Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Mencuri Tiffany


__ADS_3

Kini Tiffany dan Ben sudah terduduk didepan penghulu dan Dhanu. Tak ada pesta, tak ada dekorasi dan kedua mempelai tak memakai gaun maupun jas. Harapan pernikahan seperti prinses disney pupus sudah. Ben hanya memakai baju kaos dan celana chinos pendek sementara Tiffany hanya memakai gaun sehari-hari.


Akad pun berlangsung walau Ben sempat gugup akhirnya mereka mereka berdua sah menjadi suami istri.


"Kalian sudah sah! Tidak ada pesta saat ini" ungkap Dhanu.


"Tak apa pa!" jawab Tiffany.


"Ben tolong jaga anaku. Jangan sampai bernasib seperti Bella" ucap Dhanu dengan wajah sendu.


Ben hanya mengangguk pilu.


Acara belum selesai, tetapi Belinda buru-buru keluar dari ruangan itu. Hatinya sangat hancur dengan ikrar yang diucapkan Ben pada Tiffany. Belinda membatin, sesakit ini kah percintaan yang harus dia alami. Ia berjalan keparkiran rumasakit dan langsung pergi mengendarai mobilnya.


Dirumah, Ia segera membereskan baju-bajunya kedalam koper termasuk dokumen penting dirinya tak luput dari perhatiannya lalu semua dia masukan kedalam koper. Kali ini ia hanya ingin menenangkan pikiran, hati, dan jiwanya.


Jepang adalah negara yang dijadikan pelarian untuknya, tanpa ada yang tahu siapapun. Siang itu Belinda berangkat ke Jepang dengan membawa kedukaan di hatinya.


Sebelumnya ia menghubungi Victoria untuk mengurus perusahannya dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.


"Aku tidak munafik jika ini sangat menyakitkan bagiku. Tapi aku harus menerima takdir yang Tuhan gariskan" gumam Belinda.


Sementara, Ben dan Tiffany sudah ada dihotel untuk berbulan madu. Tidak ada raut bahagia diwajah seorang Ben Lazuardy Mahardika dengan pernikahan yang ala kadarnya ini. Tiffany sedikit kesal karena Ben hanya diam.


"Sayang, aku bahagia akhirnya kita bisa bersama" Tiffany mendusel manjalita pada sang suami.


Ben hanya diam tak bergeming. Ingatannya hanya tertuju pada Belinda yang mendadak pergi sewaktu dirinya telah selesai ijab kabul.


"Ben, kenapa kau diam saja?" tanya Tiffany.


"Eumzzz, tidak! Aku hanya lelah saja" jawab Ben lesu.


"Bohong! Kenapa kau begini? Ini hari spesial kita sayang" Tiffany sengaja menggoda Ben tetapi Ben menepis tangan Tiffany.


"Aku lelah" ucapnya.


"Harusnya kau bahagia Ben malam ini. Harusnya kau menjamah tubuhku kenapa kau jadi seperti ini..Arghhhhhhhh" Tiffany sangat kesal.


Ben langsung memandang Tiffany dengan tatapan tajam menghunus.


"Kenapa kau bawel sekali Fany? Aku ini benar-benar lelah. Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk istirahat. Jangan ganggu aku, please" Ben langsung menelungkupkan tubuhnya diatas ranjang membuat Tiffany mencak-mencak.


Tiffany membalik tubuh Ben.


"Jangan-jangan kau begini karena kau cerai dengan Kak Bella? Ayo jawab Ben, jawab?" Tiffany semakin berteriak.


"Pelankan suaramu Fany. Jika benar kau mau apa?" tanya Ben kesal.


"Oh jadi kau mencintai Kak Bella dan menyesal menceraikan dia?" tanya Tiffany dengan nafas memburu kesal.


"Iya! Puas kau Fany. Bella begitu lembut padaku walau aku selalu menyakiti dia! Tidak pernah berani berteriak sepertimu. Dia selalu menyiapkan apapun yang kuperlukan. Menyesal aku menceraikan dia" Ben menangis tergugu.


"Aku kecewa denganmu Ben" Tiffany berjalan keluar dan membanting pintu.


Sesaat Tiffany melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotelnya, seseorang tiba-tiba membius dirinya dari belakang hingga ia lemas dan tak sadarkan diri.


Ben sesaat tersadar dengan perkataannya yang sudah membuat sang istri kesal.


"Fany, maafkan aku" Ben pun berlari keluar dari kamarnya untuk mengejar Tiffany.

__ADS_1


Ben menyusuri setiap lorong hotel itu, tetapi keberadaan Tiffany tidak ditemukan.


"Arghhhhh,, Fany maafkan aku. Dimana kamu sekarang?" Ben kalut.


Dirumah Dhanu juga tak kalah kalut, pasalnya malam ini Belinda tidak bisa dihubungi.


Ben datang kerumah itu untuk menanyakan keberadaan Tiffany.


"Mama, apa Fany pulang kemari?" tanya Ben pada Haruni.


"Bukannya kalian bersama. Kenapa kamu menanyakan keberadaan istrimu pada mama?" Haruni menjadi sangat cemas.


"Kami sempat bertengkar kecil ma, dia keluar dari kamar hotel. Saya sudah mencari kemanapun tetapi tidak menemukannya, saya kira Fany kemari" Ben terduduk dengan perasaan galau.


"Bagaimana ini ma, Bella hilang kontak dan Fany entah kemana" Dhanu tergugu dikursi.


"Papa tenang pa! Semua akan baik-baik saja" ucap Haruni mencoba menenangkan sang suami.


"Apa? Bella tidak ada?" Tanya Ben.


"Iya Ben! Bella susah dihubungi" jawab Haruni.


