Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Unboxing Euyyyyyyyyy!!!!!


__ADS_3

Hai para readers, maaf ya sekarang jarang update novel.. Author sibuk banget di tambah badan kurang sehat.. Maaf baru bisa update sekarang. Jujur diri ini merasa kurang jika tidak update cerita. Semoga kalian sehat selalu ya readers. Dan selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan bagi readers yang merayakan..


Salam pena dan salam satu cinta buat kalian semua.. I Love You All...😍😍😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘💋💋💋💋


"Hai, Ben! Senang bertemu dengan mu disini!" ucap seorang wanita.


"Viona?" Ben sangat terkejut kala melihat mantan tunangannya yang pernah dia sakiti.


"Yes, it's me!" Viona menjawab seraya tersenyum.


Kemudian Viona melirik Belinda.


"Hei, namaku Viona teman Ben" ucapnya sembari mengulurkan tangannya.


"Belinda, istrinya Ben" ucap Belinda ramah.


"Maaf jika menggangu waktu kalian! Aku permisi" Viona hendak pergi namun di cegah oleh Belinda.


"Tidak menggangu sama sekali! Mari gabung bersama kami" ucapnya.


Ben berkeringat dingin kala Viona ikut duduk semeja dengannya. Dia takut Viona mengatakan bahwa dia mantan tunangannya.


"Silahkan mau pesan apa?" tanya salah satu pelayan pada Viona.


"Eummm,, samakan saja dengan kakak ini" ucapnya sembari melirik ke arah Belinda.


Mereka pun makan dengan lapanya, tak ada percakapan apapun sampai selesai makan.


"Aku senang Ben, kau sudah menikah!" ucap Viona.


"Ya terimaksih Vii" ucap Ben singkat.


"Jika di ingat hal dulu aku sebenarnya amat membencimu, tetapi melihat istrimu yang ramah aku jadi bisa menerima masalalu" ucap Viona membuat Belinda terkejut.


Ben pun semakin tak terkontrol hatinya. Hawa panas seketika menyergap tubuhnya, dia pun segera pamit ke kamar mandi.


"Apa maksudmu dengan masalalu?" tanya Belinda penasaran.


"Maaf sebelumnya aku akan jujur padamu kalau aku ini mantan tunangan Ben tiga tahun yang lalu. Dua minggu lagi kita akan menikah, sampai aku melihat Ben berkhianat dengan perempuan jal*ng yang bernama Tiffany. Aku saat itu ingin memberikan kejutan ke apartemennya, ternyata Ben sedang bercinta dengan wanita itu. Aku pun memutuskan mengakhiri hubungan ini. Dan setelah di selidiki Ben dan wanita jal*ng itu sudah menjalin hubungan selama satu tahun. Kau bisa merasakan sesakit apa waktu itu aku. Ku kira setelah perselingkuhan mereka terbongkar, mereka tidak melanjutkan hubungannya ternyata berlanjut san terakhir aku mendengar bahwa Ben sudah menikah dengan mu. Selamat ya Belinda! Semoga tidak ada jal*ng-jal*ng lain yang akan merongrong kebahagiaanmu dengan Ben" ucap Viona menahan haru.


Belinda tercengang mendengar penuturan dari Viona.


"Kamu sangat kuat sekali menghadapi semua ini!" seru Belinda sembari memegang tangan Viona.


"Karena aku sudah menerima takdir dari Tuhan. Jujur aku sudah tak punya perasaan apapun pada Ben. Kau tidak perlu khawatir, hanya saja jika ingat peristiwa itu aku selalu sakit hati" ucap Viona.


"Aku percaya padamu" mereka berdua pun berpelukan.

__ADS_1


"Yasudah Belinda aku pamit dulu ya! Maaf sudah mendengar kenyataan pahit dari masalaluku. Salam untuk Ben" Viona lalu bangkit dan meninggalkan Belinda.


"Andai kamu tahu Viona, jal*ng yang kau sebut itu adalah adiku" gumam Belinda.


Setelah Viona pergi, Ben baru berani memunculkan batang hidungnya.


"Maaf lama, sialnya ngantre di toilet" ucap Ben.


Belinda hanya mengangguk saja! Sebenarnya di tahu jika Ben sengaja menghindar karena takut jika Viona berkata yang macam-macam.


"Mas apa kamu sudah lama mengenal Viona?" tanya Belinda ingin mengetahui apakah Ben akan berkata jujur atau tidak.


"Hmmmm, tidak terlalu lama" ucapnya.


"Baiklah" jawab Belinda singkat.


"Kau bohong rupanya Ben" ucap Belinda dalam hatinya.


"Bella, sepertinya kita harus pulang, Ayo!" Ben mengajak Belinda pulang.


Skip


"aduh sakit. Mami/papi sakit sekali" ucap seorang pria yang mengaduh kesakitan karena kejantanannya terkena jurus edo tensei dari Tiffany tadi siang.


