Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Tragedi Daster Ungu


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar 18 jam 23 menit akhirnya Belinda dan Aldo sampai di California.


"Dimana hotel Bu Bella?" tanya Aldo.


"San Diego hotel" Jawabnya.


"Kebetulan itu tempat saya menginap. Kalau begitu kita bareng saja" Aldo pun mempersilahkan Belinda memasuki mobil jemputan dari perusahaan Ben.


¥


Victoria sedang berkutat dengan semua pekerjaan yang menumpuk. Wajah lelah terpampang nyata karena dia sekalian mengerjakan pekerjaan Tiffany yang entah kemana. Jam sudah menunjukan pukul delapan malam.


"Victo, loe lembur?" tanya Abraham stap keuangan.


"Kerjaan gue sudah beres dari tadi sore, ini kerjaan Bu Fany" jawabnya lesu.


"Astaga loe mau-mauan aja di jadiin jongos dia. Asal loe tahu ya Victo, semua orang yang melamar disini satu pun tidak ada yang mau jadi aspri Bu Fany. Selain orangnya yang menyebalkan dia juga selalu semena-mena pada karyawan. Jauh banget deh sama Bu Bella" ucap Abraham.


"Emang iya! Badan gue udah kaya mau remuk dari pagi duduk depan komputer. Gue juga mau ngajuin lemburan biar dapat uang lebih soalnya ini sudah tidak wajar sih. Hari pertama di tinggal sama Bu Bella rasanya kaya udah satu tahun" Victoria terus saja mengeluh.


"Udah sih besok aja loe beresin. Sekarang kita cabut aja udah malam ini" Abraham tak tega melihat teman kerjanya sangat kelelahan.


"Loe bener Baham! Ini mah udah kaya kerja romusa" ujar Victoria.


"Yasudah ini kan tugas dia, kenapa loe cape-cape sih. Lihat sama loe, ini tuh berkas yang harus dia tandatangani semua. Loe mau tandatangani emang?" tanya Abraham.


"Dia nyuruh gue tandatangani dan niru tandatangan dia. Gila gak sih loe. Nikh ya kalau gue mau niat jahat udah gue akuisisi nih perusahaan karena CEO nya gak bener dan saat ini Bu Bella tidak ada. Tapi gue bukan orang jahat" ucap Victoria sembari membereskan map yang bertumpuk. Dia pun akhirnya pulang bersama Abraham.



Tiffany sedang bersama dengan Ben di suatu resto. Makan malam romantis adalah daftar agenda wajib dikala Belinda sedang tidak ada.


Rasanya dunia hanya milik dua sejoli ini tanpa ada rasa kasihan pada Belinda yang sedang bekerja nun jauh disana.


"Sayang, rasanya sama dengan dulu. Kita selalu seperti ini setiap malam. Aku rindu kita yang dulu" ucap Tiffany dengan wajah sedihnya.


"Akupun begitu cinta! Aku tak sanggup detik demi detik jauh darimu. Tetaplah seperti ini sayang" Ben berkata sembari mencium pipi Tiffany.


"Jadi kapan?" tanya Tiffany memandang lekat mata Ben.


"Kapan apanya sayang?" tanya Ben heran.


"Kapan kau menceraikan Kak Bella? Kalian kan tidak saling cinta jadi untuk apa tetap bertahan?" ucap Tiffany.


Ben tak menjawab itu, di dasar hatinya ada suatu ketidakrelaan bila harus menceraikan Belinda.


"Sayang jawab aku!" seru Tiffany.


"Aku belum ada pikiran kesana. Lagian apa kamu tidak kasihan dengan papamu jika aku secepat ini menceraikan Bella?" tanya Ben mencoba sedikit mengemukakan pendapatnya.


Tiffany tampak berpikir sejenak dan seperti mengiyakan ucapan Ben.


"Iya sih aku takut papa kumat lagi penyakitnya. Tapi lebih takut kehilangan kamu Ben" Tiffany serkaca-kata.


"No sayang! Aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Ben ingin tahu seberapa tulus Tiffany mencintainya.


