
Tiga bulan sudah Aldo pergi ke Australia untuk mengurusi pemasaran produk perusahaannya sekaligus menenangkan dirinya di sana. Ia rasanya enggan kembali ke Indonesia selepas perpisahannya dengan Belinda. Jika mengira saat ini Aldo sudah melupakan cintanya pada Belinda, itu salah besar. Belinda masih bercokol kuat di hatinya walau Aldo menolak mati-matian rasa itu tapi tetap tidak bisa. Aldo pun meyakini bahwa Ben dan Belinda sudah menikah tetapi yang Aldo herankan kok tidak ada surat cerai yang ia dapatkan.
Sebuah panggilan dari Mieke membuyarkan lamunannya.
"Hallo!" sapa Aldo.
"Aldo kapan pulang? Bagaimana kabarmu?" tanya Mieke.
"Entahlah tan! Aku rasanya enggan kembali ke Indonesia. Aku baik kok, sangat baik" jawab Aldo menyakinkan agar Mieke tidak banyak bertanya.
"Aldo jangan bohong padaku. Kau tidak baik-baik saja kan? Sudah lima kali Belinda datang ke rumahku menanyakan keberadaan mu Aldo. Tante pun sebenarnya tidak tega dengan dia. Badannya menjadi kurus dan matanya sedikit menghitam. Aldo berikan keputusan agar Bella tidak mengharapkan mu lagi. Kasian dia' ucap Mieke.
"Entahlah tan! Biarkan seperti air mengalir saja" balas Aldo.
"Jika kamu memang sudah tak menginginkannya, ceraikan saja, Aldo agar dia bebas" pinta Mieke.
Mana Bisa seorang Aldo menceraikan wanita yang sangat di cintainya. Aldo tak sanggup harus melontarkan kata talak untuk istri yang baru ia pinang sehari itu sebelum Aldo pergi karena ulah Ben.
"Aku takan menceraikan Bella, tan! Aku tak sanggup. Biarlah Bella yang menceraikan ku saja tapi sampai saat ini Bella belum mengirimkan surat cerai itu padaku" ucap Ben sedikit sesak dalam hatinya.
"Dengar, nak tidak ada yang menceraikan dan di ceraikan. Bella masih istrimu. Tante harap kamu pulang ya sayang, luruskan masalahmu dengan Bella" ucap Mieke.
"Aku akan pulang jika aku sudah siap tan! Maafkan aku yang selalu buat tante khawatir. Sehat-sehat ya tante dan om di sana" ucap Aldo.
Mereka pun mengakhiri panggilan telepon itu.
Sementara Belinda sudah hampir tiga hari tak menyentuh makanannya. Ia hanya minum saja karena setiap harinya selalu disibukan mencari tahu dimana keberadaan Aldo tetapi keluarganya tidak ada yang memberitahu. Terkadang pengusiran yang Bella dapatkan terutama dari Mieke.
"Kenapa tidak dimakan kak?" tanya Tiffany sembari memegang perut buncitnya.
Ya Tiffany kini sedang hamil. Usia kandungannya sudah lima bulan tetapi ia tak ingin bersatu dengan Ben walau ia tahu nanti anaknya akan membutuhkan sosok seorang ayah. Ben sudah sering memohon agar Tiffany mengampuninya tetapi tekad untuk bercerai sudah bulat.
"Kamu yang seharusnya makan yang banyak, Fany. Bayi kamu harus sehat dan jangan cape-cape" balas Belinda.
"Bagaimana kabar Aldo sekarang? Apa kak Bella sudah tahu dimana dia sekarang?" tanya Tiffany sembari mendudukkan bokongnya disebelah Belinda.
Belinda menggeleng lemah, raut sedih tergambar sudah di wajahnya.
"Aku sudah menanyakan semua keluarganya, mendatangi rumahnya setiap hari, memohon, tetapi jawaban mereka masih sama. Sebenci itukan mereka padaku?" Belinda kini menangis kembali.
Tiffany segera memeluknya.
"Sudah kak sudah. Aku yakin kalian akan bersatu kembali. Aldo pergi hanya untuk menenangkan dirinya. Rasa cintanya padamu lebih besar ketimbang rasa bencinya" ucap Tiffany.
Belinda hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Pagi itu, Belinda mendatangi kembali rumah Djoko untuk mengatakan keberadaan Aldo dimana. Awalnya Mieke ragu untuk memberitahukan keberadaan sang keponakan, tetapi saat Belinda bersimpuh ia menjadi sangat iba.
"Sydney, Grand Lily Apartemen. Di Sana Aldo tinggal, unit 23. Jemput Aldo nak. Bicara yang sejujur-jujurnya agar Aldo mengerti. Percayalah Aldo masih sangat mencintaimu" 0ucap Mieke sembari merangkul Belinda.
,Belinda menangis di pelukan Mieke, ia pergi untuk bersiap-siap terbang ke Australia.
