
Kini usia kandungan Belinda sudah sembilan bulan. Tidak mudah baginya menjalani aktivitas selama kehamilan bayi kembarnya. Ia sudah mulai tidak nyaman siang dan malam, tetapi Aldo selalu siaga untuknya.
"Sayang, bantu aku bangun" pinta Belinda.
"Siap!" ucap Aldo semangat.
"Sayang, aku susah pakai celana" ucap Belinda.
Aldo segera menaikan celana Belinda.
"Sayang, kakiku sakit!" ucap Belinda.
Aldo segera memijat kaki Belinda.
"Sayang, aku tolong garuk punggungku" pinta Belinda.
"Baiklah istriku tercinta" Aldo segera menggaruk punggung Belinda.
"Sayang, perutku gatal" ucap Belinda.
"Aldo segera menggatuk perut sang istri.
" Anak ayah, cepat keluar ya sayang, agar bunda tidak kecapean lagi" ucap Aldo sembari menggaruk perut buncit sang istri.
Duggg!!! Bayi itu menendang tangan Aldo.
__ADS_1
"Kamu menendang ayah rupanya. Gemas sekali. Jagoan ayah Aldo" ucap Aldo sembari tersenyum.
"Bella, apa perut ini sakit? Kok jadi belang begitu?" tanya Aldo merasa ngeri lihat perut belang belinda.
"Ini tidak sakit, tetapi kadang-kadang gatal saja. Maaf ya perutku jadi jelek" ucap Belinda malu.
"Loh kok minta maaf? Aku suka dengan belang-belang ini. Ini itu seperti motif tato alami" kekeh Aldo.
Tiba-tiba Belinda mengerang sembari memegang perutnya.
"Arghhhhhhhhh sakit!" pekik Belinda.
Aldo ikut panik karena tiba-tiba ketuban Belinda keluar sangat banyak.
Di rumah sakit, semua anggota keluarga sudah berkumpul dengan cemas. Belinda melahirkan dengan cara operasi cesar
Satu bulan kemudian.
Aldo tengah berkutat dengan suara tangisan bayi kembar. Ia sengaja tidak mencari pengasuh karena Belinda memintanya untuk mengurusi si kembar berdua saja.
Setiap hari, Belinda selalu membawa si kembar ke kantornya. Dua bayi yang berjenis kelamin perempuan itu selalu anteng kala Belinda sedang bekerja.
"Sayang, semua perlengkapan baby Kita sudah siap. Ayo berangkat" ajak Aldo.
Mereka pun berangkat kerja. Meski arah perusahaan mereka berbeda, tetapi Aldo tidak mengizinkan Belinda membawa mobil sendiri. Ia dengan senang hati mengantarkan Belinda setiap berangkat ke kantornya.
__ADS_1
Sorot mata Belinda memancarkan berjuta-juta cinta kala melihat dua bayi kembar mereka. Lalu netranya memandangi Aldo, sang suami.
"Suamiku, terimakasih kamu sudah menjadi pria yang sangat mencintaiku dan menerima segalanya" ucap Belinda dalam hatinya.
Kini Belinda benar-benar sudah berdamai dengan dirinya. Memaafkan adalah sesuatu yang sudah di rapalkan dalam hatinya.
Ujian yang pahit dalam rumah tangganya dahulu dengan Ben, dan kebencian pada Tiffany kini sudah ia kubur dalam-dalam. Jika di katakan sebuah ujian, makan dirinya sudah berhasil lulus dengan nilai sempurna.
Kini ia tinggal dalam kebahagiaan yang tidak terkira.
POV Belinda.
Aku, Belinda Zahrani. Telah banyak melalui suka duka dan deraian air mata kepiluan dalam kehidupan percintaanku. Pernikahan yang dulu di harapkan berjalan hingga tua dan azal menjemput bersama Ben, nyatanya hanya bualan semata, ketika Tiffany datang menggentayangi lingkup kesucian pernikahan kami sampai pernikahanku hancur lebur bak debu terbawa angin. Tapi aku sudah ikhlas memaafkan mereka. Aku jadi ingat dengan daster ungu, baju itu yang menjadi awal kehancuran pernikahanku bersama Ben. Di tengah sisa rasa kehancuranku, Aldo datang dengan menyuguhkan sebuah cinta dan ketulusan. Siapa bisa menolak? Aku pun menerimanya. Aldo memberikan semua hatinya padaku. Kini kami sudah di karuniai dua orang anak kembar yang menambah cinta di dalam pernikahan kami.
"Hei, kenapa diam saja?" tanya Aldo pada sang istri.
"Aku hanya sedang membayangkan selalu bahagia bersama kalian" jawab Belinda melihat Aldo dan dan kedua anak kembarnya.
Aldo hanya manggut-manggut saja.
...POV Aldo....
Aku bahkan seperti mimpi ketika ku terbangun langsung melihat wajah wanita yang sangat aku cintai. Wanita yang bisa menggugah hatiku sampai aku tidak bisa berpaling pada wanita manapun di dunia ini. Sungguh, hidup bersama Belinda membuatku mengerti akan sebuah keindahan. Apalagi sekarang, Ia telah memberiku sepasang bayi kembar. Berkat Belinda lah, aku merasakan menjadi seorang ayah.
Hai, para readers. Tamatlah sudah novelku yang berjudul Tragedi Daster Ungu. Semoga kalian terhibur dengan ceritaku. Beribu terimakasih untuk kalian yang sudah memberikan like, hadiah, dan komentar. Semoga kalian sehat selalu dan banyak rejeki nya.
__ADS_1