanya hatiku serasa remuk. Baiklah jika begitu aku tidak akan mengganggu kamu lagi Bella" Aldo pun memutar kembali mobilnya menuju pintu keluar.


Didalam mobil, Belinda seketika menampar wajah Ben.


"Sialan kau Ben Lazuardy. Lancang tak sopan" Belinda hendak turun dari mobil Ben namun Ben segera mengunci pintu mobilnya.


"Bella aku tidak tahan lagi dengan ragamu sayang. Maafkan aku jika aku sengaja membuat alasan agar kamu mau pulang bersamaku" Ben seolah kehilangan akal sehatnya.


"Jadi kau berbohong mengatakan kau disuruh papa untuk menjemputku? Bajingan sekali kau Ben. Ingat dirumah ada istrimu" Belinda teramat kesal dengan Ben.


"Tolong berikan aku kesempatan Bella" Ben memohon.


"Benar-benar gila kau! Buka kuncinya atau aku takan memaafkanmu seumur hidupku" Emosi Belinda sudah diujung tanduk. Ben pun menuruti untuk membukakan pintu mobilnya yang dikunci sebelumnya.


Belinda pun pergi dari area parkir itu.


Tak disangka dia melihat mobil Victoria dan segera menyetopnya.


"Victo, saya ikut pulang denganmu" ucap Belinda langsung membuka mobil sang aspri.


"Dengan senang hati Bu Bella. Oh ya apa Bu Bella melihat Pak Aldo? Karena tadi beliau kemari tetapi tak lama kembali lagi, bahkan beliau menjalankan mobilnya kaya orang yang kesurupan, bahkan tadi sempat menabrak tong sampah ujung sana" Victora menjelaskan apa yang tadi dilihatnya.


"Apa, Aldo kemari? Apa kamu melihat wajahnya?" tanya Belinda mencoba memastikan.


"Jelas saya lihat, orang Pak Aldo sempat turun membereskan sampah yang beliau tabrak, tapi aneh nya, wajahnya seperti orang yang sedang marah" ucap Victoria.


Seketika Belinda ingat sesuatu yang terjadi dalam mobil Ben.


"Apa dia melihatku bersama Ben? Apa dia juga mengira aku sedang ciuman dengan Ben? Tidak-tidak, aku harus meluruskan kesalah pahaman ini. Aku tidak mau Aldo berpikiran buruk tentangku, aku tak mau Aldo berasumsi bahwa aku adalah wanita murahan yang belum move on. Aku harus cari Aldo dan menjelaskan semua kesalah pahaman ini" Belinda terus saja membatin.


"Victo antar saya ke-kantor PT. Bromo Baja sekarang" ucap Belinda dengan hati yang was-was.


"Baiklah Bu" Victoria segera menjalankan mobilnya.


Skip.


"Maaf tapi semua karyawan sudah pulang termasuk Pak Aldo" ucap salah satu keamanan dikantor itu.


Belinda pun bernafas dengan kasar karena belum berhasil menemui Aldo.


"Kemana lagi kita Bu?" tanya Victoria.


"Kita ke-kantor radio love FM aja, siapa tahu kita bisa temukan Aldo" jawab Belinda.


"Baik Bu Bella" Victoria menjalankan kembali mobilnya.


Sesampainya dikantor radio itu, jawaban yang sama yang Belinda dapatkan.


"Maaf sebelumnya, tetapi Bos Aldo sudah lama tidak mampir kemari" ucap salah satu penyiar.


"Apa ada diantara kalian tahu alamat Pak Aldo?" tanya Belinda mulai gelisah.


"Rumahnya dijalan Armada no 32. Perumahan elit" jawab salah satu scurity yang pernah membawakan berkas periklanan radio itu kerumah Aldo.


"Baiklah terimakasih" Belinda pun pergi dengan Victoria menuju alamat yang disebutkan pria itu.


Setelah sekitar satu jam berkendara, akhirnya mobil yang dikemudikan Victoria telah sampai didepan rumah yang megah.



