Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Kenapa Harus Berzin*??


__ADS_3

Mereka pun keluar dari kamar hanya menggunakan bathrobes tanpa di sangka sepasang mata murka dengan mereka.


"Kalian?" Ben menjadi gelagapan melihat sosok wanita yang dia cintai memadangnya dengan penuh angkara murka.


"Ekh Kamu Fani! Sejak kapan kamu ada disini?" tanya Belinda dengan sengaja menggoda.


"Hmmmm,, Aku dari tadi. Hanya kalian tidak muncul-muncul jadi aku masuk saja" jawab Tiffany dengan muka sebalnya.


"Owh maaf adiku tersayang! Aku sama suamiku baru saja selesai mandi berdua, kami saling menyabuni dan bercanda sepanjang di dalam kamar mandi" Belinda lagi-lagi mengatakan itu supaya tahu reaksi dari sang adik.


"Terdengar romantis!" balas Tiffany.


Hatinya sudah sangat murka, Ben hanya diam dengan wajah menahan bersalah.


"Memang kan kami pengantin baru! Benar kan sayang" Belinda semakin mengeratkan pelukannya pada Ben.


Ben hanya diam dan mengangguk saja.


Cup!!!! Sebuah ciuman mendarat di pipi Ben! Belinda menciumnya dengan sangat mesra membuat Tiffany semakin bergejolak hatinya.


"Maaf aku mengganggu kemesraan kalian! Aku hanya ingin mengantar berkas yang papa suruh berikan padamu! Permisi" Tiffany langsung keluar dari rumah itu.


Di dalam mobil dia menangis, mengumpat dan memaki sang kekasih dan kakaknya.


"Ben kau brengs*k, kau bilang tidak akan menyentuh Kak Bella, tetapi nyatanya kau malah seperti itu. Kak Bella andai kamu tahu pria yang kau cium itu adalah kekasihku. Bangsat kalian" Tiffany marah sembari memukul-mukulkan tangannya ke kemudi.


Sementara Ben sudah tak tahan dengan sikap manja yang tiba-tiba dari Belinda.


"Bella, apa-apaan kamu ini? Kau sedikit berlebihan dengan sikapmu" Ben jengah dengan sang istri.


"Loch, kenapa kamu marah? Wajar dong kita kan suami istri. Jika pun kita melakukan hubungan int*m di depan Tiffany, dia tak akan marah hanya mungkin malu sendiri" Belinda semakin memancing Ben untuk marah.


"Kau ini sungguh berlebihan. Aku malu dengan adikmu" ucap Ben dengan rahang mengeras.


"Haruskah aku meminta maaf pada Tiffany karena dia melihat adegan romantis kita dengan bilang" Oh adiku maafkan aku karena sudah beradegan itu di depanmu. Semoga kekasihmu yang pengecut itu mau menampakan batang hidungnya agar kau bisa merasakan mandi bersama seperti kakakmu ini" Begitu Ben? Kau ini sangat aneh" Belinda kemudian meninggalkan Ben. Rasanya dia ingin merobek ginjal sang suami karena dia secara tidak langsung melindungi perasaan sang kekasih.


Ben segera mengganti pakaiannya, dia pun mengambil kunci mobilnya.


"Mau kemana kau?" Belinda seolah tahu bahwa Ben akan menemui cintanya itu.


"Bukan urusan mu wanita otoriter" Ben pun berlalu dengan membanting pintu.


"Pergi sana yang jauh, aku muak dengan pria sepertimu...Hihikhik" Belinda kembali menumpahkan air matanya.


"Aku harus mengetahui kemana perginya dia" Belinda segera menyambar kunci mobilnya. Dia pun mengikuti Ben dari jarak lumayan jauh agar tidak di ketahui oleh Ben.


Ben di dalam mobil segera menelepon sang pujaan.


Satu panggilan!!!!!!!


Dua panggilan!!!!!


Tiga panggilan!!!!


Sampai sepuluh panggilan Tiffany tak ingin menjawab panggilan telepon dari Ben sampai Ben merasa prustasi. Dia pun mengirimkan pesan pada Tiffany.


"Haruskan aku mengakui malam ini juga pada dunia bahwa kau hanya wanita yang aku cintai dan nantikan. Fany sayang berilah aku kesempatan untuk bicara agar kau tidak salah faham sayang. Aku tidak sanggup jika kau seperti ini. Balas pesanku atau aku akan benar-benar menjauh darimu sayang" Pesan dari Ben melalui Whatsap nya sang kekasih yang langsung centang biru.

