Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Belinda dan Aldo Terluka.


__ADS_3

Belinda dan Andreas berjalan dari sisi belakang rumah itu. Sementara Rieta sengaja berjalan dari arah depan guna menyerang para penculik itu.


"Loe awasi jangan sampai mereka tahu kita menyusup" bisik Belinda yang di balas acungan jempol oleh Andreas.


Rieta menendang pintu depan, membuat Uncle Muthu terkejut.


"Siapa kau?" tanyanya dengan mimik wajah garangnya.


"Bedebah kau jelek. Ternyata kau otak dibalik kejahatan ini. Kalau kau ingin menjual organ tubuh anak-anak, buat anak sendiri lahirkan sendiri dan jual anak mu sendiri" geram Rieta.


"Jangan jadi pahlawan kesiangan kau" Uncle Muthu langsung melemparkan botol amer kearah Rieta tapi meleset.


"Menyerah atau kau akan membusuk didalam penjara pria tua" Bentak Rieta.


"Banyak cingcong.. Serang wanita ini" perintah Uncle Muthu pada anak buahnya.


"Si*l wanita ini tak mempan dibacok" geram Lora yang kemudian ditendang pusakanya oleh Rieta.


"Argggggg sakittttt. Burungku dan lato-latoku serasa pecah" Jerit Lora.


Sementara Andreas dan Belinda sudah masuk kedalam ruangan tempat dimana anak-anak akan disekap tetapi satu anak buah Uncle Muthu mengetahuinya.


"Siapa kalian?" tanya pria kerempeng yang bernama Mekdi.


Andreas langsung menyemprotkan sambal kearah matanya membuat Mekdi kesakitan.


"Bangsat, mata gue perih" Mekdi meraung.


Belinda segera menendang pusakanya sampai Mekdi terjungkal tak sadarkan diri.


"Ayo kita keluar dari sini" ucap Belinda kepada semua anak-anak.


Awalnya mereka ketakutan tetapi menurut.


Diluar polisi sudah mengepung rumah tua itu.


"Kau kemari hanya untuk mengantarkan nyawa gadis si*lan" ucap Uncle Muthu.


"Kau yang akan mati dasar bandot" ejek Rieta.


Uncle mutu berlari kearah Rieta dengan membawa sebuah samurai. Dan bersiap menebasnya tapi diluar dugaan, samurai yang ia tebaskan pada tubuh Rieta seketika terpotong menjadi dua membuat pria tua itu melongo.


"Rupanya kau bukan gadis sembarangan" ucap Uncle Muthu.


"Kau terlalu keras kepala" balas Rieta yang langsung mengarahkan pukulan kearah perut pria tua itu.


Brughhhhhh....


Brughhhhhhhhh....


Plakkkkkkk...


Plakkkkkkkk..


Pukulan demi pukulan Rieta layangkan pada lawannya.


Tak kehabisan akal, Uncle Muthu segera berjalan kearah Belinda lalu menarik tubuhnya dan mengarahkan belati tepat dileher jenjang itu


"Arghhhhh tolong aku Rieta tolong" Belinda dicekal hampir kehabisan nafas.

__ADS_1


"Andreas, bawa semua anak keluar sekarang. Urusan Bella biar aku yang tangani" perintah Rieta.


"Baiklah" Andreas menggiring semua anak menuju pintu keluar.


Aldo dan semua polisi akhirnya masuk. Aldo Betapa terkejutnya melihat Belinda yang sedang disandera oleh ketua penculik itu.


"Satu langkah kalian maju, maka leher gadis ini akan terpotong" Ancamnya yang dengan setia masih menaruh belati tepat dileher Belinda.


"Jangan sakiti dia" teriak Aldo panik.


"Tenang mas. Itu hanya pengalihan saja supaya dia bisa kabur. Kita harus tenang jika menghadapi hal seperti ini" ucap salah satu polisi.


"Menyerah atau mati!" teriak sang komandan pada tawanannya.


"Tidak akan" jawab Uncle Muthu sembari menggesek-gesekan belatinya ke leher Bella sampai dia meringis.


Aldo dan semuanya semakin panik kala darah mengucur pada leher Belinda.


"Sudah tidak ada jalan, tembak saja kedua kakinya saat ini. Kalian buat pengalihan, kamu yang menembak" Tunjuk sang komandan pada semua anak buahnya termasuk Rieta yang di tugaskan menembak pria itu.


"Baiklah-baiklah jika kau ingin bebas dari hukuman, kau lepaskan gadis itu sekarang dan kau bisa langsung pergi" bujuk Rieta.


Uncle muthu pun termakan bujuk dari Rieta.


Dia langsung mendorong tubuh Belinda yang sudah lemas karena darah terus mengucur dari lehernya.


Aldo langsung membawa tubuh Belinda.


