
Belinda menahan bibir Aldo yang sejak tadi menciuminya dengan beringaz. Belinda tahu jika Aldo sudah tidak sanggup menahan gejolak hasratnya yang sudah melambung tinggi.
"Sayang, tunggu dulu!" ucap Belinda.
"Hmmm!" Aldo hanya menjawab nya dengan deheman.
"Apa sebaiknya kita ibadah dulu sebelum melakukan itu? Kita harus meminta izin yang di atas supaya di lindungi" pinta Belinda.
"Benar juga. Maaf ya sayang, aku terlalu menggebu-gebu" balas Aldo malu-malu.
Agar proses penyatuan mereka berjalan lancar, Belinda dan Aldo pun ibadah dulu. Di setiap untaian doa yang mereka panjatkan, mereka berdua memohon agar rumahtangganya selalu di berikan keberkahan dan di jauhi dari hal yang seperti kemarin.
........
Aldo memeluk sang istri sembari berjalan mendekati ranjang. Bibirnya masih bertaut satu sama lain. Setelah kakinya menyentuh bibir ranjang, Aldo langsung melepaskan p@gut@n itu lalu menangkup wajah Belinda dengan kedua tangannya. Aldo menatap dengan cinta yang sungguh dalam pada sang pujaan. Malam ini semua beban, semua kesakitan dan prasangka yang pernah terjadi akan di tuntaskan. Aldo memandang lamat sosok wanita yang sangat ia cintai dulu maupun sekarang.
"Bella, aku sungguh, sungguh mencintaimu sayang! Malam ini aku akan membuktikan rasa itu. Izinkan aku memasuki mu!" pinta Aldo.
"Lakukanlah suamiku karena aku halal bagimu" balas Belinda dengan suara lembut.
Aldo kemudian merebahkan tubuh sang istri diatas ranjang itu. Ranjang yang seharusnya bertabur bunga mawar khas malam pertama
dengan dekor gordin-gordin yang menjuntai seperti indahnya dunia beserta hamparan lilin-lilin yang menambah kesan sensual tidak ada. Yang ada hanya ranjang berseprai putih saja sebagai saksi akan di laksanakannya penyatuan itu.
Di dalam kamar itu suara decapan bibir saling mendominasi. Setiap jengkal tidak ada yang Aldo lewatkan pada sang istri sampai keduanya tidak sadar bahwa mereka sudah polos tanpa sehelai benang pun.
Aldo membuka kaki sang istri.
"Bella!" lirih Aldo dengan suara parau.
Belinda hanya mengangguk tanda setuju.
Aldo mengarahkan sesuatu yang panjang tapi bukan umur itu pada inti sang istri.
Blesss...
"Akhhhh" keduanya sama-sama mengeluarkan suara merdunya itu.
"Inih sangat luar biasahhhhh" deru Aldo dengan nafas terengah.
"Ini sangat penuhhhh" ucap Belinda.
Aldo pun langsung bergerak maju mundur cantik.
..........
__ADS_1
Lama penyatuan itu berjalan hampir tiga jam dengan berbagai gaya dan tujuan. Ada gaya helikopter, cicak-cicak di dinding, air terjun, monyet menggendong anaknya dan gaya koboi mereka pun akhirnya selesai ketika si keju mozzarella itu meleleh.
Aldo ambruk diatas sang istri dengan peluh yang membanjiri tubuhnya.
"Sayang, terima kasih ini sangat nikmat" ucap Aldo.
"Kamu sangat luar biasa" puji Belinda.
Belinda tidak menyangka bahwa pria kulkas ini sangat jago dalam urusan ranjang padahal Aldo masih perjaka ting-ting.
Mereka pun akhirnya terlelap dalam lelah..
...****************...
Malam ini Tiffany berencana membeli perlengkapan untuk bayinya esok hari. Kandungan yang sudah membuncit itu sepertinya harus sudah mencicil peralatan untuk bayinya.
"Aku ingin di temani kak Bella untuk beli perlengkapan bayiku sekaligus ingin USG kelamin si baby. Tapi sepertinya Kak Bella akan lama di Sydney! Dan gimana ya apa dia berhasil bujuk Aldo?" Tiffany terus bertanya-tanya dalam hatinya sampai Haruni menghampirinya.
"Fany kenapa melamun?" tanya Haruni.
"Aku hanya sedang memikirkan kak Bella, ma" jawab Tiffany.
"Percayalah dia akan baik-baik saja. Sebaliknya kamu harus selalu sehat apalagi kandungan kamu sebentar lagi enam bulan. Mama hanya ingin tanya, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Ben? Karena jujur saja kalian belum bercerai kan? Ben masih sah suamimu ya walaupun dia melakukan kesalahan yang begitu patal" ucap Haruni sembari mengusap perut buncit Tiffany.
"Entahlah ma, aku sudah lelah dengan Ben. Aku hanya berharap aku dan anakku sehat itu saja. Biarkan untuk kedepannya mengalir saja seperti air" balas Tiffany sendu.
Tiba-tiba Bel pun berbunyi. Haruni yang akan menuju pintu di cegah oleh Tiffany.
"Biar aku saja yang buka ma!" ucapnya.
Tiffany pun melangkahkan kakinya menuju pintu. Setelah membuka pintu dan melihat siapa gerangan yang datang, wajah Tiffany berubah menjadi masam.
