
Listyo sudah berada dirumasakit bersama Ben. Mereka memandang nanar seonggok tubuh yang masih tak sadarkan diri, tak lain dan tak bukan ialah Dhanu seorang.
Semua orang yang ada disana bungkam seolah gembok mengunci mulut mereka dengan rapat.
Masing-masing insan masih bergelung dengan rasa kedukaan yang baru saja dialami.
Belinda diam dengan tatapan nanar, sementara Tiffany tak berada ditempat itu karena Haruni menyuruhnya mandi dan ganti pakaian.
Aldo masih setia menunggu dekat Belinda membuat semburat rasa cemburu menjalar dalam ulu hati seorang Ben si pria pecundang. Apalagi melihat tatapan Aldo yang mengisyaratkan ada cinta disana.
"Aldo, ikut saya" Ben menyeret tangan Aldo menuju lorong yang sepi.
Sesampainya dilorong itu, Ben segera menghempaskan tangan Aldo dengan kasar.
"Kenapa Pak, apa ada masalah?" tanya Aldo kikuk.
"Kenapa kau masih disini Aldo? Kau bisa pulang, aku akan menunggu mertuaku" tegas Ben.
"Apa ada larangannya saya disini Pak? Lagi pula saya kan yang memberitahu anda jika Pak Dhanu sakit?" tanya Aldo sedikit kesal.
"Kenapa kamu bisa membantah?" Sergah Ben karena Aldo sudah menjawab kata-katanya.
"Maaf Pak! Tapi saya rasa anda sudah sedikit keterlaluan" Aldo berkata dengan berani.
"Aldo, kenapa kamu jadi berani pada saya?" Ben heran.
"Kita semua sama Pak! Saya juga punya mulut dan berhak untuk berkata-kata, berhak menyuarakan pendapat saya" Aldo terus menimpali omongan Ben.
"Kamu bisa pulang sekarang" Ben tak mau berdebat dengan Aldo
Aldo pun hanya mengangguk sembari melangkahkan kakinya dengan kesal.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sementara dirumah Mario, dia sedang membaca data tentang Tiffany.
Sunggingan dibibirnya menandakan dia puas dengan hasil data itu.
"Jadi dia anak Dhanu Brajamusti, pemilik perusahaan PT Cipta Sejahtera. Bukannya perusahaan itu bekerja sama dengan perusahaan milik dady? Hahahaha.. Tiffany Angela kau miliku sekarang" Mario bersorak gembira.
Kemudian dia menyuruh anak buahnya yang bernama Popeye untuk selalu memata-matai Tiffany dimanapun dia berada.
"Terus pantau wanitaku!" tegas Mario.
"Siap 69 bos! Asal cuan lancar" ucap Popeye.
"Duit saja yang kau pikirkan. Kerja dulu baru duit" Mario pun mentoyor kepala Popeye.
Mario sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok Tiffany semenjak insiden menyakitkan pada burung Mario.
Wajah Tiffany yang judes, selalu menghantui pikiran Mario. Mario bertekad dia harus bisa memiliki Tiffany. Pikirnya jika tidak bisa menjadikannya kekasih, maka Tiffany harus mau one night stand dengannya sebagai balasan atas perbuatan Tiffany.
Skip
Dhanu sudah pulih kembali setelah satu minggu dirawat dirumasakit. Tiffany yang saat ini menemani Dhanu diruang rawatnya.
__ADS_1
"Pa, syukurlah papa sudah siuman" ucap Tiffany berhambur kepelukan Dhanu tetapi Dhanu tidak bergeming.
"Hubungi Listyo dan Ben sekarang! Suruh mereka berdua menemuiku disini" ucap Dhanu dingin.
Tiffany menurut, dia langsung menghubungi Ben.
"Sayang, papa menyuruhmu dan Om Tyo kemari" ucap Tiffany.
"Baiklah, aku kesana sekarang" Ben segera berangkat bersama Listyo.
Belinda saat ini tengah duduk termenung disebuah taman kota. Pandangannya kosong, dengan bulir air netranya yang sederas air terjun niagara. Aldo dari kejauhan memperhatikan pujaannya dan langsung melangkahkan kakinya menuju tempat Belinda terduduk.
Aldo langsung mengusap air mata Belinda dengan saputangannya. Hal itu sontak menyadarkan Belinda dari lamuannnya.
"Terlalu larut dalam kesedihanpun itu tidak baik" ucap Aldo.
"Aldo? Kamu kenapa disini? Apa kamu tidak bekerja?" tanya Belinda sembari menyeka air matanya.
“Hari ini aku akan mengundurkan diri. Aku sudah menunaikan janjiku pada ayah" jawab Aldo sembari mendudukan bokongnya disebelah Belinda.
"Janji apa kalau boleh aku tahu?" tanya Belinda kepo.
"Dahulu ketika semua harta ayahku diambil bajingan Sugeng si bapak tiriku, Om Tyo lah yang menolongku dan membantu membangun perusahaan ayahku lagi. Om Tyo juga membiayai pengobatan depresinya ayahku sampai normal kembali. Sepuluh tahun yang lalu sebelum ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir, beliau sempat berwasiat agar aku mengabdikan diri pada putra Om Tyo yaitu Pak Ben sampai dia menikah. Sekarang Pak Ben sudah menikah, selesailah tugas dari ayahku" Tutur Aldo.
