
Di tengah sarapan paginya, Belinda mendengar bahwa Dhanu sang papa sakit lagi di jantungnya. Hal itu akibat ia terlalu lelah bekerja.
"Mas, aku harus bertemu papa sekarang" tegas Belinda.
"Kita selesaikan dulu sarapannya" ucap Ben.
"Tidak! Aku takan mati karena aku tidak makan sarapan. Papa lebih penting, jika kamu tidak mau mengantarku akan ku cari taksidg bersama Bik Lilis" Belinda berlalu dari meja makan dengan menggunakan tongkatnya.
"Baiklah Bella, ayo kita berangkat sekarang" Ben akhirny mengalah pada sang istri.
Skip
Dhanu tampak terbaring sembari memegangi dadanya di ruang kerja miliknya. Tampak Victoria membantu Dhanu untuk meminum teh hangat dan Hilmi memijat bahu Dhanu.
"Pak Dhanu saya bawa ya ke rumasakit?" ucap Victoria yang sangat khawatir pada atasannya.
"Tidak perlu Victo! Saya hanya perlu istirahat saja" ucap Dhanu lemas.
Hilmi dan Victoria pun keluar dari ruangan Dhanu.
Belinda datang dengan tongkat sembari di tuntun oleh Ben sang suami menuju kedalam ruang kerjanya sekaligus ruang kerja yang Dhanu gunakan.
"Papa, kenapa?" Belinda mencari-cari dimana posisi sang papa saat ini.
Ben langsung menuntun Belinda kedekat sang mertua.
"Papa, maafkan aku pa, karena aku buta jadi papa harus kembali bekerja" Belinda menangis tergugu disamping Dhanu.
"Kamu tidak salah nak! Papa hanya kecapean saja" ucap Dhanu mencoba menenangkan agar Belinda tidak kelelahan.
"Selama aku tidak bekerja, apakah Tiffany datang ke kantor?" tanya Belinda.
"Tidak nak! Papa hanya di temani Victoria asistenmu" ucap Dhanu lemah.
"Breng*ek dasar perempuan tidak tahu diri. Aku semakin membencinya. Sungguh tidak bisa diandalkan" Belinda berkata sembari mengepalkan tangannya.
"Bella, kamu harus sabar" ucap Ben seolah membela Tiffany.
"Diam kau sama breng*eknya" ucap Bellinda yang membuat Ben heran kenapa ia tiba-tiba memarahinya.
"Bella, kenapa kamu memarahiku?" Ben seolah tak terima.
"Diam kau! Keluar dari ruanganku" Bentak Belinda.
Ben pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan dongkol.
Dalam hati kecilnya bertanya-tanya, apakah Bella sudah mengetahui fakta yang sebenarnya antara dirinya dan Tiffany? Tapi jika dia tahu, mana mungkin Belinda masih mau berada disisinya. Bukan berarti bom waktu itu tidak akan meledak, tetapi Ben bertekad ingin merusak bom waktu itu.
"Aku baru menyadari jika aku sudah mencintai Bella. Aku tak ingin kehilangan dia. Aku bertekad bahwa aku takan membiarkan Bella tahu akan hubunganku dengan Fany" janjinya dalam hati.
__ADS_1
Skip
Pagi ini Belinda memulai bekerja kembali. Tekadnya sudah bulat bahwa kekurangan tidak akan melemahkan dirinya. Mendengar Dhanu yang drop karena kelelahan bekerja membuatnya semakin bersemangat.
"Aku bukan wanita lemah" ucapnya yakin sembari menyisir rambutnya sendiri.
"Bella, apa kamu yakin akan bekerja dengan keadaan kamu yang~~~!" Ben tak mampu melanjutkan lagi pertanyaannya.
"Yang apa? Yang buta? Yang cacad?" tanya Belinda dengan santainya.
"Aku hanya khawatir denganmu" lirih Ben.
"Jika bukan aku yang bekerja, siapa yang akan menggantikan tugasku ini Ben Lazuardy? Tiffany bisa apa? Wanita itu hanya bisa menghabiskan waktu dengan kekasih sia*annya itu. Pria abu, pria pengecut" tandas Belinda yang membuat Ben secara reflex menghentakan bahu sang istri.
"Jaga bicaramu Bella" geram Ben.
"Kenapa kau yang emosi?" tanya Belinda memancing.
"Aku hanya...Hanya... Hanya tidak suka saja kau berkata kasar!" Ben mencoba mencari alasan.
"Selalu saja alasan! Aku mau berangkat bekerja sekarang. Jika kamu tak mau mengantarku, aku naik taksi saja" ucap Bella sembari mengambil tongkat bantunya.
"Aku yang akan mengantarmu" ucap Ben.
Sejak kemarin sikap Belinda sangat dingin padanya. Ben menjadi bertanya-tanya apakah Belinda mempunyai keperibadian ganda atau sedang ada masalah pada dirinya.
Belinda seakan jijik disentuh oleh Ben. Ingin marah rasanya, tapi Ben urungkan mengingat keadaan Belinda yang sedang tidak baik-baik saja.
