
Ben yang saat ini sedang serius memeriksa berkas-berkas perusahaannya sengaja memanggil asprinya, Elsa! Pasalnya kemarin dia bolos bekerja.
"Apa kamu tahu saya memanggilmu kemari?" tanya Ben memandang wajah Elsa yang tertunduk.
"Saya tahu pak dan saya minta maaf" Elsa masih tertunduk tak sedikitpun memperhatikan Ben.
"Elsa bisa tolong buka maskermu? Kamu tidak covid kan?" tanya Ben sedikit tidak enak memandang lawan bicaranya yang tertunduk dan tak melepaskan maskernya.
Elsa hanya tertunduk lalu pelan-pelan membuka maskernya.
"Elsa angkat wajahmu" perintah Ben.
Dan saat itu juga Ben melihat wajah Elsa dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Elsa, what happen?" Ben meminda wajah sang aspri yang penuh dengan pukulan dan bekas cakaran.
Elsa hanya tertunduk. Namun Ben bisa melihat bahwa air mata wanita itu sudah deras mengalir dan menetes membasahi bajunya.
"Elsa, katakan kenapa kamu bisa seperti ini?" Ben khawatir karena mau bagaimanapun jika kondisi Elsa seperti ini maka akan mempengaruhi kinerjanya.
"Dua bajingan itu menyiksa saya" ucap Elsa terbata.
"Siapa Elsa, siapa?" Ben menjadi emosi karena melihat ketidak adilan diwajah sang aspri.
"Mantan suami beserta pelakornya menyiksa saya sewaktu saya ingin bertemu Gerry" Disana Elsa sudah tidak bisa menahan tangisnya.
"Kurang ajar, bedebah dasar anj**x" ucap Ben meremas map yang ada dihadapannya.
"Ikut saya" ucap Ben.
Ben ingat dia pun pernah menampar Belinda tetapi detik berikutnya dia amatlah menyesali perbuatannya dan itulah dosa yang membuat dia berjanji tak akan kasar lagi pada wanita.
"Kita mau kemana pak?" tanya Elsa.
"Jangan banyak tanya. Ikut saja denganku" Ben langsung membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Elsa masuk.
Lalu Ben terlihat menelepon pengacaranya.
"Hallo Pak Martin Antonio Candelaz !" sapa Ben.
(Kisah Martin ada dalam novel yang berjudul Supirku seorang mafia).
"Hallo Pak Ben Lazuardy! Ada yang bisa saya bantu" tanyannya.
"Ada kasus baru, dan pastikan kita menang" ucap Ben penuh ambisi.
"Bisa serahkan berkasnya pada saya?" tanya Martin.
__ADS_1
"Jam dua siang nanti, saya akan kekantor anda untuk menyerahkan berkasnya" balas Ben.
"Baiklah" jawab Martin.
Lalu panggilan telepon itu diputus.
"Bapak mau apa?" tanya Elsa was-was.
"Saya akan bantu perjuangkan hak kamu dan bisa mengambil Gerry kembali" jawabnya lantang.
"Saya tidak mau orang lain terseret akan masalah saya Pak Ben. Saya mohon jangan lakukan itu" Elsa terdengar memelas.
"Elsa, dengarkan saya jika kamu hanya berpasrah diri, maka si begundal itu akan tetap merasa menang. Elsa asal kamu tahu ya, mantan suamimu itu adalah teman saya sewaktu di SMA. Hanya karena saat itu siswi yang bernama Sandra lebih menyukai saya, lantas dia membully saya Elsa. Kamu lihat luka di pelipis saya kan? Ini buah tangan si begundal itu. Dia memukuli saya ditoilet, lalu memasukan kepala saya kedalam closet yang baunya gak karuan sampai closet itu retak dan saya terluka. Hingga saya saat itu mengalami tuli telinga sebelah kiri" Ben menjelaskan dengan nada bercampur emosi.
"Jadi kalian ternyata teman? Pantas saja ada kilatan kebencian dimata anda Pak" ucap Elsa .
"Bima selalu iri pada saya. Dia selalu kalah dalam hal apapun. Elsa kamu harus kuat dan berani. Si cecunguk itu akan menerima takdir buruknya dalam waktu dekat. Kau tahu pengacara saya itu seorang yang handal dan bisa dipastikan kita akan menang. Kau harus di visum terlebih dahulu karena lukamu masih baru jadi hasilnya akan sangat akurat" ucap Ben.
"Terimakasih Pak Ben sudah mau membantu wanita lemah seperti saya" Elsa menangis haru.
Mereka berdua pun berangkat kerumasakit untuk melakukan visum pada tubuh Elsa.
"Untuk hasilnya anda bisa ambil besok Tuan!" ucap sang dokter.