"Fany, kita harus bicara!" ucap Ben.
Ya tamu itu adalah Ben sang dewa pembuat keonaran. Ia terus datang ke rumah sang mertua untuk membujuk Tiffany agar mau memaafkannya.
"Mau apa lagi kau kemari, Ben? Aku muak denganmu" geram Tiffany pada sosok tampan namun membagongkan yang ada di hadapannya.
"Fany, please berikan aku kesempatan. Aku ingin memperbaikinya dan bisa mengurus si kecil bersama-sama. Fany memang kesalahanku begitu besar padamu, tetapi aku mohon berikan sedikit pintu maaf untukku Fany. Aku mohon" Kini Ben bersimpuh di kaki Fany dengan menangis.
Bohong jika saat ini Fany tidak ikut menangis, Hatinya yang sudah luluh lantah mustahil bisa utuh seperti dulu lagi. Apalagi kini benih Ben bersemayam manja di dalam rahimnya.
"Papi mengusirku, seisi dunia membenciku termasuk para readers di novel ini semua membenciku Fany. Aku mengaku bersalah dan akan segera meminta maaf pada Aldo dan Bella atas semua tingkahku. Fany aku hanya punya kamu dan calon bayi kita" Isak Ben.
"Seharusnya kau berpikir panjang sebelum kau melakukan sesuatu. Kau bukan hanya mempermalukan Aldo dengan kak Bell tetapi kau membuat semua kekacauan yang terjadi bahkan lebih parahnya kau hampir membuat papa dan mertua mati kena serangan jantung.
__ADS_1
Aku sudah memaafkan mu Ben, pergilah dari hadapanku aku lelah" Tiffany hendak menutup pintu namun tangan kemar itu segera menghalangi.
"Jangan biarkan anak kita kehilangan sosok ayah! Fany aku sadar bahwa kamu satu-satunya wanita untukku. Tolong jangan ada kata perpisahan, tolong" ucap Ben sembari menangkupkan kedua tangannya.
"Ben kau pernah bilang sudah tak mencintaiku lagi karena obsesi gilamu ingin kembali bersama kak Bella, sekarang kau tak bisa gapai itu dan merengek ingin kembali padaku? Kau pikir aku ini apa, Ben? Pergi dari sini, lagi pula pernikahan kita hanya siri jadi tidak harus repot pergi ke pengadilan, kau cukup talak aku saja beres!" pinta Tiffany.
"Tidak! Sampai kapan pun aku takan menceraikan mu Fany apalagi ada janin di dalam perutmu dan itu anakku. Fany aku tahu kamu masih sangat mencintaiku kan? Please maafkan aku dan ayo kita kembali" Ben dengan memohon memegangi pundak Tiffany.
Ada harapan dalam netra Ben walaupun ia pun tidak yakin tetapi ia tak akan menyerah untuk bisa kembali lagi.
Problematik sekali, itu lah yang Ben alami.
Tiba-tiba Tiffany memegangi perutnya. Rasa keram mendadak melanda.
"Arghhhhh, perutku sakit!" Tiffany jatuh ke lantai. Hal itu membuat haruni menghampirinya dan betapa terkejutnya melihat Ben ada di depannya.
"Arghhhhhh.. Fany kamu kenapa? Kau apakan anakku Ben?" Haruni dengan kalap memukuli Ben.
"Mama, sudah ma.. Aku tak kuat sakit sekali perutku" lirih Tiffany.
Dengan sigap Ben membawa Tiffany masuk ke dalam mobilnya.
"Fany maafkan aku" ucap Ben sembari menciumi tangan sang istri di balik kursi kemudi.
Tiffany masih meringis.
"Awas kamu Ben kalau anak dan cucuku sampai kenapa-napa" ancam Haruni yang ikut mengantar Tiffany.
"Maafkan saya ma, maafkan saya tapi sungguh saya tidak apakan Fany" mohon Ben.
Ben menjalankan mobilnya seperti orang yang kesetanan. Tak lama mobil pun sampa di pelataran rumah sakit. Tiffany langsung di tandu dengan brangkar oleh perawat.
Lama pemeriksaan, dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Ben panik.
"Kondisi ibu dan janinnya baik-baik saja, hanya saja nyonya Tiffany harus banyak istirahat dan satu lagi jangan sampai banyak pikiran. Dan selamat ya pak, anak bapak laki-laki. Terus jaga ibunya jangan buat ia stres karena itu akan mempengaruhi janinnya juga" ucap sang dokter.
"Baik dok terimakasih" balas Ben ramah.
Mendengar bahwa Tiffany mengandung anak laki-laki sungguh membuat Ben bahagia dan terharu. Ia mempunyai jagoan kecil yang akan selalu merengek ingin di belikan eskrim nantinya.
Ben langsung menghampiri Tiffany. Ia memeluk dan menciumi perut sang istri walau Tiffany diam tak memberikan reaksi apapun.
"Sayang, baby boy! Dady akan menjagamu sepenuh hati dady nak. Tumbuh yang sehat di rahim momy sampai waktunya tiba kau lahir ke dunia ya sayang. Dan bilang pada momy mu untuk mau memaafkan dady mu yang breng*ek ini ya" ucap Ben tepat di atas perut Tiffany.
__ADS_1
terbersit senyum pada bibir Tiffany melihat tingkah absurd Ben.