Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Bertemu Sahabat Lama dan Ceritanya


__ADS_3

Tiffany akhirnya tiba dirumah Dhanu. Semua yang ada dirumah itu terperanjat atas kedatangan orang yang mereka cari.


"Fany?" Haruni tersentak lalu menghampirinya.


"Kami mengkhawatirkanmu" Ben langsung memeluk Tiffany.


Tiffany tak bergeming karena hatinya masih dongkol pada Ben.


"Aku baik-baik saja dan maaf sudah membuat kalian cemas. Aku hanya pergi menenangkan pikiranku" Tiffany berbohong dan tidak akan mungkin mengatakan bahwa dirinya diculik oleh Mario.


"Syukurlah kalau begitu!" ucap Dhanu.


"Kak Bella kemana ma?" Tiffany tak melihat keberadaan sang kakak.


"Bella hilang! Entah kemana dia pergi, tetapi dia menghubungi Aldo jika dia baik-baik saja" ucap Dhanu.


"Ya syukurlah" Jawab Tiffany seadanya seakan tidak terlalu peduli dengan Belinda.


Aldo pun pamit dari rumah itu.


Kini dua sejoli itu sudah berada didalam kamar. Tiffany masih diam tak bergeming.


"Mau sampai kapan kamu diamkan aku, Fany?" tanya Ben


"Sampai kamu mengakui kesalahanmu" jawab Tiffany.


"Ya aku akui memang aku sedikit keterlaluan. I'm so sorry" ucap Ben lirih.


Tiffany tidak menjawab, dia segera merebahkan dirinya diatas ranjang.


Merasa teracuhkan, akhirnya Ben mengambil jaket dan kunci mobilnya.


"Mau kenama kamu?" tanya Tiffany.


"Aku mau pulang! Karena nyatanya keberadaanku pun tak kau hiraukan Fany" Ben melangkah namun Tiffany menahannya.


"No sayang, maafkan aku! Jangan tinggalkan aku. Aku takan mendiamkanmu lagi" Tiffany memeluk Ben.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi itu, Aldo datang kekantor Ben dengan membawa satu berkas. Ben yang baru tiba di dalam ruangannya mengernyitkan dahinya.


"Selamat pagi Pak Ben!" sapa Aldo ramah.


"Pagi Aldo. Ada apa?" Ben melihat Aldo menyerahkan berkas itu padanya.


Ben langsung membacanya dan seketika membelalakan matanya.


"Apa ini maksudnya Aldo?" Ben menaruh kembali map itu diatas meja.


"Itu surat mengunduran diri saya pak. Saya sudah memikirkan ini jauh-jauh hari dan saya pikir inilah waktu yang tepat" jawab Aldo tegas.


"Kenapa secara tiba-tiba begini Aldo? Apa kamu tidak berpikir bahwa pekerjaan saat ini sangat banyak, saya tidak mungkin menghandle semuanya sendiri" raut wajah sedih Ben berat untuk menyetujui pengunduran diri orang kepercayaannya.


"Anda tak usah khawatir Pak! Pekerjaan untuk sebulan mendatang sudah saya bereskan" jawab Aldo membuat Ben tambah tercengang.

__ADS_1


"Aldo, apakah kamu tidak ingin memikirkan lebih dulu? Jujur saja saya sudah nyaman denganmu. Saya tidak mudah beradaptasi dengan aspri yang baru. Dan jika kamu keluar dari perusahaan saya maka kamu akan bekerja dimana? Akhh atau jangan-jangan kamu akan melamar diperusahaan yang gajinya lebih besar dari ini? Berapa Aldo, berapa? Maka saya akan menaikan gajimu"


Ben masih memberi penawaran agar Aldo mengurungkan niatnya untuk resain dari kantor.


"Saya sudah jauh-jauh hari memikirkan ini Pak! Saya ingin istirahat sementara waktu Pak" jawab Aldo.


"Apa jangan-jangan keluarnya kamu ada hubungannya dengan Belinda?" Ben asal tebak, hal itu membuat semburat diwajah Aldo menjadi marah.


"Apa maksud anda Pak?" Aldo amatlah tersinggung dengan Ben.


"Ya kamu ada main dengan mantan istri saya kan Aldo? Belinda selingkuh denganmu?" tanya Ben mulai panas suasana.


"Belinda wanita terhormat Pak! Tak mungkin dia melakukan hal itu dengan siapapun. Justru anda dan Tiffany yang melakukan itu' balas Aldo tak kalah tajam.