"Baiklah dokter. Terimakasih" Ben dan Elsa pun pergi menuju kantor pengacaranya.
"Saya bisa simpulkan bahwa saudara Bima bisa didakwa dengan berbagai pasal. Pertama pasal KDRT, kedua pasal perzin*an, ketiga pasal perampasan anak, keempat pasal pencurian aset atau kekayaan, kelima pasal perbuatan tidak menyenangkan itu akan saya dakwa kepada pelakor mantan suami anda" ucap Martin sang pengacara.
"Banyak juga ya dakwaannya!" seru Ben.
"Memang banyak dan kenapa anda baru sekarang ingin mengkasuskan ini Nyonya?" tanya Martin.
"Saya tidak punya keberanian" jawab Elsa menunduk malu.
"Dan satu lagi Pak, suami saya pernah menyebarkan video asusila disosial medianya tetapi muka ya dia tutupin masker. Saya pernah melihat di ponselnya" ucap Elsa.
"Kamu menyimpan videonya?" tanya Ben penasaran.
"Saya menyimpannya pak" jawab Elsa.
"Tunjukan pada kami" ucap Martin.
Elsa pun menunjukan dan mereka bertiga menonton itu diruangan Martin disebuah layar besar.
Elsa hanya menangis melihat adegan tumbuk menumbuk yang dilakukan Bima dengan pelakornya yang bernama Caroline. Apalagi mendengar desa*an, lenguhan dan jeritan yang perempuan sialan itu ucapkan.
"Si Bima benar-benar edan" ucap Ben.
__ADS_1
Dirinya tak munafik sebagai pria normal sangat menyukai bercinta tetapi untuk direkam dan sebar luaskan maka dirinya akan beripikir sejuta kali untuk melakukannya.
"Berapa harta yang sudah mantan suami anda ambil Nyonya?" tanya Martin dengan mata terus melihat adegan menjijikan itu.
"Suka ya lihat Video itu?" Ben menggoda pengacaranya.
"Ya itung-itung hiburan" jawab Martin sembari terkekeh.
"Harta yang sudah dia ambil senilai 1 triliun, sembilan mobil mewah dan empat rumah mewah beserta panthouse. Lalu perusahaan yang sekarang dia jalani adalah perusahaan yang dimodali ayah saya beserta semua perhiasan turun temurun dari keluarga saya yang saat ini dipakai oleh wanita itu jika ditotalkan jumlahnya bisa sampai empat milyar" tutur Elsa.
Hal itu membuat Martin dan Ben lemas.
Mereka tidak menyangka bahwa perempuan yang ada dihadapannya adalah wanita real sultan
"Dan jika saya berhasil memenjarakan mereka berdua maka ada harga yang akan anda berdua dapatkan dari saya. Sebenarnya saya pasrah jika harta itu tidak kembali. Saya hanya ingin Gerry, anak saya kembali pada saya" Ada raut wajah sendu ketika Elsa membicarakan sang putra.
"Baiklah Nyonya, saya sudah bisa menyimpulkan semuanya. Saya minta bukti-bukti semua hal mengenai tuntutan yang akan kita layangkan pada mantan suami anda. Besok surat tuntutan akan saya layangkan kepengadilan dan kekantor dia" ucap Martin.
"Terimakasih Pak" Akhirnya Elsa bisa merasakan kelegaan.
Mereka berdua pun segera meninggalkan kantor pengacara Martin.
"Benar-benas kasus yang tidak susah. Aku benci pria yang berani pada perempuan walau aku dulu pernah KDRT pada mantan istriku Amora, tetapi aku takan mengulanginya pada istriku yang sekarang" ucap Martin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara Elsa memandang takjub tas yang dikenakan Belinda. Jiwa perompaknya seakan tumbuh.
"Pulang sana!" ucap Belinda mengusir sang adik karena sudah dua hari tinggal dirumah sang papa.
"Kenapa kau mengusirku?" tanya Tiffany sembari memasukan potongan basreng kedalam mulutnya.
"Aku tak suka melihatmu, tahu" jawab Belinda.
Haruni sang ibu sudah tidak aneh lagi dengan pertengkaran kakak beradik itu.
Belinda merebut basreng pedas yang ada dalam genggaman Tiffany.
"Kau menghabiskan makananku, tahu" kesal Belinda.
"Nanti aku beli lagi" jawabnya enteng.
"Beli sana ke Bandung" jawab Belinda.
"Tas baru tuh. Bisa kali berbagi! Suami saja berbagi, masa tas kremes limited edition gak berbagi" ucap Tiffany asal.
"No untuk yang satu ini. Nikh pake saja kresek Indoafril lebih cocok untuk mu" Belinda berdiri dan melemparkantas kresek lalu berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
"Ishhhhhh dasar kakak gak ada akhlak" ucapnya kesal.