Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Hatiku Menjadi Bercabang


__ADS_3

Derit suara mobil berhenti di garasi rumah Dhanu. Tiffany segera berlari menuju kamar sang papa.


"Papa, kenapa bisa kambuh lagi?" Tiffany menangis di samping Dhanu yang tertidur sehabis di tangani dokter.


"Papamu tak apa, karena sudah di tangani dokter dia hanya kelelahan saja dan makannya tidak teratur" ucap Haruni sang mama.


"Syukurlah" Gumam Tiffany.


Belinda hanya acuh dan tak menganggap keberadaan sang adik di depannya. Dia pun segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Di sisi lain, Ben yang sudah selesai membersihkan sisa-sisa percintaannya bingung mencari keberadaan Tiffany yang tiba-tiba menghilang dari kamar itu.


"Kemana dia? Kenapa pergi tak bilang padaku?" tanya Ben dalam hatinya.


Ingatannya pun beralih pada Belinda yang dari tadi pagi belum dia kabari.


"Arghhhh, aku sampai lupa tidak memberi kabar pada Bella" ucapnya.


Ben pun segera menghubungi Belinda.


Sampai sepuluh panghilan Belinda tak sudi untuk mengangkat panggilan dari sang suami. Ben pun segera pulang menuju rumah mereka berdua.


Sesampainya di rumah, ruangan tampak gelap seperti tak ada kehidupan disana.


Ben mencari-cari keberadaan sang istri tapi tak ada apapun di rumah itu.


"Apa mungkin dia menginap di rumah papa Dhanu? Aku harus menyusulnya dan membawa dia pulang" gumam Ben.


Di perjalanan menuju rumah sang mertua, ada rasa takut Belinda akan marah padanya lantaran tidak memberi dia kabar! Permainan panas bersama Tiffany seakan membuat dia buta dan tuli akan hal sekitarnya. Lima ronde permainan itu sampai Tiffany mengaduh dan meminta ampun pada Ben.


Lalu ingatannya kembali lagi pada poto bunga mawar dan cokelat yang seseorang berikan pada Belinda membuat hatinya di panda resah dan gerah.


"Aku bisa beli seluruh bunga yang ada! Si*l siapa curut yang berani menyenangkan istriku sampai dia mengupload poto pemberiannya. Belinda aku tak rela kamu tersenyum dengan orang lain. Ya mungkin hatiku sudah bercabang" ucapnya sembari mencengkram kuat kemudi mobilnya.


Sebelum sampai di rumah mertuanya, Ben mampir dahulu ke florist untuk membeli bunga mawar untuk Belinda sebagai tanda permintaan maaf.



Ben juga membeli cokelat pinkqueen di Indoapril agar Belinda senang.


Mobil Ben akhirnya sampai di depan rumah sang mertua. Dia langsung memberikan kunci mobilnya kepada scurity rumah itu untuk di masukan ke garasi.


Ben memasuki rumah Dhanu dan segera di sambut Tiffany.


"Ben, sayang! Maaf aku pulang tak mengabarimu, soalnya papa penyakitnya kambuh" ucap Tiffany.


"Tanpa berkata apapun, Ben segera melihat keadaan papa mertuanya. Ben pun masuk kedalam kamar Dhanu.


" Papa, maaf aku saya baru menengok hari ini. Pekerjaan saya sangat banyak" ucap Ben.


"Papa sudah baikan nak! Papa titip Bella ya, jaga dia selalu. Sayangi dia selalu karena Bella anak papa yang sangat papa banggakan! Jika kamu menyakiti dia, sama saka kamu menyakiti aku sebagai papanya" ucap Dhanu lirih..


"Saya akan selalu menjaga Bella" jawabnya.


"Jadi kapan kamu mau berikan papa cucu nak?" tanya Dhanu membuat Ben salah tingkah.


"Cucu bagaimana, di sentuh juga tidak pernah" ucap Ben dalam hati.


"Papa do'akan saja semoga saya dan Bella segera di karuniai keturunan" Ben berkata seperti itu seolah berat.

