Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Di Pingit


__ADS_3

Listyo tak fokus mengendarai mobilnya. Ingatan tentang Ben yang selalu menyebalkan membuat ia terus mengelus dada.


Hingga tiba-tiba mobilnya menghantam sesuatu.


Ckitttttt!! Rem mobil yang di injak secara keras tak terbantahkan lagi.


"Argghhhhhhhh" ucap seorang wanita yang Listyo tabrak.


"Astagfirullah, aku menabrak orang" dengan was-was, Listyo langsung menghampiri wanita itu.


"Maaf nona, saya tidak fokus menyetir. Sekali lagi saya mohon maaf" ucap Listyo kemudian berjongkok menyamakan dengan posisi sang wanita.


Wanita itu mengangkat wajahnya, hal itu membuat Listyo terkejut.


"Elsa!" ucap Listyo.


Ya wanita itu adalah Elsa, mantan aspri Ben yang kini sudah menjadi wanita karir.


"Pak Listyo?" gumam Elsa.


"Elsa maafkan saya. Apa yang terluka? Ayo kita ke rumah sakit!" Listyo sangat khawatir.


"Ough, tak usah pak. Saya tidak apa-apa" ucap Elsa.


"Kamu mau kemana Elsa? Kok ada di tempat ini?" tanya Listyo.


"Saya sedang bermain dengan anak saya di taman. Anak saya main dengan teman-temannya. Saya ingin membelikan mereka minum" jawab Elsa.


"Yasudah kamu tunggu sebentar, saya akan membelikan mereka minum" Listyo pun beranjak menuju mini market terdekat.


"Bunda, dari mana sih, kok lama?" bocah kecil yang bernama Gerry itu cemberut.


Elsa langsung berjongkok didepan sang putra, mengusap kepala serta mencuil pipinya yang gemil.


"Maaf ya sayang, bunda tadi jatuh. Tapi minuman sama es krimnya sudah di bawa kok" ucap Elsa merayu sang putra kecilnya.


"Bunda jatuh? Bunda gak apa-apa kan? Mana yang sakit? Siapa yang bikin bunda jatuh?" kini Gerry sudah berkacak pinggang tak terima jika bunda nya tersakiti.


Listyo pun lalu berjongkok menyamakan tinggi Gerry.


"Hai, tampan. Maafkan ya sebelumnya karena saya tak sengaja menabrak bundamu" ucap Listyo.


"Jadi om ini yang menabrak bundaku?" tanya Gerry marah.


Mendengar Gerry menyebut om pada Listyo membuat Elsa ingin tertawa karena biasanya dirinya selalu memanggil bapak pada mantan atasannya sewaktu masih bekerja di kantor miliknya.


"Maafkan saya ya, yang sudah membuat bundamu kesakitan" pinta Listyo.


Kemudian Gerry melihat Elsa untuk meminta pendapatnya.


"Anak baik harus selalu maafkan" ucap Elsa lembut.


"Baiklah aku maafkan om" ucap Gerry.


"Good boy" Listyo mengusap kepala Gerry.

__ADS_1


"Om bawakan minuman dan es krim untuk Gerry" Listyo memberikan satu kresek minuman dan es krim.


"Yeyy, asik terimakasih om. Oh ya, aku manggil om siapa ya?" tanya bocah kecil itu menanyakan nama Listyo.


"Nama om Listyo" jawabnya.


"Bagaimana kalau aku panggil saja om Tyo?" tanya Gerry.


"Hmm, itu ide bagus" ucap Listyo senyum, berasa mengingat Ben sewaktu masih kecil.


Gerry pun langsung membagi-bagikan minuman beserta es krim kepada teman-temannya lalu lanjut bermain. Kini tinggalah Elsa berdua dengan Listyo.


"Elsa, sekali lagi saya minta maaf atas insiden tadi. Sungguh saya benar-benar sedang banyak masalah" Listyo tertunduk lesu.


"Saya sudah baikan kok pak! Oh ya memangnya keadaan kantor sedang tidak stabil?" tanya Elsa.


"Bukan masalah kantor, tetapi Ben selalu membuat saya kesal. Saya merasa gagal menjadi orang tuanya. Padahal seumur hidupnya Ben, saya mencoba memberikan apapun supaya dia bahagia dan saya pun selalu mendidik dia agar menjadi pria yang bertanggung jawab dan berkomitmen sampai saya melupakan kebahagiaan diri saya sendiri agar Ben tidak kekurangan kasih sayang selepas mendiang istri saya meninggal dunia" Kini Listyo bercerita menitikan air matanya di hadapan seorang wanita.


Elsa kemudian mengusap pundak Listyo karena rasa ibu.


Deg!!! Listyo merasakan sebuah kelembutan tangan wanita. Menjadi duda selama kurang lebih dua puluh tahun sejak Ben kecil membuat dia mati rasa pada wanita, selain setia kepada mendiang istrinya Novita, ia juga sibuk mengurusi perusahaan dan Ben kecil agar anak itu tidak kekurangan kasih sayang.


Selama dua puluh tahun itu juga Listyo tidak pernah satu kali pun berhubungan dengan wanita apalagi sampai menidurinya.



Visual Listyo seperti sugar dady....😍😍😍


"Semoga anda selalu sabar dalam menghadapi semua masalah ya pak!" ucap Elsa lembut.


