
Hari ini jadwal Belinda dan Sofie mengajar disebuah sekolah khusus kaum difabel.
"Selamat pagi anak-anaku! Hari ini suster Bella yang akan membimbing kalian untuk belajar" ucap Sofie dengan penuh kasih sayang.
Semua anak-anak disana langsung bersorak.
Tetapi ujung mata Belinda melihat ada satu anak yang tidak mempunyai kedua tangan hanya memakai kursi roda, duduk dengan wajah tidak ceria.
"Sofie, siapa anak itu?" Bella bertanya sembari memandang Sang anak.
"Oh dia namanya Fumiko, dia anak panti asuhan Sakura. Perjalanan hidupnya sangat sedih! Kau tahu, aku yang mengambilnya dirumah ibunya sewaktu bayi" tutur Sofie dengan wajah berkaca-kaca.
"Kenapa bisa begitu?" Belinda semakin penasaran dengan kisah hidup Fumiko.
"Dia adalah anak yang tak di inginkan kehadirannya. Orang tuanya hanya senang menanam benih tetapi tidak mau menjadi orang tua. Sewaktu ibu Fumiko hamil, saat itu dia amatlah terpukul, dia pun banyak meminum obat pengugur kandungan tetapi Fumiko janin kuat bertahan. Tak habis akal, suatu hari sang ibu pergi ke dokter abo*s* untuk melenyapkan Fumiko janin, kamu tahu kan metode apa yang dokter biadab itu pakai untuk menghancurkan kehidupan di perut wanita? Saat itu tangan Fumiko janin sudah hancur, tetapi ajaibanya alat yang di pakai mendadak rusak dan dokter biadab itu mati mendadak terkena serangan jantung dan Fumiko janin masih hidup diperut ibunya. Ibunya dengan terpaksa memelihara kandungannya sampai Fumiko lahir, kebencian itu semakin tertanam dalam pada bayi Fumiko yang tak berdosa, sang ibu tidak mau memberikan ASI padanya, setiap hari bayi itu menangis sampai tetangga wanita itu mengeluh dengan suara bayi. Waktu itu aku baru seminggu menjadi relawan dan sudah mendapatkan kasus seperti itu. Dengan beraninya aku dan polisi setempat mendobrak pintu apartemen wanita itu, dan hal yang membuat aku sangat muak dengan wanita itu adalah kala aku masuk saat itu aku mendapati wanita itu dan kekasihnya sekaligus ayah Fumiko bayi sedang bermain kartu dan meminum alkohol sedangkan Fumiko bayi menangis dan mengalami dehidrasi" Sofie menceritakan itu dengan bibir bergetar menahan amarah.
"Lantas bagaimana kamu bisa membawanya?" tanya Belinda.
"Saat itu mereka berdua terkejut dengan kedatanganku dan polisi"
Flashback ketika Sofie mengambil Fumiko bayi dari rumah orang tuanya yang minim akhlak.
"Siapa kalian?" tanya pria yang bernama Kenta itu.
"Kami mendapat laporan bahwa kalian telah menelantarkan bayi kalian, maka dari itu kami akan membawanya" ucap polisi itu.
Tak ada kata penyesalan dari keduanya.
"Ya itu memang suara bayi kami! Jika kalian ingin membawa bayi itu bawalah agar kami tidak perlu mendengar suaranya yang sangat berisik" ucap Kenta yang tidak melihat kearah lawan bicara melainkan masih bermain kartu bersama sang kekasih.
"Bawa bayi itu" tunjuk polisi dan Sofie segera membawanya.
"Kalian orang tua yang sangat buruk, kalian seperti monster" ucap Sofie kemudian pergi dari apartemen itu........
.......
"Anak itu akan ku adopsi" ucap Sofie.
__ADS_1
"Apa? Lantas bagaimana pendapat keluargamu?" tanya Belinda.
"Aku sudah dewasa dan aku tidak membutuhkan persetujuan mereka. Jika surat adopsinya sudah keluar, aku akan bawa Fumiko ke Yunani. Dari bayi, Fumiko selalu bersamaku Bella, aku sudah menganggap dia anakku dan sepertinya Fumiko juga tidak keberatan untuk bisa memanggilku ibu. Bocah itu berhak bahagia" ucap Sofie sembari berkaca-kaca.
"Yasudah semoga keinginanmu tercapai ya" Belinda memeluk sang sahabat dengan rasa keharuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aldo menatap kota Tokyo dengan perasaan yang campur aduk antara terharu dan senang.
Sekian lama akhirnya dia bisa menginjakan lagi kakinya di kota tempatnya menimba ilmu sewaktu kuliah dahulu.
