
Aldo melenguh seiring gerakan kepala Belinda yang maju mundur. Aldo tidak menyangka ternyata Belinda mempunyai sisi agresif dan liar.
"Hsssssshhhh, Bella ini sangat nikmat" racau Aldo.
Belinda sengaja mengigit manja kepala si ular bermata satu itu membuat si empu memekik.
"Bella aku tak tahan" Aldo mencengkram baju Belinda karena merasakan akan meledak dibawah sana.
"Keluarkan lah, aku anak menelannya" ucap Belinda.
"Be-la achhhhhhhhhhhhh ma-afphhhhhhhh aku ke-lu-arrrrrrr" ucap Aldo lalu terkulai lemas.
Belinda menelan sesuatu yang asin berbau pandan itu sampai habis.
"Bella aku lemas" ucap Aldo.
Tak disangka diluar, Victoria sudah mengetuk pintu berulang kali.
"Bu Bella kenapa ya lama sekali didalam tidak merespon ketukan pintu dariku" ucap Victoria.
Dia pun masuk dan alangkah sangat malunya kala mendapati Belinda dengan rambut yang acak-acakan dan terdapat cairan yang meleleh dari sisi bibirnya dan jangan lupakan Aldo yang terkulai lemah diatas kursi dengan celana yang resletingnya masih terbuka.
"Gue gak lihat, gue gak lihat" gumam Victoria malu sendiri.
"Eh Victo" sapa Belinda untuk menutupi rasa malunya.
"Maaf Bu, saya ganggu. Ini berkas dari perusahaan Mr Paul harus segera ibu tandatangani. Beliau sekarang bertolak ke Indonesia dari Jerman dan akan langsung kemari besok" ucap Victoria mencoba bersikap biasa saja.
Belinda tampak merapihkan penampilannya, tapi cairan itu masih tertempel diujung bibirnya terlihat Jelas oleh Victoria.
"Bu Bella habis ngemut sosis jumbo kayaknya. Gue bukan bocah dan gue ngerti soal kaya begitu. Duh mana Pak Aldo ganteng banget jadi pengen ikutan deh.. Ekh apa sih Victo otak loe ngeres. Mesum banget" gumamnya dalam hati.
Menyadari ada yang tidak beres dengan aspri ya itu, Belinda tahu kalau Victo paham dengan situasi ini.
"Victo kamu kenapa?" tanya Belinda berpura-pura heran.
"Tidak Bu, hanya sedang mikirin manisnya memakan lolipop, ekh lolipop iya itu" jawab Victoria sekenanya.
"Kamu mau makan lolipop?" tanya Belinda.
"Hmmm, mau. Apalagi lolipop mentah. Eh apa sih kok mentah. Maaf Bu" Victoria malu sendiri.
"Victo, ini berkasnya" Belinda ingin sekali Victoria cepat pergi dari ruangannya.
"Baiklah, saya permisi" Victoria pun buru-buru keluar dari ruangan itu.
Belinda menghampiri Aldo dan duduk disampingnya lalu tangannya menaikan resleting celana Aldo.
"Begini ternyata rasanya di perkaos" ucap Aldo dengan nada lemas.
Belinda malu, lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Sayang kenapa ditutupi wajahnya? Aku tidak menyangka kamu begitu agresif dan aku suka itu" Aldo mendudukkan Belinda diatas pangkuannya.
"Aku suka melihatnya" balas Belinda malu-malu.
"Benarkah?" tanya Aldo dengan tatapan berbinar.
"Ya!" jawab Belinda singkat.
__ADS_1
"Aku tak sabar ingin segera menikah" ucap Aldo.
"Hmmmm, aku pun sama sih sebenarnya" jawab Belinda.
Karena waktu makan siang tiba, keduanya keluar dari ruangan itu dengan penampilan yang sudah rapi kembali.
Ketika Belinda berjalan menuju meja kerja Victo, Belinda hanya tersenyum.
"Victo nanti saya belikan kamu lolipop" ucap Belinda sembari tertawa.
"Boleh Bu. Tapi lolipop berbulu ya" ucap Victoria spontan.
"Victo ih" Belinda sangat malu dengan ucapan sang aspri yang kadang-kadang somplak itu.
"Hehehe. Maaf Bu Bella" ucap Victoria.
Belinda dan Aldo pun berlalu menuju kantin.
Kini tersisa Victoria, Yuli, dan Reyna di ruangan khusus staf.
"Yuli, gue mau nanya sama loe. Pernah gak loe maen karaoke sama pacar loe?" tanya Victoria.
"Maksud loe apa Victo? Karaoke lagu begitu?" tanya Yuli staf pemasaran.
"Bukan oneng! Yang begini nih" ucap Victoria sambil memperagakan gerakan absurd.