Gerry tak lama kembali lagi karena semua teman-temannya sudah di jemput oleh orang tua masing-masing.


"Bunda, teman-temanku sudah pulang" Gerry cemberut.


"Yasudah, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Sini om gendong!" Listyo merendahkan punggungnya lalu Gerry naik untuk di gendong.


"Pak, Gerry berat loh" ucap Elsa sembari terkekeh.


"Tidak kok. Saya jadi ingat sewaktu Ben masih kecil persis seperti Gerry yang suka saya gendong begini" Khayalan Listyo ke tahun yang dulu.


"Anda seorang pria hebat pak, bisa menjadi single father sampai Pak Ben dewasa. Apakah selama ini anda tidak pernah menikah?" tanya Elsa.


"Entah lah saya belum ada jodohnya sampai tua begini. Tapi kalau tuhan mentakdirkan saya untuk menikah, ya apa boleh buat asal ada saja wanita yang menerima saya dengan tulus" jawab Listyo.


"Kalau ini sih lebih mirip sugar dady, dan pak Listyo terlihat masih gagah sekali" puji Elsa dalam hati.


"Semoga saja yang terbaik untuk bapak" ucap Elsa.


"Kamu sendiri belum menikah kenapa?" Kini giliran Listyo yang ingin mengulik sisi pribadi Elsa.


"Saya masih takut akan kenangan buruk terulang kembali, dan saya takut jika menikah lagi suami saya tidak akan bisa menyayangi Gerry sepenuh hati" keluh Elsa sedih.


"Percayalah tidak ada yang sama di dunia ini" Listyo mencoba meyakinkan.


Gerry sudah tertidur di bahu Listyo karena menurut bocah itu sangat tidak asik mendengarkan obrolan orang dewasa jadinya dia mengantuk.

__ADS_1


"Besok mantan istri Ben akan menikah, apa kamu bersedia menemani saya ke acara pernikahannya, maksud saya hmmmz biar ada teman mengobrol begitu!" tanya Listyo ragu-ragu.


"Saya mau kok pak!" balas Elsa.


Senangnya hati Listyo.


Hari sudah mendekati senja, Elsa pun ingin pamit dan mengambil Gerry yang tengah tertidur pulas di gendongan Listyo.


"Agaknya hari sudah sore, pak. Saya pulang dulu" ucap Elsa.


"Mana mobil kamu?" tanya Listyo seakan enggan melihat Elsa pergi dari hadapannya.


" Saya akan menghubungi supir dulu" balas Elsa.


"No, biar saya yang mengantar kalian pulang" ucap Listyo menarik tangan Elsa.


Elsa hanya bisa pasrah tetapi hatinya menghangat.


Sementara di rumah sang paman, Aldo kesal sekali karena tidak di perbolehkan bertemu dengan sang pujaan. Mieke melarangnya karena Aldo harus di pingit. Aldo pun kini hanya bisa menyalurkan rasa rindunya lewat panggilan teleponnya.


"Sayang, aku rindu. Sudah hampir satu minggu tidak pernah melihatmu" keluh Aldo pada Belinda di balik seberang telepon.


"Hmmmm, sama aku juga. Sabar ya besok juga kita bertemu" balas Belinda.


"Aku gak tahan ingin menciummu" keluh Aldo.


Belinda tertawa mendengar keluh manja Aldo. Si pria kulkas ini ternyata bucin parah padanya.


Setelah sepatah dua patah kata terucap, akhirnya Aldo mengakhiri panggilannya pada Belinda. Ia berjalan menghampiri Mieke yang sedang menonton sinetron kesayangannya.


"Kenapa kamu lesu?" tanya Mieke yang pandangannya tak lepas dari tayangan itu.


"Pagi masih lama!" keluh Aldo.


"Sabar dong. Nanti juga datang tuh pagi. Dari pada kamu uring-uringan begini, gimana sudah hapal belum kata-kata ijab kabul nanti?" tanya Mieke.


"Sudah tan" jawab Aldo.


"Bagus. Jangan kaya om, mu tuh waktu ijab kabul jadi mendadak hilang ingatan jadinya pingsan" Mieke tertawa mengingat dahulu sewaktu menikah dengan Djoko sang suami. Saking gugupnya Djoko sampai pingsan waktu ijab kabul.


"Hahaha... Yang bener om?" Aldo tertawa sementara Djoko cemberut.


"Om kan perjaka asli jadi om gugup" jawab Djoko membela dirinya.


"Hei mas, memang aku ini janda? Aku juga masih perawan tahu waktu menikah denganmu tapi aku gak setegang itu sampai pingsan" balas Mieke sengit.


"Ya tahu kok, kan seminggu baru gol" ucap Djoko.


"Ikh mas, aku jadi malu" ucap Mieke sembari mencubit perut sang suami.


Memang ya dua sejoli ini selalu mesra walau usia mereka sudah tidak muda lagi dan selalu menerima apapun termasuk tidak di berkati keturunan.


"Ishhh, malah bernostalgia begitu" cebik Aldo.


"Sudah malam, sebaiknya kita tidur supaya besok badan kita segar. Dan kamu Aldo, jangan tegang seperti om mu dulu" ucap Mieke.

__ADS_1


Mereka pun masuk kedalam kamar masing-masing.


__ADS_2