Saat ini Belinda sedang mengemasi barang-barangnya untuk berangkat ke Sydney.
Dhanu menghampiri bergerak melalui kursi rodanya. Bibirnya menceng karena ia menderita stroke.
"Pa, aku pamit pergi ke Australia. Do'a kan aku pa semoga aku bisa meluluhkan hati Aldo" ucap Belinda.
Dhanu hanya mengangguk sembari menitikan air matanya.
Kini Belinda sudah sampai di apartemen yang di huni Aldo. Ia pun tinggal di unit sebelah Aldo agar bisa cepat bertemu Aldo.
Belinda langsung menata semua barang-barangnya.
Saat ini Aldo tidak ada di unitnya. Ia sedang ada pekerjaan dan malam hari ia baru kembali ke apartemennya.
Malam ini Belinda bertekad ingin menyelesaikan masalahnya dengan Aldo. Apapun keputusan yang akan Aldo ambil, Belinda sudah pasrah.
"Bella, kenapa kamu tidak bisa hilang dari pikiranku" Aldo berkata sembari membuang nafas berat.
"Jujur bahwa saat ini pun aku tidak bisa berhenti mencintaimu" ucapnya lagi.
Aldo pun mandi, sesudah selesai dirinya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang di lilitkan pada pinggangnya.
Drtttttt!!!!!!!!! Suara bel berbunyi, Aldo pun berjalan menuju pintu, Aldo sempat tertegun sebentar kala mengetahui siapa yang datang. Ia melihat sosok itu dari lubang pintu.
"Bella!" gumamnya.
Drttttttt!!!!!! Bel itu kembali berbunyi. Aldo pun segera membukakan pintu.
Terlihat Belinda berdiri sendu menatapnya. Tubuhnya yang berisi kini terlihat kurus dan dimatanya terdapat cekungan sedikit hitam.
"Bella!"
"Aldo" Seru keduanya.
"Masuk!" ucap Aldo dingin tetapi debaran jantungnya tidak bisa di bohongi.
Mereka duduk di kursi saling berhadapan.
__ADS_1
"Aldo, maaf aku mengganggumu" ucap Belinda lirih dengan kepala tertunduk.
"Hmmmmm" hanya deheman yang Aldo lontarkan.
"Aku sungguh minta maaf untuk semuanya" ucap Belinda kembali.
"Aku sudah memaafkan mu" balas Aldo.
"Mana surat pengadilannya? Atau sekarang kamu sudah bersatu dengan Ben?" tanya Aldo mengintimidasi.
Belinda langsung berhambur pada Aldo, ia menangis memeluk Aldo. Jujur Aldo pun ingin memeluk wanitanya tetapi sedikit ego dalam dirinya yang enggan.
"No, sayang! Mana mungkin aku mengajukan perpisahan padamu. Aldo percayalah hanya kamu yang ingin aku miliki. Aldo, aku, aku.. Hikhikhik" kini Belinda sudah menangis di pelukan Aldo.
"Papa stroke, Tiffany hamil tanpa suami dan aku sakit tanpamu Aldo. Aku sama sekali tidak pernah mengkhianatimu" Belinda memeluk Aldo semakin kencang.
Aldo tak kuasa menahan untuk tidak menitikan air mata lelakinya.
Merasa Aldo diam saja tanpa adanya respon apapun, membuat Belinda yakin bahwa Aldo memang sudah enggan bersama dirinya.
Belinda pun berdiri memandang Aldo dengan tatapan sedihnya.
"Baiklah Aldo jika kamu memang masih kecewa padaku, tak apa. Aku sudah bicara sejujurnya. Atau mungkin dirimu lah yang sudah mempunyai kekasih lagi. Aku pamit, maaf sudah menggangu ketenanganmu" Belinda pun melangkahkan kakinya hendak keluar dari apartemen Aldo, namun suara Aldo menghentikan langkahnya.
"Bella!" ucap Aldo.
Belinda pun menoleh padanya.
"Apa kamu ingin meninggalkanku sendiri, hem?" tanya Aldo lirih.
Belinda langsung berlari kepelukan Aldo.
"Sayang, aku sangat mencintaimu" Belinda mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke wajah Aldo.
"Aku pin begitu. Maafkan aku sudah tidak percaya padamu. Aku tersiksa" Aldo balas menciumi wajah Belinda.
"Jangan pernah meninggalkanku dalam keadaan apapun" pinta Belinda.
"Tak akan sayang, aku berjanji" balas Aldo.
Aldo pun langsung menggendong Belinda seperti induk koala yang menggendong anaknya tanpa melepaskan pagut@n bibirnya.
Malam pertama yang sempat terganggu, akan mereka tuntaskan malam ini.
Duh kebayang habis bertengkar terus bercint@ tuh rasanya akan beda sekali besty. Rasa amarah dan rindu bersatu padu menjadi satu dalam setiap hentak demi hentak yang akan Aldo lakukan.
__ADS_1