
"Semoga kau menerimanya" gumam Mario lantas pergi membawa mobilnya meninggalkan kediaman Dhanu.
Tiffany memandang tak suka pada bucket bunga itu. Dia takut jika Ben akan tahu bahwa bunga itu pemberian dari pria lain.
"Bik, buang bunga itu yang jauh" ucap Tiffany kemudian melenggang pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Diruang kerjanya, Ben terlibat pertengkaran dengan Listyo. Ben yang ngotot ingin tinggal dirumah sang mertua karena ingin selalu dekat dengan Belinda ditentang habis-habisan oleh sang papi.
"Mau kau sebenarnya apa sih Ben? Dulu kau menceraikan Bella dan tidak menganggap dia sebagai istrimu karena hatimu telah dibutakan oleh cinta pada Tiffany. Sekarang kau ingin dekat-dekat dengannya? Sepertinya pikiranmu sudah benar-benar tidak warah" ucap Listyo berapi-api.
"Kondisinya sekarang beda pi! Aku benar-benar tidak bisa melupakan Bella sekalipun ketika aku sedang bercinta dengan Tiffany wajah Bella lah yang terbayang" ucap Ben terdengar memelas.
Plakkk!!!!! Satu tamparan hangat mendarat dipipi Ben.
"Aku cape menghadapi kelakuanmu Ben! Jujur saja aku malu dengan Pak Dhanu jika dia tahu kegilaan yang sedang kau inginkan. Berbahagialah dengan pernikahanmu sekarang, buang masalalu dengan Bella agar hidupmu lebih baik Ben. Papi benci pria yang tak berprinsif" Listyo berkata dengan nada marah bercampur kecewa.
"Papi harap kau tidak membuat papi malu" Listyo kemudian pergi dari ruang kerja menyisakan Ben yang mematung sembari memegangi pipinya yang perih.
Ponselnya berdering, tertulis nama Tiffany disana.
"Hallo sayang!" ucap Ben.
"Sayang, aku sudah ada didepan ruang kerjamu" Tiffany berkata dengan nada bahagia.
"Masuk saja!" perintah Ben.
Tiffany masuk keruang kerja Ben sembari membawa makanan ditangannya.
"Siang my husband! Aku rindu makannya aku kemari" ucapnya sembari bergelayut manja dibahu kekar milik Ben.
"Aku lapar Fany! Itu masakanmu?" tanyannya yang lupa jika wanita dihadapannya alergi terhadap hawa dapur.
"Aku beli diresto!" jawabnya santai.
Seketika raut wajah Ben menjadi berbeda. Beberapa bulan yang lalu, Belinda ketika masih menjadi istrinya selalu memasak untuknya bahkan kopi buatan Belinda menjadi kopi favoritnya, rasanya sangat pas dilidah dan aman dilambung.
"Kapan aku bisa merasakan masakan buatanmu Fany?" tanya Ben sembari membuka kotak makan itu dengan gerakan slow motion.
"Ben come on baby, aku tak suka melakukan hal-hal remeh temeh seperti itu. Biarkan itu urusan ART saja" jawabnya masih dengan mode santai.
"Istriku adalah kamu bukan ART. Fany, dalam pernikahan itu bukan hanya soal ranjang dan lendir yang istri harus patuhi, aku mau kau mengurusi kebutuhanku contohnya membuatkanku sarapan pagi, menyiapkan baju kerjaku, dan segalanya yang aku butuhkan" Keluh Ben yang selama ini dia tahan sekarang dia keluarkan.
"Tapi itu semua tidak ada dalam daftar rencana hidupku Ben!" jawab Tiffany lantang.
__ADS_1
"Terus apa yang ada dalam daftar rencana hidupmu, hah? Itu kewajiban yang harus kau selaku istri lakukan. Buatlah suamimu senang dan nyaman jika kau mau pernikahan kita tetap langgeng" Ben sudah kesal setengah mati.
"Kenapa kamu jadi banyak menuntut sih Ben? Selagi kita masih pacaran kamu tak pernah seribet ini" ucapnya ketus.
"Karena kita sewaktu pacaran belum berhak seserius ini. Kau belum berhak mengurusiku walau setiap waktu kita selalu bercinta dan bertukar peluh aku anggap sebagai kesenangan saja untuk kita berdua. Tapi sekarang beda Fany beda! Kewajibanmu mengabdi sebagai istri dan kau harus ingat kau tidak boleh mengungguliku karena aku pemimpin dalam pernikahan. Satu lagi aku tidak suka dibantah" tegas Ben yang membuat seketika nyali Tiffany menciut.
"Ya Ben, aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu" Tiffany langsung mendudukan bokongnya diatas paha Ben.
"maafkan aku sayang" ucap Tiffany lembut sembari mengelus dada sang suami.
"Oh **** posisi dudukmu membuat adik kecilku bangun" ucap Ben parau.
"Akan ku jinakan sayang" jawab Tiffany sembari menggerak-gerakan pinggulnya.
