Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Lamaran


__ADS_3

Promosi novel baru




"Tanganku di bacok orang" jawab Aldo lemah.


Kedua orang itu seketika merasakan cemas.


"Ya Tuhan Aldo, kenapa kamu bisa begini?" tanya Djoko.


Aldo pun menceritakan semua yang terjadi di vila puncak itu sampai akhirnya dirinya dan Belinda sang kekasih terluka.


"Ayo mas kita jenguk Bella" Mieke menyeret tangan sang suami agar berdiri.


"Bagaimana mau jenguk Bella, kakiku saja sakit minta ampun ini. Besok saja kalau aku sudah sehat ya" bujuk Djoko pada Else.


"Om benar tan. Besok saja, lagipula sekarang Bella sedang istirahat. Aku tidak menyangka akan begini" keluh Aldo.


"Masih beruntung kamu selamat. Tapi kalian semua yang terlibat dalam aksi penangkapan penculik itu sudah di anggap pahlawan" ucap Djoko sembari menepuk pundak Aldo.


Tiga minggu kemudian....


Belinda dan Aldo sudah pulih hanya ada bekas luka saja dan mereka pun sudah bekerja seperti biasanya.


Pagi itu Ben datang ke kantor Belinda. Entah sudah keberapa puluh cara yang ia tempuh untuk bisa mengajak Belinda bersatu tetapi selalu gagal. Kali ini Ben membawa sebuah rencana gila dan ia yakin akan berhasil.


"Pagi Bella" sapa Ben yang sangat tidak tahu malunya.


"Mau apa kau kemari?" Belinda sudah tak ingin berbasa-basi lagi dengan sosok Ben yang menurutnya sudah gila.


"Masih dengan ajakan yang sama untuk kembali menjalin mahligai" jawab Ben sembari mendudukkan bokongnya dihadapan Belinda.


"Pergi kau dari sini, aku muak denganmu" ucap Belinda.


"Aku tahu kamu masih mencintaiku hanya saja terlanjur menerim Aldo kan? Aku tahu Bella, tak segampang itu kau melupakanku apalagi aku cinta pertamamu" Ben terus saja membanggakan dirinya.


"Ckkk, percaya diri sekali kau Ben?" cerca Belinda.


"Harus percaya diri tentunya. Menikahlah dengan Aldo, tetapi langsung ajukan perceraian lalu kita akan hidup bahagia" ucap Ben tanpa berpikir jernih.


"Apa jaminannya kalau aku melakukan itu?" tanya Belinda.


"Semua yang kamu mau akan ku turuti. Kita menikah lalu pergi sejauh mungkin. Kita akan hidup bahagia" jawab Ben.


"Aku akan menikah dengan Aldo" ucap Belinda.


"Benarkah itu?" ada binar bahagia di wajah Ben karena di meyakini bahwa Belinda setuju dengan ide gila itu.


"Ya benar. Aku ingin secepatnya di nikahi Aldo agar kau bahagia Ben" jawab Belinda.


"Atur secepatnya sayang agar kita semakin leluasa untuk kembali bersatu" Ben langsung memeluk Belinda.


Belinda pun hanya tersenyum samar dengan semua hal yang Ben tawarkan.

__ADS_1


Ben pun pergi dari kantor Belinda membawa harapan dan angan-angan.


Didalam mobilnya, Ben memikirkan bagaimana caranya untuk berpisah dengan Tiffany. Jujuly Ben memang sudah tak besar mencintai sang istri. Hatinya sudah ia serahkan pada Belinda. Mungkin terdengar sangat problematik, tetapi Ben hanya ingin Belinda tidak yang lain.


Belinda sore ini sengaja datang untuk menjemput sang kekasih ke kantornya.


Di Sana Aldo pun sudah siap-siap untuk pulang.


"Hmmm" Belinda berdehem membuat Aldo menoleh ke sumber suara.


"Ukh sayang... Ada apa kamu kemari?" tanya Aldo sembari memeluk tubuh indah sang pujaan.


"Kangen dengan pacar" Belinda langsung melingkarkan tangannya di leher kokoh Aldo.


"Hmmmm, Ayo kita bermain-main sebentar" Aldo langsung menarik Belinda ke atas sofa.


Mereka berciuman saling melepaskan rindu.


"Kangen si upin" ucap Belinda dengan kerlingan mata nakalnya.


"Lakukanlah sayang" Kini Aldo sudah pasrah dengan aksi nakal Belinda.


Tangan Belinda naik turun memegang upin dengan gemasnya.


Sesudah aksi tumpeh-tumpeh, mereka pun akhirnya meninggalkan ruangan itu.


"Aldo" sapa Belinda ketika mereka sedang berdua didalam mobil.


"Hmmmmmm" Aldo hanya menjawab dengan deheman karena dirinya sedang berada di belakang kemudi.


"Apa kamu tidak ada rencana menikah dalam waktu dekat ini? Hmmm, maksudku apa kamu serius dengan hubungan ini apalagi kita selalu melakukan "kesenangan" contohnya seperti tadi" ucap Belinda dengan nada terbata-bata menahan malu.


"Maksudmu apa Aldo?" tanya Belinda.


"Aku dapat melihat keraguan di wajahmu sayang. Sejak kita menjalin hubungan selalu itu yang ingin aku tanyakan padamu tetapi aku takut kau tersinggung. Hari ini aku ingin tahu apakah perasaanku ini benar? Jika pun ada yang kurang dariku katakanlah agar kau yakin dan aku bisa memantaskan diri" tutur Aldo sembari menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Maaf Aldo, aku bukan bermaksud membuatmu merasakan keraguan tetapi perceraian lah yang membuat ku sedikit ragu untuk membuat ikatan pernikahan. Aku takut Aldo, aku takut gagal untuk kedua kali" Akhirnya Belinda mengungkapkan keresahan hatinya selama ini yang dia pendam.


