
Belinda, Hilda dan Mieke terkapar tidak sadarkan diri. Hal ini menambah keos isi rumah Aldo. Sementara karangan bunga satu persatu mulai berdatangan dari rekan bisnis Aldo. Wajah-wajah berduka terpampang nyata di sana.
"Kami dari keluarga besar PT Pisang Raja Bulu, mengucapkan turut berduka sedalam-dalamnya pada keluarga yang ditinggalkan".
" Kami segenap keluarga besar PT Angkasa mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya bapak Aldo. Semoga beliau meninggal dalam kedamaian".
" Yang sabar ya Bella. Kita turut berduka dengan meninggalnya Aldo" ucap Andreas dan Diana sembari memeluk Belinda yang lemah.
Ujian seakan datang bertubi-tubi pada pernikahan Belinda..Rasa bahagia hanya di dapatkan sementara. Yah namanya juga umur kan tidak ada yang tahu kapan akan di panggil tuhan.
"Aku ikhlas" ucap Belinda lirih.
Pertahanan Belinda semakin runtuh kala melihat papan duka cita berderet indah di halaman rumah Aldo.
"Secepat itukah kau meninggalkanku, Aldo?" Belinda kembali menangis.
"Sudah kak, jangan begini. Aldo akan sangat sedih melihatmu begini. Ayo bangun. Jika tidak kuat istirahatlah di kamar" Tiffany mencoba menenangkan Belinda.
Dengan selang infus masih tertancap di tangannya, Belinda berjalan tertatih menuju kamarnya.
Sementara di ruang tamu, Dhanu, Djoko dan Listyo sedang membicarakan acara tahlilan untuk Aldo nanti malam.
"Apa sebaiknya kita adakan di masjid saja?" tanya Djoko.
"Di rumah ini saja pak. Biar semakin khusu kalau menurut saya!" Listyo memberikan saran.
"Ya, saya lebih setuju di sini saja pak" ucap Dhanu.
"Baiklah jika begitu, tahlilan nanti malah disini saja. Kita akan pasang tenda sekarang" ucap Djoko dengan raut wajah sedih.
"Saya tidak menyangka jika Aldo akan pulang secepat ini. Bahkan saya belum bisa membuat dia bahagia" Djoko berkata sembari menangis.
"Kematian memang rahasia ilahi, pak. Siapapun tidak akan tahu kapan kita akan di cabut nyawa ya. Aldo memang sosok pria yang sangat baik, dan bertanggung jawab dalam hal apapun, semoga ia di tempatkan di sisi Tuhan YME" timpal Listyo.
"Amin-amin" balas Djoko.
Djoko kemudian menghampiri sang istri yang berbaring di atas ranjang kamar tamu rumah Aldo. Wanita tua itu seakan enggan menerima kepergian Aldo yang sungguh mengenaskan.
"Miek, tahlilan Aldo akan segera di mulai. Ayo kita berkumpul dengan yang lainnya" Djoko mengusap lembut lengan yang sudah keriput itu.
"Aku seakan di sambar petir di siang bolong dengan wafatnya Aldo, mas. Hikhikhik.. Aldo, tante merasa sangat kehilanganmu, nak" Mieke malah lanjut menangis. Semuanya merasakan duka, semuanya merasakan kehilangan apalagi Bella istrinya. Kita sekarang hanya bisa mendoakan Aldo saja. Hanya itu. Ayo tahlilannya
"Sudahlah Miek, semuanya sudah takdir" Djoko berkata sembari membantu sang istri berdiri.
Sementara Belinda yang masih terus berduka, di hampiri oleh Haruni untuk mengajaknya ikut tahlilan.
"Bella, ayo kita ke depan nak. Acara tahlilannya akan dimulai sebentar lagi" ajak Haruni.
"Tidak ma. Aku disini saja" jawabnya lesu.
"Jangan begini, nak. Ayo kita doa kan Aldo" Haruni sedikit memaksa agar Belinda beranjak bangun.
Acara tahlilan akan di mulai. Semua hadirin sudah berkumpul.
__ADS_1
Ustadz Aladin segera memimpin jalannya doa.
"Baiklah, kita mulai saja tahlilannya agar tidak keburu larut malam. Kita doa kan semoga Almarhum yang meninggal di berikan tempat terbaik disisi Allah" ucap ustadz Aladin.
"Aminnnnnnnn" ucap semua hadirin.
Sementara mobil taksi berjalan menuju kearah komplek rumah Aldo. Pria di dalamnya yaitu Aldo sendiri, sempat heran karena banyak sekali orang berjalan memakai baju koko dan sarung.
"Pak berhenti sebentar" ucapnya pada supir taksi itu.
"Baiklah" supir taksi itu segera memberhentikan mobilnya.
"Pak, maaf ini mau kemana?" tanya Aldo heran.
"Kita mau tahlilan om, kerumah yang paling bagus itu" tunjuk seorang anak laki-laki.