Ben pun memanggul Tiffany kedalam kamar yang ada didalam ruang kerjanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Didalam taman belakang rumahnya, Haruni terlihat melamun. Ingatannya pada sosok mendiang adik tirinya yang bernama Ratna terbayang kembali. Rasa sakit akibat ulahnya semasa hidup membuat air mata dan emosinya seketika memuncak.
Dhanu menghampiri sang istri, tangannya meraih bahu Haruni.
"Mama kenapa?" tanyanya.
"Do not lie to me!" ucap Dhanu tak percaya.
"Arghhhhhhhhhhh!! Aku seakan menemukan Ratna kembali pada sosok Tiffany! Kenapa pa sekian lama aku mencoba mengubur semua mimpi buruk itu, mencoba menerima keadaan dan berdamai dengan takdir, tetapi semua itu masih belum sirna diingatanku" Haruni menangis sejadinya.
Dhanu memeluk sang istri dengan rasa penyesalan pada dirinya yang harus dia tanggung seumur hidupnya.
Flashback sebelum Tiffany ada kedunia.
Ratna berkaca didepan cermin dengan melenggak-lenggokan tubuh rampingnya.
"Mas Dhanu betapapun kau menghindariku aku akan tetap menjadi duri dalam pernikahanmu dengan Kak Runi, sayang!" ucap gadis bermata sedikit belo itu.
Tujuannya hanya satu yaitu bisa mendapatkan Dhanu untuk selamanya. Cintanya sudah tertanam pada Dhanu semenjak dia SMA tetapi harus menelan pil pahit karena Dhanu lebih memilih menikah dengan Haruni sang kakak Tiri.
"Sudahlah kenapa kamu tidak mencari pria lain saja Ratna! Dhanu sudah bahagia dengan kakakmu" ucap Mega sang ibu sekaligus ibu tiri Haruni saat itu.
"Tidak mau Bu! Mas Dhanu hanya pantas bersanding denganku. Mas Dhanu cinta sejatiku yang diambil secara lancang oleh Kak Runi" jawabnya berapi-api.
"Sadar nduk sadar, mereka sudah menikah dan mempunyai anak. Lupakan Dhanu masih banyak pria diluar sana" ucap Mega sudah tak tahu harus berbicara apalagi dengan sang putri.
"Jika Mas Dhanu mempunyai anak dari Kak Runi, maka dia pun akan mempunyai anak dariku" ucapnya.
__ADS_1
"Nyebut kamu Ratna. Apa yang akan kamu lakulan? Jangan nekat ibu mohon" pinta Mega.
Ratna pun pergi dari rumah itu tanpa menghiraukan teriakan Mega.
Sebuah rumah gubuk yang terlihat usang dia datangi. Tak ada penerangan hanya sorot lampu obor yang menyala dikanan kiri tembok yang terbuat dari anyaman bambu itu dan beratap jerami.
"Ki Bajra ini Ratna cucumu" ucapnya pada si pemilik rumah.
Uhuk...Uhuk...uhuk..... Terdengar suara batuk dari dalam gubuk itu.
"Masuk!" ucap pria itu.
Ketika masuk seketika aroma kemenyan menyengat hidungnya.
"Pelet? Gendam? Santet? Lemah Burung? Ikat rahim Atau guna-guna tempat usaha?" serentetan pertanyaan sesat langsung saja keluar dari mulut pria tua memakai baju jarik dan ikat kepala warna hitam itu.
"Ini poto kakakku ki! Aku ingin dia celaka. Dan ini poto suaminya, buat dia mencintaiku" ucap Ratna dengan dendam membara.
"Berat karena aku bisa merasakan aura wanita ini sangat baik dan sepertinya rajin ibadah, susah untuk kuhitamkan kecuali dengan satu ritual Khusus, bagaimana apa kau sanggup menjalankan syaratnya?" tanya Ki Bajra sembari melihat mata Ratna yang sudah berkobar rasa dendam.
"Apapun itu Ki" jawabnya.
"Siapkan mahar tiga juta jika besok kau ingin melihat niatmu terlaksana!" ucap Ki Bajra sang dukun tua.
Ratna pun mengeluarkan uang itu dari tasnya.
"Ini maharnya Ki" ucap Ratna.
"Resiko ditanggung sendiri, dan kau harus ingat ini semua ada pantangannya" ucapnya.
"Apa Ki pantangannya?" tanya Ratna dengan menggebu-gebu.
"Kau tidak boleh mencium jakun pria ini, Jika kau menciumnya sengaja atau tidak, maka nyawamu akan menjadi taruhannya" ucap sang dukun.
"Baik Ki aku patuh" jawabnya senang.
"Satu lagi, kau harus mencelupkan bulu je*b*tmu pada minuman yang akan kau berikan pada pria ini dengan satu amalan yang aku berikan" Titah Ki Bajra.
Ratna pun mengangguk lalu pulang dengan hati yang amat gembira.................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Para Readers yang budiman semoga kalian selalu terhibur dengan ceritaku....😘😘😘😍😍 Tinggalkan like dan komen ya.... Love u sekebon....
__ADS_1