
Entah pagi ini Belinda merasakan tubuhnya sakit dan kepalanya serasa berkunang-kunang. Seharusnya dia bangun lebih awal karena jadwal rapat tahunan perusahaannya.
Haruni yang sudah menunggunya dimeja makan, merasa heran karena sang putri tak kunjung keluar.
"Pa, Bella kok belum keluar dari kamarnya ya?" tanyannya sedikit cemas.
"Ah palingan sedang mandi ma. Tunggu saja" ucap Dhanu sembari mengunyah roti panggang.
Hingga Haruni menghabiskan sarapannya, Belinda tidak kunjung keluar kamar.
"Apa anak itu tidak bekerja?" tanya dalam hati.
Haruni pun langsung berjalan menuju kamar Belinda.
"Bella ini mama. Kamu tidak berangkat kerja nak?" teriaknya dari luar kamar.
Tidak ada sahutan.
"Bella, mama masuk ya sayang" Haruni pun membuka pintu kamar itu dan mendapati Belinda masih bergelung dalam selimut seperti kepompong.
"Bella, kamu kenapa?" Haruni langsung membuka selimut yang membungkus sang putri.
Terdengar suara deruan nafas Belinda yang berat dan badannya demam
"Sakit ma" ucap Belinda terbata-bata.
"Bella badanmu panas banget nak! Kamu demam" Haruni segera meraih tubuh sang putri.
"Hanya demam saja ma. Aku mau tidur saja. Tolong bilang pada Fany, suruh dia kekantor menggantikanku karena hari ini ada rapat tahunan. Aku gak kuat ma , badanku lemas" ucap Belinda.
"Iya nanti mama telepon dia" balas Haruni.
"Kamu sebaiknya kerumasakit saja ya?" Haruni bertanya sekali lagi.
"Panggilkan dokter pribadi saja ma. Aku hanya demam" ucap Belinda.
Haruni pun kemudian memanggil sang dokter itu.
"Bagaimana dok, dengan keadaan anak saya?" tanya Haruni cemas.
"Hanya demam Nyonya dan sepertinya Nona Bella kelelahan" jawab sang dokter.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ben dan Tiffany masih terlelap dalam mimpinya setelah lelah semalam melakukan pergulatan panasnya. Rasa lemas seakan mengurung diri mereka untuk tidak bergerak tetapi panggilan pada ponsel Tiffany tidak mengizinkan mereka telelap lebih lama lagi. Tiffany pun meraih ponselnya.
"Hallo" sapanya dengan suara khas bangun tidur.
"Fany cepat kemari. Kakakmu sakit jadi hari ini kamu yang menggantikan Bella pergi kekantor. Tidak pakai lama segera kemari ya. Dan satu lagi, tolong belikan obat nanti resepnya mama tulis di WA saja" Haruni berkata dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Tumben Kak Bella sakit. Aishhhhh aku masih ngantuk padahal tapi kalau gak nurut, mama bisa-bisa ngamuk" Tiffany pun segera berdiri menuju kamar mandi.
"Bella kenapa? Fany, Bella kenapa?" Ben segera bangkit karena mendengar perkataan Tiffany barusan.
"Idihhhh, apa sih Ben!" ucap Tiffany kesal.
"Fany, Bella kenapa?" tanya Ben sembari mengguncang-guncangkan bahu sang istri.
"Kak Bella sakit. Lagi pula kenapa sih reaksimu?" Tiffany kesal.
"Aku hanya khawatir saja kan dia kakak iparku" alasan klasik yang Ben lontarkan.
"Omong kosong. Awas ya Ben kamu jangan aneh-aneh. Kamu itu milik aku! Sudah deh kamu jangan kerumah mama. Berangkat saja sendiri" Tiffany kesal lalu masuk kedalam kamar mandi.
"Bella aku mengkhawatirkanmu" gumam Ben yang segera berlari kekamar mandi lainnya agar segera pergi kerumah sang mertua menemui Belinda.