" Saya percaya dengan Bella, pak! Permisi' Aldo langsung melenggangkan langkahnya keluar dari ruangan Ben.


Ben mengacak surai rambutnya dengan perasaan putus asa, dia telah berbicara lancang pada Aldo.


Kini resmi sudah Aldo mengundurkan diri sebagai asprinya Ben, dia hidup bebas sekarang dan akan langsung memimpin perusahaannya. Aldo pun langsung kerumah pamannya untuk bicara bahwa dia sudah siap menggantikan dirinya.


Sesampainya dirumah Djoko Sambodo, Aldo mendengar teriakan Djoko.


"Aduh sakit" pekiknya.


"Sabar ya Tuan! Ini memang cederanya parah" ucap seorang pria yang berpakaian scurity sedang mengurut kaki Djoko.


"Om kenapa denganmu?" tanya Aldo sembari berdiri didekat kursi.


"Dasar anak nakal kau ya Aldo! Suamiku terkilir dikantor. Ini semua gara-gara kamu yang belum ingin menggantikan suamiku bekerja. Lihat ubannya sudah dimana-mana, tandanya dia sudah tua, sudah seharusnya dia menikmati hari senjanya" Mieke sang tante langsung memukuli bokong Aldo dengan tangannya.


"Ampun Tan, ampun" Aldo mengaduh karena mendapat ulti dari sang tante.


"Begini om, aku sudah siap mengantikan posisi om sebagai pemimpin diperusaan ku, tapi aku juga bingung karena anak-anak Sugeng mengembalikan semua hal yang pernah dia rampas dari ayahku dahulu" ucap Aldo.


Hal itu membuat Mieke dan Djoko melotot geram.


"Apa, jadi kamu bertemu lagi dengan keluarga si kepa*at itu Aldo? Berarti kamu bertemu dengan Ibumu?" tanya Mieke geram.


"Iya tan!. Aku sudah bertemu dengan Ibu, kondisinya sangat memperihatinkan, anaknya yang perempuan datang dan memohon padaku untukku sudi menemuinya. Sudah kutolak tetapi selalu datang terus hingga akhirnya aku berdamai dengan masalaluku" tutur Aldo.


"Kamu memang berhati mulia Aldo! Lantas bagaimana dengan kedua perusahaan yang akan kamu jabat, apakah sudah memikirkan bagaimana membagi waktunya?" tanya Djoko.


"Aku belum memikirkan itu om. Besok aku akan mendatangi kedua perusahaan itu dan aku minta semua data-datanya agar aku mudah memahami" ucap Aldo.


"Besok jika kakiku sembuh, kita akan berangkat bersama kekantor, sekaligus merayakan acara pergantian pemimpin" ucap Djoko.


"Syukurlah sekarang kamu sudah bisa memimpin perusahaan itu Aldo! Bagaimana jadinya jika om mu harus terus bekerja. Yasudah sekarang bantu om mu kekamar karena sepertinya dia belum bisa berjalan. Jika sudah, sana kamu makan dulu, Bik Isah sudah masak" ucap Mieke sang tanteu, yang dikenal judes dan galak tetapi baik hati pada Aldo yang sudah membantu mengurus ketika Aldo kecil.


Skip


Belinda tengah menghubungi seseorang.


"Hallo, Sofie! Apa kabar? Dimana kamu sekarang?" tanya Belinda pada teman sewaktu masih sama-sama berkuliah di Tokyo.


"Belinda, aku rindu padamu. Kabarku baik-baik saja, bagaimana denganmu? Sekarang aku sedang ada di Tokyo" jawab Sofie.

__ADS_1


"What kamu sedang berada di Tokyo? Aku pun sama sedang berada disini" ucap Belinda bahagia.


"Kita harus bertemu sekarang! Narita Ramen satu jam lagi" ucap Sofie sembari terkekeh lalu mematikan panggilan telepon itu.


Belinda pun tengah bersiap-siap untuk menemui sahabatnya.


Narita Ramen...


Dua orang sahabat yang sedang melepas rindu sedang berpelukan dengan keharuan yang membuncah..


"Sofie kau semakin terlihat dewasa" ucap Belinda sembari menyeka air matanya.


"Kau masih imut seperti dahulu dasar gadis Asia Tenggara" ucap Sofie sembari mencubit pipi Belinda dengan gemas.


"Sedang apa kamu di Tokyo?" tanya Belinda.


"Aku sudah tinggal disini selama tiga tahun Bella. Aku menjadi tenanga relawan dan badan amal untuk anak-anak dipanti asuhan dan panti jompo" jawab Sofie.


