Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Bertemu Victoria


__ADS_3

Hai para readers, masih setia kan membaca karyaku ini, Sebenarnya Author sedang lieur (pusing kepala)😖, Tetapi banyaknya yang meminta update cerita jadi Author harus tetap semangat..💪💪


Do'a kan ya semoga Author bisa sehat kembali.


Untuk para Readers ku, tinggalkan jejak komen dan like ya agar pendapatan Author meningkat. Siapa tahu Author bisa kebeli motor supra.🛵


Ben dan Belinda malam ini tidur di rumah Dhanu. Ben memeluk tubuh sang istri dengan posesif. Tekadnya yang sudah bulat untuk mengakhiri hubungannya dengan Tiffany harus segera di lakukan. Ben tidak ingin mengecewakan Listyo sang papi jika dia bercerai dan dirinya pun tak mau menceraikan Belinda karena jujurly dia sudah nyaman dengan sang istri yang di nilainya sangat keibuan dan lebut beda dengan Tiffany.


Belinda menggeliat dalam pelukan hangat sang suami, tapi Ben dengan sayangnya memeluk tubuh itu lalu menenangkannya sehingga Belinda terlelap kembali.


Ponselnya berdering sedari tadi, tetapi Ben mengabaikannya. Lalu pesan di kirim dari Tiffany.


"Kenapa kau mengabaikanku Ben? Angkat panggilan ku sekarang" pesan yang di kirim Tiffany bernada emosi.


"Aku lelah, tolong malam ini saja jangan ganggu aku Fany, please" Ben membalas pesan itu, lalu mematikan ponselny agar Tiffany tak mengganggunya.


Di dalam kamarnya, Tiffany amatlah dongkol karena Ben mengabaikannya. Dia menangis.


Paginya sesi sarapan pun di mulai. Tak ada yang berbicara hanya dentingan sendok, garpu dan piring yang saling beradu. Hari ini libur bekerja, Belinda ingin beristirahat di rumah sang papa.


Selesai makan, barulah mereka terlibat perbincangan.


"Fany kenapa matamu sembab nak?" tanya Dhanu sang papa.


"Oh tidak apa-apa! Aku hanya kelilipan saja pa! Pakai sedikit salp mata juga sembuh" jawab Tiffany sembari melirik ke arah Ben.


"Oh begitu! Yasudah papa mau ke belakang dulu. Ayo ma antarkan papa" Dhanu langsung pergi di antar Haruni sang istri.


Kini mereka yang sejatinya terlibat cinta segi tiga duduk di meja makan. Belinda bersikap sangat tenang berbeda dengan Ben dan Tiffany.


"Fany, bagaimana jika malam nanti kau ajak kekasihmu makan malam disini?" ucap Belinda sengaja.


Raut wajah keduanya tampak tegang.


"Apa sih kak? Kekasihku sibuk mana sempat menghadiri acara yang remeh temeh seperti itu!" jawabnya ketus.


"Owh remeh temeh ya? Sayang apakah kamu setuju kalau malam nanti kita adakan makan malam sembari mengenalkan kekasih adiku ini? Pasti kekasihnya tampan sekali. Ya mengingat adiku ini kan mati-matian menyembunyikan dia, Tenang saja dek, aku tidak akan jatuh cinta pada kekasihmu, kan aku sudah punya suamiku yang tampan dan ganas di ranjang" Belinda bertanya pada Ben dan sedikit mengarang cerita agar Tiffany merasa pusing.


Keduanya sontak terperanjat, apalagi Tiffany yang langsung memuntahkan isi minumannya.


"Ekh maaf-maaf kamu jadi syok kan? Maaf ya" Belinda dengan lembut menepuk-nepuk punggung sang adik.

__ADS_1


"Bella, aku mau pergi ke kantor dulu, aku tidak bisa libur karena Aldo cuti satu minggu" Ben segera berbenah dan beranjak dari istri dan kekasihnya.


Tiffany pun langsung bergegas.


"Kak Bella, aku mau jalan dengan temanku" Tiffany pun pergi dari hadapan Belinda.


"Sepagi ini jalan dengan teman? Hmmmmmzzz ya, ya. Terserah kalian saja" Belinda segera berjalan ke kamarnya untuk mengganti bajunya dengan stelan olahraga.


Skip


Taman kota terlihat sedikit ramai, Belinda joging hanya sendirian. Sudah lama dia tidak olahraga karena kesibukannya yang mengharuskan dia setiap hari di kantor.


Dari jauh terlihat seseorang yang dia kenal sedang berjalan pagi dengan menuntun seekor kucing oren


" Pak Aldo? Ya benar itu dia" Belinda segera berjalan ke arah Aldo.