"Apa benar ini alamatnya Victo?" tanya Belinda seakan tidak yakin dengan rumah megah yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Menurut alamat yang diberikan scurity tadi sih harusnya benar bu! Ayolah kita masuk" lalu mereka berdua keluar dari mobil.


"Permisi!" ucap Belinda pada penjaga rumah itu.


"Ya nona! Anda mencari siapa?" tanya


Sang penjaga.


"Apa benar ini rumah Bapak Refaldo?" tanya Belinda.


"Bukan! Ini rumah mendiang Tuan Ajisaka, tuan muda Refaldo adalah anaknya" jawab sang penjaga yang wajahnya seperti inspektur Ladusigh diserial kartun asal India.


"Yaelah sama bae atuh Bambang" gumam Belinda sedikit kesal.


"Bisakah saya bertemu dengan beliau?" tanya Belinda penuh harap.


"Sebentar saya akan lapor dulu dengan tuan muda" pria itu lalu masuk kedalam rumah untuk berbicara dengan Aldo.


Tak lama pria itu kembali lagi menghampiri Belinda.


"Anda diizinkan menemui tuan muda, tapi tidak dengan nona ini" ucap pria itu menunjuk kearah Victoria.


"Hei anda ini ya tuan botak beraninya mengusir saya. Saya juga akan pulang kok karena tidak ada urusan dengan sang tuan muda kalian. Kalau begitu saya pulang ya Bu Bella. Semoga sukses semuanya" Victoria lalu meninggalkan rumah Aldo.


Aldo duduk dikursi ruang tamu itu dengan penuh wibawa.


Belinda kemudian berjalan mendekati Aldo.


"Aldo!" ucap Belinda.


Aldo tak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya memandang lekat pada wajah itu.


"Aldo, maaf aku mengganggu waktumu" Belinda berbicara dengan langkah semakin dekat dengan Aldo.


"Ada apa Bella, kau jauh-jauh menemuiku?" Ada kekecewaan dibalik pertanyaan yang Aldo lontarkan.


"Bella, kamu bicara apa sih?" Aldo sebenarnya sudah malas membicarakan hal yang membuat emosinya memuncak.


"Aldo, please jangan begini. Aku tahu kamu melihatnya kan? Aldo tatap aku, aku tidak berbohong" Belinda masih memohon agar Aldo percaya.


"Tapi sepertinya kamu menikmati pagutan yang penuh gairah itu kan Bella?" Akhirnya Aldo berbicara yang sejujurnya.


"Tidak Aldo. Aku membencinya, Ben yang menciumku. Jangan berpikiran aku wanita murahan, please" Belinda memohon.


"Bella kemari, duduk dekat denganku karena suaramu tidak kedengaran" ucap Aldo padahal jarak mereka hanya sekitar dua meteran.


Modus sih sebenarnya. Bilang aja Aldo ingin dekat dengan Belinda.


Belinda pun menurut duduk didekat Aldo.


"Bella" panggil Aldo


"Hmmmm" Belinda menjawah dengan deheman saja.


"Aku percaya padamu" ucap Aldo.


"Sungguh?" tanya Belinda memastikan.


"Sungguh Bella! Tapi ada syaratnya!" Aldo mulai mencuri-curi lagi kesempatan.


"Apa sih mesti pakai sarat segala?" tanya Belinda sedikit kesal.


"Peluk aku" ucapnya dingin.


"Hanya peluk saja?" tanya Belinda polos.

__ADS_1


"Ya memangnya harus apa? Atau kamu mau kita langsung kekamar saja, hmmmm?" tanya Aldo dengan seringai nackalnya.


"Tidak!" tolak Belinda tetapi tangannya langsung memeluk Aldo.


Wangi maskulin menguar dari tubuh Aldo yang si*lnya membuat sesuatu berdesir didalam tubuh Belinda.


"Wanginya membuat tubuhku lemas" ucap Belinda dalam hati.


Lalu ketika sedang erat berpelukan dengan Aldo, matanya melihat kearah selah paha Aldo, belinda melihat benda yang sedikit menonjol terlihat besar dan kokoh yang bisa disebut si ular bermata satu itu.


