
keempat orang itu tercengang kala melihat Ben memakai sarung, baju kaos, dan peci yang di miringkan. Dalam hati Belinda apa benar ini seorang Ben Lazuardy? Kemana sisa-sisa kewibawaan seorang Ben, tetapi ketampanannya tidak luntur sama sekali.
"Siapa mereka mas Ben?" tanya ustadz Aladin.
"Tak tahu. Saya tidak kenal mereka" jawab Ben acuh.
"Tega kamu ya Ben bilang tidak mengenal papi mu sendiri" ucap Listyo sembari berjalan kearah Ben.
"Loh maksudnya gimana ini?" tanya ustad Aladin.
"Ya , dia papi saya tapi saya males bertemu dia" ucap Ben.
"Aishh, mas Ben ini gimana sih masa sama papi nya sendiri acuh begitu. Ayo silahkan duduk pak" ucap ustadz itu.
Mereka semua sekarang duduk melingkar di dalam masjid.
"Begini, Ben. Papi kemari ingin bicara denganmu dari hati ke hati. Papi minta maaf padamu jika kamu merasa tidak di anggap soal pernikahan papi. Papi mengaku salah padamu. Jangan terus menghindar begini karena jujur saja papi kewalahan menghadapi sikap kamu begini" ucap Listyo.
Ben diam tak bergeming. Ia memandang murka pada Listyo dan Elsa.
"Aku muak dengan ini semua" Ben pun langsung berdiri hendak pergi namun dengan sigap Aldo mengunci tubuhnya.
"Mau kemana kau? Selesaikan dulu masalahmu dengan om Tyo. Jangan seperti anak kecil begini. Kau tidak berhak menghalangi pada siapa hati om Tyo berlabuh apalagi sekarang Elsa sedang hamil anak papi mu, itu artinya janin itu adikmu. Apa kau tega membiarkan adikmu tidak tahu siapa papinya" bentak Aldo kesal.
"Begini saja pi, kalau Ben masih menentang hubungan kalian, aku juga akan membawa Fany pergi yang jauh dan aku pastikan kau, Ben tidak akan pernah bertemu dengan istri dan anakmu. Faham?" bentak Belinda.
"Itu ide bagus sayang. Mana talinya kita ikat saja orang keras kepala ini. Hidupnya hanya bikin onar saja. Dia aku ikat di pohon sana, kamu langsung pulang dan segera bawa Tiffany pergi yang jauh. Tiket pesawat jurusan benua America itu lebih bagus" balas Aldo sengaja agar Ben takut akan ancamannya.
"Dasar Aldo gila. Mana bisa kau mengancam akan menjauhkan aku dengan istri dan calon anakku, heh?" Ben terus meronta di bawah kuncian tubuh Aldo.
"Ustadz, apakah punya tambang?" tanya Listyo ikut kesal.
"Ada di belakang masjid ini. Tambang yang biasa di gunakan untuk menyembelih hewan qurban. Sebentar saya ambilkan dulu" ustadz Aladin segera berjalan mengambil tambang.
"Sembelih saja sekalian om biar dia tobat" ucap Aldo.
"Lepaskan anj**g lepaskan sakit..Arghhhhh" Ben terus mengumpat.
"Beri dua pilihan, memaafkan atau kau akan kehilangan Tiffany?" bentak Aldo.
__ADS_1
"Bella segera hubungi Tiffany, suruh dia berkemas kita ke luar negeri sekarang" perintah Aldo.
"siap laksanakan" seru Belinda.
Tak lama Tiffany datang, ia tercengang melihat Ben tengah di ikat di pohon halaman masjid. Sebelum kedatangannya, Belinda terlebih dahulu bicara pada Tiffany.
"Sayang, aku di ikat seperti kambing" ringis Ben.
"Ben, sudahlah jangan terus menaruh amarah pada papi mu. Maafkanlah dia dan terima pernikahannya. Papi juga berhak bahagia. Ben, jika kamu terus egois begitu, aku akan pergi yang jauh dengan anak kita" ancam Tiffany.
Karena takut di tinggal pergi oleh Tiffany, Ben pun bersedia memaafkan Listyo.
Anak dan papi itu akhirnya berpelukan dengan rasa haru.
Fany yang sebenarnya masih benci pada Listyo gara-gara dulu tidak suka padanya, hanya membuang muka saja. Ia ingin segera membawa Ben pulang. Tetapi Listyo langsung mengentikan langkahnya.
