Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Kebahagiaan Aldo dan Listyo.


__ADS_3

Belinda menggeliat manja dibawah selimut tebal itu kala sang mentari pagi nenembus tirai kamar apartemen itu.


Seketika wangi masakan tercium dari arah dapur.


"Eughhhhh!!! Badanku sakit semua" ucapnya.


Ia mengingat semalam Aldo sangat buas sekali.


"Intikku juga linu dan perih" ucap Belinda lagi.


Aldo menghampiri Belinda yang masih terbaring diatas tempat tidur.


"morning!" Aldo langsung menciumi kening sang istri.


"Morning sayang! Maaf aku kesiangan" ucap Belinda.


"Tak apa sayang! Maaf ya sudah membuat kamu kelelahan" balas Aldo.


"Lelah membawa nikmat" sela Belinda sembari tersenyum.


Karena khawatir dengan keadaan sang istri, Aldo pun menyingkap selimut yang membuat tubuh polos itu terekspos.


"Sayang, mau apa?" tanya Belinda heran.


"Buka kakimu!" ucap Aldo sembari berjongkok.


Belinda membuka kakinya, Aldo memeriksa inti sang istri yang ternyata terdapat luka lecet di sana.


"Maaf ya pasti ini sakit" Aldo berkata sembari mengusap permukaan merah jambu itu.


"Sedikit, tetapi itu akan sembuh jadi kamu tak usah khawatir" balas Belinda.


"Yasudah kamu mandi dulu ya, sesudah itu kita makan. Aku sudah buat sup jamur dan mie goreng untuk kita sarapan" ucap Aldo sembari menggendong sang istri lalu memasukannya kedalam bathub yang sudah terisi air hangat dan aroma terapi.


Sungguh perlakuan Aldo pada sang istri yang begitu mengistimewakannya membuat Belinda merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia. Sosok pria dingin namun tampan itu berhasil memberikan cinta sepenuh hatinya pada Belinda. Selain tampan Aldo juga bisa di katakan pria konglomerat dan jangan lupakan bagaimana ganasnya ketika sedang di atas ranjang.


Satu bakat Aldo yang Belinda baru mengetahuinya ternyata sang suami pandai sekali memasak.


"Ini sangat enak!" puji Belinda sembari mengunyah suapannya.


"Kamu lah orang pertama yang bilang kalau masakan ku enak" balas Aldo.

__ADS_1


"Memang kamu pernah memasak untuk siapa?" tanya Belinda dengan tatapan menyelidik.


"Tidak pernah untuk siapa-siapa sih, hanya untuk diriku sendiri" jawab Aldo dengan santainya.


"Apa kamu tidak pernah punya hubungan apapun dengan wanita selain aku?" tanya Belinda.


"Tidak dan tidak mau. Selama ini aku menutup hatiku untuk wanita manapun. Dan lagi pula tak ada yang menarik di mataku selain dirimu. Selama bertahun-tahun ku biarkan hati ini dingin tidak tersentuh bahkan wanita-wanita yang mendekatiku bilang kalau aku ini seorang gay sebab menolak mereka" tutur Aldo.


"Terimakasih sudah membuatku merasa spesial" Belinda berjalan kearah Aldo, lalu mendudukkan bokongnya di pangkuan Aldo.


"Kamu memang spesial dan layak di tunggu" balas Aldo sembari melingkarkan tangannya di pinggang ramping itu.


"Pinggangmu ramping sekali, maaf sudah membuatmu bersedih selama tiga bulan ini. Makan yang banyak ya, biar seperti dulu lagi berisi" pinta Aldo sembari mengelus perut rata itu.


"Aku bisa memakluminya sayang. Jikalau aku jadi kamu juga pasti aku akan melakukan hal yang sama. Pergi atau entah kata pisah sesuai dengan surat perjanjian pranikah itu. Jujur saja waktu kamu pergi saat itu dari hotel, aku, papa dan papi Tyo tak sadarkan diri lalu aku menjalani hari-hari yang sangat sulit hingga aku hampir gila rasanya" tutur Belinda dengan tangan meraih wajah Aldo yang sangat tampak guratan penyesalan.


"Maafkan aku, maafkan aku. Aku juga saat itu sempat sedikit mendengar keributan tetapi aku tak sanggup kembali lagi kesana, hatiku benar-benar sakit waktu itu. Sayang, sekali lagi maafkan atas ketidak percayaan ku padamu waktu itu. Aku menyesal dan asal kamu tahu, dalam masa pelarianku kesini, aku juga sebenarnya sangat merindukanmu. Aku sakit dan selalu memandang fotomu. Panji bilang kamu mabuk di bar kan? Meracau dan menangis semalaman?" Aldo ingin memastikan kebenaran yang Panji sang asisten katakan.


"Darimana dia tahu kalau aku teler di bar? Apa jangan-jangan yang mengantarku pulang, dia? " Belinda menjadi ingat kalau ia pernah mabuk di bar semalaman, lalu ada seorang pria membujuknya agar berhenti minum tetapi Belinda tidak menghiraukannya.


