
"Ada apa Fany sepagi ini kemari?" tanya sang kakak.
"Kamarku sedang di renovasi jadi aku memutuskan untuk ikut tinggal di rumah kakak ipar untuk sementara" ucapnya tampa rasa malu membuat keduanya tambah melongo.
"Apa?" tanya Ben.
"Apa? Tinggal disini?" tanya Belinda.
"Ya untuk sementara! Bolehkan kakak ipar? Tentu boleh dong" Ucap Tiffany segera berjalan ke arah kamarnya.
Belinda menyusul Tiffany ke kamarnya. Rasa marah sudah tak bisa di torelir lagi. Tiffany semakin seenaknya. Tak ada sedikitpun rasa hormat padanya.
"Tiffany tunggu!" Belinda membuka pintu kamar Tiffany, dia di dapati sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Fany, ada banyak apartemen kenapa kau malah tinggal disini?" Belinda melempar bantal ke arah sang adik.
"Memang kenapa aku ikut dengan kalian di rumah ini? Kau kan kakakku dan dia iparku? Ada yang salah?" tanya Tiffany dengan santainya.
"Jelas kau salah! Aku tidak mengizinkan kau tinggal bersama dengan kami! Bawa kembali barang-barangnya" Tegas Belinda.
"Kau mengusirku?"
"Lihat Kak Ben dia mengusirku! Boleh kan aku tinggal di rumah ini?" Tiffany merajuk dan Ben tak kuasa untuk bicara apapun.
"Ben, kau suamiku sekarang, kau harus tegas" Belinda semakin berapi-api.
Ben hanya diam. Mulutnya seakan sulit terbuka seperti terolesi lem super kuat.
"Fany, aku masih baik padamu sekarang! Mengertilah kau sudah dewasa, tak baik ikut tinggal dengan kami yang baru menikah. Silahkan bawa koper kamu dan pulang ke rumah papa" Belinda sudah muak dengan adiknya.
"Tidak! Aku ingin disini karena merasa tidak sendiri! Kak Ben bolehkan aku tinggal disini?" ucap Tiffany sembari memegang tangan kekar Ben.
"Aku tidak bisa memutuskan, Fany. Tanyakan saja pada kakakmu ini" Ben benar-benar bingung harus bersikap bagaimana dalam situasi tegang seperti ini.
Lalu Belinda menelepon papanya.
"Hallo sayang! Ada apa nak?" tanya Dhanu di seberang telepon.
"Pa, aku hanya ingin tanya apa benar kamar Fany sedang di renovasi?" Belinda menelepon sang papa dengan volume besar.
"Tidak tuh! Tapi dia izin katanya mau liburan ke Wakatobi satu minggu" ucap Dhanu membuat Belinda semakin murka pada sang adik.
"Yasudah pa, aku hanya ingin menanyakan itu saja. By pa" panggilan telepon itu pun dimatikan.
"Kenapa kau membohongi papa, hah? kau ini kenapa sih selalu saja merongrong apapun yang aku miliki? Aku benar-benar muak dengan mu Fany!" ucap Belinda dengan emosi membuncah.
"Seorang kakak memang seharusnya merelakan apapun untuk adiknya termasuk merelakan aku tinggal di rumah ini" Tiffany masih tidak ingin kalah.
"Tidak untuk saat ini dan seterusnya. Pergi kau dari rumahku!" sentak Belinda.
"Kau mengusirku wanita kolot?" Tiffany berani menunjuk wajah sang kaka.
Plakkkkk!!! Tamparan hangat mendarat di pipi indah nan tirus milik Tiffany. Bukan tangan Belinda yang menampar, tapi tangan Haruni yang tiba-tiba masuk kerumah itu karena dia sempat mengikuti Tiffany dari arah belakang.
__ADS_1
"Mama" ucap Belinda.
"Mama" Ben pun ikut bergumam kejut.
"Mama" Tiffany meringis sembari memegang pipinya.
"Ayo pulang!" Sentak Haruni emosi.
"Mama ngapain disini? Tampar aku terus ma, tampar!" Tiffany memekik emosi pada sang mama.
"Ada apa dengan hidupmu Fany? Mereka sudah menikah kau jangan seperti ini nak! Ayo pulang" Haruni menarik tangan Tiffany.
"Tidak! Aku akan disini" Tiffany terus saja merinta.
"Ben, tolong bawa koper Tiffany dan masukan kedalam mobil mama" ucap Haruni.
Ben pun menuruti perintah sang mama mertua.
Sebelum pergi, Tiffany mengumpat pada sang kakak.
"Dasar pencuri kau...Puihhhh" ucapnya sembari meludah ke arah lantai dekat kaki Belinda.
"Adik tidak tahu diri! Dasar pel*c*r. Milikmu hanya dipakai untuk buang sampah cairan laknat pria" Belinda berkata dengan air mata yang sudah menganak deras.
Di luar, Ben mengatakan akan mengantar Tiffany sendiri. Dia akan membicarakan persoalan dengan kekasihnya itu, Haruni pun mengizinkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oregano Hotel...
"Dunia tak adil bagiku... Hikhikhik" ucap Tiffany dengan terisak.
"Maafkan aku sayang! Kau jadi berada dalam situasi seperti ini. Tapi percayalah aku masih sangat mencintaimu" Ben memeluk raga lunglai di hadapannya dengan emosi meletup-letup dan keharuan yang membukit.
