Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Ben Yang Membagongkan Vs Aldo Yang Selalu manis


__ADS_3

Tiffany tengah berdiri didepan pintu sebuah rumah yang mewah. Kedatangannya untuk memaki Mario karena akibat ulahnya lah dia dan Ben bertengkar.


"Mau cari siapa?" tanya pria paruh baya namun masih tampan itu.


"Saya mau bertemu Mario, om! Apa dia ada?" tanya Tiffany.


"Ada perlu apa dengan anak saya?" tanya pria itu yang diketahui dadynya Mario.


"Oh jadi om ini orang tuanya si Mario? Bilangin sama dia ya om jangan ganggu saya lagi. Saya ini sudah menikah, paham! Gara-gara dia rumah tangga saya hampir gulung tikar. Asal om tahu ya, jikalau saya single sekalipun, maaf-maaf kata saya tidak akan tertarik dengan anak om. Dan satu lagi, saya tidak butuh ini" Tiffany nyerocos sembari melempar tas kremes pemberian dari Mario.


Sementara pria yang ada dihadapannya tidak berkata apapun hanya memandang lekat wajah Tiffany.


"Permisi" Tiffany pergi sembari menghentakan kakinya dengan kesal.


"Woooow gadis yang pemberani" gumam sang dady Mario.


(Nama dady Mario author lupa lagi ada di bab berapa gitu. Author buat lagi nama baru buat Momy dan Dadynya Mario)


Dady Mario yang bernama Marco masuk kedalam rumah sembari menenteng tas kremes yang dibanting Tiffany.


"Dady itu tas siapa?" tanya Lyra sang istri.


"Dari wanita yang pernah membuat keperkasaan anak kita sakit mom!" jawab Marco.


"Mana dia dad? Momy ingin bicara!" tegas Lyra.


"Dia sudah pergi" jawabnya enteng.


Mario pun berjalan kearah orang tuanya.


"Ada apa sih?" tanyanya.


"Ini!" ucap Marco menunjukan tas kremes itu.


"Tas itu kan! Diama Tiffanyku dad?" tanya Mario.


"Kenapa kau tidak bilang prince bahwa dia sudah menikah?" tanya Marco.

__ADS_1


"Dia memang sudah menikah dad! Tapi dia tidak harmonis dengan suaminya. Papi tahu kan Pak Listyo? Itu mertua nya Tiffany" tutur Mario.


"Terus kau mau apa prince? Please deh jangan jadi pebinor, momy tidak suka" ucap Lyra kesal.


"No, mom! Aku tidak akan jadi pebinor hanya menunggu mereka end saja" ucap Mario santai.


"Terserah kau sajalah" keduanya lalu pergi meninggalkan Mario sendiri..


"Kutunggu jandamu Girls" ucap Mario.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semenjak menjalin kasih dengan Belinda, semangat Aldo menjadi naik berkali lipat. Apalagi tadi pagi, dia telah mendapat ciuman selamat pagi dari Belinda.


"Ughhh Bella, bibirmu menjadi candu bagiku. Aku tidak bisa menghentikan untuk tidak memagut bibir ranummu" ucap Aldo dengan senyum tampannya.


Sejatinya tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan seseorang yang telah kasmaran tingkat dewa seperti Aldo ini. Setiap hari bahkan setiap detik didalam otaknya hanya ada satu kata yaitu Belinda.


"Arghhhhh, aku bisa gila jika terus begini. Lebih baik aku kekantornya sekarang" Aldo bergegas menuju kantor ya Belinda.


Diperjalanan dia sempatkan membeli bucket bunga mawar.


Sampailah dia didepan kantor Belinda, lalu masuk menuju ruang kerja Belinda karena scurity sudah tahu bahwa dia kekasih bosnya alias Belinda.


Sementara didalam ruang kerja Belinda ada Ben yang sengaja datang untuk menemui sang mantan istri yang sudah menjadi kaka iparnya.


"Mau apa lagi Ben, kau kemari? Apa tidak lelah kau harus seperti ini terus?" Belinda tak habis pikir dengan kelakuan Ben.


"Bella, aku hanya ingin bertanya apa kau menjalin hubungan dengan Aldo? Aku tahu kau menjadikan Aldo hanya pelarian saja kan? kamu itu tidak mencintainya dan aku tahu itu" Ben sudah meninggikan suaranya.