"Ia itu Panji. Dia saat itu ingin menemui temannya di bar, lalu tak sengaja melihatmu sedang meracau. Panji pun sempat menghubungiku. Aku saat itu benar-benar khawatir tetapi Panji bilang dia akan segera mengantarmu pulang" ucap Aldo


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara Ben sekarang sedang di liputi kemarahan akibat tahu jika Listyo sang papi tengah menjalin hubungan dengan Elsa. Ben sungguh tak habis pikir kenapa sang papi jatuh cinta lagi. Menurutnya posisi sang mami yang sudah tiada akan tergantikan.


"Dari kapan papi berhubungan dengan Elsa? Pi,, arghhhhhhh seharusnya papi ingat umur pi, kenapa papi masih memikirkan cinta?" tanya Ben heran.


"Apa hak mu melarang papi berhubungan dengan wanita manapun? Papi sejak lama duda dan ingat hanya Elsa yang bisa menghangatkan hati papi" balas Listyo tak kalah sengit.


"Aku tidak mau mami tergantikan" ucap Ben dengan kesal.


"Mami mu sudah lama tiada. Apa waktuku menduda selama hampir sama dengan usiamu kurang untuk membuktikan kesetiaan ku, hah? Kau sudah dewasa Ben, tak elok kau begini. Papi juga ingin bahagia" ucap Listyo.


"Dan ingat, papi sampai kapanpun akan tetap mencintai Elsa..Bahkan kami sudah berbagi ranjang dan keringat bersama" Listyo pun berkata jujur bahwa dirinya dan Elsa sudah pernah bercinta.


"Arghhhhhhhhh" teriak Ben kesal sekali.


"Papi berzin*? Astaga pi!" pekik Ben.


"Tidak! Kami bahkan selalu melakukan itu siang dan malam. Ben, papi akan jujur bahwa kami telah menikah siri dua minggu yang lalu. Maaf papi tidak jujur padamu karena keadaanmu sedang kacau" kali ini Listyo merasa bersalah dengan sang putra.

__ADS_1


"Apa, papi menikah diam-diam? Papi benar-benar tidak menghargaiku" Brughhhhh... Ben membanting pintu dengan kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Listyo berjalan gontai memasuki rumah Elsa. Perkataan Ben sungguh mengusik hatinya.


Elsa menghampiri sang suami, memeluk dan mencium penuh kasih sosok yang pantas di jadikan ayahnya itu.


"Mas, sudah pulang" Elsa mengecup bibir Listyo dengan gemasnya. Listyo pun membalasnya.


"Mas cape, sayang" ucap Liatyo.


"Katakan padaku, sebenarnya mas kenapa, hem?" kini Elsa sudah duduk di sampingnya.


"Ben marah besar padaku saat aku katakan kita sudah menikah!" ucap Listyo lesu.


Elsa tak heran, ia segera duduk di pangkuan Listyo. Ia tersenyum pada sang suami yang sangat ia cintai karena dari Listyo lah dirinya mendapat cinta kasih yang tulus walau usia tak bisa berbohong, yang artinya sangat jomplang.


"Hey sayang, lihat aku. Kita akan bisa luluhkan hati anakmu. Dia hanya terkejut saja apalagi tahu istrimu adalah mantan asisten pribadinya. Kita akan baik-baik saja. Aku sangat mencintaimu. Darimu lah aku menemukan sosok pelindung" kini Elsa memeluk Listyo sembari memainkan jari-jarinya pada dada bidang nan kokoh itu. Hal itu membuat sesuatu di bawah sana menggeliat.


"Elsa, berjanjilah akan selalu ada di sisiku" ucap Listyo sembari menangkup wajah ranum itu.


"Mas lah yang harus berjanji untuk selalu ada di sisiku dan Gerry! Mas aku tak butuh hartamu karena uangku juga banyak. Aku hanya ingin sosok yang bisa mengayomi dan itu ada pada dirimu" pinta Elsa.


"Aku takan meninggalkanmu dan Gerry karena dia pun sudah jadi anakku sekarang. Dan satu lagi, walau pun kamu banyak uang tapi mas akan selalu memberi nafkah setiap waktu. Itu sudah kewajiban sebagai suami pada istri. Hmmm, ngomong-ngomong kemana Gerry?" tanya Listyo mengedarkan pandangannya mencari bocah gembul itu.


"Malam ini dia ingin menginap di rumah tantenya. Tadi Ambar kemari menjemput Gerry" jawab Elsa.


"Sayang!" seru Listyo sembari mencengkram erat pinggang Elsa.


Elsa seakan paham maksud sang suami.


"Hmmm!" hanya di balas lewat deheman.


"Aku mau mencoba di atas meja makan" pinta Listyo.


"Itu ide bagus. Sayang apa kamu menginginkannya? Bukannya malam sudah ya sampai jam dua malam kita baru selesai?" tanya Elsa yang tak mengerti kenapa om, om yang satu ini sangat maniak sekali.


Maklum gaes, menduda sejak Ben berumur lima tahun.


"Kamu buat mas candu" ucap Listyo tak banyak bicara ia segera memangku sang istri lalu menyatukan bibirnya, membawanya ke atas meja makan..

__ADS_1


__ADS_2