Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
TieffhanyYangIngientzClaloeDiManjachhhh


__ADS_3

Belinda dan Ben tertidur dalam satu selimut. Ben mendekap erat tubuh sang istri. Tetapi hal itu tidak bertahan lama tak kala panggilan ponselnya berbunyi. Tertulis nama mama disana.


"Hallo ma" ucap Belinda dengan suara khas bangun tidur.


"Bella maaf mama mengganggu tidurmu nak! Fany nak Fany keserempet mobil sekarang sedang ada di rumasakit. Kamu sama Ben kemari" suara Haruni panik.


"Yasudah ma dimana rumasakitnya? Aku kesana sekarang" Belinda lalu beranjak dari pelukan Ben, membuat Ben terkejut.


"Ada apa Bella?" tanya Ben dengan muka bantalnya.


"Fany kecelakaan!" ucap Belinda.


Seketika Ben terdiam, Tak lama langsung berlari ke kamar mandi untuk cuci muka lalu langsung menyambar kunci mobilnya berangkat tanpa menghiraukan Belinda yang masih diam melihat wajah Ben bisa sepanik itu. Ben baru menyadari ketidak adaannya sang istri kala dirinya sudah setengah perjalanan menuju rumasakit.


"Ya Tuhan Bella tertinggal. Aku lupa tak mengajaknya! Bagaimana jika dia sampai curiga?" Ben kesal pada dirinya sendiri.


Tak di sangka Belinda sudah menyusul mobil itu dengan memakai mobilnya sendiri. Ben pun tidak terlalu panik.


Skip


Sampailah mereka di rumasakit tempat Tiffany di rawat. Ben dan Belinda masih memakai baju tidur tanpa memperdulikan tatapan aneh orang-orang sekitar.


"Dimana pasien atas nama Tiffany Angela korban kecelakan Sus?" Belinda bertanya pada perawat yang lewat.


"Ruangan jingga no 105 Bu" ucap perawat itu.


Belinda dan Ben pun langsung menuju ruangan itu.


Mereka masuk dan mendengar Tiffany sedang mengaduh karena kaki dan bokongnya baret terkena aspal jalan.


"Fany kamu tak apa-apa?" Belinda sangat khawatir.


"Tak apa-apa bagaimana sih Kak, lihat kaki sama bokongku luka-luka" Tiffany menangis manja dan semakin menjadi tak kala melihat kedatangan Ben.


"Kakak ipar aku sakit!" Tiffany langsung mengalungkan tangannya pada tangan kekar Ben, hal itu membuatnya merasa tak nyaman.


Ben mencoba melepaskan tangan Tiffany tapi sangat susah.


"Fany, dia suami kakak! Kamu gak bisa seperti ini" Belinda tampak tak suka dengan aksi Tiffany yang berlebihan.


"Aku hanya ingin lebih dekat dengan kakak ipar. Tak apakan Kak Ben aku sedikit bermanja denganmu karena kau sudah ku anggap kakak sendiri" Tiffany malah semakin mengeratkan pelukannya membuat Haruni sang mama menahan emosi sampai giginya gemeratuk.


Tak lama dokter datang memerika kembali luka-lukanya.


"Bagaimana dokter dengan luka adik saya?" tanya Belinda memastikan.

__ADS_1


"Lukanya tidak terlalu parah, tak ada luka dalam maupun memar ataupun pendarahan. Ini hanya luka baret saja karena gesekan dengan aspal jalan. Malam ini juga Nona Tiffany bisa pulang. Rajin lah di bersihkan lukanya agar cepat kering" Dokter cantik itu menjelaskan dengan ramah.


"Ini sakit sekali dokter dan anda hanya bilang ini luka kecil? WTF anda ini dokter atau apasih. Ini itu parah" Tiffany ingin sekali terlihat menderita agar Ben iba terhadapnya.


Dokter cantik yang bernama Djelita itu tampak tidak suka dengan ocehan Tiffany.


"Jika saya bukan dokter, saya tidak akan mungkin berada di hadapan anda nona! Anda bisa pulang malam ini juga tidak harus di rawat. Usahakan obatnya di habiskan. Semoga anda cepat sembuh" dokter itu meninggalkan ruangan Tiffany.


"Fany kau sudah boleh pulang! Ayo kita pulang sekarang" Belinda membawa barang-barang dan tas Tiffany.


Belinda tak sengaja melihat Lingerings milik sang adik dalam tasnya. Dia pun membukanya dan memperlihatkan baju harom itu pada sang empu.


"Baju dinas siapa ini Fany? Aku baru tahu kau punya Lingerings" Belinda bertanya sembari menatap sang adik dengan curiga.


"Itu punyaku! Ada masalah kalau aku punya baju itu?" Tiffany menjawabnya santai, tetapi hati Beb tak tenang.


"Ya untuk apa seorang gadis punya baju ini? Ya kecuali gadis itu sudah pernah bahkan sering tidur dengan pria" Belinda berkata demikian dengan spontan.


