
Pikiran Aldo kacau karena terus saja memikirkan keberadaan Belinda.
Sudah hampir tiga bulan Belinda tidak diketahui rimbanya.
Malam ini hanya Rokok dan secangkir kopi hitam yang menemani Aldo.
“Bella... Arghhhhhhh..... Aku sangat merindukanmu sayang" seketika air mata Aldo luruh.
"Aku harus kerumah tante Haruni untuk menanyakan keberadaan Bella, aku yakin jika tante Haruni mengetahui keberadaan Bella" Aldo pun langsung menyambar kunci mobil bergegas kerumah Haruni.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dirumah Haruni, dia sedang makan malam dengan lahapnya setelah berbulan-bulan dia tidak merasakan makan enak. Hal itu membuat Ben dan Tiffany yang kebetulan menginap disana merasa heran.
"Pelan-pelan makannya ma" ucap Dhanu.
"Pa, malam ini mama senang sekali. Maka dari itu mama akan makan banyak" jawab Haruni.
"Mama senang kenapa?" tanya Tiffany.
"Mama senang saja karena Bella baik-baik saja" jawab Haruni.
"Apa? Mama sudah bertemu Kak Bella?" Tiffany merasa terkejut.
"Ya!" jawwb Haruni singkat sembari melanjutkan menyantap rendang.
"Dimana mama bertemu Bella? Bagaimana kabarnya ma?" Ben menggebu ingin tahu bagaimana keadaan sang mantan istri.
Hal itu membuat Tiffany merasa cemburu, dia langsung mencubit pinggang Ben sampai sang suami mengaduh.
"Apa sih Fany sakit!" keluh Ben.
"Kenapa sih kamu selalu kepo tentang keadaan Kak Bella? Gak jelas hidupmu" Tiffany langsung menyudahi makan malamnya dan langsung masuk menuju kamar.
"Susul dia Ben! Kalian seperti anak kecil saja" ucap Dhanu sembari menggelengkan kepalanya.
"Apa salahnya saya pa, jika mengkhawatirkan Bella? Fany saja yang cemburuan" Ben langsung berjalan menyusul Tiffany.
Didalam kamar, Tiffany mencebik kesal. Ben menghampiri sang istri.
"Aku mencium hawa-hawa kecemburuan disini" ucap Ben sembari mendudukan bokongnya ditepi ranjang.
Tiffany langsung menghampirinya.
"Kenapa kamu selalu mengkhawatirkan Kak Bella?" tanya Tiffany kesal.
"Ya karena dia sekarang sudah menjadi kakak ipar" elak Ben.
"Sayangnya aku tahu kau berbohong! Kau begitu mengkhawatirkan Kan Bella kan Ben?" Tiffany semakin cemburu.
"Apasih semakin tidak jelas saja" Ben langsung menelungkupkan dirinya diatas ranjang.
__ADS_1
" Ben asu!" teriak Tiffany.
Ben seketika bangkit dan menarik tengkuk Tiffany.
"Bilang apa kau? Kasar sekali ucapanmu" Ben berkilat dengan mata marah, hal ini membuat Tiffany takut.
"Hmmm,, maafkan aku sayang, aku hanya becanda!" Tiffany sudah menggelengk kepalanya.
"Kau harus di hukum" seringai Ben semakin menakutkan.
"Kau mau apa Ben?" tanya Tiffany dengan langkah beringsut kebelakang.
"Puaskan aku malam ini" ucap Ben sembari tangannya menyentuh bibir Tiffany.
"Hanya itu sayang?" tanya Tiffany polos.
"Ya apalagi? Jika ku menyuruhmu untuk membangun candi dalam semalam apa kau bisa? Atau aku menyuruhmu untuk membuat perahu sampai ayam berkokok, apa kau sanggup sayang?" tanya Ben.
"Memangnya aku Bandung bondowoso atau sangkuriang" ucap Tiffany sembari mencebik.
"Cepat, atau aku hukum kamu lebih brutal?" tanya Ben dingin.
Tiffany pun langsung menanggalkan baju sang suami.
Di ruang tamu, Haruni dan Dhanu sedang menonton sinetron sejuta umat yang berjudul "Suara Hati Selingkuhan" yang tayang di Tv berlogo ikan terbang.
"Jahat banget tuh perempuan, berani-beraninya selingkuh saat istrinya lagi hamil" ucap Haruni sembari mencubit lengan Dhanu.
"Auhhh sakit ma! Kenapa jadi mukul papa sih" ucap Dhanu sembari meringis.
"Sudah dong ma! Dulu kan papa di jebak" Dhanu membela diri.
"Ya dasar si paling terjebak" cebik Haruni.
Ditengah-tengah perdebatan itu, tiba-tiba pintu depan rumahnya ada yang mengetuk.
"Biar saya yang bukakan Tuan!" ucap Bik Yuna pembantu dirumah itu.
Tak lama Aldo pun masuk kedalam rumah.
"Selamat malam tante dan om! Maaf saya mengganggu malam ini" ucap Aldo dengan hormat.