"Jadi kamu punya perusahaan?" tanya Belinda semakin kepo dengan Aldo.
"Ya! Tapi sepertinya kau takan percaya jika ku punya dua perusahaan sekaligus" jawab Aldo.
Mata Belinda membulat.
"Pertama perusahaan peninggalan papa yang bergerak dibidang Textil yang memegang saat ini paman Djoko Sambodo adiknya ayahku. Beliau sudah tua, setiap hari selalu meminta aku menggantikannya, apalagi Bibi Mieke sangat bawel padaku, dia berkata aku menyiksa suaminya karena harus selalu bekerja" tutur Aldo sembari terkekeh.
"Ya aku tahu nama itu. Bukannya Pak Djoko Sambodo CEO dari PT Ludotex Indonesia? Jadi itu sebenarnya milikmu?" tanya Belinda takjub.
"Ya itu perusahaan milik mendiang ayahku. Aku dan paman menerapkan sistem bagi hasil dan aku percaya padanya sebagai orang jujur, terbukti sampai sekarang perusahaan itu maju pesat" jawab Aldo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara dirumasakit, Ben, Listyo, Tiffany dan Haruni sedang duduk didepan ranjang rawat Dhanu.
"Ada apa Bung Dhanu memanggil saya kemari?" tanya Listyo heran.
"Bung, saya ingin menyampaikan bahwa lebih baik Ben dan Tiffany kita nikahkan saja sekarang! Saya tak ingin mereka terus berbuat dosa! Bagaimana nanti saya harus mempertanggung jawabkan semuanya dihadapan Tuhan" ucap Dhanu lirih.
"Saya setuju Bung! Kita harus menikahkan mereka hari ini juga" tegas Listyo membuat seketika wajah Ben pucat pasi.
"Bagaimana Ben, apa kamu bersedia menikah hari ini juga?" tanya Dhanu.
"Tapi pa, saya baru cerai kemarin" Ben seakan keberatan.
"Kamu tidak punya masa idah. Papa minta menikahlah dengan pujaan hatimu. Bukannya kau bahagia ya?" tanya Dhanu sarkas.
Ben hanya menggeleng lesu.
Dhanu pun melirik Tiffany yang sama tegangnya.
__ADS_1
"Bagaimana Fany, apa kamu bersedia menikah dengan Ben?" tanya sang papa.
Sebenarnya bukan pernikahan seperti ini yang Tiffany inginkan. Impiannya sejak kecil ialah menikah ala princes Disney tapi mau bagaimana lagi, dia pun mengangguk setuju.
"Aku setuju pa" jawab Tiffany.
"Baiklah kalau kalian setuju. Aku akan memberitahu Belinda. Walau mungkin dia akan hancur perasannya, tetapi saya yakin dia akan tegar" ucap Dhanu.
"Ben, hubungi Aldo untuk mencarikan penghulu sekarang.
Ben pun langsung menelepon Aldo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Ternyata kamu orang hebat Aldo" ucap Belinda.
Ponsel keduany pun berbunyi.
Diponsel Belinda tertulis Dhanu yang menelepon
"Hallo pa" sapa Belinda.
"Pulang nak sekarang! Maafkan papa nak, papa harus jujur padamu jika hari ini Ben dan Tiffany akan papa nikahkan" ucap Ben dengan suara parau menahan kesedihan.
"Oke pa, aku kesana" Belinda tak menampakan kesedihannya pada Dhanu.
Dalam hatinya hanyalah kegetiran saja.
Sementara Ben menghubungi Aldo.
"Ya Pak! Ada apa?" tanya Aldo.
"Aldo, tolong carikan saya penghulu sekarang. Saya mau menikah dengan Fany" ucap Ben terdengar prustasi.
"Baiklah Pak! Satu jam lagi saya kesana membawa penghulunya.
Kemudia ekor mata Aldo menatap Belinda yang sedang menangis.
" Sudah Bella! Mau bagaimana lagi ini sudah takdir" ucap Aldo aembari mengelus rambut panjang Belinda.
“kamu benar Aldo! Kamu mau kemana?" tanya Belinda karena melihat Aldo akan pergi.
"Kau disuruh Pak Ben mencari penghulu sekarang" jawab Aldo.
"Aku ikut" ucap Belinda.
Mereka berdua pun pergi mencari penghulu yang akan menikahkan Ben dengan Tiffany.
Sementara Mario sedang benar-benar kesal pada Popeye sang anak buah.
"Bagaimana bisa Tiffany akan menikah sekarang?" gertak Mario.sembari tangannya meninju kaca sampai berhampur kemana-mana.
"Benar bos! Saya mendengarnya langsung ketika mereka mengadakan pertemuan keluarga diruang rawat Pak Dhanu. Pernikahanny serba mendadak" ucap Popeye dengan nada takut-takut.
"Arghhhhhhh,, takan aku biarkan" Mario mengamuk dengan melemparkan apapun yang ada dihadapannya tak peduli bahwa tangannya sudah dipenuhi darah karena pecahan kaca.
__ADS_1
Mario pun membisikan sesuatu keteleinga Popeye. Mereka pun menyeringai dengan rencana yang Mario susun.