
"Ceritakan padaku tentang pernikaahanmu,
Bella!" seru Sofie.
Belinda pun menarik nafas Panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar keudara.
"Aku menikah dengan pria yang membuatku mencintai dengan pandaangan pertama, namanya Ben! Aku tidak tahu jika pernikahan itu akan membuat sakit hatiku dan adiku" ucap Belinda.
"Adikmu? Maksudnya?" tanya Sofie heran.
"Ya, aku menikah dengan pria yang menjadi kekasih adiku~~~~..........." Belinda menceritakan pernikahannya dari awal. Tentang bagaimana Ben pergi dimalam pertama pernikahannya, Tentang tragedi daster ungu, tentang Ben yang selalu bercinta dengan Tiffany dan terakhir perceraiannya yang tragis. Hal itu membuat Sofie menangis kala mendengar kisah Belinda.
"Ternyata aku tidak sendiri" ucap Sofie sembari memeluk Belinda.
"Kita wanita yang malang dalam membina mahligai" balas Belinda.
"Ya kamu benar! Tetapi kita harus menjadi wanita tangguh Bella. Wanita yang tegar setegar karang dilautan! Kita tidak boleh lemah hanya dengan ujian itu. Aku sudah banyak mendapat masukan dari para manula di panti jompo yamate kudasai. Banyak manula sewaktu mudanya mengalami hal yang sama dengan kita, mereka bisa bangkit dan tentunya bisa mendapat pasangan hidup yang lebih baik" tutur Sofie menguatkan Belinda.
"Kamu benar Sofie. Aku jadi tertarik juga ingin menjadi relawan disini! Apakah masih diperlukan?" tanya Belinda senang.
"Sangat diperlukan! Tetapi bagaimana dengan kehidupanmu di Indonesia? Bagaimana dengan keluarga serta perusahaan papamu?" Sofie terlihat ragu.
"Sudah ada yang mengurusi. Aku ingin menenangkan pikiranku dahulu. Baru aku akan pulang" jawab Belinda mantap.
"Baiklah jika begitu, kamu bisa melakukan kebaikan menjadi pengurus anak-anak di panti asuhan senin dan selasa, membantu mengurus manula di panti jompo rabu dan kamis, lalu menjadi tenanga kebersihan khusus hari jumat, menyapu di jalanan maksudku, untuk tenanga kebersihan kita akan menerima gaji dan makan akan dikirimkan setiap satu minggu sekali ke apartemen kita sebagai stok makanan satu minggu kedepan"Sofie memaparkan tugas yang akan dilakukan Belinda.
"Aku mau Sofie, aku mau. Tapi mengapa harus digaji? Bukannya kita sebagai relawan ya?" Belinda masih bingung.
"Itu peraturan dari otoritas setempat. Ya lumayan saja sih, walau kita berdua sebenarnya orang mampu, tetapi terima saja untuk bekal hidup disini" jawab Sofie.
"Kapan aku mulai mengabdi?" tanya Belinda yang sudah tak sabar ingin segera bekerja.
"Besok! Aku akan menghubungi otoritas setempat dan mendaftarkanmu. Kamu akan dimintai identitas. Kamu juga akan kerja bareng aku setiap harinya. Nanti kamu juga akan melihat berbagai karakter manula dipanti jompo, ada yang penurut ada juga yang pemberontak. Kamu harus sabar" tutur Sofie.
"Untuk kesabaran jangan tanya, apakah aku kurang sabar menghadapimu Sofie dahulu sewatu kita masih kuliah? Kamu yang selalu menangis dan sangat judes pada semua orang, hanya aku, Puja dan Olga yang mau berteman denganmu" balas Belinda sembari tertawa.
Flashback sewaktu mereka kuliah.
Sofie seorang mahasiswi dari Yunani tampak selalu murung dan tak mempunyai sahabat karena pembawannya yang judes dan galak khas wanita Eropa. Disaat semua Mahasiswa/i baru dari berbagai negara berkumpul dan saling berkenalan, Sofie malah diam melamun dibawah pohon bunga sakura.
Saat itu Belinda sudah mempunyai teman baru bernama Puja dari India, dan Olga dari Scotlandia. Mereka langsung nyambung dan menceritakan kehidupannya dinegara masing-masing.
"Aku akan tinggal di apartemen sebelahmu saja" ucap Puja pada Belinda.
__ADS_1
"Wah seru! Aku senang dekat dengan teman baruku.
" Aku juga Bella, ingin tinggal di apartemen sebelahmu dan Puja" ucap gadis bule cantik itu.
Tetapi obrolan mereka terhenti kala melihat seorang gadis murung dan menahan lapar duduk dihalaman kampus.
Ketiganya langsung menghampirinya.
"Hai, kamu kenapa selalu murung? Bisakah kita berteman?" tanya Puja pada Sofie.
Sofie hanya menatap nyalang pada ketiganya.
