
Malam ini si pengantin baru sedang bergumul dengan nikmatnya seakan memenuhi dahaganya kala waktu pelepasan yang tertunda. Tiffany merem melek berada dalam kungkungan seorang Ben yang menempa dengan kecepatan turbo.
"Ahhhh, Enak sayang!" racau Tiffany sembari meliuk-liukan tubuhnya.
"Eughhhhhhhhhh" Ben ikut mende*ah puas..
Tak lama sesuatu yang hangat meledak dibawah sana menandakan kedua insan ini sudah tuntas mencapai pelepasannya.
Ben ambruk diatas tubuh sang istri dengan nafas terengah. Pusakanya sengaja belum dia cabut dari sangkarnya karena masih merasakan milik Tiffany berdenyut-denyut seakan mengurut milik Ben.
"Yeahhhhhhhhhhh,, hmmpppptttt... Rasanya sangat gila" ucap Ben dengan nada serak.
"Kamu puas sayang?" tanya Tiffany.
"Ya! Terimakasih Bella untuk malam ini" Ben tanpa sengaja menyebut nama Belinda, hal itu membuat seketika Tiffany merasa kecewa.
"Apa? Kenapa kau menyebut nama Kak Bella? Jadi kau menganggap yang sedang bercinta bukan aku tapi Kak Bella?" Tiffany langsung beringsut hendak masuk kedalam kamar mandi.
Ben gelagapan karena menyadari kekeliruannya. Jika boleh jujur, Ben memang menganggap wanita yang ada dalam kungkungannya adalah Belinda. Tapi dia akan sedikit berbohong agar Tiffany tak marah padanya.
"Sayang, tunggu" Ben mencekal tangan Tiffany.
"Lepas! Kamu sudah keterlaluan" Tiffany terisak.
Ben memeluk sang istri, dan mengelus surainya.
"Tidak begitu, maafkan aku. Aku hanya akhir-akhir ini pikiranku kacau! Tapi percayalah tak ada siapapun dalam hubungan ranjang tadi, hanya ada kamu" Ben membujuk wanita galak itu agar luluh.
Tiffany tak bergeming dengan wajah masam.
"Tapi kau menyebut Kak Bella" Tiffany terisak dalam pelukan Ben.
"Tidak sayang! Sumpah demi apapun kamu lah. Sudah jangan bersedih aku minta maaf ya. Ayo kita mandi berdua" Ben kemudian menggendong Tiffany membawanya ke kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sofie dan Belinda tiba disebuah panti jompo. Manula disana sangat aktif, tak ada yang hanya bobo saja. Ada yang menyulam, menjahit, olahraga, melakukan kegiatan yang berfaedah.
"Selamat pagi oma/opa ku! Bagaimana pagi ini apakah tetap semangat?" tanya Sofie.
"Pagi suster Sofie. Sangat menyenangkan" jawab salah satu dari manula yang sedang membawa barbel ditangannya.
"Oh ya, kenalkan ini suster baru disini, ayo Bella perkenalkan namamu" ucap Sofie.
"Selamat pagi opa dan oma, perkenalkan nama saya Belinda, kalian bisa panggil Bella. Saya suster baru disini" ucap Belinda sembari membungkuk hormat dengan memakai bahasa jepang.
Semua manula disana menyambut ramah Belinda, Lalu seseorang menghampiri Belinda.
"Hallo, namaku Nakamura!" ucap seorang manula yang masih terlihat energic sembari mengalungkan bunga kepada Belinda.
"Hai opa! Namaku Belinda" ucap Belinda ramah.
Manula itu hanya mengangguk saja lalu pergi lagi.
__ADS_1
"Bella, kau tahu dia itu mantan ketua gengster Yakuza semasa mudanya. Jika dia olahraga suka tidak pakai baju, nah tato nya akan terlihat" bisik Sofie.
"Seram sekali" gumam Belinda.
"Tenang, dia baik kok" sela Sofie tak ingin Belinda takut dihari pertama pekerjaannya.
Mereka berdua pun mulai mengurus dan berbaur dengan semua orang yang ada di panti jompo itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seseorang berbadan tegap dan berwajah abu-abu, masuk kedalam ruang kerja Aldo. Pria itu adalah orang suruhan yang diperintah Aldo untuk mencari keberadaan Belinda.
"Apa gagal lagi?" Pekik Aldo sembari menggebrak meja.
"Maaf Bos, sangat sulit menemukan wanita yang anda cari. Anak buah saya sudah mencariny kemanapu.
" Cari sampai dapat! Aku sudah membayar kalian dengan mahal" bentak Aldo.
"Baik Bos" pria itu langsung keluar dari ruangan yang Aldo duduki.
Aldo saat ini sangat kacau, pikirannya hanya fokus pada sang pujaan yang belum diketahui rimbanya. Dia menyugar rambutnya dengan hembusan nafas kesedihan.
"Bella, kamu dimana" lirih Aldo.
sama halnya dengan apa yang dirasakan Aldo, Dhanu dan Haruni pun mereka selalu berpikiran tentang Belinda. Beberapa kali Haruni harus bolak balik rumasakit karena darah tingginya kumat dan gerd nya naik.
Dhanu walau kadang lelah, tetapi dia paksakan untuk berangkat kekantor, walau kadang dirinya hanya tidur saja dikursi ruangannya.