Tiffany pun keluar dari kamar dengan baju kerjanya menghampiri Ben yang sudah siap mengenakan kemejanya.
"Ben kapan kamu mandi?" tanya Tiffany heran.
"Aku mandi di kamar mandi sebelah. Fany buatkan aku kopi!" ucap Ben sembari matanya terus melihat ponselnya.
__ADS_1
"Hmmm" Tiffany hanya berdehem sembari berlalu kedalam dapur.
"Sepertinya aku harus belajar memasak dan melayani Ben tidak hanya diatas ranjang saja. Aku takut jika Ben terus mengharapkan Kak Bella. Aku harus mengurus Ben dengan baik" gumam Tiffany dengan senyum mengembang.
Tiffany pun menuang tiga sendok kopi hitam dan satu sendok merica yang dia kira adalah gula.
"Kopi spesial untukmu sayang. Gak hanya Kak Bella yang pandai menyenangkanmu, tapi akupun bisa" ucapnya dengan percaya diri.
Dia pun membawa secangkir kopi spesialnya pada Ben.
"Taraaaaa!!! Kopi spesial untuk orang spesial. Buatanku tak kalah enaknya dengan buatan Kak Bella" ucapnya dengan dada membusung.
"Begitu dong harus bisa melayani suami bukan hanya diatas ranjang saja" balas Ben sembari mengambil cangkir berisi kopi buatan sang istri.
Detik berikutnya Ben langsung menyemburkan kopi itu.
"Arghhhhhh kopi apaan ini? Rasanya pedas! Fany kau mau meracuniku ya?" Ben tampak kesal karena mulutnya merasa kebas.
"Apa sih, orang ini kopi spesial" jawab Tiffany seolah tidak terima Ben menyemburkan kopi buatannya.
"Spesial, spesial pala loe peang! Minum tuh kopi spesial buatanmu" Ben kesal lalu segera meminum air putih.
Tiffany pun mencoba buatannya dan dia pun langsung lari menuju tempat cuci piring untuk memuntahkan kopi itu.
"Pedas, huuh haahhh pedas!" Tiffany merebut air yang dipegang Ben.
Mereka pun akhirnya bersiap-siap berangkat.
"Ayo bersamaku berangkatnya!" ucap Ben.
"Aku sendiri saja Ben! Aku mau kerumah papa dulu" jawab Tiffany.
"Yaitu aku juga mau kerumah papa!" balas Ben.
"Mau ngapain kerumah papa segala sih?" Tiffany mulai mencium gelagat aneh dari Ben.
"Mau jenguk kakak ipar" jawab Ben santai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara dirumah, Aldo merasakan cemas dalam hatinya. Pikirannya terus tertuju pada sang kekasih. Dia pun segera menelepon Belinda.
"Hallo" suara diseberang telepon tetapi bukan suara Belinda melainkan suara Haruni.
"Hallo tante, Bella nya ada?" tanya Aldo.
"Bella sedang sakit nak Aldo. Jadi tante yang mengangkat panggilan darimu" jawab Haruni.
"Baiklah tante, aku kesana sekarang" tanpa menanyakan sakit yang diderita Belinda saat ini, Aldo sudah gaspol menuju mobilnya.
Didalam mobil, dia langsung menelepon Panji sang aspri.
"Hallo Pak Aldo!" sapa Panji.
"Panji, hari ini saya tidak kekantor! Ada kepentingan" ucap Aldo terdengar tergesa.
"Maaf Pak Aldo, hari ini kita akan rapat dengan investor asal Jepang, Tuan Yamakate" Panji berkata dengan nada sedikit keberatan.
"Kamu saja yang wakilkan" Aldo segera mematikan panggilan itu.
"Huuuhhh dasar darah muda, selalu saja begitu" keluh Panji.
Aldo saat ini sudah tiba dirumah Belinda tepat saat Ben dan Tiffany sampai.