"Rumah yang mana?" tanya Aldo heran pasalnya di kompleknya, rumah dia lah yang paling bagus dan besar.
"Itu om, yang cat putih itu. Yang punyanya kan meninggal kecelakaan di pesawat" jawab anak laki-laki itu.
"Hah, kecelakaan? Maksudnya ini?" Aldo langsung membuka maskernya sontak membuat anak laki-laki itu ketakutan.
"Hantuu, hantuuuu"
"Setannnnnnnnnnn"
"Orangnya jadi hantu"
Seketika Aldo bingung, ia berfikir apakah wajahnya menyeramkan itu.
"Pak, anda bukan hantu kan?" pertanyaan konyol dari sang supir taksi.
"Ya bukan lah pak. Saya manusia biasa" jawab Aldo kesal.
Taksi itu pun berjalan kembali menuju rumah Aldo. Aldo terheran-heran melihat rumahnya sudah berdiri tenda dan terpasang bendera kuning disana. Dan jangan lupakan karangan bunga berjajar rapi di halaman rumahnya.
"Ini ada apa sih?" batin Aldo bertanya-tanya.
"Siapa yang meninggal? Apa mungkin,?" Aldo panik, ia mengira Bella yang meninggal dunia.
Ia langsung turun, berlari kerumahnya.
"Assalamualaikum" Aldo memberikan salam pada semua hadirin yang sedang berdoa.
"Waalaikumsalam" ucap semua hadirin yang langsung melihat sumber suara itu.
Semua mata melotot ketakutan kala melihat sosok Aldo yang berdiri di ambang pintu.
"Aldo?"
"Aldo?"
Ucap semua hadirin terutama Belinda yang terperanjat.
__ADS_1
"Hantuuuuuuuuuuuuuu" semua hadirin berlari kala melihat Aldo yang di kiranya hantu.
Belinda langsung pingsan.
"Ini kenapa? Siapa yang meninggal?" tanya Aldo sembari berlari meraih tubuh sang istri.
Semua orang diam, netra mereka hanya memandang Aldo.
"Om, ini ada apa sebenarnya?" Aldo menggoyang-goyangkan tubuh Djoko.
"Nak, kamu masih hidup?" tanya Djoko.
"Aku masih hidup om. Kalian kenapa sih? Tante, ibu dan Bella kenapa pakai di infus segala tangannya?" Aldo semakin heran.
"Kami kira, kamu meninggal dalam kecelakaan pesawat kemarin?" jawab Djoko.
"Aku tidak jadi naik pesawat itu, om. Aku selamat. Ini buktinya, aku masih bisa pulang" ucap Aldo.
Semua orang mengucap syukur, tetapi Belinda masih pingsan.
"Terus ini jadi tidak tahlilannya?" celetuk ustadz aladin.
"Tahlilan untuk ayah saya saja karena saya masih hidup" Aldo berkata sembari tertawa.
Lucu rasanya jika orang-orang mengiranya sudah meninggal. Dengan di warnai drama tangis kesedihan.
"Aldo, Aldo, om kira kamu benar-benar meninggal dunia. Kau tahu, Belinda menangis seharian" ucap Listyo sembari tertawa.
"Memang saat itu, aku hampir saja menaiki pesawat itu. Tetapi lima menit menjelang terbang, aku ingat kalau laptopku tertinggal di hotel. Seketika aku membatalkan penerbangan itu. Puji syukur, tuhan sangat baik terhadapku hingga aku bisa selamat berkat laptop yang tertinggal" Aldo menjelaskan apa yang terjadi.
Tak lama Belinda pun sadar. Ia sama-sama mendengar suara Aldo. Aldo langsung mendekap tubuh lemah itu.
Ia berfikir jika laptopnya tidak tertinggal di kamar hotelnya, pasti ia sudah menjadi korban pesawat itu.
"Sayang!" sapa Aldo sembari membelai wajah Belinda dengan sayang.
"Aku pasti mimpi kan?" jawab Belinda.
"Tidak. Aku pulang. Aku bukan korban kecelakaan itu" ucap Aldo.
"Benarkah?" Belinda langsung terduduk.
"Benar. Nanti aku jelaskan semuanya ya. Jangan nangis lagi" ucap Aldo sembari memeluk sang istri.
Belinda pun kesal sendiri. Ia rasa air matanya sudah jatuh sia-sia menangisi Aldo yang ternyata sedang berada di hadapannya.
Belinda dengan kesal memukul-mukul kan tangannya ke dada bidang Aldo.
"Aku pikir kamu meninggal. Kenapa gak kasih kabar dulu? Kenapa gak telepon?" kesal Belinda.
"Aku sudah menghubungimu puluhan kali, tetapi no kamu tidak aktif" Aldo membela diri.
" Mungkin ponselku tidak aktif" ucap Belinda malu-malu.
__ADS_1