
Setelah sekian kali di hubungi, akhirnya Ben datang ke rumasakit tempat Bella di rawat.
"Maaf sata baru dat~~"
Plak!!!!!!
Haruni menamparnya tepat di hadapan Listyo dan Tiffany.
"Darimana saja kamu hah? Anak saya di dalam sedang kesakitan kenapa kau baru datang sekarang?" Haruni geram.
"Mama kenapa tam~~"
Plakkk!!
Haruni pun menampar Tiffany.
"Darimana saja kau? Kakakmu sedang berjuang antara hidup dan mati, kenapa kau seakan tidak peduli sialan?" Haruni benar-benar kalap saat itu.
"Jeng tenang jeng!" Lisyto berusaha menenangkan besannya.
"Anda tahu selama ini anak anda selalu bercinta dengan anak saya Tiffany?" sentak Haruni.
Listyo mengangguk pasrah.
"Dan anda tahu jika dia suami dari anak saya juga, Bella?" tanya haruni kembali.
Listyo mengangguk kembali.
"Kenapa anda sebagai orang tuanya tidak menegur kelakuan anak anda Pak Tyo?" Haruni geram.
"Sudah saya ingatkan berkali-kali Bu Runi! Sampai mulut saya berbusa pun tidak di dengarkan!" ucap Listyo putus asa.
"Ben, mama tidak mentolelir semua ini. Ceraikan Belinda sekarang juga" ucap Haruni tegas.
Ben langsung berlutut di kaki sang mertua.
"Tolong ma, jangan! Saya tidak akan menceraikan Bella ma!" ucap Ben mengiba.
"Kenapa?" tanya Haruni dingin.
"Karena saya sudah nyaman dengan dia ma! Bella selalu memperhatikan saya" ucap Ben dengan tangisan.
Hal itu membuat seketika sesak di dada Tiffany.
"Kau menyakiti Bella, Ben! Kau tak bisa seperti ini. Anak saya butuh kebahagiaan bukan pernikahan laksana neraka seperti ini" Haruni berucap dengan berapi-api 🔥.
"Tolong berikan saya kesempatan" Ben terus mengiba.
"Ceraikan Bella, jika kau begitu mencintai Tiffany. Nikahi dia dan bawa pergi dari hadapan saya saat itu juga!" Haruni begitu geram.
__ADS_1
"Mama ingin mengusirku begitu?" kali ini Tiffany yang bersuara.
"Kalau iya kenapa hah? Kau sudah terlalu banyak menyakiti hati kakakmu Fany, Seharusnya kau mengakhiri semua ini dikala Ben dan Bella selesai ijab kabul, tapi kau sengaja terus berhubungan hingga berlanjut terus dari ranjang ke ranjang. Apa kau ingin di sebut sebagai pel*c*r?" Haruni begitu murka.
"Ben itu miliku ma! Sampai kapan pun juga akan jadi miliku" Tegas Tiffany.
"Dengar itu Ben! Dan ingat jika sampai anak saya kenapa-kenapa, sampai matipun saya tidak akan pernah memaafkan kalian berdua" Haruni lalu beranjak menuju ruang rawat Belinda. Haruni menangis sejadinya sembari memegang tangan sang putri.
Ben dan Tiffany diam dengan pikiran mengawang. Tiffany membatin dengan perkataan Haruni, rasanya janggal bila seorang ibu akan sangat marah kepada anaknya dengan kata-kata yang sangat menusuk.
"Mama kenapa bisa semurka itu padaku" Tiffany pun menangis.
"Ben, papi sudah tak bisa berkata apapun padamu. Papi heran di satu sisi kau sangat mencintai dia, tetapi si sisi lain kau juga ingin mempertahankan pernikahanmu dengan Bella. Ben kau kenapa?" Listyo sangat heran..Kemudian dia berjalan menuju ruang rawat Belinda.
Listyo menatap nanar sosok yang kini tengah terbaring lemah. Sang menantu kesayangan dan kebanggannya! Siapa yang tak bangga mempunyai menantu seorang CEO.
Di raihlah tangan Belinda.
