
"Berhenti loe perempuan gila" ucap Mario.
Setelah bermain kejar-kejaran, akhirnya tangan Tiffany akhirnya bisa ditangkap oleh Mario.
"Lepas bangsat" Tiffany masih saja melawan.
Mario kemudian menyemprotkan cairan bius ke hidung Tiffany sampai gadis itu lunglai tak sadarkan diri.
Matanya mengerjap-ngerjap. Seketika pandangan Tiffany tertuju pada sebuah kamar dengan interior klasik.
"Gue dimana!" gumamnya.
Prok!! Prokk!! Prokk.
Seorang pria duduk di kursi memandang tajam kearah Tiffany.
"Sudah sadar loe rupanya?" ucap Mario dengan suara angkuhnya.
"Loe?" ucap Tiffany terkejut.
"Yes Baby ini gue" seringai Mario licik.
Dia berjalan kearah Tiffany dan langsung mengungkungnya.
"Lepasin gue breng*ek! Gue mau pulang" Tiffany yang masih ada dalam pengaruh obat bius masih lemas, dengan sedikit berontak tak membuat terasa pada tubuh Mario.
"Oh tidak semudah itu nona galak" ucap Mario sembari merekatkan kungkungannya pada.
"Terus loe mau apa pria aneh" Tiffany sudah dilanda kebingungan.
"Seharusnya loe minta maaf sama adik kecil gue" bentak Mario gemas.
"Adik kecil loe yang mana bego? Gue gak kenal adik loe" Tiffany masih memberontak.
"Mau kenalan?" tanyanya dengan seringai nakalnya sembari berdiri dan membuka celana yang Mario kenalan hingga si adik kecil yang ternyata besar dan kekar itu telah berdiri menantang kerasnya dunia.
"Kyaaaaaaaaaaaaa" Tiffany menjerit.
Dia bukan wanita polos, tetapi melihat benda selain milik Ben dia tidak mau.
"Mau apa loe bangsat?" Tiffany memberontak dan hendak melarikan diri namun tangannya dijegal oleh Mario.
"Galak amat loe, dasar turunan pitbul" geram Mario.
"Enak aja loe! Papa gue orang terhormat" bentak Tiffany.
Ketika Mario lengah, tiba-tiba Tiffany menendang pusakanya
"Argghhhhhhh sakit. Cewek gila" Mario teriak.
Tiffany langsung melarikan diri dari tempat itu.
Dia terus berlari hingga sebuah taksi datang melewatinya.
"Stop! Pak antarkan saya perumahan Grand Cifik" Tiffany berkata dengan nafas terengah.
supir itu mengangguk.
"Mbak seperti ketakutan kenapa?" tanga sang supir taksi.
"Saya dikejar anjing galak pak" jawab Tiffany.
Sampailah ia dirumahnya, dan baru sadar jika ponsel dan dompetnya tertinggal di tempat Mario.
"Arghhh si*l" rutuknya.
__ADS_1
"Pak tunggu sebentar ya!" Tiffany beranjak untuk mengambil uang dirumahnya.
Saat itu Haruni sedang panik karena semalaman Tiffany tidak pulang.
"Mama" ucap Tiffany tergesa-gesa.
"Kamu habis dari mana semalaman tidak pupang?" Haruni siap mengeluarkan ocehan seribunya.
"Sudah ma nanti saja aku cerita. Sekarang minta uang karena taksinya belum aku bayar" Tiffany mengambil uang di saku baju Haruni membuat ia geleng-geleng kepala.
Tiffany pun pergi sembari membayar ongkos taksi.
Sementara diapartemen Mario dia tertawa puas ketika melihat isi dompet dan mengotak atik ponsel Tiffany.
"Tiffany Angela! Woooowww nama yang bagus" ucapnya dengan seringai tawa menyeramkan.
"Gadis galak, menyesal aku tak memperkaosnya dulu waktu dia sedang pingsan! Tapi seorang Mario tak senang bila harus meniduri wanita yang tidak berdaya. Tiffany Angela kau sudah memporak porandakan hatiku! Seumur hidupku tak pernah seorang wanita pun menolak pesonaku. Bahkan mereka lah yang memohon untuk kutiduri" ucap Mario.
Ia pun menghubungi seseorang.
"Marcus, cari data diri tentang wanita ini" ucapnya.
".........."
"Nanti poto sama alamantnya aku kirimkan" jawab Mario.
",...............!............?..."
"Bawel loe! Iya gue langsung teransfer sekarang. Giliran duit aja loe semangat" omel Mario.
"......................".
panggilan telepon pun di putus.
" Kau akan tahu siapa Mario yang sebenarnya" ucap Mario jumawa dalam hatinya.
Hari ini Belinda sudah sampai dirumahnya.
Ben memapah tubuh itu diikuti oleh Haruni dan Dhanu.
"Ben, apa sebaiknya Bella dirumah papa saja?" Dhanu memberi usulan.
