
Haaaaaaaa!!! Aldo menyuapi Belinda walau beberapa pasang mata direstoran itu menatap iri pada mereka.
"Aldo, aku bisa makan sendiri" Belinda menghalangi tangan Aldo.
"Bella aku ingin memanjakanmu" ucap Aldo senang.
Belinda hanya pasrah saja dengan perlakuan Aldo.
Mereka pun pulang dari resto itu.
"Kemana lagi tuan putri?" tanyanya dengan nada penuh cinta kasih.
"Aldo, maaf tapi sikapmu sedikit berlebihan, aku begitu tersanjung!" ucap Belinda malu-malu.
"Biarkan aku memanjakanmu Bella, karena aku senang melakukannya. Hidupku merasa terlahir kembali karena jujur saja aku tidak pernah sebahagia ini. Jikalaupun kamu tidak membalasnya akupun tak akan mempermasalahkannya" ucap Aldo sembari mendekap tubuh Belinda.
"Aldo bisakah aku memikirkan ini dulu?" tanya Belinda. Dia berhak menyamankan dahulu hatinya setelah itu dia akan menerima cinta yang baru. Terdengar dramatis tetapi itulah perasaan Belinda.
"Aku akan menunggumu" ucap Aldo sembari mencuil dagu Belinda.
Aldo pun mengantar Belinda pulang.
Skip.
"Aldo kenapa kamu ada bersama Bella?"
"Apa hubungannya kedatangan Bella denganmu?"
"Aldo jangan bilang kamu mengencani Bella?"
"Jauhi Bella karena saya akan menikahinya kembali"
Pertanyaan demi pernyataan terus saja Ben lontarkan kala melihat Aldo mengantarkan Belinda pulang.
"Saya rasa saya berhak mengkencani wanita manapun Pak Ben! Bella seorang wanita single dan dia menerima untuk saya dekati" jawab Aldo santai.
"Tidak Aldo! Bella hanya milik saya. Jangan dekati dia, kamu boleh miliki wanita manapun didunia ini kecuali Bella" ucap Ben tegas.
"Mau dikemanakan istri anda? Lagi pula untuk bersatu kembali dengan Bella tidak akan mudah karena anda sudah memberikan talak tiga padanya" ucap Aldo berpuas diri.
"Apapun itu, tembok Berlin atau tembok China pun saya akan lompati demi bisa bersatu kembali dengan Bella. Saya mungkin terdengar egois tetapi saya akan melakukan apapun. Saya mencintai dia walau waktunya yang terlambat" ucap Ben.
Belinda pun masuk keruangan dimana Ben dan Aldo terlihat sedang adu ketegangan.
"Ada apa ini?" tanya Belinda sembari berjalan menuju kedua pria gagah itu.
Keduanya tampak gelagapan.
"Kami hanya mengobrol saja, reuni" ucap Aldo mencoba sesantai mungkin.
"Benar itu Ben?" tanya Belinda yang sepertinya kurang percaya dengan jawaban Aldo.
"Hmmm,, benar Bella. Kami hanya sedang membicarakan masalah pekerjaan dan reuni" balas Aldo.
__ADS_1
"Oh syukurlah, aku kira ada apa" ucap Amora bernafas lega.
"Yasudah Bella, aku mau pulang sekarang!" ucap Aldo yang sudah tak suka berlama-lama dekat Ben.
"Aku antar sampai depan" Belinda tanpa sungkan memegang tangan Aldo, dan hal ini membuat hati Ben dilanda cemburu.
Ben seketika memandangi kepergian Aldo sampai menghilang tertelan dinding ruangan itu. Tangannya terkepal apalagi melihat Belinda memandangi Aldo dengan penuh cinta.
Apa kalian mengira Belinda begitu? jawabannya tidak! Dia hanya ingin Ben tidak berharap lebih padanya. Belinda akan mulai merenungkan sebuah cinta yabg Aldo suguhkan untuknya. Toh Aldo juga sudah mencintai dirinya sedalam itu, Belinda hanya tinggal menyingkirkan satu batu kerikil yang masih tersangkut dalam hatinya.
Setelah pamit dengan Dhanu dan Hatuni, Aldo pamit pergi. Diam-diam Ben mengikuti mereka.
"Bella!" ucap Aldo dengan suara pelan.
"Ya" jawabnya.
Cup!!!!!
Sebuah ciuman curian Aldo berikan pada Belinda tepat pada bibirnya.
"Aldo!" Belinda terkejut.
"Terimakasih untuk hari ini" Aldo pun tak lupa memeluk sang pujaan itu.