"Siapa yang berani-beraninya melukai putraku akan aku beri dia perhitungan! Mario kau harus kuat! Dokter pribadi kita akan segera sampai.


" Nyonya Else, Tuan muda Mario sebenarnya tidak apa-apa hanya saja ada sedikit benturan di kejantannnya. Ini obatnya sudah saya siapkan mungkin besok juga akan sembuh sakitnya" ucap dokter Dikta.


"Baik dok terimakasih. Saya hanya takut kalau Mario akan impoten karena cidera itu" ucap Else khawatir.


"Tidak Nyonya! Anda tenang saja" dokter Dikta pun pamit pulang.


"Mario, apa kamu ingat ciri-ciri wajah wanita yang sudah melukaimu?" tanya Arif Dirgantara sang papi.


"Arghhh sialan wanita dakjal, minus sekali sifatnya. Aku masih ingat pi! Orangnya kecil, kulitnya cokelat tapi eksotis, hidungnya lancip , rambutnya sebahu dan ya ada tahi lalat di pipi sebelah kanan" ucap Mario menjelaskan ciri-ciri fisik Tiffany.


"Jika ketemu dengan wanita itu, mau kau apakan putraku?" tanya Arif.


"Papi bawa saja kehadapanku, aku akan berikan dia pelajaran" ucap Mario dengan seringai menyeramkannya.


Skip


Ben sudah sampai di depan rumahnya. Dia langsung menarik tangan sang istri dengan tidak sabaran.


Sampailah di kamar, Ben masuk kamar mandi terlebih dahulu. Sesudah selesai gantian Belinda yang mandi.


Tak lama Belinda pun kekuar kamar mandi hanya menggunakan Bathrobes dengan rambut yang basah bahkan sampai meneteskan air mata.

__ADS_1


"Bella duduk" ucap Ben sembari menepukan tangannya di kursi depan meja rias.


Ben mengambil hairdrayer dan langsung membantu sang istri mengeringkan rambut panjangnya.


"Bella" ucap Ben gugup.


"Ya Mas!" jawab Belinda santai.


"Aku ingin meminta hakku sebagai suamimu" ucap Ben.


"Silahkan Mas! Itu sudah sah milikmu" Belinda merasa menang dalam hatinya karena Ben sudah lupa akan janjinya pada Tiffany.


Ben pun dengan tak sabar memangku tubuh Belinda seperti seorang induk koala menggendong anaknya.


Merek pun memulai penyatuannya. Meski Belinda mengaduh kesakitan, dirinya merasa puas karena Ben sudah menjadi suami yang sesungguhnya. Mereka berdua pun terkulai lemas dengan peluh yang bercucuran. Ben memeluk tubuh sang istri dan berbisik di telinganya.


"Terimaksih istriku, kau sudah memberikan mahkotamu untuku. Rasanya sangat nikmat luar biasa. Sepertinya aku akan tercandu-candu dengan tubuhmu" Ben lalu mengecup pucuk kepala sang istri.


"Itu sudah kewajibanku mas untuk melayanimu. Datangilah aku kapanpun kau menginginkannya karena akulah satu-satunya wanita yang berhak atas diri dan tubuhmu" Belinda bersorak sorai dalam hatinya.


selang beberapa jam, Ben kembali menggempur sang istri hingga Belinda tak bisa berjalan.


Paginya, Belinda hendak bekerja, ketika dia akan bangun dia merasakan sakit di area intinya.


"Aduhhh, sakit sekali! Bagaimana ini?" Belinda meringis.


Ben yang sedang membuatkan sarapan, me dengar ringisan dari Belinda.


"Selamat pagi Bella! Mau kemana?" tanya Ben.


"Aku mau mandi, tetapi jalanku sakit Mas!" ucap Belinda meringis.


Ben pun dengan sigap menggendong tubuh polos sang istri dan mendudukannya di closet.


"Terimaksih Mas!" ucapnya.


"Itu sudah tugasku. Maaf ya sudah buat kamu sakit" ucap Ben khawatir.


Belinda hanya tersenyum saja dan Ben segera meninggalkan kamar mandi itu.


Ben duduk di tepi ranjang, hatinya membatin karena dia sudah mengingkari janjinya untuk tidak menyentuh Belinda, tetapi nyatanya sekarang Belinda telah habis dia sentuh dan jamah.


"Aku harus lebih perhatian pada Tiffany, angap saja ini sebagai permintaan maafku" batin Ben bergumam.


Jika ada yang bertanya, kenapa cerita unboxing Ben dan Belinda kurang greget, karena Author ngetiknya di bulan puasa. Untuk menghindari pikiran Readers yang traveling. Author takut dosa jariah euy...😁


Happy reading....💋💅

__ADS_1


__ADS_2