"Hmmm, aku sudah menduganya. Dengar Bella, aku dan Ben itu beda! Aku mencintaimu bukan satu tahun ataupun dua tahun. 15 tahun aku selalu mencintaimu dalam masa pencarianmu. Sejak kita menjadi sepasang kekasih, aku sudah ingin menikahi mu tetapi aku mencium kata ragu dalam dirimu. Aku tanya apa kamu terpaksa menerimaku? Jujur saja karena aku benci kebohongan" tegas Aldo memastikan.


"Jujur saja awalnya aku menerimamu karena ingin melupakan Ben, setelah kita lalui semuanya, aku menjadi sangat mencintaimu Aldo" Belinda berkata dengan jujur apa yang dia rasakan.


"Aku percaya padamu sayang. Menikahlah denganku" ucap Aldo tenang tapi tegas.


"Aku takan menolaknya" jawab Belinda dengan air mata keharuan.


"Serius kah itu?" Aldo sudah menggenggam tangan Belinda.


"Tidak ada kebohongan untuk sesuatu yang sangat membahagiakan!" jawab Belinda.


"Bella sayang, aku sangat bahagia. Besok aku akan membawa keluargaku ke rumah om Dhanu" OMG hati Aldo sangat berbunga-bunga. Cinta yang dia perjuangkan selama lima belas tahun akhirnya tercapai.


"Aku akan bilang pada papa dan mama soal lamaran ini" ucap Belinda.


"Terimakasih Bella aku sangat bahagia" Aldo memeluk dan menghujani ciuman bertubi-tubi pada sang kekasih.

__ADS_1


Belinda pun sudah sampai di rumahnya.


"Ma, pa besok keluarga Aldo akan kemari melamar ku" ucap Belinda.


"Benarkan itu? Syukurlah Bell kamu sudah melupakan Ben. Papa akan menerima keluarga Aldo dengan sebaik-baiknya" ucap Dhanu sangat bahagia.


"Tapi kamu sudah yakin sepenuhnya sayang?" sang ibu tidak ingin melihat Belinda kecewa yang kedua kalinya dan tak ingin Belinda seolah terpaksa dengan hubungannya dengan Aldo.


"Aku yakin sepenuhnya ma. Aku yakin Aldo akan bisa membahagiakan lahir dan batinku. Restui kami" Belinda memohon pada orang tuanya.


"Kami sangat merestui mu sayang. Bahagia lah nak dengan pilihan hatimu. Jika kau bahagia kami juga akan lebih bahagia. Lupakan masa lalu buruk mu dengan Ben, kasihi lah Aldo sepenuh hati dan jiwamu. Jika kau sudah menjadi istinya, papa minta berbaktilah padanya seperti mamamu yang selalu sabar pada papa walau di masa lalu papa sempat melakukan kesalahan yang besar" kini pria paruh baya itu menangis hatu memeluk sang putri.


"Terima Kasih mama dan papa" Belinda pun menangis haru.


Kini giliran Aldo yang akan mengatakan pada keluarganya.


"Bu, besok saya akan melamar Bella. Saya harap ibu akan mendampingin saya" ucap Aldo sembari duduk disebelah ranjang sang ibu.


"Benarkah itu nak? Ibu sangat bahagia mendengarnya. Pasti nak pasti, ibu akan ikut mendampingi mu sayang" jawab Hilda terharu.


"Terimakasih bu" Aldo memeluk raga renta itu.


"Semoga kamu selalu bahagia nak" kini Hilda menangis di pelukan sang putra.


"Amin" ucap Aldo.


Sarah masuk ke kamar sang ibu dan heran kenapa Hilda menangis.


"Ada apa ini Kak Aldo?" tanya Sarah yang baru pulang bekerja.


"Kakakmu akan melamar kekasihnya" ucap Hilda.


"Kak Bella?" tanya sarah.


"Ya, siapa lagi memangnya aku punya kekasih berapa" ucap Aldo.


Sarah tersenyum bahagia.


"Syukurlah kak jika begitu. Aku akan menghubungi Kak Sigit dan Kak Dimas untuk ikut mengantarmu besok" Sarah langsung keluar dari kamar menghubungi kedua kakaknya.


Aldo pun pulang dari rumah sang ibu, lalu lanjut ke rumah sang paman.


"Om / tante, besok aku akan melamar Bella. Aku harap kalian mau menemaniku" pinta Aldo.


Pltakkkkkkkk!!!! Mieke melemparkan tutup bolpoin ke kening Aldo.


"Kau ini bicara apa, tanpa diminta pun kami akan mengantarmu" ucap Mieke dengan rasa terharu.


"Tapi gak pakai lempar tutup bolpoin juga dong tan" cebik Aldo.


"Habisnya kau seperti sungkan begitu. Kami ini sudah anggap kau sebagai anak kami sendiri Aldo. Apapun yang kau lakukan kami pasti mendukungmu. Besok kami akan siap mengantarmu" ucap Mieke.


"Apa sudah memilih cincinnya?" tanya Djoko.


"Belum" jawab do.

__ADS_1


"Besok pagi kita cari berdua ke toko perhiasan langgananku" ucap Mieke.


Aldo pun menyetujui ucapan Mieke.


__ADS_2