"Sayang, kamu harus kuat. Andreas cepat kemari obati Belinda" Aldo sudah panik bukan kepalang dengan keadaan luka Belinda.


Andreas pun segera mengobati luka Belinda.


Dorrrrrrr!!!


Dorrrrrrr!!!


Dorrrrr!!!!!


Sebuah tembakan menembus kedua kaki pria jahat itu sampai dirinya terjungkal dan langsung mengerang.


"Tangkap dia. Borgol yang kuat karena dia adalah saksi kunci untuk membongkar perdagangan anak ini" ucap sang komandan.


Akhirnya mereka meninggalkan rumah tua itu, lalu kembali ke Vila.


Semua anak yang disandera dikembalikan lagi pada orang tuanya. Kini tinggalah Aldo dan Bella yang sama-sama terluka.


"Terimakasih untuk kalian semua yang sudah berhasil mengungkap kejahatan besar ini" ucap sang komandan.


"Sebaiknya kita langsung pulang saja ke Jakarta karena saya khawatir luka Bella dan Aldo akan infeksi walau sudah di obati oleh Andreas" ucap Rieta.


"Ya mendingan begitu" balas Diana.


"Aku gak kuat nyetir. Tanganku sakit sekali" keluh Aldo.


"Biar saya saja yang nyetir mas" ucap Rieta.


"Sayang, kamu pulang dengan Diana saja ya. Aku bawa mobil Aldo" ucap Rieta pada Andreas.


"Ya tak apa. Kamu hati-hati ya" Andreas mengelus pucuk kepala Rieta dan mencium keningnya.

__ADS_1


Mereka semua pun malam itu langsung pulang.


Haruni seketika membatu kala Aldo menceritakan semuanya sampai mereka berdua bisa terluka seperti ini.


Belinda masih terpejam merasakan sakit akibat bekas sayatan yang dibuat Uncle Muthu.


"Syukurlah kalian masih bisa selamat dan pulang ke Jakarta" ucapnya lemah.


"Aldo, sebaiknya kamu pulang saja dulu, Kamu juga harus istirahat" ucap Dhanu.


"Saya masih ingin menemani Bella disini om" jawab Aldo dengan mata masih menatap ke arah sang kekasih.


"Disini ada kami yang akan menjaga Bella. Istirahatlah dahulu pulihkan luka ditangan kamu ya" Haruni terus membujuk Aldo.


Aldo akhirnya mengiyakan apa yang di katakan kedua orang tau Belinda. Dirinya pun sejujurnya amat sangat lelah apalagi luka di tangannya yang selesai di jahit masih basah.


Tak lama Ben dan Tiffany datang keruang rawat Belinda.


"Bagaimana keadaan Kak Bella, ma?" tanya Tiffany.


"Dia sedang tidur. Lukanya pun sudah di jahit" jawab Haruni.


Ben memandang tidak suka ke arah Aldo. Ben beranggapan bahwa semua yang terjadi pada Belinda disebabkan oleh Aldo.


"Semua ini gara-gara kamu Aldo" geram Ben.


"Kenapa anda jadi menyalahkan saya? Anda itu tidak tahu apa-apa jangan asal bicara" balas Aldo tak kalah sengit.


"Sudah-sudah, kenapa malah ribut segala. Belinda dan Aldo sama-sama terluka dan ini musibah" ucap Dhanu mencoba menengahi agar kedua pria gagah itu menghentikan perdebatannya.


Aldo pun pulang. Dia malam ini tidak pulang ke rumahnya melainkan ke rumah sang paman.


Di rumah Djoko, seperti biasanya pria paruh baya itu sedang di urut oleh Mieke sang istri karena asam uratnya kambuh.


"Di bilang jangan makan kangkung masih aja ngeyel. Lihat kan akibatnya tidak bisa jalan lagi" Mieke sengaja mengurut kaki sang suami dengan kencang.


"Aduh sakit" Djoko mengerang.


"Rasain, rasain bandel sih dasar aki-aki" ucap Mieke sembari mencubit- cubit kaki sang suami.


"Ampun istriku" Djoko sudah mengangkat tangannya.


"Katanya mau ngajak bulan madu yang ke 250 kalinya, tetapi kakinya terus asam urat" cebik Mieke.


"Boro-boro bulan madu, lutut, pinggang dan kaki mas juga sakit maklum faktor U" balas Djoko.


Aldo pun datang ke rumah itu.


"Malam om/tante" ucap Aldo dengan suara meringis sembari memegangi tangannya yang di perban.


Aldo tanpa sungkan langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa.


Melihat itu keduanya langsung panik.


"Aldo, kamu kenapa?" Mieke berkata sembari menyentuh luka Aldo.


"Auchhh sakit tan" jawab Aldo.


"Ceritakan pada kami" ucap Dhanu.

__ADS_1


"Tanganku di bacok orang" jawab Aldo lemah.


__ADS_2