Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Janji Pernikahan


__ADS_3

Belinda menatap damba pada gaun pernikahannya. Perpaduan kain satin ivory dengan brukat dan berbelahan dada tidak terlalu tinggi dan pinggang gaun yang ramping akan siap dipakaikan pada tubuh Belinda.


"Silahkan di coba dahulu nona, agar kami bisa memperbaiki jika ada yang kuran" ucap pelayan butik itu dengan ramah.


"Baiklah" balas Belinda sembari berjalan ke arah ruang ganti.


Aldo hanya duduk tenang menunggu Belinda mencoba gaun pernikahannya. Tak lama sang pujaan keluar dari ruang ganti lalu berjalan keraha Aldo.


Saat itu, mata Aldo melotot seakan ingin keluar dari tempatnya melihat penampilan sang calon istri begitu lux dimatanya.


"Very beautiful. Sayang kau sangat cantik" ucap Aldo.


"Hmm,, benarkah?" tanya Belinda sembari berputar ke kanan dan ke kiri.


"Aku tak sabar ingin melihatmu memakai gaun itu di pernikahan kita" ucap Aldo sembari berjalan ke arah Belinda lalu memeluk dan menciumnya.


"Sayang, jangan genit disini! Lihat kita jadi pusat perhatian" Belinda sedikit malu.


"Aku tidak tahan ingin menciummu" bisik Aldo dengan nada sensual.


"Ikh, tapi ini tempat umum bagaimana jika mereka iri pada kita" balas Belinda.


"Yasudah lanjutkan saja nanti di rumahku ya" Aldo berbicara sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Ikh nakal deh" Belinda dengan gemas mencubit perut kotak-kotak Aldo.


"Gak boleh nolak" sanggah Aldo.


"Mana bisa aku menolaknya sayang" balas Belinda.


Sementara Mieke dan Hilda melihat-lihat gedung yang akan di pakai untuk resepsi pernikahan anak dan keponakannya. Mereka sudah berdamai dan memaafkan satu sama lain. Hilda duduk di kursi roda di dorong oleh sarah.


"Bagaimana jika kita pakai hotel ini untuk resepsi?" tanya Hilda.


"Boleh juga. Tapi kita lihat dulu fasilitasnya" ucap Mieke.


Setelah seharian berkeliling mencari hotel yang cocok, akhirnya pilihan kedua perempuan sepuh itu jatuh kepada The Grand Balinese Hotel.


"Semoga pernikahan Aldo selalu di liputi kebahagiaan" ucap Mieke penuh harap.


"Mbak juga inginnya begitu. Tidak sabar rasanya segera mempunyai cucu" balas Hilda dengan rasa haru.


Mereka pun pulang setelah lelah seharian mempersiapkan tempat pernikahan Aldo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini tak ada hal yang membuat Tiffany bahagia. Rasa iri akan pernikahan sang kakak menggelayut manja di dalam pikirannya.


Setiap wanita pastinya ingin hal yang berbeda di hari bahagianya. Tapi apa dengan Tiffany? Setidak beruntung kah hidupnya bahkan pernikahannya pun dengan Ben terlaksana alakadarnya.


Dirinya mematut di cermin. Melihat sosok yang menurutnya cantik.


"Aku tak kalah cantik dengan Kak Bella, tetapi kenapa dia selalu beruntung. Dia pintar dan bisa memimpin perusahaan papa dengan benar, sedangkan aku? Bahkan memilih apapun aku harus tergantung dengan Kak Bella" ucapnya frustasi.


Tak lama Ben pun datang ke kamarnya menghampiri Tiffany yang diam termangu.

__ADS_1


Ben tahu, sekarang keadaan sang istri sedang tidak baik-baik saja. Hatinya sangat sensitiv apalagi ia masih marah sewaktu pada Ben dan Listyo sang papi mertua.


"Sayang!" sapa Ben sembari memeluk sang istri dari belakang berharap meredakan kecemasan Tiffany.


Diam tak ada jawaban.


"Are you oke, beib?" tanya Ben.


"Tidak! Ben, aku ingin pernikahan kita segera di resmikan di catatan sipil. Aku ingin hubungan kita jelas dan aku ingin pernikahan kita di rayakan" pinta Tiffany.


Ben langsung melepaskan pelukan itu, diam termangu seakan enggan menanggapi apa yang di ucapkan oleh Tiffany. Alih-alih ingin menceraikan Tiffany dan menjalankan rencananya bersatu kembali dengan Belinda, malah Tiffany ingin pernikahan itu di resmikan.


"Ini gila. Sungguh gila! Mana mungkin aku ingin meresmikan pernikahan ini" sungut Ben dalam hatinya.


"Kenapa kau diam Ben?" tanya Tiffany.


"Aku belum terpikir akan hal itu. Hmm,, maksudku sekarang aku benar-benar sibuk jadi bisakah di tunda saja" ucap Ben.


Tiffany jengkel karena merasa Ben tidak mementingkan pernikahannya.


"Apa kau anggap pernikahan kita tidak penting, hah? Kau aneh Ben. Tinggalkan aku sendiri. Aku muak dengan mu" Tiffany mengusir Ben dari kamarnya.


" bukan begitu, Fany! Aku pasti meresmikannya tapi tidak sekarang" sanggah Ben.


"Keluar!" Tiffany sudah tidak mau melihat Ben.


Ben pun mengalah dan keluar dari kamar Tiffany.


Ben sengaja pulang ke kediaman Listyo karena saat ini Tiffany sedang ingin sendiri.