Dhanu menghembuskan nafas kasarnya didalam ruangan kerjanya memikirkan Belinda yang seolah menutup diri dari semuanya.
Tiffany semenjak menikah dengan Ben seolah tidak peduli dengan perusahaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Siapa orang-orang itu Ben?" gertak Listyo kala melihat pria-pria berbadan sangar keluar dari ruangan kerjanya.
"Itu orang suruhanku pi" jawabnya enteng.
"Untuk apa kau menyewa mereka? Jangan katakan kau merencanakan sebuah kejahatan atau kau ingin melakukan pembunuhan berencana, hah?" Selidik Listyo.
"Apa sih pi? Pikiran papi terlalu melanglang buana tidak jelas" balas Ben sedikit kesal.
"Lantas kau mau apa menyewa mereka Ben tolol?" Listyo sudah tak habis pikir dengan sang anak.
"Aku tugaskan mereka mencari keberadaan Bella ku" jawab Ben santai.
Brakkkkkkk!!!!!!!!!
Listyo seketika menggebrak meja sang anak, dia tak habis pikir dengan kelakuan Ben yang dinilainya sangat membagongkan.
"Atas dasar apa kau ingin mencari keberadaan Bella? Ingat kau sudah menikah dengan Tiffany, tolol?" Listyo dilanda emosi jiwa.
"Karena aku khawatir padanya pi! Aku tidak tenang bila Bella belum diketahui keberadannya" ucap Ben jujur.
__ADS_1
"kau tak punya hak untuk mengkhawatirkan dia sekarang! Fokus saja pada istirmu Ben, jangan mengada-ada. Kau yang menyia-nyiakan Belinda dan sekarang kau menyesal? Makan tuh penyesalan" Listyo langsung melangkahkan kakinya meninggallan ruangan itu.
"Arghhhhh Bella" Ben meremat rambutnya prustasi.
Penyesalan terbesar seorang Ben ialah menuruti nafsu binatang bersama Tiffany hingga dia harus rela kehilangan berlian seperti Belinda. Jujur saja jika di akui, Perhatian Tiffany pada Ben sebagai seorang istri dinilai nol besar. Contohnya saja ketika Ben ingin berangkat bekerja, boro-boro mengurusi dan mempersiapkan semua aspek kebutuhan, Tiffany malah masih terlelap dalam mimpinya. Hanya bagian ************ saja yang Tiffany penuhi, apalagi Ben pernah berkata dia ingin memiliki anak Tiffany marah besar dan menolak mentah-mentah.
Tok tok tok!!!!!
Suara pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.
"Masuk!" ucap Ben dari dalam sana.
Masuklah HRD yang bernama Luvitong dan seorang wanita.
"Selamat pagi Pak Ben! Hari ini saya membawa sekretaris yang anda mau. Saya sudah mengetahui potensinya" ucap Luvitong.
"Luvi, kenapa yang lolos perempuan?" Ben bertanya sembari melirik gadis yang sedikit tomboy tapi manis itu.
"Maaf Pak, dialah yang paling memenuhi syarat kualifikasinya" jawab Luvitong.
"Baiklah, kamu boleh tinggalkan kami" ucap Ben sembari menghempaskan tangannya.
Kini Ben sedang ada dihadapan seorang gadis yang melamar khusus menjadi asprinya.
"Baiklah, kamu bisa memperkenalkan diri pada saya" ucap Ben.
"Nama saya Elsa. Umur 22 tahun. Saya sudah pernah menjadi aspri di PT Naungan Merdeka" ucapnya dengan penuh semangat.
"Apa kamu tahu, menjadi aspri akan membutuhkan waktu kerja yang akan sedikit lama dibanding karyawan biasa karena saya sangat sibuk jadi kamulah yang kadang menggantikan tugas saya" ucap Ben ingin melatih mental Elsa.
"Jika itu, saya pun sudah paham Pak" jawab Elsa.
"Oke! Dan kenapa kamu memilih keluar dari pekerjaan kamu sebelumnya dan apakah Bos mu galak." tanya Ben mengorek lebih jauh.
"Baiklah akan saya jawab..Alasan saya keluar karena hati saya berkata harus keluar. Dalam pekerjaan bukan hanya uang yang di dapat, tapi kenyamanan juga"
"Jadi kamu tidak nyaman di perusahaan sebelumnya?" cecar Ben.
"Tidak juga Pak!" ucap Elsa.
"Dan Bapak menanyakan, apakah Bos saya galak? Jawabannya tentu tidak karena bagaimananpun saya pernah bekerja dengan Beliau. Mau bagaimanapun saya tidak akan berkata jelek kepada mantan Bos saya" jawab Elsa.
"Wooow menarik" gumam Ben dalam hatinya.
"Maaf jika pertanyaan saya sedikit privasi. Apa kamu sudah menikah? Hmmzz maksud saya jika sudah maka waktu kamu akan terbagi dengan keluargamu dan kadang tidak fokus untuk bekerja" tanya Ben.
"Saya single Pak!" jawab Elsa gugup.
"Anak?" Ben bertanya kembali.
"Satu" jawab Elsa.
"Oke, baiklah kamu bisa mulai bekerja besok" ucap Ben sembari memberikan salam dan dibalas oleh Elsa.
__ADS_1
Elsa pun keluar dari ruangan Ben dengan senyum mengembang.
"Terimakasih, Tuhan. Akhirnya aku bisa bekerja" gumamnya.....