Ben dan Tiffany seketika berwajah pucat.


"Sudah-audah, ayo kita pulang!" Haruni mengajak semua anaknya pulang.


Ketika Tiffany ingin beranjak dari brangkar, dia mengaduh kesakitan tidak bisa berjalan.


"Bangun pelan-pelan jangan manja Fany" Belinda sudah semakin kesal dengan adiknya yang so manja padahal lukanya hanya baret saja.


"Kak Be tega banget sih bilang seperti itu? Coba kalau Kak Bella ada di posisiku..Hihihik" Tiffany menangis.


"Yasudah biar aku saja yang membantu Fany" Ben spontan membopong tubuh kekasihnya itu.


"Tiffany dengan tidak tahu malunya langsung merangkul bahu kekar Ben dengan kedua tangannya sembari membenamkan kepalanya pada dada sang kakak ipar sekaligus kekasihnya itu.


Belinda dan haruni mengikuti langkah Ben dari belakang.


Ada rasa nyeri di hati Belinda melihat itu semua. Menurutnya Tiffany sudah bertindak sedikit lancang pada Ben.


"Gara-gara aku mengejarmu Ben jadi seperti ini" bisik Tiffany yang hanya bisa terdengar oleh Ben seorang.


"Aku tidak menguruhmu mengejarku" ucap Ben dingin.


Sesudah sampai di depan mobil, Tiffany ingin duduk di depan bersama Ben, Dan lagi-lagi Belinda mengalah.


Sampailah di kediaman Haruni, Lagi-lagi Tiffany beralasan tidak kuat berjalan, Ben lah yang mengantarkannya sampai ke kamar.


"Kak Bella menginap lah" Tiffany sebenarnya tidak peduli dengan sang kakak, dia ingin lebih lama bersama Ben.

__ADS_1


"Tidak! Aku harus bekerja besok! Kami ingin melanjutkan mimpi yang sempat tertunda gara-gara ada insiden kecil. Ben ayo kita pulang" Belinda segera menarik tangan Ben dengan kasar. Pria itu hanya pasrah saat tangan Belinda menarik paksa keluar dari kamar Tiffany.


"Argghhhh!! Ben kau hanya miliku" ucap Tiffany sembari berjalan mengikuti Ben yang sudah keluar dari rumah itu.


"Kamu bisa berjalan ternyata!" Seru Haruni.


"Aku tidak lumpuh ma. Aku hanya ingin merasakan pelukan dan rangkulan Ben" ucapnya tanpa merasa berdosa.


"Kamu sudah benar-benar sakit" Haruni sangat kecewa dan langsung keluar dari kamar sang putri.


Ben pulang bersama dengan Belinda dalam satu mobil yang sama! Di dalam mobil itu tak ada suara hanya ada keheningan yang menyelimuti keduanya. Yang terdengar adalah deru nafas yang saling bersahutan.


"Mungkin ini salahku karena melanggar janji pada Tiffany untuk tidak menyentuh Bella, Tapi aku malah terbuai dan akhirnya Tiffany kecelakaan. Bella egois sekali ingin merebutku dari Tiffany" Ben terus bermonolog dalam hatinya.


"Aku merasakan jika Ben dan Fany sudah saling mengenal sebelumnya, terlihat dari gestur mereka, tapi mereka bilang tidak saling kenal sebelumnya. Ya Tuhan berikan aku petunjuk karena saat ini hamba sedang bimbang" Gumamnya dalam hati.


Skip


Tiba di rumah, Ben langsung masuk kedalam rumah meninggalkan Belinda yang masih terdiam di mobil. Belinda kemudian menyusul Ben kedalam rumah.


Ben terlihat sedang memasukan baju-bajunya kedalam koper.


"Mau kemana kau?" Belinda berkacak pinggang.


"Aku tak tahan denganmu!" Seru Ben.


"Lantas kau mau kemana pria labil?" Emosi Belinda naik dua oktaf.


"Aku akan pergi" Jawab Ben dengan suara penuh emosi.


"Aku menyesal menikah denganmu" ucap Ben.


"Aku pun begitu" jawab Belinda tak mau kalah.


"Aku sudah memperlakukan kau selayaknya suami yang baik, menutupi keburukanmu pada dunia. Tapi jika kau ingin pergi, sana pergi yang jauh saja Ben, aku tidak peduli" Belinda seketika menangis tergugu.


Ben seketika tersadar dan berhambur kepelukan memeluk Belinda.


"Bella, Bella maafkan aku sayang maafkan aku" Ben ikut menangis menyesali perbuatannya.


"Pergi dari sini atau aku yang pergi" Belinda masih menangis dan enggan untuk di sentuh Ben.


"Tidak Bella tidak! Jangan begitu aku, aku, aku minta maaf sayang. Aku tidak ingin kau pergi tetap disisiku aku khilaf" Ben pun membantu Belinda berdiri lalu membantunya membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Maafkan aku Bella" Ben pun mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah sang istri.

__ADS_1


__ADS_2