"Mana istrimu?" tanya Listyo heran melihat kedatangan Ben seorang diri.


"Aku hanya sendiri" jawab Ben lalu mendudukkan bokongnya di sofa dekat Listyo.


"Mana bisa kau pulang tanpa membawa Tiffany? Apa dia masih marah pada papi? Atau kalian bertengkar lagi?" Kini Listyo berkata sembari menaruh segelas kopi yang tadi ia minum.


"Tidak pi. Aku hanya sedang bingung saja tiba-tiba Tiffany memintaku untuk melaksanakan pesta pernikahan dan tentunya ingin menikah resmi secepatnya.


"Laksanakan lah! Kalian kan sudah menikah apa susahnya?" ucap Listyo.


"Nah itu pah kendalanya!" selah Ben frustasi.


"Maksudmu apa?" tanya Listyo heran.


"Aku ingin pisah dengan Tiffany" Ben spontan berbicara begitu.


"Apa? Sekali lagi kau bilang!" bentak Listyo.


"Ya aku ingin bercerai pi. Aku sudah tidak selera menjalani mahligai dengan dia" jawab Ben.


Plak!!!! Sebuah tamparan mendarat di permukaan pipinya.


"Apa kau anggap istrimu itu makanan, hah? Selera ataupun tidak, dia sudah jadi istrimu. Jangan jadi pria pengecut" geram Listyo.


Ingin rasanya menelan Ben hidup-hidup karena tingkah lakunya di luar perkiraan BMKG.

__ADS_1


"Pi aku sudah tak mencintai Tiffany" Ben memelas.


"Jangan seperti anak kecil. Dan ingat, jangan kecewakan aku kembali" Listyo berjalan meninggalkan Ben sendiri.


Ben kembali lagi memutar ingatannya soal pembicaraannya dengan Belinda ketika membahas soal keinginannya untuk bersatu kembali lewat jalur pernikahannya dengan Aldo.


"Entah bagaimana nanti jika Fany tahu" hela nafas bersalah dari Ben.


Tapi hatinya yang menggebu untuk kembali lagi pada Belinda mengalahkan hati nurani dan pikiran bersihnya. Ben tidak berpikir jika niatnya terlaksana maka akan ada hati yang akan tersakiti dan di rugikan. Belenggu rasa cinta mengalahkan logika, memupus arti sebuah janji suci yang sudah ia gaungkan pada Tiffany di depan yang maha kuasa. Padahal ia tak tahu apakah Belinda mengiyakan atau tidak karena tidak pernah tercetus dari mulut Belinda untuk kembali bersamanya.


Iblis seakan selalu berbisik dihatinya untuk menjadi pria yang selalu mempermainkan apa arti pernikahan.


...**************...


Kini Aldo dan Belinda duduk di dalam mobil yang sengaja di tepi kan. Mereka memandang deretan bintang-bintang yang terhampar di pekatnya langit malam.


"Sayang!" sapa Aldo sembari merekatkan pelukannya.


"Hmmmm!" hanya deheman yang terdengar di bibir Belinda.


"Sebelum kita menikah, apa kamu ingin mengajukan sebuah perjanjian pra-nikah padaku?" tanya Aldo.


Belinda langsung memandang ke arah Aldo.


"Untuk apa sayang? Apa perlu pernikahan seperti itu? Pernikahan yang di dasari rasa cinta itu tidak perlu ada hitam di atas putih untuk berandai-andai jika suatu saat ada masalah. Tapi jika kamu mau begitu? Lantas apa yang akan kamu tuntut dari calon istrimu ini?" Belinda mengusap rahang kokoh itu sembari memandang lekat wajah Aldo.


"Aku tidak akan menuntut apapun darimu sayang. Aku hanya ingin kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Aku tidak akan membatasi duniamu dalam berkarir karena aku tahu, kamu adalah tumpuan harapan dari keluargamu. Tapi ada satu permintaanku dan aku ingin ada dalam surat pra-nikah" ucap Aldo menandang intens wajah Belinda.


"Apa itu?" tanya Belinda.


Lalu Aldo mengambil selembar kertas dan bolpoin yang terdapat di dalam dashboard mobilnya. Ia menuliskan sesuatu kalimat lalu memperlihatkan tulisan itu pada Belinda.


(Jika ada salah satu di antara kita mengkhianati pernikahan ini, maka suka atau tidak kita harus saling meninggalkan, melupakan dan anggap saja tidak pernah kenal satu sama lain. Perceraian harus segera di laksanakan). Itulah ungkapan dari seberkas kalimat yang Aldo torehkan pada tinta hitam itu. Hal itu Aldo buat semata-mata agar pernikahannya tidak ternodai dengan yang namanya pengkhianatan.


"Apa kamu setuju, sayang?" tanya Aldo menatap penuh harap.


"Ya aku setuju" balas Belinda.


Aldo pun mengambil materai, lalu menempelkan di sisi bawah kertas itu kanan dan kiri.


"Kamu dahulu yang tandatangani" perintah Aldo.


Belinda kemudian menggoreskan tinta itu atas nama dirinya.


"Giliran kamu" ucap Belinda.


Aldo juga menggoreskan tinta hitam atas dirinya.


"Pengacaraku akan mengaturnya sayang" ucap Aldo.


"Semoga pernikahan kita langgeng dan selalu di penuhi cinta kasih" ucap Belinda sembari menitikkan air mata.


Aldo mencium tangan Belinda dengan penuh sayang.


"Amin, sayangku" balas Aldo.

__ADS_1


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang.


__ADS_2