"Aku bahagia sekali bisa dekat denganmu seperti ini" Aldo tersenyum lalu melepaskan pelukan itu dan tangannya mengelus rambut panjang Belinda.
Sangat manis, siapapun yang ada diposisi Belinda saat ini akan meleleh dengan perlakuan Aldo.
"Aku pulang" ucapnya sembari membuka pintu mobil.
"Hati-hati Aldo! Sampai jumpa lagi" Belinda melambaikan tangannnya pada Aldo.
Siapa sangka sepasang mata menyoroti adegan romantis Aldo untuk Belinda dengan dada bergetar menahan amarah yang membuncah dan kecemburuan yang membabi buta.
Belinda yang hendak memasuki ruang tamu tiba-tiba tangannya ditarik kedalam kamar dipojok ruang tamu.
"Arghhhh" Belinda menjerit tetapi Ben segera membungkam mulut Belinda dengan mulutnya.
Belinda memukul-mukul dada Ben supaya ciuman itu terlepas tetapi Ben langsung mencengkram tangan Belinda hingga dia tidak bisa berkutik.
Ciuman itu akhirnya terlepas setelah keduanya sama-sama hampir kehabisan oxigen.
"Huh huh huh" Belinda mengambil nafasnya dalam-dalam.
"Bibir ini kan yang disentuh Aldo? Aku akan menghapus itu. Bella aku tidak rela jika ada yang menyentuhmu" Ben menghapus jejak saliva dibibir Belinda.
"Apa pedulinya Ben? Kau tidak berhak melarang pria manapun yang ingin menyentuhku. Ingat, ada Tiffany dihidupmu. Kita hanya bagian masalalu Ben, jadi tolong jangan seperti ini. Minggir Ben aku mau keluar, jangan sampai Tiffany curiga" Belinda hendak membuka handle pintu namun Ben menghalangi.
"Tidak Bella jangan keluar! Aku ingin selalu dekat-dekat denganmu. Biarkan dunia berkata apa aku tidak peduli" tegasnya.
"Ben jangan begini" Belinda sudah emosi.
"Tidak Bella" Aldo masih menghalangi Belinda agar tidak keluar.
__ADS_1
"Aku minta sekali lagi awas atau aku teriak biar semua orang tahu" Belinda sudah semakin geram.
"Teriak saja biar hancur sekalian Bella" Ben sudah nekat apapun yang akan terjadi.
Brughhhhhhh!!!!
"Argghhhhh" Belinda menendang benda pusaka milik Ben hingga dirinya mengaduh kesakitan.
"Bella apa yang kamu lakukan?" Ben berkata dengan nada meringis.
Belinda tidak mengindahkan itu, dia segera membuka pintu lalu pergi dengan tergesa sampai dia bertemu dengan Tiffany didekat kamarnya.
"Kau kenapa Kak?" tanya Tiffany heran.
"Tidak kenapa-kenapa hanya sedang takut dengan setan!" ucap Belinda.
Tiffany pun heran dan tidak mendapati sang suami dari tadi.
"Kak, kau lihat suamiku tidak?" tanyannya.
"Cari saja jangan tanya padaku, bodoh!" Belinda segera membuka pintu kamarnya dengan tergesa.
Gedubummmmmm!!!! Suara pintu ditutup dengan sangat keras.
"Aneh banget dia!" gerutu Tiffany.
Skip..
Seseorang mengirimkan satu bucket bungat tulip putih untuk Tiffany.
"Saya tidak memesan bunga Bik" ucap Tiffany pada ARTnya.
"Ada seseorang non yang mengatakan bahwa bunga itu pemberian dari Tuan M untuk anda dan katanya suruh melihat catatan yang ada di dalam bunga itu" Tutur sang ART.
Tiffany pun mengambil secuil kertas dari dalam bucket itu lalu membacanya.
From Mr M.
"untuk wanita terkasih ku "Tiffany Angela" my priority" tertulis disana membuat dahi Tiffany mengernyit bingung, pasalnya dia tidak punya penggemar.
Lalu ingatannya mengarah pada Mario!.
"Apa ini ulahnya Mario? Arghhhh kenapa dia tahu alamat rumah papa" Desahnya prustasi.
"Bunga dari siapa itu?" Ben tiba-tiba datang menghampiri Tiffany.
"Ini sengaja aku pesan untuk mempercantik ruangan" jawabnya berbohong.
"Sejak kapan kamu suka bunga Fany?" tanya Ben heran.
"Sejak sekarang sayang" jawabnya.
Tak disangka dari luar pagar rumah itu, sosok Mario tengah tersenyum smirk.
__ADS_1