"Ben jangan pernah ada kata perpisahan di hubungan ini!" seru Tiffany dengan nada terisak.
Ben hanya menganggukan kepala dan tersenyum samar.
"Sayang, apa kau tidak merindukan tubuhku ini?" tawar Tiffany.
"Aku rindu, karena sudah menahan ini selama satu minggu lebih" ucap Ben sembari tangannya membuka baju sang kekasih.
"Ben luapkan kemarahan, kekecewaan, dan rasa putus asamu di atas tub*hku sayang" Tiffany berkata dengan nada sensual sembari memberikan balon bening dan memasangkan di tongkat keramat Nyonya menir itu.
Ben tanpa babibu segera melaksanakan itu. Mereka berdua langsung berpacu di sirkuit asmara. Suara erangan, pekikan, leng*h*n, de*ah*n di kamar hotel itu mengiringi kegiatan olahraga panas itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perasaan Belinda yang sedang kacau balau itu, membuat dia tidak ingin menyetir sendirian karena takut tidak konsen. Dia pun meminta bantuan pada Aldo untuk menjemputnya berangkat ke kantor.
Sepanjang perjalanan, Belinda hanya diam dan masing mengeluarkan air mata nya. Dia masih terbayang perkataan tajam dari sang adik.
Tiba-tiba tangan Aldo mengusap air mata itu dengan tisu. Membuat Belinda tersentak kaget.
__ADS_1
"Air mata mahal, jangan di buang-buang" seloroh Aldo.
"Maaf! Aku hanya terlalu sedih saja" ucapnya.
"Butuh hiburan? Aku bisa mengajakmu siaran di radio miliku atau kau mau lihat perkebunan strawberyku?" tanya Aldo menawarkan diri.
"Jadi radio itu milikmu Aldo? Dan apa kau bilang kebun strawbery? Kau punya itu?" tanya Belinda.
"Ya itu radio sebenarnya milik temanku Mikail, dia menjualnya padaku karena radio itu sedang di ambang kebangkrutan karena masalah korupsi disana. Semenjak satu tahun belakangan aku membenahi radio itu dan sukurlah bisa mengudara kembali. Aku hanya kasihan saja jika radio itu off selamanya karena puluhan pegawainya menggantungkan hidupnya disana" tutur Aldo sembari fokus menyetir.
"Terus kau punya kebun strawbery dimana?" tanya Belinda yang mulai tertarik dengan dunia Aldo.
"Di puncak! Aku menjual buahnya ke pabrik-pabrik membuat yougurt dan minuman strawbery lainnya, juga di jadikan tempat wisata petik disana" ucapnya.
"Aldo kau tahu, mungkin di antara para aspri-aspri di dunia, kau adalah aspri terkaya. Pasti Ben menggaji mu sangat besar kan?" tanya Belinda dengan takjub.
"Tidak juga" jawab Aldo sembari terkekeh.
Mereka pun akhirnya tiba di depan kantor Belinda. Setelah mengucapkan terimakasih, Belinda pun berjalan dengan wibawa menuju kedalam kantornya.
Aldo lalu meninggalkan bangunan megah itu ketika punggung Belinda sudah tenggelan di balik banguan kantor miliknya.
"Bella, kau telah mengetahui sisi lain dalam diriku, bahkan Ben pun tak tahu dan takan ku beri tahu! Bella gadis berponiku" gumam Aldo.
Belinda melangkah menuju ruangannya, disana dia sudah melihat Victoria duduk rapih menyambutnya.
"Selamat pagi Bu Bella yang cantik ya stabil dan parifurna" sapa Victoria dengan senyum manisnya.
"Pagi juga asistenku yang menghilang selama tiga minggu" balas Belinda.
Victoria tertawa.
"Maaf saya di kudeta" ucapnya dengan tawa.
Tiba-tiba dari belakang, Hilmi dan David menghampiri Belinda dan Victoria. David membawa dua bucket bunga mawar merah dan Hilmi membawa dua batang cokelat yang bermerk pinkqueen.
"Selamat pagi Bu Bella dan Victo. Saya dan Hilmi membawa hadiah untuk anda berdua. Ini buat kamu Victo sebagai tanda permintaan maaf kami atas kebodohan kami waktu itu. Dan ini untuk anda Bu Bella karena anda sudah memaafkan kami dan memberi kesempatan kami untuk bekerja disini" ucap David dan Hilmi.
Keduanya lantas menerima bunga dan cokelat itu.
"Terimaksih"
"Terimaksih" ucap keduanya.
Di ruang kerja, Belinda sengaja memotret bucket bunga dan sebatang cokelat dengan caption.
"Pagi yang indah seindah ikatan bunga mawar merah dan sebatang cokelat penambah semangat kala harus bertarung melawan kepedihan. Terimakaih orang baik..Bunganya akan aku simpan dan cokelat nya akan aku makan" Tulisnya langsung di baca oleh Ben yang sedang kelelahan sehabis bercinta. Dia pun merasa gerah dalam hatinya.
"Siapa curut yang berani memberi istriku bunga dan cokelat" geramnya.
Tak lama juga, Belinda memposting poto dirinya sedang menggigit cokelat itu hanya menampilkan bibirnya yang seksi.
__ADS_1
Ben langsung kepo melihat poto itu.
"Si*l kenapa Belinda sangat seksi dari segi manapun" gerutunya.