"Tidak pa! Bella istriku, aku yang akan mengurusnya" sergah Ben.
"Tapi jika kamu bekerja bagaimana?" tanya Dhanu kembali.
"Ada Bik Lilis yang akan menjaga Bella pa" jawab Ben.
"Yasudah kalau begitu. Papa titip Bella padamu ya nak!" seru Dhanu.
"Ya pa. Aku akan menjaga Bella" jawab Ben dengan yakin.
"Maafkan aku yang sedang tidak berdaya ini" ucap Belinda lirih.
"Tidak apa sayang! Kami akan selalu mendukungmu" ucap kedua orang tuanya.
Malamnya Ben merasakan gundah gulana. Satu minggu tak melakukan pelepasan membuat kepalanya pusing. Ia tidak mungkin meminta haknya pada Belinda yang sedang sakit. Satu-satunya tempat menumpahkan cairan laknatnya selain pada Belinda, ialah pada Tiffany. Ben segera menghubungi kekasihnya itu.
"Sayang, aku rindu" ucap Ben.
"Aku pun begitu" balas Tiffany.
"Kita perlu bertemu sayang" Ben sudah tak sabar.
"Aku akan kerumahmu sekarang" Tiffany lalu bergegas membawa mobilnya hingga akhirnya sampailah di rumah Belinda.
__ADS_1
Tiffany memarkirkan mobilnya di garasi rumah itu. Lilis langsung membuka pintu karena Ben yang menyuruh.
"Loh kok kamu masih disini?" tanya Tiffany heran.
"Mulai saat ini, saya tidak pulang Bu! Saya tinggal disini untuk menjaga Nyonya Bella" jawab Lilis.
"Oh!" ucap Tiffany sembari melenggang masuk rumah.
Menyadari ada yang datang, Belinda yang sedang duduk di kursi langsung bertanya.
"Siapa itu yang datang?" tanyanya.
"Aldo yang datang" ucap Ben.
Belinda hanya manggut-manggut saja.
Ben segera menarik tangan Lilis ke belakang.
"Bik, jangan bilang kalau Tiffany kemari ya! Awas kalau sampai kamu mengatakannya" ancam Ben.
"Baik Tuan" ucap Lilis ketakutan.
Belinda yang hapal aroma parfum Aldo, seketik mengerutkan keningnya.
"Mas, ini seperti parfum wanita? Siapa yang kamu bawa, hah?" Belinda sudah menitikan air mata.
"Aldo yang barusan datang, dia hanya menyerahkan berkas lalu pulang lagi" ucap Ben gugup.
"Bella, ini sudah malam kamu harus istirahat" Ben langsung memapah Belinda menuju kamarnya.
"Bella, tidurlah. Aku ingin melanjutkan lagi pekerjaanku di ruang kerja. Selamat malam dan selamat tidur" Ben lalu mengecup pucuk kepala Belinda.
"Mas, kakiku pegal! Tolong panggilin Bik Lilis ya" Belinda berkata dengan datarnya.
"Ya" Ben lalu menguruh Lilis untuk pergi ke kamar Belinda.
"Nyonya panggil saya?" tanya Lilis sopan.
"Tutup pintunya Bik, lalu kunci" perintah Belinda.
meski heran, Lilis menuruti perintahsang majikan.
"Siapa yang datang ke rumah ini?" tanya Belinda tegas.
"Eummzz, anu Nyonya, anu Pak Aldo. Ya Pak Aldo" ucapnya gugup.
"Apa ucapan Bik LilIs bisa di pertanggung jawabkan di akhirat?" tanya Belinda.
Lilis semakin gugup, badannya gemetar.
"Bik, walaupun saya buta, tetapi nurani saya peka. Atau Bik Lilis kerjasama dengan suami saya? Bik lilis sama kejamnya?" ucapan Belilinda sangat menohok.
Lilis langsung berhambur memegangi tangan Belinda.
"Hikhikhik- - - Nyonya maafkan saya" ucap Lilis menangis.
"Maka dari itu katakan yang sebenarnya Bik! Apa Bik Lilis tidak kasihan terhadap saya?" tanya Belinda dengan suara paraunya.
"Saya di minta untuk tutup mulut oleh Tuan Ben. Tapi saya tidak tega harus berbohong pada anda Nyonya! Baiklah saya akan jujur kalau Pak Ben memasukan Bu Fany kerumah ini. Bukan Pak Aldo" Bik Lilis menangis.
"Sudah saya duga" Sesak didada Belinda.
"Bik Lilis tahu, saya harus menanggung rasa sakit ini sendirian" ucap Belinda pilu.
"Nyonya ada saya disini! Saya akan jadi mata untuk Nyonya" Bik lilis mengelus rambut Belinda.
__ADS_1
"Terimaksih Bik, Bibik sudah saya anggap kekuarga sendiri.
Di kamar, Ben dan Tiffany sedang melakukan olahraga malam.