"Hei, aku bertanya padamu!" ucap Puja kesal.
"Kau pasti dari India kan? Tubuhmu bau kari" ucap Sofia dengam remeh.
"Hei kau rasis ya!" Puja kesal dengan gadis yang ada dihadapannya.
"Asli mana kamu?" tanya Olga.
"Yunani!" jawabnya tegas.
"Kau darimana? Sepertinya kita satu ras" tanya Sofia pada Olga.
"Hmmzz, itu tidak terlalu buruk" ucapnya dengan nada menyebalkan membuat Olga kesal.
"Dan kamu yang ujung sana, tinggi kecil" tanya Sofie menunjuk pada Belinda.
"Indonesia" jawabnya singkat.
"Dimana itu?" lagi-lagi pertanyaan Sofie membuat kesal.
"Yasudah kita tinggalkan saja gadis ini" ucap Puja menggandeng tangan Belinda dan Olga meninggalkan Sofie sendiri.
Sebelum benar-benar pergi, Belinda memberikan satu bungkus roti pada Sofie.
"Untukmu!" dengan senyum ramah membuat hati Shofie menghangat. Dia pun langsung memakan roti itu karena perutnya sangat lapar.
Semenjak itu, Sofie jadi sering membuntuti ketiga gadis itu dan mencari tahu dimana mereka tinggal. Sampai pada akhirnya aksinya tertangkap oleh ketiganya.
"Sedang apa kau?" tanya Puja menangkap basah aksi Sofie ketika sedang membuntuti mereka.
"Kau mau mencuri kan?" geram Olga.
__ADS_1
"Kenapa kau mengikuti kami gadis Yunani? Apakah ada salam dari medusa?" tanya Olga kembali.
"Hei sudah-sudah! Kita sebaiknya mendengarkan saja dia bicara" ucap Belinda menengahi.
Badan Sofie bergetar karena merasa malu dan tegang tertangkap basah.
"Maafkan aku! Aku hanya ingin menjadi teman kalian. Disini aku sendiri, dan aku sangat lapar" Sofie memegangi perutnya.
"Kalau lapar, ya makan bukan curhat" seloroh Puja kesal.
"Aku belum terbiasa makan Sushi, dan terbentur bahasa juga sehingga aku bingung harus mengobrol dengan siapa karena disini jarang ada yang bisa bahasa inggris" Sofie akhirnya jujur.
Mendengar itu mereka bertiga menjadi iba.
"Ayo masuk ke apartemenku! Aku akan buat makanan untukmu" Belinda mengajak Sofie dan kedua temannya masuk ke apartemen miliknya.
Mereka pun masak-masak dan makan dengan lahapnya.
Sejak saat itu keempat gadis itu menjadi bestie, Belinda berpisah dengan ketiganya karena dia dipaksa oleh Dhanu pindah kuliah ke Canada. Tetapi hubungan mereka terus berjalan. Walau sekarang sibuk akan diri masing-masing tetapi keempatnya selalu menyempatkan untuk komunikasi di medsos.
Kembali ke laptop.
Sofie tertawa terpingkal-pingkal mengingat kekonyolan dirinya dahulu.
"Kamu menyebalkan, kamu pemaksa, dan kamu selalu menghabiskan makananku" ucap Belinda sembari terkekeh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam itu seorang Aldo berdiri dibalkon kamarnya dengan bertelanjang dada. Dada kekarnya terpampang nyata seakan siapa saja yang melihat ingin bergelayut manja, memeluk dan meraba otot kekar perut kotak-kotaknya termasuk author juga ingin dipeluk Aldo, bersembunyi dibawah kungkungannya dan berlindung dari ketidak adilan dunia karena Author tidak diberikan bansos.
Asap rokok mengepul kelangit menandakan betapa prustasinya seorang Aldo yang sangat merindukan Belinda. Netra jelaganya memandang pelita yang redup redam diseberang sana seakan menggambarkan isi hatinya.
"Bella, dimana kau sekarang!" terdengar hembusan nafas berat Aldo.
Tangannya mencengkram besi balkon dengan keras hingga tangannya memutih. Suasana angin malam cukup menambah dingin jiwanya. Hanya Belinda lah yang mampu menghangatkannya.
Aldo tak ingin berpindah kelain hati sekalipun. cintanya terpelihara untuk Belinda, hingga dia tahu sekarang tak ada lagi yang bisa menghalangi cintanya pada Belinda maka Aldo akan gaspol untuk mendapatkan Belinda walau dia harus berujuang sampai titik darah terakhir.
Jika dahulu para pahlawan berjuang untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, Maka sekarang Aldo yang akan berjuang untuk merebut hati Belinda sampai sang pujaaan bertekuk lutut dibawah kaki Aldo.
HAPPY READING...😍😊😊😊😊😊
__ADS_1
Maaf jika ceritanya kadang menyelipkan candaan-candaan. Author hanya tidak ingin pada readers merasa tegang......