"Jika aku menjalin hubungan dengan Aldo, lantas kau mau apa? Dia pria yang baik dan bisa menempatkan aku pada kebahagiaan, tidak sepertimu Ben. Aku rasa kau adalah mantan suami terburuk didunia" Belinda sudah sangat jengah dengan kelakuan sang mantan suami.


"Bella, dengarkan aku. Aldo itu pria misterius, selama dia menjadi aspriku sepuluh tahun, sangat kecil aku tahu kehidupan dia. Apalagi kamu Bella yang baru mengenalnya. Bella aku tahu kamu masih mencintaiku, dan aku pun sangat mencintaimu Bella. Ayo kita bangun kembali mahligai yang sempat runtuh. Aku ingin kau menjadi wanitaku seutuhnya. Tinggalkan Aldo jangan bohongi hatimu" Ben terus saja meyakinkan Belinda agar percaya padanya.


"Aldo tidak misterius seperti apa yang kau bilang Ben. Aku lebih mengenal Aldo ketimbang dirimu selama ini. Apa kau juga ingin mengulangi dosa yang sama terhadap Tiffany, begitu? Ben kau seharusnya menjadi pria sejati bukan begini. Cukup aku yang menjadi korban pernikahan buruk bersamamu Ben, jangan adiku. Aku lelah jika kau harus bersikap seperti ini terus. Dan satu lagi, aku tidak akan menyakiti Aldo" ucapnya tegas.


"Bella, tidak baik berpura-pura mencintai" Ben masih kekeh.

__ADS_1


"Bukannya cinta akan datang seiring waktu? Sudahlah Ben keluar sekarang dari ruanganku. Jika Fany tahu dia akan menyangka aku selingkuh denganmu. Pergi Ben pergi" Kali ini suara Belinda tegas terdengar mengintimidasi.


"Bella, pikirkan ucapanku" kali ini suara Ben mulai melemah.


"Pergi sekarang Ben aku sudah muak denganmu. PERGI!" Belinda dengan suara menggelegar mengusir Ben.


"Baiklah aku pergi. Tapi ingat Bella, aku tidak akan menyerah agar bisa mendapatkan kamu kembali" Ben melangkahkan kaki keluar dari ruanga itu, tanpa sadar seseorang mendengar semua ucapan Ben dan Belinda.


Kali ini giliran Aldo yang masuk keruangan Belinda.


"Bella!" ucap Aldo pelan.


"Aldo! Sejak kapan kamu datang!" tanya Belinda sembari mendekat pada Aldo.


Tanpa menjawab, Aldo langsung memeluk Belinda dengan erat.


"Bella, terimakasih sudah percaya padaku. Aku mendengar semuanya. Bella, aku tahu kamu belum 100% mencintaiku, aku bisa mengerti itu" Aldo semakin mengeratkan pelukannya dan mencium kening Belinda dengan perasaan dalam sampai tak terasa air matanya menentes membasahi kening sang kekasih.


"Hei, don't cry baby aku tidak suka. Bella hanyalah milik Aldo seorang" Bella mencoba menghibur Aldo.


"Aku hanya takut kamu meninggalkanku dan memilih bersatu dengan Ben" Aldo berkata dengan nada gemetar.


"Sutttt!!! Jangan bicara yang tidak-tidak. Semua itu tidak akan terjadi Aldo. Ayo sekarang duduk temani aku bekerja" Belinda lalu kembali duduk diatas kursi kebesarannya dan Aldo membantu memeriksa map pekerjaan dengan niat hati ingin membantu tetapi langsung direbut oleh Belinda karena takut Aldo akan mencuri idenya.


"Kenapa?" tanya Aldo heran.


"Aku takut kamu mencuri ide perusahaanku" jawab Belinda.


"Yaampun Bella aku tidak sejahat itu sayang. Lagi pula kau jualan skincare dan peralatan rumah tangga sementara aku jualan besi dan baja. Mana ada hubungannya" jawab Aldo mencebik.


"Haishh, begiti saja marah" Belinda menatap lucu sang kekasih.


"Yasudah aku mening tidur aja lah" Aldo merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang ruang kerja Belinda.


"Gak cium dulu?" Belinda dengan genitnya.


"Ciumnya dipending dulu, takut kebablasan disini" Aldo pun memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2