"Sayang, apa kau pernah mendoakanku?" tanya Ben.


"Hahahah!! Apa? Mendo'akan? Tidak! Buat apa sih do'a mendo'akan, aku kan melihatmu sudah mencintaiku, badanmu sehat dan kau tak melanggar janjimu agar kau tak menyentuh Kak Bella, lantas pentingkah sebuah do'a? Itu klise sayang" Tutur Tiffany dengan entengnya.


Ben tertegun sejenak! Mungkin hanya Belinda lah yang setiap malam diam-diam selalu mendoakannya dan berharap kebaikan padanya.


¥


Belinda sangat takjub akan perusahaan milik Mrs Jeniffer lincoln. Ruang produksi yang sangat rapih dan modern. Perusahaan itu menganut sistem kekeluargaan! Seluruh karyawannya terjamin kesehjateraan hidupnya.

__ADS_1


"Mrs Jeniffer saya sangat senang bisa melihat perusahaan anda. Sangat jarang perusahaan yang loyalis pada karyawannya sebesar perusahaan anda" ucap Belinda.


"Ya Mrs Belinda, karena saya disini bukan hanya mencari keuntungan semata dan memerah tenanga karyawan saya, tetapi saya ingin mereka merasa happy dan nyaman ketika bekerja. Hal itu membawa kebahagiaan untuk saya. Dan entah percaya atau tidak semenjak saya menerapkan sistem itu di perusahaan, keuntungan penjualan tidak pernah rendah. Produk yang saya pasarkan tidak ada yang mandeg di pasaran, semua terjual habis" ucap wanita bule itu yang parasnya sangat cantik di usia yang tidak lagi muda.


"Saya kagum dengan anda! Saya juga sedang berusaha melakukan itu pada karyawan saya" ucap Belinda.


"Sesudah ini saya akan mengajak anda untuk survei kebagian pemasaran agar anda tahu bagaimana keinginan warga kami dengan produk yang akan kita produksi nantinya" ucap Mrs Jeniffer.


Produk yang pertama kali Belinda akan produksi adalah skincare! Warga America sangat senang dengan skincare yang terbuat dari bahan alami. Kebanyakan di negara itu skincarenya terbuat dari bahan-bahan kimia.


Indonesia sebagai negara penghasil dengan rempah-rempah alami akan sangat menunjang produksi skincare yang berkualitas.


"Pak antoni, anda siap dengan keuntungan berjuta-juta dolar?" tanya Bella pada rekan bisnisnya yang akan menyuplai rempah-rempah ke perusahaan Belinda.


"Saya sangat siap Bu Bella! Marilah kita bekerja di atas kejujuran agar kita bisa sejahtera" ucap sang rekan kerja.


"Bukan kita sendiri yang harus sejahtera Pak! Tapi karyawan kita juga harus sejahtera. Tanpa mereka kita bisa apa" ucap Belinda.


"Itu sudah pasti Bu" jawab pria paruh baya itu.


Setelah lelah kesana-kemari, akhirnya Belinda pulang ke hotelnya. Aldo pun baru saja tiba di hotel itu.


"Bu Bella baru kembali?" tanya Aldo.


"Ya! Anda juga baru selesai?" tanya Belinda.


"Ya! Mari Bu Bella" ucap Aldo sembari membuka pintu kamar hotel itu.


"Hummmm... Jika saja Mas Ben yang pergi kesini, mungkin aku akan tidur sekamar dengannya! Tapi kenapa dia tidak cerita kepadaku dan mengutus Aldo untuk pergi?" batinnya terus bertanya-tanya.


Belinda pun melangkahkan kakinya memasuki kamar hotelnya.


Setelah dia mandi dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur, pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Belinda pun segera membukanya.


"Pak Aldo ada apa?" Belinda merasa heran dengan Aldo.


"Saya sudah memakai piama" jawab Belinda merasa sedikit malu.


"Tak masalah. Anda bisa pakai jaket! Bagaimana Bu Bella mau?" Aldo terus menyakinkan.