__ADS_1


"Papa selalu mendoakan yang terbaik untuk semua anak papa" ucapnya.


"Baiklah pa, aku temui dulu Bella! Papa semoga lekas sehat kembali" ucap Ben yang di barengi anggukan kepala Dhanu.


Ben langsung menuju kamar Belinda, dan mendapati sang istri tengah berkutat dengan laptopnya.


Ben melangkah mendekati sang istri.


Cupp!!! Kecupan di kening Belinda membuat dia terkejut.


"Hai Bella! Kenapa masih bekerja?" tanya Ben sembari mendudukan bokongnya di dekat sang istri.


"Aku hanya jenuh saja. Baru pulang?" tanyanya pura-pura tidak tahu apa yang sudah terjadi.


"Ya! Bella ikut aku sebentar" Ben langsung menarik tangan sang istri.


"Mau kemana Ben?" Belinda aneh melihat tingkah pria itu.


Ben terus menarik tangan sang istri menuju mobiil.


"Masuk Bella" ucap Ben sembari membukakan pintu mobil


Belinda pun menuruti perkataan sang suami.


Di dalam mobil, terasa sekali kecanggungan menyelimuti dua insan itu. Ben mengambil sesuatu di belakang nya.


"Untukmu Bella" ucap Ben sembari menyerahkan satu tangkai bunga mawar dan sebatang cokelat.


Belinda terpaku.


"Bella, aku tak suka pria lain memberikan hadiah padamu" ucap Ben lalu terdiam.


"Bella" ucap Ben kembali.


"Apa!" seru Belinda memandang netra Ben.


Cup!!! Sebuah ciuman mendarat di bibir ranum Belinda membuat dia terperanjat.


Ben tak melepaskan ciuman itu, dia semakin memperdalam dan ******* bibir sang istri. Belinda pun membalasnya. Suara decapan bibir saling beradu menghiasi di dalam mobil itu, hingga saliva mereka pun saling bertukar.


Setelah puas berciuman, mereka melepaskan tautan itu. Ben menyeka air liur yang ada pada bibir sang istri.


"Bibirmu manis sekali Bella" ucap Ben dengan suara paraunya.


Belinda hanya tersenyum saja.


"Kau akan bisa mencintaiku Ben! Hatimu sebentar lagi akan ku taklukan" ucap Belinda dalam hatinya.


"Terimakasih bunga dan cokelatnya suamiku" Belinda pun langsung mencium pipi Ben dengan lembut.


"Jangan sekali-kali kau menerima apapun dari pria lain" ucapnya tegas sembari membelai rambut Belinda.


"Ya suamiku" jawabnya.


"Baiklah ayo kita turun" Ben mengajak Belinda keluar dari mobil.


Belinda sengaja membawa cokelat dan bunga itu agar Tiffany melihat dan merasa cemburu.


Saat Ben dan Belinda melewati ruang tamu, Tiffany terpaku melihat cokelat dan bunga yang di pegang oleh Belinda.

__ADS_1


"Cokelat dan bunga dari siapa tuh?" seloroh Tiffany.


"Dari my husband dong! Terimaksih sayang kau sangat perhatian padaku..Muachhhhhh" Belinda dengan beraninya mencium bibir Ben sekilas. Hal itu membuat darah Tiffany seketika mendidih.


"Terlihat murahan ya" ucap Tiffany mendelik.


"Murahan sama suami sendiri kan tidak apa-apa! Dari pada murahan pada suami orang itu baru kurang ajar" ucap Belinda sembari menggandeng tangan Ben masuk ke kamarnya.


Tiffany mencak-mencak, kakinya di hentak-hentakan ke lantai saking merasa kesalnya dengan mereka berdua.


"Ben, kau berhutang penjelasan padaku" geram Tiffany.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aldo yang sudah mengantar Belinda pulang, akhirnya tiba di rumahnya. Malam ini dia sangat bahagia karena bisa memeluk Belinda. Dia terus memandangi bajunya dan tercium parfum Belinda di sana.


"Aku takan mencuci baju ini sampai kapanpun, agar wangi Belinda tidak luntur" ucapnya dengan senyum menawan.