"Hai Pak Aldo, sendirian saja nikh?" tanya Belinda sekedar basa-basi.


"Hai Bu Bella! Berdua sih sama Renata si cantik" jawab Aldo datar seperti biasanya.


"Hah, Renata? Kekasih anda? Mana orangnya?" tanya Belinda heran.


"Ini Renataku!" jawabnya sembari memangku kucingnya membuat Belinda tertawa.


"Dia juga masih gadis kok! Oh ya boleh tidak kalau sedang di luar pekerjaan panggilnya nama saja, jangan terlalu formal!" ucap pria tampan itu.


"Oke baiklah Aldo" ucap Belinda.


"Terimakasih atas paket skincare dan alat-alat mandinya. Anak-anak radio suka! Nona Black Diamond" ucap Aldo singkat.


Belinda langsung terkejut, kala penyamarannya di ketahui Aldo.


"Kamu?" ucap Belinda.


"Ya aku Aldo chibi-chibi.. Hahahaha" Untuk pertama kalinya Belinda melihat Aldo tertawa lepas sampai terlihat sedikit keriput tampan di ujung kulit matanya.


Belinda merasa malu karena penyamarannya di ketahui Aldo. Wajahnya langsung memerah.


"Sudah Bella jangan merasa malu denganku. Lagipula hanya aku yang tahu itu kamu" ucap Aldo.


Belinda seketika memukul-mukul tangan Aldo dengan gelak tawa bercampur malu.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kalau itu kamu! Tapi waktu siaran suaramu sangat ceria berbanding terbalik dengan dunia nyata jika kamu mahluk yang sangat dingin Aldo" ucap Belinda.


"Aku hanya mencoba ceria saja. Apa kamu sudah tahu semuanya?" tanya Aldo.


Belinda hanya mengangguk lesu.


"Kamu tahu sesuatu mengenai hubungan adiku dan Ben?" Belinda bertanya sembari memandang lekat netra si babang tampan Aldo.


"Banyak!" jawabnya singkat.


"Ceritakan padaku Aldo!" Belinda ingin mendengar semuanya.


"Maaf Bella, aku tidak bisa menceritakan keburukan ataupun privasi atasanku" ucap Aldo terlihat sedih.


"Aldo, please! Aku istrinya Ben, harus tahu sejauh apa hubungan mereka berdua" Belinda berkata sembari menggenggam tangan Aldo dengan erat. Ada rasa mengiba dari Belinda yabg Aldo rasakan.


Aldo pun akhirnya luluh dan mau bercerita mengenai hubungan Ben dengan Tiffany


"Pak Ben sebenarnya sudah berpacaran dengan adik anda selama tiga tahun" Ucap Aldo membuat Belinda tersentak.


"Bahkan sewaktu Pak Ben masih berpacaran dengan tunangannya dia sudah berselingkuh dengan Tiffany. Saat itu tunangannya yang bernama Viona memergoki mereka sedang bercinta di apartemen milik Pak Ben hingga akhirnya Viona memutuskan pertunangannya. Entah sudah berapa puluh kali mereka bercinta, sampai aku pun pernah memergoki mereka sedang memadu kasih di atas ranjang membuat aku mual dan jijik. Aku hanya kasihan pada Adikmu Bella. Dia hanya di jadikan alat pemuas nafsu suamimu" Tutur Aldo panjang lebar.


Belinda terdiam dengan air mata yang sudah menganak.


"Hapus air matamu nona! Aku tak suka melihat kesedihan di mata seorang wanita" Aldo dengan kembut mengusap air mata Belinda.


Dari arah sana, terdengar suara wanita yang sedang menawarkan minuman dingin dan rokok.


"Minumannya kakak! Silahkan di pilih, murah meriah tetapi sangat segar"


"Minumannya om? Masih dingin, masih segar. Ayo di pilih. Beli satu gratis satu"


"Dek minumannya seger loh" Wanita itu terus menjajakan minumannya di tengah terik matahari pagi yang sudah mulai terasa. Dia tak hentinya mengelap keringat di dahinya.


Belinda merasa tak asing dengan suara itu. Dia pun melihat sang gadis yang menjual minuman itu.


"Victo? Ya benar itu Victo. Yaampun dia jadi penjual minuman seperti itu. Aku harus bicara dengan dia" Belinda pun berjalan ke arah Victoria di ikuti Aldo dari belakang.


"Victo!" ucap Belinda.


Victoria pun menoleh dan terkejut kala mendapati Belinda berdiri tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Maaf anda salah orang. Saya bukan Victoria saya Elizabeth" Victoria segera melebarkan langkahnya menjauhi Belinda.


__ADS_2