Hal itu membuat Belinda melongo karena dia tahu bahwa Sofie seorang bangsawan di Yunani tetapi mau untuk melakukan hal itu dan meninggalkan segala kemewahan dinegaranya.


"Kenapa bangsawan mau menjadi relawan? Apakah ini bagian dari pekerjaan negara?" tanya Belinda.


"Tidak Bella, ini murni dari hatiku. Semacam panggilan jiwa" jawab Sofie.


"Tapi kenapa bisa?" Belinda bertanya lagi pada wanita bule ini.


"Semua berawal dari pernikahanku yang kandas tiga tahun yang lalu Bella. Aku sangat mencintai suamiku dan begitupun dirinya, tetapi ada keanehan pada suamiku. Lima tahun menikah dia sama sekali enggan menyentuhku. Berbagai alasan selalu dia lontarkan ketikaku mengajaknya bercinta. Semakin hari semakin membuatku down. Pernikahanku laksana ikatan semu, kecurigaanku semakin memuncak tak kala aku dengan sengaja membuka ponselnya, ratusan poto pria berotot memenuhi galeri ponselnya, bahkan disana banyak sekali video menjijikan yang dilakukan oleh pasangan sesama jenis. Oh Bella, disana aku syok dan membatin sampai aku sakit dan dirawat dirumasakit keluargaku. Dan apa kau tahu Bella, malam itu selepas pesta perayaan natal, mantan suamiku izin padaku dengan alasan temannya kecelakaan, aku pun mengikutinya tanpa dia tahu. Dia mengarahkan mobilnya kesebuah hotel, aku tetap mengikutinya. Sampai pada puncaknya aku dapat masuk kedalam kamarnya. Aku melihat dua orang pria kekar sedang melakukan hal yang menjijikan dan lebih sakitnya, suamiku saat itu yang berperan sebagai perempuannya. Oh Bella seketika tubuhku mematung, darahku serasa mendidih dan jantungku terbakar. Air mata ini telah mengalir deras seiring dengan pergumulan panas suamiku yang berhenti" Tutur Sofie dengan badan gemetar menceritakan kisah pilu pernikahannya.


Flashback Sofie tiga tahun yang lalu.


"George kau?" mulutnya tercekat kala melihat adegan menjijikan yang dilakukan sang suami dan asprinya.


"Sofie" gumam George tergagap.


Saat itu posisi George dan asprinya yang bernama Demith masih dalam posisi menyatu belum tercabut belalaianya dari lubang matahari milik George.


"Sofie, aku~~~~" George tak mampu berkata-kata. Demith segera mencabut pusaka naga geninya dari lubang matahari itu.


"Stop, kalian menjijikan! Pantas selama lima tahun pernikahan kau tak sudi menyentuhku, jadi inilah alasannya? Aku selalu berharap pernikahanku akan menjadi impain yang paling indah, ternyata mimpi yang sangat buruk yang aku dapatkan" Sofie sudah menangis tergugu.


George langsung berlari kearah Sofie, ingin memeluk wanita itu.


"Stop! Jangan sentuh aku. Kau kotor, kau breng*ek. Aku akan segera mengurus perceraian kita" Sofie masih tak bergeming dari tempatnya berdiri.


"Kita bisa berbagi pasangan, lagi pula dinegara ini yang seperti kami banyak. Kau hanya perlu menerima saja" celetuk Demith yang duduk di dashboard ranjang.


"Cuihhhhhhh,,, Aku tak sudi harus berbagi cinta dengan pria yang gemar main belakang" Sofie pun pergi dari hotel itu.


Kembali lagi ke tahun sekarang.


"Kenapa tak datang ke Indonesia untuk menemuiku Sofie? Aku akan siap mendengarkan masalahmu" Belinda memeluk erat sahabat lamanya itu.


"Saat itu aku tidak terpikir apapun Bella. Sesudah kami cerai, media setempat sedang gencar-gencarnya memata-matai kami karena gelar bangsawan yang aku sandang membuat publik tahu bagaimana kehidupan keluargaku. Semakin membuatku stres waktu itu, lalu kuputuskan untuk menjadi sukarelawan disini. Aku betah dan aku akan terus membantu orang-orang yang kesusahan" tutur Sofie.


"Pernikahan kita berdua sama-sama tragis" Belinda menghembuskan nafas berat ke udara.

__ADS_1


"Ceritakan padaku!" ucap Sofie.


"Dua mangkuk ramen dengan irisan daging wagyu, silahkan dinikmati" ucap seorang pelayan yang memecah obrolan antara dua wanita ini.


__ADS_2