"OMG menonjol sekali. Sepertinya itu masih tidur deh, bagaimana jika sudah bangun. Bagaimana jika masuk kedalam sini?" Belinda seketika melirik selah pahanya sendiri.


"Aku rasanya gemas sekali ingin menyentuh dan meremasnya, tapi itu melanggar kode etik dunia perjandaan. Bagaimana rasanya jika lolipop Aldo aku ****? Arghhhh Bella otakmu sudah konslet. Tidak, tidak" Belinda merutuki otaknya sendiri yang berfikiran kotor.


"Bella, aku mencintaimu. Mau kan kamu membuka hatimu padaku Bella?" Aldo mencoba mengutarakan lagi cintanya.


Belinda hanya diam.


"Maaf Bella" Aldo merasa sedih.


"Aldo!" seru Belinda.


"Hmmmm" Hanya sebuah deheman yang Aldo ucapkan.


"Aku mau jadi kekasihmu" ucap Belinda yang membuat hati Aldo bergemuruh bahagia.


"Serius Bella?" tanya Aldo memastikan kembali.


"Apa aku terlihat bercanda?" tanya Belinda kembali.


Seketika Aldo langsung memeluk Belinda dengan eratnya, bahkan Aldo mendudukan Belinda diatas pahanya.


"Terimaksih sayang terimakasih. I Love you so much baby. Aku begitu mencintaimu dari dulu. Inilah jawaban yang aku tunggu selama berbelas-belas tahun dalam penantian sayang. Aku berjanji tak akan pernah menyakitmu sayang tak akan" Aldo dengan bahagianya mendaratkan perpuluh ciuman pada wajah Belinda saking bahagianya.


"Aku juga bahagia bisa dicintai oleh pria sehebat dirimu" Belinda untuk pertama kalinya mencium bibir Aldo.


Mereka saling melepaskan kebahagiaan melalui sebuah decapan bibir, lalu sesudah lama mereka saling melepaskan.


"Aku akan belajar membuatmu selalu bahagia" ucap Belinda sembari iseng mencubit hidung mancung Aldo dengan gemas.


"Bella, aku akan secepatnya melamarmu sayang. Aku akan menikahimu. Aku sudah tidak sabar ingin hidup bahagia bersama cinta pertama dan terakhirku" Aldo semakin erat memeluk tubuh Belinda.


"Tapi apakah kamu mau menikah dengan seorang janda?" Belinda mulai risau.


"Aku tidak peduli sayang. Aku hanya tahu bahwa aku sangat mencintaimu" jawab Aldo tegas.


"Dan satu lagi, apa kamu tidak takut menikah denganku?" Belinda bertanya kembali.


"Apa yang harus aku takutkan sayang?" ucap Aldo.


"Apa kamu tidak takut kalau aku akan mengambil semua uangmu?" tanya Belinda sembari terkekeh.


"Ambilah Bella. Karena uangku banyak" jawab Aldo sembari mencubit gemas pipi Belinda.


Mereka berdua pun tertawa bersama.


"Bella, jangan pulang malam ini. Aku ingin tidur bersamamu" ucap Aldo tanpa kecanggungan.


"Hei udah berani ngajak ngamar rupanya ya?" Belinda sedikit terkejut.


"Kita gak akan ngelakuin itu kok! Aku ingin halalin dulu kamu Bella sebelum aku bisa menggempur milikmu. Setelah kita nikah lalu jadi pengantin baru, jangan harap kamu bisa tidur nyenyak" ucap Aldo tanpa filter.


"Aishhhhhh takut!" balas Belinda.


"Aku tidak ingin melakukan itu tanpa adanya pernikahan Bella. Aku tidak ingin mengotori tubuhmu. Lebih nikmat jika melakukan itu sudah sah dan takan dosa bukan? Aku ingin pernikahan kita sehat agar keturunan kita juga baik-baik" tutur Aldo seperti sedang ceramah.

__ADS_1


"Aku percaya padamu Aldo. Terimakasih sudah menerimaku" Belinda menitikan air mata harunya.


"Yasudah meningan kamu mandi, lalu kita makan dan selepas itu kita bobo bersama" ucap Aldo lalu menuntun Belinda masuk kekamarnya.


__ADS_2