__ADS_1


"Vegasus Hotel" balas Tiffany yang langsung di iyakan oleh Ben.


Mobilnya langsung berbelok ke arah lokasi yang Tiffany tunjukan.


Belinda dari belakang setia menguntit sang suami.


"Mau kemana kau Ben? Kau sudah bertindak di luar batas! Ya Tuhan semoga mereka tidak melakukan hal yang bisa menuntun mereka ke lembah dosa. Jika itu terjadi maka aku, dan kedua orang tuaku akan ikut menangung dosa mereka" Belinda bermonolog dalam hatinya sembari di temani isak tangis kepedihan.


Mobil Ben berhenti di sebuah hotel yang di sebutkan Tiffany. Ben segera memasuki hotel itu dan langsung memesan kamar.


"Room dengan fasilitas terbaik" ucap Ben.


Resepsionis cantik itu segera memberikan kunci kamar itu pada Ben.


Belinda sudah berpenampilan serba tertutup dengan masker dan kacamata hitamnya, jangan lupakan mantel hitam tebal melekat ditubuhnya.


"Ben kau benar-benar bajingan" ucap Belinda geram.


Seseorang menyapanya.


"Selamat malam Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang OB


Ide bagus tiba-tiba muncul.


"Bisa ikut saya sebentar?" ucap Belinda.


"Baiklah Nyonya!" ucap pria muda itu.


"Saya ada pekerjaan untukmu! Apa kamu bisa membantu saya meletakan kamera ini di kamar yang di pesan atas nama Ben Lazuardy? Saya akan memberikan harga yang tinggi untuk pekerjaan kamu yang sangat mulia ini!" Belinda membujuk pria muda itu untuk sudi di ajak kerjasama.


Pemuda itu tampak ragu tapi Belinda mencoba meyakinkannya.


Sebenarnya dia benci cara ini, menurutnya sogok menyogok adalah perbuatan yang hina, tetapi lebih hina lagi perbuatan Ben dan sang adik.


Wajah pemuda itu langsung berbinar cerah.


"Baiklah Nyonya jika begitu" OB itu menyanggupinya.


"Ini kameranya letakan di depan dan sisi ranjang tamu! Kamu bisa beralasan ada sesuatu yang harus di bersihkan atau di tambahkan di room itu. Jika mereka sudah pulang, kamu bisa menemui saya di sini untuk mengembalikan kamera dan saya akan langsung memberikanmu uang. Cepat, tidak ada waktu lagi" Belinda segera menyuruh pemuda OB itu untuk melancarkan aksinya.


Tak lama pesan dari seseorang yang tidak di kenal.


"Nyonya kameranya sudah saya pasang di tempat yang aman dan tidak akan di ketahui" ucap pemuda OB tadi.


Senyum smirk Belinda hadir. Dia langsung menyambungkan kamera itu pada ponselnya. Disana langsung terlihat Ben sedang duduk termenung di pinggir ranjang.


Belinda melihat mobil yang Tiffany kemudikan Belinda tersenyum miris.


Skip


Tiffany mengetuk pintu kamar yang bernomor 107, Ben langsung membukanya. Ben langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Sayang, maafkan aku cinta. Aku sungguh tak melakukan apapun dengan Bella. Kau harus percaya padaku sayang. Seujung kuku pun aku tak mencintai Bella. Hanya ada kamu di hati dan sanubariku. Percayalah sayang" Ben memoho agar sang pujaan percaya kata-katanya.


"Tapi kau terlihat romantis dengan Kak Bella. Ben, aku sudah tak tahan lagi dengan ini semua. Kau harus segera mengakhiri pernikahan ini, Aku ingin secepatnya kalian bercerai dan kau menikahiku!" Tiffany berbicara dengan nada yang keras.


"Apa kau siap dengan semua konsekuensi nantinya? Bagaimana jika hubunganmu dengan Bella hancur dan ayahmu masuk rumasakit karena jantungnya kumat!" Ben mencoba bernegosiasi dengan sang kekasih.

__ADS_1


Tiffany terdiam.


"Aku sama sekali tidak perduli dengan Kak Bella karena dari dulu pun aku tidak dekat dengan dia. Aku benci Kak Bella karena papa selalu memprioritaskannya di banding aku" ucap Tiffany.


"Apa tidak ada sedikit cinta dan kasih sayang untuk kakakmu itu? Dia kan selalu memberi apa yang kamu mau sayang?" Ben bertanya lagi memastikan.