"Fany, papi tahu, kamu masih kecewa sama papi kan? Maafkan papi nak, papi sudah memandang sebelah mata padamu. Papi sadar sejauh mana pun Ben melangkah, ujung-ujungnya berhenti di kamu. Maafkan papi juga yang tidak tahu kehamilanmu karena Ben tidak pernah memberi tahu kan kondisimu. Papi ini memang opa yang buruk untuk calon cucu pertama." ucap Listyo dengan kepala merunduk.
"Ya pi. Maafkan juga karena saya belum bisa jadi menantu ideal papi" balas Tiffany.
"Kamu menantu luar biasa untuk papi. Papi senang, akhirnya papi bakal punya cucu, dan papi juga bakal punya anak" ucap Listyo bahagia.
"Saya sedang hamil, bu Fany" ucap Elsa.
"Benarkah? Selamat ya. Tapi jangan panggil aku ibu, karena yang harus di panggil ibu itu kamu" balas Tiffany sembari tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Besok adalah jadwal keberangkatan Aldo ke Korea Selatan. Belinda dengan semangatnya menyiapkan seluruh kebutuhan sang suami.
"Baju sudah, semvak sudah, celana sudah, vitamin sudah dan semua ya lengkap" ucap Belinda.
"Sayang, laptop aku tolong masukan koper" ucap Aldo yang sedang berkutat di dapur memasak makan malam.
"Siap komandan" balas Belinda.
"Kemarilah makanan sudah siap" ucap Aldo kembali.
Belinda menghampiri Aldo yang sedang menyiapkan makan malam mereka di atas meja makan. Belinda terpesona kala melihat Aldo memakai apron di tubuhnya dengan keringat yang membasahi dahi lalu turun sampai membasahi lehernya.
__ADS_1
"Sini aku buka apronnya" Belinda membuka apron yang membalut tubuh Aldo lalu menyeka keringatnya dengan tisu.
"Suamiku sangat seksi" puji Belinda sembari memeluk tubuh kokoh itu.
"Istriku juga tak kalah seksinya" balas Aldo sembari mengecup kening Belinda.
...****************...
Didalam kamar, Aldo tidur diatas paha sang istri. Belinda dengan gemas menoel-noel hidung mancung sang suami. Rasa sedih tiba-tiba menggelayuti hatinya.
"Kenapa murung begitu, hem?" tanya Aldo sembari membelai pipi sang istri.
"Sedih saja. Kita akan LDR seminggu. Aku pasti merindukanmu" keluh Belinda.
"Aku pun sama. Tetapi ini tugas perusahaan mau bagaimana lagi, sayangku" ucap Aldo gemas.
"Nyari duit susah juga ya" ucap Belinda sembari tertawa.
"Ya begitulah sayangku. Kita saja yang hidup berkecukupan masih berpikir mencari duit itu susah, apalagi yang hidupnya di bawah kita. Kita harus bersyukur" Aldo ceramah seperti mamah dedeh.
"Kamu benar sayang. Aku pun sekarang sedang membuat sebuah peraturan untuk karyawan ku yang hamil dan melahirkan agar mendapatkan gaji tambahan dan semua keperluan bayi mereka di tanggung perusahaan sampai umur dua tahun. Aku hanya ingin karyawanku sejahtera karena berkat mereka lah kita bisa sukses" ucap Belinda.
"Ternyata kamu selangkah lebih maju di banding aku. Aku Pun akan meniru kebijakan perusahaanmu. Nanti aku bicarakan dengan pak Panji" balas Aldo.
Seperti biasa selepas mengobrol ngaler ngidul, tangan Aldo mulai usil pada tubuh sang istri. Aldo ingin meminta haknya malam ini, apalagi esok dirinya akan pergi ke Korea Selatan.
"Sayang, yuk!" ajak Aldo.
"Lagi halangan. Maaf ya" balas Belinda tak enak hati.
"Oh palang merah! Gak jadi berkeringat dong" cebik Aldo.
"Pakai mulut, mau?" tanya Belinda dengan menaikan alisnya sebelah.
"Boleh lah gaskeun dari pada pusing kepalaku gak keluar" balas Aldo.
Besoknya Aldo pergi ke Korea selatan, Belinda memeluknya sangat lama di dalam bandara.
"Hati-hati ya sayang! Jaga dirimu di sana. Semoga pulang dengan keadaan selamat, tanpa kurang sesuatu apapun. I love u sayang, jangan lama-lama perginya. Telepon aku jika sudah sampai" pesan Belinda.
__ADS_1
"Sudah jangan sedih. Aku juga sangat, sangat, dan sangat mencintaimu. Nanti aku kabari jika sudah sampai" Aldo langsung menciumi seluruh wajah sang istri lalu melepaskannya karena waktu keberangkatan pesawat sudah tiba.