Karena dia pun merasa jenuh, akhirnya dia mengiyakan ajakan Aldo.


Kakinya terus menyusuri jalanan ramai kota itu sampai lupa waktu. Belinda dan Aldo duduk di sebuah kursi lobi hotel tempat mereka menginap. Hot cokelat dan burger menjadi makanan yang menemani mereka.


"Pak Aldo belum berkeluarga?" Belinda mencoba mengulik sisi lain dari asisten pribadi sang suami.


"Belum!" jawabnya singkat.


"Tapi ada mungkin yang Pak Aldo tunggu?" tanya Belinda kembali.


"Ada! Tapi sayangnya dia sudah menikah dan baru beberapa minggu" ucap Aldo dengan wajah penuh dengan kesedihan.


"Yaampun maaf, saya tidak bermaksud membuat anda bersedih. Maaf, maaf" Belinda secara reflex mengelus-elus punggung kekar Aldo membuat dia terperanjat.


"Bu Bella, maaf saya ingin bertanya apakah Pak Ben memperlakukan anda semestinya terhadap seorang istri?" tanya Aldo ingin tahu lebih jauh.


"Maaf apa maksudnya?" Belinda heran dengan pertanyaan Aldo yang terkesan abu-abu.


"Hmmmm, maksud saya apakah Pak Ben baik pada anda? Karena dia pada saya terkadang cuek dan sedikit menyenalkan" Aldo berkata sembari tersenyum.


"Dia baik kok! Dia romantis dan memperlakukan saya dengan semestinya" Belinda berbohong mengatakan demikian. Dia tak mau nama baik Ben buruk walau kenyataannya Ben tidak baik-baik saja dalam menjalani pernikahan yang baru seumur jangung itu.


Aldo hanya manggut-manggut saja mendengar itu. Aldo sebenarnya sudah tahu bahwa Ben tidak baik-baik saja di pernikahannya. Aldo juga tahu bahwa Ben kekasih Tiffany. Bahkan Aldo pernah memergoki mereka sedang bercinta dengan gan*snya di ruangan kerja Ben, membuat dia merasa tidak suka dengan atasannya itu. Apalagi saat itu de*ah*n Tiffany memekakan telinganya membuat dia merasa jijik dengan wanita itu.


"Maaf jika pertanyaan saya terlalu formal" ucap Aldo merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"It's oke Pak Aldo, no problem. Yasudah saya pamit istirahat dulu ya. Good night Pak Aldo" Belinda segera meninggalkan Aldo.


Di dalam kamar, dia mencoba menelepon Ben karena hatinya merasa rindu.


¥


Laziez Hotel. Ben dan Tiffany sedang memadu kasih. Panggilan Video Call dari Belinda menghentikan aksi jahanam mereka.


"Sayang kamu sembunyi dulu. Bella ingin Video Call denganku" Tiffany pun bersembunyi di dekat pintu.


"Hai Bella!" sapa Ben dengan bertelanjang dada.


"Mas kamu sedang apa? Apa tidak bekerja karena di Indonesia kan ini waktu siang" Bella heran pasalnya Ben seperti sedang ada di dalam hotel karena interiornya beda dengan kamarnya.


"Aku sedang kunjungan lapangan Bella. Maaf ya ku belum kasih kamu kabar. Baik-baik ya disana dan jaga diri kamu" Ben terus saja menyemangati sang istri.


"Iya mas! Mas aku bertemu Aldo disini. Dia satu hotel dengan ku" ucap Belinda.


Senyum tulus Belinda membuat Ben terasa damai melihatnya.


"Oh ya? Pintalah bantuan pada dia karena dia pun akan senang. Itu tugasnya" ucap Ben.


"Ya mas! Yasudah aku mau istirahat dulu" ucap Belinda namun tidak langsung mematikan sambungan video Callnya. Ben pun tak sadar kalau ponselnya masih tersambung dengan Belinda. Ben menaruh ponselnya di pojok dan terlihatlah posisi tempat tidur yang dia tempati.