Saat akan memasuki rumahnya, Scurity melaporkan bahwa ada perempuan muda mencari dirinya. Aldo pun heran pasalnya dia tidak pernah ada janji dengan siapapun sebelumnya.


Wanita itu telah menunggu aldo selama tiga jam dan dia hanya duduk di depan pintu gerbang rumahnya.


Aldo menghampiri wanita itu.


"Maaf, nona mencari saya?" tanya Aldo heran.


Seketika wanita itu menoleh ke arah Aldo dengan air mata yang sudah meleleh.


"Ini benar Kak Aldo?" tanya wanita itu.


"Ya saya sendiri. Ada apa?" Aldo semakin heran.


"Aku Sarah, adiknya Kak Aldo" ucap Sarah.


"Hah adik? Tunggu! Saya tidak punya adik. Maaf anda salah orang" ucap Aldo sembari melangkahkan kakinya menuju rumah.


"Aku anak dari mama Hilda Ayu, ibu kamu Kak" ucap Sarah.


Aldo seketika mematung, memperhatikan wajah wanita yang ada di hadapannya. Aldo baru sadar jika wajahnya mirip dengan ibunya.


"Aku tak mengenal wanita itu" Aldo menggeram marah dalam hatinya.


"Kak, bagaimanapun beliau orang yang melahirkanmu. Mama sudah lima tahun terbaring lemah di ranjang. Hidup segan mati tak mau! Setiap hari selalu menangis memanggil namamu" Sarah menangis sembari memohon pada Aldo.


"Aku bukan anaknya kau tahu! Dia dan bapakmu sudah menghinaku seperti seekor binatang! Ibumu mengusirku, meludahiku dan bilang meyesal telah mengandungku. Dan ingat satu hal, Bapakmu mencuri habis seluruh uang ayahku lalu membawa ibuku lari. Dosa orang itu sudah terlalu banyak dan tak layak untuk di maafkan" Aldo benar-benar berapi-api.


"Maafkan untuk segala kesalahan orang tuaku Kak! Mereka sudah mendapatkan karmanya. Mama hanya mengharap maaf darimu biar dia bisa pergi dengan tenang ke haribaannya" Sarah terus memohon agar Aldo mau menemui sang ibu.


"Tidak! Aku sudah melupakan wanita jahat itu. Biarlah dia menanggung semua derita yang dia buat sendiri. Aku sedari kecil tak mendapat limpahan kasih sayang darinya, kau lah yang mendapatkan itu Sarah, bahkan apa yang kau makan adalah uang haram yang Sugeng dapatkan dari mencuri uang ayahku" Aldo sudah tak bisa mengontrol emosinya. Luka lama seakan tersuat kembali dengan datangnya wanita yang mengaku anak dari ibunya.


"Bapak sudah meninggal Kak sepuluh tahun yang lalu tepat dimana hari ayahmu meninggal. Bapak kecelakaan dan kepalanya hancur tertimpa alat berat. Tolong berikan maaf pada bapak biar beliau tenang di alam sana Kak! Aku tahu begitu menyakitkannya perlakuan mereka padamu. Mama selalu bercerita bahwa dia sangat menyesal telah mengusirmu waktu itu karena dia takut pada bapak! Kak, mama selalu menangis setiap malam, selalu berkata maafkan ibu Aldo, selalu seperti itu" ucap Sarah kemudian dia bersimpuh di kaki Aldo.


"Berdiri Sarah! Tak mudah menjadi aku, Hidup sengsara tak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Dia bercinta dengan bapakmu di depan ayahku dan aku! Menipu harta kami dan akhirnya ayaku menjadi depresi berat. Kau tahu, masa kecilku ku habiskan untuk merawat orang gila" Aldo berteriak dengan wajah yang menahan amarah.


"Aku mengerti Kak! Tapi aku mohon temuilah mama. Berikan maaf agar tenang" Sarah masih memohon.


"Sepertinya perbicaraan kita sudah cukup! Silahkan pulang, aku lelah" Aldo mengusir sarah.


Sarah akhirnya pulang dengan membawa beban di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2