"Sekarang aku sudah berada di Tokyo, tetapi harus kemana aku mencari Bella? Hummmm tapi aku harus menemukan dan bisa membawa Bella pulang! Aku tak ingin kehilanganmu lagi sayang" Aldo berbicara sembari memeluk dinginnya malam.
Tapi rasa lelah dan kantuk tak mampu Aldo tahan, Dia pun berjalan dari balkon kamarnya masuk kedalam kamar.
Ketika Aldo meninggalkan balkon kamarnya, Belinda berjalan menuju balkon guna melihat indahnya kota Tokyo pada malam hari.
"Seharian ini aku ingat pada Aldo! Huummm kenapa bisa begitu? Aldo, ya Aldo si pria pemalu juga tegas tapi sayangnya sedikit tertutup" gumam Belinda diselingi senyum gemasnya.
Drtttttttt-drttttttttttt!!!!!!
Seketika ponselnya berbunyi, disana bertuliskan Tiffany.
Sebenarnya Tiffany ingin menghubungi Belinda sedari lama, hanya no nya selalu tidak aktif, sekarang tahu no itu aktif kembali dia langsung menghubunginya.
"Ya!" Sapa Belinda dari seberang telepon.
"Kenapa kau lari Kak?" pertanyaan pertama dari seorang adik tercinta.
"Bukan urusanmu" balas Bella.
"Kau sudah kalah, Ben sudah jadi miliku seutuhnya" Tiffany sengaja memanas-manasi ketidak beruntungan sang kakak dalam pernikahannya.
"Ya aku akui memang aku kalah dan aku tidak akan menang karena kau terus menempel seperti iblis di dalam pernikahanku dengan Ben! Aku memang kalah tetapi aku menang sebagai wanita yang berhasil menyerahkan kehormatanku kepada pria yang sudah menjadi suamimu" ucap Belinda berpuas hati.
"Kalian? Tidak mungkin!" ucap Tiffany tak percaya jika Ben sudah menyentuh Belinda.
__ADS_1
"Kenapa? Ben tidak bisa menepati janjinya padamu begitu? Kami melakukan itu dengan hati yang sama-sama ikhlas dan sama-sama menginginkan. Ben sangat menikmati setiap pesona yang aku miliki, Ben mengeram, mende*ah, memekik diatasku dan seakan tidak rela jika penyatuan kami yang maha dahsyat itu terlepas" terdengar tawa Belinda dari seberang sana.
"Diam. Diam!! Ben sangat mencintaiku, tak mungkin dia mengingkari janjinya" ucap Tiffany dengan emosi.
"Tapi sayangnya Ben sudah mencintaiku sekarang" balas Belinda.
"Kau sekarang hanya dianggap sebagai mainan saja sayang!" umpat Belinda kembali.
"Jangan pernah ganggu hubunganku dengan Ben, kak" ucap Tiffany dengan suara melemah.
"Hahaha!! Aku bukan kau Fany. Ya memang aku akui kalau perasaan cinta pada Ben belum sirna, tetapi otaku cukup waras untuk tidak menjadi benalu dalam mahligai saudara sendiri. Silahkan nikmati pernikahanmu adiku. Semoga Ben masih dengan hati yang dulu" Belinda langsung mematikan panggilan teleponnya.
Belinda langsung menangis sejadinya di balkon itu. Dia tidak munafik jika cintanya masih tersisa untuk Ben, Tetapi rasa bencinya tak kalah besar pada pria itu.
"Jika aku tak ingat pesan papa, aku sudah membongkar siapa kamu sebenarnya Tiffany" ucap Belinda sembari menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Aldo sudah rapih dengan stelan santai. Matanya mengerjap ketika melihat no Whatsap Belinda sudah aktif kembali.
"Bella sudah mengaktifkan no whatsapnya" gumam Aldo senang.
Aldo segera mengeluarkan laptopnya, lalu melancak keberadaan Belinda dan alangkah terkejutnya kalau saat ini posisi mereka berdekatan.
"Bella tinggal di apartemen ini? Aku tidak menyangka ternyata aku sedekat ini dengan Bella" Aldo menghempaskan tangannya ke udara tanda bahagia.
Aldo segera menyambar topi dan maskernya, dia ingin mengikuti Belinda kemanapun siang ini. Aldo menjadi detektiv dadakan demi sang pujaan.
Aldo sudah menunggu di loby apartemen dan melihat Belinda keluar dari unitnya dengan menggunakan baju seragam kebersihan.
"What Bella jadi pasukan orange di Tokyo?" Hati Aldo bertanya-tanya.
Tanpa sadar sedang di perhatikan, Belinda berjalan ke sisi tempat Aldo duduk.
Lalu Aldo berjalan dibelakang Belinda.
"Bella, aku akan mengawasimu.. Hihihi' tawa Aldo dalam hatiny.
__ADS_1