Belinda tersenyum kala melihat Ben terbaring. Tapi sedetik kemudian seorang wanita menghampiri Ben. Wanita itu memakai daster berwarna ungu yang sangat terbuka dan seksi. Hati Belinda mencelos, jantungnya berdetak dengan kencang. Posisi wanita itu membelakangi kamera sehingga wajahnya tidak terlihat.


Belinda tak kuasa menahan tangisnya. Bagai di sambar petir di tengah hari bolong melihat adegan yang sangat menjijikan itu. Wanita itu dengan li*rnya menaiki tub*h Ben dan langsung membuka pakaiannya. Ben mencumbuinya dengan r*kus. Badan Belinda bergetar tapi matanya melihat tas yang pernah dia miliki yaitu tas Versace berwarna black metalic membuat dia ingat pada Tiffany.


"Pantasan saja kau menolak berangkat ke America. Ternyata kau bermain peluh dengan j@l@ng itu. Kau menolaku tapi kau mendatangi pel*c*r. Ya tuhan kenapa aku di hadapkan dengan kenyataan seperti itu"


Tangis Belinda pecah tapi matanya terus melihat Video menjijikan itu.Terlihat Ben dengan penuh damba mengungkung wanita itu dan si*lnya wajahnya tidak terlihat. Belinda menscreenshort adegan itu supaya jadi bukti waktu dia kembali ke Indonesia.


"Ben, kau benar-benar payah! Ternyata seleramu pel*c*r" Belinda tertawa di atas segala kehancuran hatinya.


"Pasti dia j@l@ng elit karena mempunyai tas yang persis seperti miliku yang di ambil Tiffany" ungkapnya.


"Apa mungkin dia Tiffany? Tapi mana mungkin? Aku harus segera menelepon Tiffany" Belinda terus saja berbicara dan matanya terus saja melihat adegan menjijikan itu.


Wanita itu mend*s*h, memekik, meleng*uh, menjerit-jerit dalam penguasan aksi gila merek berdua.


"Haha.. Bahkan suara itu terdengar sangat menjijikan. Belinda kau kalah dengan seorang j@l@ng" Belinda terus saja menertawai dirinya dendiri. Hatinya sudah tak mampu melihat itu dan langsung mematikan video Call nya.


Belinda menangis meratapi penghianatan yang Ben lakukan. Dia tidak menyangka ternyata sang suami merupakan pria kotor.


"Daster ungu sialan, wanita kep*r*t" Belinda terus memaki.


Perasannya remuk redam.


"Untuk apa selama ini do'a-do'aku panjatkan untuk dia? Ternyata dibalas seperti ini olehnya"


"Bella ayo kuat Bella. Kau masih satu minggu lagi disini"


"Tidak, tidak! Itu bukan Ben. Itu pria yang menyerupai Ben! Tapi itu Ben suamiku" Belinda akhirnya ambruk di atas ranjang.


*


Di kantor seperti biasanya, Victoria sangat kewalahan dengan semua pekerjaanya. Di campur pekerjaan Tiffany yang harus dia selesaikan.


"Cape sekali!" ucapnya sembari merenggangkan otot-ototnya.


"Kerjaan loe makin banyak aja Victo?" tanya Rena rekan kerjanya.


"Boleh gak sih gue berkata kasar untuk bu Fany? Lihat Ren semua pekerjaan di limpahin semua sama gue. Binatang emang tuh orang gak ada tanggung jawabnya. Bu Bella sekalipun tidak pernah seperti ini selama limat tahun gue menjadi asisten pribadinya" Victoria kesal dan mengumpat.


"Wah kalau ini mah namanya penyiksaan dong. Gaji harus Full! Lagian kemana sih dia kok jarang banget kerja?" tanya Rena.

__ADS_1


"Gak tahulah. Gak jelas hidupnya" ucap Victoria kesal sembari mata terus saja memandangi komputernya.


Tingalkan komen dan like ya!!! Dukung terus karya Author, karena dukungan readers akan berpengaruh pada pendapatan Author...😁😁😁


__ADS_2