"Aldo! Mau apa dia kemari?" tanya Ben kesal dalam hati.
"Selamat pagi Bu Fany dan Pak Ben!" sapa Aldo ramah.
"Ughh manisnya" ucap Tiffany tak sadar disampingnya ada Ben yang sudah melotot tajam kearahnya.
"Mau apa kamu kemari?" langsung saja to the point pertanyaan Ben.
__ADS_1
"Saya mau jenguk kekasih saya pak! Mari" Aldo dengan tenangnya melenggang masuk kedalam rumah.
"Mereka pacaran?" tanya Tiffany.
"Ya!" jawabnya kesal.
"Kak Fany turun kasta. Dari suami seorang CEO sekarang punya kekasih mantan asprimu" Tiffany tertawa meremehkan.
"Aldo pemilik dua perusahaan sekaligus asal kau tahu. Dia konglomerat sekarang. Aku kecolongan" jawabnya lalu masuk kedalam rumah.
Aldo pun menemui Dhanu dan Haruni diruang tamu.
"Om, apa saya boleh menemui Bella?" tanya Aldo terlihat sangat cemas.
"Kamu sepertinya sangat mencemaskan anak om?" tanya Dhanu.
"Saya sangat mencemaskan keadaan kekasih saya" jawab Aldo mantap.
"Jadi kalian sudah berpacaran?" tanya Haruni.
"Benar tante! Bagaimana apa saya boleh menemui Bella?" tanyannya kembali.
"Tentu boleh! Bella ada dikamarnya" Haruni pun berdiri dan mengantar Aldo menuju kamar Belinda.
Sesampainya dikamar Belinda, Haruni langsung keluar dan membiarkan Aldo masuk sendiri.
Aldo menyingkap selimut yang menutupi Belinda lalu meraba keningnya.
"Panas sekali" gumamnya.
"Bella, ini aku" ucap Aldo lembut.
"Aldo" ucap ya terbata.
"Kita kerumasakit sekarang" ajak Aldo.
"Tidak usah. Aku sudah diperiksa oleh dokter pribadi. Aku hanya demam dan kelelahan" jawab Belinda.
"Syukurlah jika begitu. Aku sempat berpikir kalau~~~" Aldo tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.
"Kalau aku apa?" tanya Belinda yang langsung duduk dan bersandar pada dashboard ranjang.
"Aku takut kamu hamil. Ya jadi sakitmu ini karena hamil anak Ben. Aku takut Bella" Aldo mengatakan itu dengan suara getir.
"Aku tidak hamil Aldo. Sekarang pun sedang menstruasi! Lagi pula aku melakukan itu dengan Ben hanya dua kali selama pernikahan itu pun aku meminum pil pencegah kehamilan karena aku tahu pernikahan ini tidak akan bertahan lama" tutur Belinda.
Aldo pun langsung memeluk Belinda.
"Aku lega mendengarnya. Ben datang lagi kemari, sebaiknya kamu ikut aku saja kerumah agar Ben tidak terus bertemu denganmu" ucap Aldo penuh dengan kekhawatiran.
"Aku tidak bisa kemana-mana. Jalan kakipun lemas rasanya" jawab Belinda.
"Yasudah tapi jika Ben ingin kemamarmu, kunci saja pintunya" ucap Aldo.
"Kamu takut banget ya aku ditemui Ben?" tanya Belinda sembari terkekeh dengan keposesifan sang kekasih.
"Takut banget, banget, banget sayang" Aldo langsung meraih tubuh lemas itu.
"Aldo!" ucap Belinda.
"Hmmmm" hanya deheman yang Aldo gumamkan sebagai balasan.
"Aku sayang kamu" ucap Belinda.
"Really?" tanyannya.
"ya" jawab Belinda.
"Aku bahagia" ucap Aldo semakin mempererat dekapannya.
Mereka berdua tak menyangka bila seseorang dibalik pintu memandang mereka dengan tatapan marah.
__ADS_1