"Maksud loe ngemut lolipop ayang mbeb gue begitu?" tanya Yuli kembali.
"Ya bener.. pernah gak loe?" tanya Victoria.
Seketika Yuli senyum-senyum dan menutupi wajahnya.
"Jawab ikh bukannya malah cengar-cengir begitu" Victoria sudah tak sabar.
"Anj*** loe. Cowok loe jorok sumpah" timpal Reyna.
"Kalau loe pernah gak Rey?" tanya Yuli.
"Hehe.. Pernah sih.. Bengkok bentuknya tapi itu sudah jadi laki gue jadi gak nyesel-nyesel amat tapi emang sih bau kuda nil kalau awal-awal, kalau udah lama jadi terbiasa juga. Makannya Victo loe harus cari cowok biar bisa ngemut lolipop" ucap Reyna sembari tertawa.
"Ogah, kirain harum ternyata pengalaman kalian membuat gue males punya cowok" ucap Victoria.
Tak disangaka dari arah belakang Hilmi datang.
"Kebiasaan loe pada deh ngerumpi mulu. Ghibah terus. Sana loe makan siang keburu waktu istirahat habis" Hilmi mengusir trio cabe rawit itu.
Trio cabe rawit.
Mereka pun berlalu menuju kantin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiffany kini sedang berjalan-jalan di mall seorang diri. Dia masuk ke salah satu butik ternama.
"Tas itu bagus" ucap Tiffany sembari memeriksa harganya.
"150 juta, mahal juga ya. Sekarang papa sudah menghentikan uang bulanan padaku dengan alasan aku sudah menikah, tapi kalau aku minta pada Ben dia pasti cerewet. Arghhhh sebal" gerutu Tiffany kesal.
__ADS_1
Tak disangka sosok pria menghampirinya.
"Kamu suka tas itu?" tanya nya yang langsung disambut rasa keterkejutan oleh Tiffany.
"Mario? Loe mengikuti gue?" tanya tiffany sembari memukul-mukul kan tas pada lengan kekar Mario.
"Tidak juga. Ambil tas itu jika kau mau sayang" ucap Mario sembari melepaskan kacamata hitamnya.
"Tidak" jawab Tiffany.
"Jangan malu akui saja sayangku" ucap Mario.
"Suyung sayang, sembarangan saja dasar stres" ucap Tiffany kesal.
"Mbak tolong bungkus tas ini, dan berikan pada pacar saya" ucap Mario.
"Baiklah Tuan Mario" jawab pelayan butik itu dengan hormat.
"Mereka bisa kenal sama loe?" tanya Tiffany heran.
"Pasti kenal lah, kan ini mall punya ortu gue" jawab Mario dengan penuh kebanggaan.
"Nona ini tasnya" seorang pelayan memberikan tas itu pada Tiffany.
"Gue gak butuh tas dari loe" Tiffany ingin menyerahkan kembali tas itu.
"Yasudah kalau loe gak mau, gue kasih sama Bu Bella saja kakak loe" ucap Mario.
Tiffany hanya mendelik saja.
"Terima Saja lah gak usah so munafik begitu. Suami loe gak bakal tahu kok. Lagipula si Ben itu kan adik kelas gue dulu, jadi gue udah tahu semuanya tentang loe sayang" tutur Mario.
"Sebegitu nya loe mau tahu tentang hidup gue. Stres dasar" Tiffany hendak pergi, tetapi Mario malah memanggulnya seperti sedang membawa karung beras, hal itu membuat pengunjung mall menatapnya.
"Turunin gue gila. Loe mau bawa gue kemana. Gue malu sama semua orang wey turunin gue dasar pria stres" Tiffany terus saja meracau.
"Diam atau gue lempar kelantai dasar samudra. Bawel untung gue cinta" ucap Mario semakin erat mencengkram tubuh Tiffany.
Mario kini membawa Tiffany kesebuah ruangan seperti kamar diatas mall itu.
Lalu tubuh Tiffany dilempar begitu saja keatas ranjang.
"Mau ngapain loe bangsat?" Tiffany berkata dengan sikap waspada.
"Gue mau keluar" Tiffany kali ini menangis karena Mario hanya diam memandanginya dengan tatapan entah.
Mario lalu menghampirinya, duduk disebelah Tiffany.
"Loe kalau nangis gitu mirip pokemon" ucap Mario.
"Gue mau pulang" kini Tiffany merengek seperti anak kecil.
"Loe mau pulang?" tanya Mario balik.
Tiffany hanya mengangguk saja.
"Boleh, asal pijitin gue dulu" ucap Mario dengan santainya.
"Gak mau!" balas Tiffany.
__ADS_1
"Yasudah loe bakal disini selamanya" jawab Mario.
"yasudah buruan rebahan" Tiffany akhirnya menuruti permintaan Mario untuk memijatnya.