Di kantor, Belinda duduk di lursi kebanggaanya dengan netra yang tak bisa melihat apapun. Victoria dengan sigap membantu menjelaskan tahap demi tahap pekerjaan yang Belinda lakukan.
"Bu Bella, saya salut pada anda yang sangat bersemangat bekerja" ucap Victoria.
"Saya tak tega pada papa. yang buta itu mata saya Victo. Tetapi hati dan nurani saya tidak" ucap Belinda.
"Bu Bella, saya sudah buatkan hot cokelat. Silahkan diminum" Victoria membantu memegangkan cangkir itu pada tangan Belinda.
"Terimakasih Victo! Kamu mau bantu saya tidak?" tanya Belinda.
"Bantu apa Bu? Jika saya bisa apapun itu akan saya lakukan untuk anda" balas Victoria.
"Bantu saya mengajukan berkas perceraian ke pengadilan agama" ucapnya yakin.
"Apa? Apa Bu Bella sudah yakin?" Victoria sangat terkejut.
"Sangat yakin Victo! Saya sudah tak mau terlibat dalam pernikahan memuakan ini. Saya sudah tidak kuat menahan derita ini. Pernikahan saya toxic. Ben nyatanya tidak berniat mengakhiri hubungannya dengan Tiffany. Asal kamu tahu Victo, saya buta begini gara-gara mereka. malam itu saya berniat membongkar semuanya, ingin bilang pada papa apapun yang terjadi kedepannya. Malam itu pikiran saya kalut hingga terjadilah kecelakaan untung saya tidak mati hanya buta saja" Belinda sudah menangis tergugu.
Victoria memeluk Belinda untuk menguatkannya.
"Baiklah Bu, saya akan bantu urus perceraian Bu Bella. Hati saya ikut sakit mendengarnya! Besok saya akan mengantar Ibu ke pengadilan agama" ucap Victoria.
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Hilda tampak mengap-mengap sejak siang tadi. Seluruh anaknya sudah berkumpul termasuk Aldo.
"Aldo, ibu titip adikmu ya sayang" Ucap Hilda sembari memegangi tangan kekar itu.
"Ibu saya lebih senang melihat ibu sehat" ucap Aldo sembari memandang lekat sosok wanita yang melahirkannya.
"Ibu sudah lega karena kamu sudah memaafkan ibu nak! Sekarang ibu ingin tertidur dengan damai" ucap Hilda sembari mengelus wajah Aldo dengan lembut.
"Sudah saatnya kita memberikan itu pada kakak" ucap David.
"Berikanlah pada Kakakmu" ucap Hilda.
"David membawa sebuah map, dan langsung di berikan pada Aldo.
" Terimalah Kak!" ucap David.
"Apa ini Dek?" Aldo heran.
"Buka saja Kak" ucap Sarah.
Aldo pun membuka map itu dan alangkah terkejutnya karena isinya adalah data kepemilikan perusahaan dan seluruh aset-aset yang dahulu sugeng rampas dari Ajisaka membuat mata Aldo terbelalak.
"Terimalah Kak itu semua milik ayahmu" ucap David.
"Tidak! Ini milik Sugeng, artinya ini untuk kalian" Aldo menutup kembali map itu.
"Tidak Kak! Hidup kami sudah cukup mapan. Itu milikmu Kak, terimalah" ucap Sarah.
"Aldo, suami ibu mengambil itu semua dari Mas Ajisaka. Nominalnya masih sama" ucap Hilda Lirih.
"Tidak Bu! Sugeng punya ahli waris yaitu kalian berdua Sarah dan David. Aku sudah berdamai dengan masalaluku" Aldo tetap tidak mau menerima.
"Kak, jika kamu tidak menerima itu, maka kami lah yang akan terus dibayangi masalalu buruk bapak kami Kak! Sarah sudah menjadi dokter, dan aku sudah menjadi pengusaha dengan modal awal uang yang di jalankan bapak dari mengambil milik ayahmu. Kami sangat berhutang hidup padamu. Terimalah perusahaan itu kembali beserta keuntungannya" ucap David memohon.
"Urus saja perusahaan itu olehmu David!" Aldo pun bingung harus mengurus dua perusahan sekaligus dan dirinya masih bekerja bersama Aldo.
"Tidak Kak! Aku sudah punya perusahaan multimedia sendiri. Lagi pula aku tidak begitu paham dengan perusahaan milikmu. Aku bisa gila jika mengurusi dua perusahaan sekaligus" Tutut David sembari terkekeh.
"Lantas siapa yang saat ini mengurusinya?" tanya Aldo heran.
"Aku serahkan pada profesional saja" jawab David enteng.
"Apa? Kamu tahu itu syarat akan korupsi karena kita sebagai pemilik tidak ikut terjun langsung mengawasi perusahaan kita" ucap Aldo.
"Aku tidak berpikir sejauh itu. Maka dari itu ambilah kendali itu Kak. Jalankan lagi perusahaan itu" ucap David.
"Aku pusing harus mengurus dua perusahan sekaligus, apalagi aku masih bekerja" Aldo merasa pusing dengan semua itu.
__ADS_1