Ben seketika berlari menuju mobilnya ingin kerumah Belinda.


Sesampainya dirumah mereka berdua, Ben langsung masuk kerumah itu.


Rumah itu tampak gelap, Ben menghidupkan lampu itu dan berjalan menuju kekamar yang sempat mereka tempati.


Ben membuka lemari itu dan alangkah terkejutnya melihat semua barang-barang Belinda sudah tidak ada.


"Bella, kau dimana sekarang? Aku sangat menghawatirkanmu" ucap Ben terdengar putus asa.


"Andai saja aku tak menuruti nafsu setan dan terus melayani Tiffany, aku takan kehilangan Belinda. Aku takan kehilangan wanita yang sangat berharga didalam hidupku. Bella maafkan aku, aku sungguh menyesal" Ben benar-benar menangis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini, Tiffany sedang berbaring diatas ranjang king size didalam apartemen milik Mario.


Mario memandang Tiffany dengan perasaan yang dalam. Dia mendekati tubuh Tifdany lalu duduk ditepi ranjang. Tatapannya beralih pada bibir seksi milik sang wanita. Mario kemudian mencium bibir Tiffany dengan dalam kemudian melepaskannya.


"Manis" ucapnya.


Tiffany pun menggeliat karena efek obat bius itu akan hilang.


"Eughhhhhhh" gumam Tiffany sembari merentangkan tubuhnya.


Ia mengerjapkan matanya, melihat sinar lampu tetapi asing baginya.


"Aku dimana?" ucapnya.


"Kau ada bersamaku nona Tiffany Angela" Mario sudah berdiri dihadapannya.


"Kau?" Tiffany terperanjat.


"yes Baby. It's me" jawab Mario tersenyum menakutkan.


Mario pun duduk disamping Tiffany membuat Tiffany mundur karena takut.


"Lepasin gue bangsat! Gue pengen pulang.. Hihikhik" Tiffany menangis.

__ADS_1


"Boleh saja.. Asal~~" seringai Mario.


"Asal apa?" Tiffany membentak.


"Asal loe harus one night stand sama gue!" jawab Mario to the point.


"Nadjis! Gue sudah menikah, lepasin gue. Ini seharusnya malam pertama gue" Tiffany memberontak tetapi tenanga Mario lebih besar.


"Malam pertama dengan pria bekas suami kakak loe begitu?" seringai Mario sembari memojokan Tiffany.


Tiffany pun terperanjat karena Mario tahu kehidupannya.


"Kenapa loe tahu? Siapa loe sebenarnya?" tanya Tiffany dengan takut.


"Gue tahu semua tentang loe Tiffany. Loe anaknya Pak Dhanu kan, gue tahu bahkan perusahaan bokap loe kerjasama dengan perusahan gue. Dan gue juga tahu kakak loe, Belinda Zahrani kan, si macan betina dalam dunia perbisnisan. Ya gue waktu itu kalah sama dia buat menangin kerjasama dengan perusahaan America" tutur Mario.


"Kak Bella memang hebat, dan loe bodoh kalah dari perempuan" cibir Tiffany.


"Dia lincah seperti tupai" ucap Mario.


"Lepasin gue" Teriak Tiffany.


"Gak! Loe harus membayar rasa sakit gue karena ulah loe menendang pusaka gue" bentak Mario.


"Gak sudi! Lepasin gue please" Suara Tiffany sudah mulai lemah.


Mario tanpa aba-aba langsung merobek baju Tiffany membuat sang gadis langsung meraih selimut.


"Lepasin gue breng*ek. Jangan perkaos gue. Gue mohon berapapun yang loe minta gue bakal kasih" Tiffany mengiba.


"No sayang! Aku tak butuh uangmu" Mario merangkak mendekati Tiffany.


Tangannya membelai wajah itu membuat Tiffany semakin ketakutan.


"Kenapa takut? Aku bukan psikopat! Asal kamu tahu, aku sudah mencintaimu sejak pandangan pertama" Akhirnya Mario berkata jujur.


"Kau gila! Bahkan namamu saja aku tak tahu. Aku ini sudah menikah lepaskan" ucap Tiffany semakin mengeratkan cengkramannya pada selimut.


Aku Mario tanpa rubicon! Ekh gimana sih🤣🤣🤣🤣🤣🤣"


"Aku Mario, Pemilik PT Sumber Sejahera. Perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Pak Dhanu. Aku sengaja mencari tahu latar belakang dan kehidupanmu Tiffany, aku mencintaimu. Aku tahu malam itu kau bertengkar dengan suamimu, makannya kau keluar dari kamar hotel dengan marah" tutur Mario dengan jujur.


"Soal itu maafkan aku Mario! Aku sudah buatmu kesakitan! Dan benar katamu, aku waktu itu bertengkar dengan suamiku. Tapi aku mohon lepaskan aku" Tiffany mengiba.


Tiba-tiba perut Tiffany berbunyi.


Krucukkkkkkk!!!! Membuat Mario tersenyum dengan sangat manisnya.


"Gila, tampan juga dia" Gumam Tiffany.


"Kamu lapar?" tanya Mario sembari mengelus kepala Tiffany.


Seakan terhipnotis, Tiffany hanya menganggukan kepalanya. Mario spontan meraih tubuh Tiffany dan membawanya duduk dimeja makan.


"Mau apa kamu?" Tiffany heran.


"Mau masak untukmu...Cupp!!!" Ucap Mario sembari mencuri ciuman pada bibir Tiffany.


"Kurang ajar kau! Aku ini istri orang" Pekik Tiffany.

__ADS_1


"Ya aku tahu" jawab Mario.


__ADS_2