"Hanya sedikit! Ya memang sudah seharusnya seorang kakak berkorban untuk adiknya" Tiffany menjawab dengan angkuhnya.


"Apalagi dia sudah merebutmu dariku. Rasa benciku padanya kian membukit" ucapnya lagi.


Belinda yang mendengar percakapan dari Video itu seketika luruhlah air matanya. Dia tidak menyangka jika hati sang adik di penuhi duri.


"Dari dua puluh lima tahun usiamu, aku baru tahu sekarang jika kau memendam iri, dengki dan benci terhadap kakakmu ini adiku! Aku tidak menyangka ternyata ucapan itu keluar dari mulut seorang adik yang sedari kecil aku cintai, kasihi, lindungi, makan aku suapi di kala pengasuh tidak ada, bahkan aku yang membersihkan kotoranmu (menceboki) dikala kita masih sama-sama kecil. Dengan tanganku, ku bersihkan kotoranmu tapi apa balasannya sekarang, kau memberi aku kebencian" Tangis Belinda semakin menguar di dalam mobilnya.


Ben menghela nafas panjang! Dia kasihan terhadap Belinda yang dia tahu sangat mencintai adiknya walau mereka tidak harmonis tetapi dia akan mengalah jika Tiffany menginginkan barang apapun miliknya.


Tiffany kemudian memeluk tubuh Ben. Ben pun balas memeluknya lalu membaringkan tubuh sang kekasih di atas ranjang.


"Aku butuh pelepasan" ucap Ben.


"Aku pun begitu sayang" ucap Tiffany.


Mereka pun melakukan itu. Belinda melihat setiap inci demi inci apa yang di lakukan oleh dua sejoli ini. Rasa jijik dan mual menyelimuti dirinya.


"Kenapa kalian harus berzin*? Ya Tuhan maafkanlah dosa kekuargaku" Belinda tergugu di balik kemudi mobilnya. Menangis dan kecewa sudah barang tentu dia rasakan.


Belinda mendengar des*h*n dan er*ngan yang saling bersahutan. Ben dengan cepat memompa sosok yang berada di bawah kungkungannya. Tiffany terus meracau.


"Sehina itu kau Fany? Badanmu hanya jadi alat pembuangan cairan laknat seorang pria? Kau wanita yang tidak punya nilai! Tidak punya harga diri! Murahan" Belinda terus memaki.


"Tadinya aku ingin merelakan Ben untuk kebahagiaan kalian, sebelum ku tahu fakta bahwa kau sangat membenciku setelah apa yang ku lakukan pada mu. Cinta, kasih dan pengorbananku tak ada artinya di matamu. Baiklah aku harus bermain-main dengan adik kecilku ini. Kau membangunkan singa yang tertidur" Belinda berbicara dengan jari tangan terkepal.


Tak lama, akhirnya dua sejoli ini mencapai puncaknya. Tiffany dan Ben menjerit bersama, lalu mereka terkulai lemas.


Melihat itu Belinda sangat muak! Dia segera menyimpan video rekaman itu agar suatu saat bisa di jadilan bukti.


Ben dan Tiffany akhirnya keluar dari kamar hotel itu. Pemuda OB itu langsung ke kamarnya dan mengambil kamera tersembunyi hang dia pasang.


"Berantakan sekali ranjang ini. Bahkan balon pengaman bekasnya tergeletak begitu saja di atas ranjang! Dan iuchhhhhh masih menyisakan cairan menjijikan" ucap pemuda OB itu sembari bergidik.


Dia lalu menghampiri mobil yang belinda diami. Pemuda itu mengetuk kaca mobilnya lalu menyerahkan dua kamera kecil milik Belinda.


"Kerja yang bagus! Mana no rekeningmu?" tanya Belinda.


Pemuda itu langsung memberikan no rekeningnya. Belinda langsung mentransfer uang yang membuat pemuda OB itu melotot seakan tak percaya.


"Maaf nyonya ini sepertinya salah" ucapnya.


"Kenapa masih kurang?" tanya Belinda.


"Tidak Nyonya ini bahkan sangat lebih. Saya akan kembalikan. Lagi pula perjanjian awalnya kan sepuluh juta, kok anda memberi saya seratus juta? Ini kebanyakan" ucap Pemuda itu.


"Ini sengaja saya berikan karena pekerjaanmu bagus" ucap Belinda.


Pemuda itu sangat senang, dia berkali-kali mengucapkan terimaksih pada Belinda.


Belinda pulang dengan membawa luka yang menganga di hatinya.

__ADS_1


Semoga tidak di tolak lagi ceritanya


__ADS_2