"Eh Nak Aldo! Mari silahkan duduk" ucap Haruni.
"Sebelumnya saya minta maaf pada om dan tanteu mengenai kedatangan saya malam-malam kemari, saya hanya ingin menanyakan keberadaan Bella" ucap Aldo spontan.
"Jujur saja semenjak Bella pergi, hidup saya merasa ada yang kurang. Saya mohon om dan tante beritahukan keberadaan Bell pada saya, saya sangat mencintainya. Hanya Bella lah yang ada dihati saya" Aldo memohon.
"Maksud kamu, kamu mencintai Bella?" tanya Dhanu terkejut.
"Benar om, Bella adalah cinta pertama saya. Pertemua kita belasan tahun yang lalu tanpa disengaja menumbuhkan rasa cinta sampai sekarang. Bertahun-tahun juga saya mencari keberadaan Bella, bahkan saya belum sempat tahu namanya saat itu, hingga pertemuan yang sangat menyesakan dikala Bella dan Pak Ben menikah itu pertama kali saya bertemu lagi. Om tolong berikan saya restu untuk mendekati Bella!" Aldo terus bertutur kata dan mengungkapkan perasaannya pada orang tua sang pujaan.
__ADS_1
"Om benar-benar tidak menyangka ternyata kalian pernah bertemu sebelumnya. Om akan merestui siapa saja yang ingin membahagiana Bella, asal Bella nya merasa yakin dengan pria itu"
"Terimakasih om dan tante! Tolong beritahukan dimana sekarang Bella?" Aldo sangat memohon.
"Maaf Nak Aldo untuk hal itu, tante tidak bisa memberitahukannya karena Bella telah melarangnya. Sekali maafkan tante" Haruni dengan berat hati mengatakan itu.
"Saya mohon tante!" Tangan Aldo sudah menangkup.
"Maaf Nak Aldo, tapi tante tidak bisa mengingkari janji tante" ucap Haruni.
Tak ada gunanya Aldo memohon, dia pun cukup menghargai keputusan Haruni dan Dhanu.
"Baiklah tante jika begitu, saya pamit dulu. Semoga saya bisa menemukan Bella" Aldo pun pergi dari rumah itu.
Aldo termenung di taman kota. Air mata kejantannya meleleh, Hatinya pedih menahan rindu.
"Bella kau dimana sayang? Aku sungguh merindukanmu wanitaku" Aldo berkata sembari terisak.
Ditaman kota malam sangat ramai oleh pasangan muda mudi yang sedang di balut asmara, mungkin Aldo lah satu-satunya orang yang berduka disana.
Dari arah depan, tiba-tiba datang lah dua bencong yang menghampirinya.
"Siang om tampan! Perkenalkan kami duo harimau... Roarrrrrrrrr" ucap kedua bencong itu.
"Maaf" ucap Aldo sembari menggempaskan tangan, tanda bahwa menyuruh kedua makhluk setengah mateng itu untuk pergi, Tetapi bebalnya kedua bencong itu mereka malah bergoyang seperti ular kobra.
"Bila ingin melihat watang ( wanita berbatang) di dalam kolam, tenangkan dulu burung abang sebelum tegang. Jangan-jangan dulu, jangan sang* dulu, biarkan saja biar duduk dengan tegang" Bencong itu menyanyi dengan centilnya.
Aldo pun merasa terhibur oleh kedua bencong itu.
"Nama om siapa?" tanya salah satu bencong sembari mencawil dagu Aldo dengan manjalita.
"Aldo!" jawabnya sembari sedikit merasa ngeri.
"Hai bang Aldo pilih yang mana perawan atau janda? Perawan memang bohai janda lebih menggoda" Bencong itu nyangi lagi.
Spontan Aldo pun menjawab janda, hal itu membuat kedua bencong itu kegirangan.
"Ulalallaa, manjalita om Aldo yang sangat kekar dan berurat. Motivasi untuk malam ini dong" ucap Bencong pada temannya.
"Cinta memang gila, tetapi harus selalu berpikir waras. Janda dan Perawan sama saja, yang penting bisa bergoyang. Satu lagi, jangan pernah menyakiti wanita, kalau mau sakiti, sakitilah saya apalagi om Aldo menyiksa saya diatas ranjang.... Cuakkkkkkkkkkksssssss" ucap bencong itu dengan kedipan mata yang super cetar.
"Cuakkkkkkkkkkssssss" timpal bencong yang satunya.
Spontan Aldo pun meraba Kejantananny karena takut.
"Om seikhlasnya buat makan!" bencong itu memberikan bungkusan premen kosong pada Aldo.
Aldo yang merasa terhibur, langsung merogoh dompetnya dan mencabut uang sepuluh lembar senilai 100 ribu dan mengisikan uang itu kedalam bungkus premen itu.
"Om itu kebanyakan" ucap bencong itu.
__ADS_1
"Itu untuk kalian. Pulanglah sebentar lagi akan hujan" ucap Aldo yang langsung berdiri dan meninggalkan bencong itu.
"Terimakasih om" ucap keduanya dengan suara khodamnya.