"Bella, maafkan papi nak! Papi belum bisa mendidik Ben menjadi pria yang bertanggung jawab dan berprinsif. Papi selalu berdo'a untuk kelanggengan hubungan pernikahan kalian walau perjalanannya penuh dengan duri. Papi juga tidak akan marah bila seandainya kamu sudah sadar nanti, akan mengambil langkah terbaik untuk pernikahan ini. Cepat sembuh nak" Listyo terisak di samping tubuh Bella.
"Jeng Runi, Maafkan saya selaku papi dari Ben" Listyo mengiba sembari menangkupkan kedua tangannya.
"Ini kesalahan anak kita Pak" Haruni terisak.
Ben pun kini masuk ke ruang rawat itu.
"Papi, mama, maaf aku ingin berbicara berdua dengan Bella" ucap Ben dengan nada gemetar.
"Aku butuh waktu berdua dengan istriku" ucap Ben lirih.
"Tapi Ben!" Tiffany enggan keluar.
"Keluar kubilang" Bentak Ben.
Tiffany pun keluar dari ruangan itu dengan mulut mencak-mencak sembari menghentak-hentakan kakinya kesal.
Ben mendekati tubuh sang istri dengan air mata yang berurai.
"Bella! Melihatmu seperti ini membuat dadaku sangat sesak. Bella aku memang mencintai Tiffany, tapi aku juga tak ingin kehilanganmu. Maafkan aku yang egois ini~~ hukhukhuk" Ben berbicara sembari menangis.
"Aku tak sanggup bila pernikahan kita harus berakhir. Kau seorang wanita yang hebat sayang. Meski aku kerap menyakitimu tetapi kau masih sudi melayaniku. Bella, andai kau tahu, hati ini selalu tersiksa ingin setiap saat bersamamu, menikmati waktu-waktu berdua, memanjakanmu tetapi setan-setan dalam hatiku masih menginginkan hubunganku dengan Tiffany tetap berjalan. Bella sembuhlah sayang! Aku masih ingin kau layani, masih ingin melihat senyummu, masih ingin mendengar suara indahmu, Dan suara marahmu yang menggelegar aku rindu! Bella aku berjanji aku akan merawatmu hingga kau bisa beraktivitas kembali" Tutur Ben dengan air mata yang menganak. Ia meraih tangan lemah itu, lalu menciumnya dengan perasaan yang dalam. Ben meletakan tangan Belinda di dadanya.
"Cepat sembuh istriku" Ben memeluk sang istri.
Skip
Setelah beberapa hari Belinda dalam masa transisi dari koma ke sadar, Akhirnya ia benar-benar sudah terbangun.
"Mama, semua gelap ma!" Belinda sangat panik.
__ADS_1
"Sayang tenang!" Aldo memegangi tubuh Belinda yang kacau.
"Mataku kenapa?" Belinda semakin tak temang.
Andreas pun selaku dokter spesialis mata, menguatkan hatinya untuk mengatakan pada sahabatnya itu kalau dia buta.
"Bella, maaf ini harus gue katakan yang sejujurnya semoga loe tabah ya! Loe mengalami kebutaan" ucap Andreas dengan raut wajah yang sedih.
"Apa? Gue buta? Gue buta Ndre?" tanyanya seakan tak percaya dengan takdir yang selalu tak berpihak padanya.
"Benturannya sangat keras, sehingga kornea mata loe keganggu. Tapi ini kebutaan tidak permanen. Loe masih bisa melihat dalam waktu yang tak bisa di tentukan" ucap Andreas kelu.
"Arghhhhhhhhhhh, kenapa dengan hidupku Tuhan? Aku cacat sekarang, aku~~"Belinda tak mampu berkata-kata lagi hanya pilu yang di rasakannya.
Ben meraih Belinda dan memeluknya.
" Bella, kau harus tabah sayang! Semoga secepatnya kamu bisa melihat lagi" Ben mendekapnya mengalirkan rasa cemburu di dada Tiffany.
"Gara-gara kau brengs*k, aku jadi seperti ini" ucap Belinda dalam hatinya.
Niat hati ingin membongkar hubungannya, Belinda malah mengalami nasib yang naas! Mungkin semesta belum merestuinya untuk membongkar apapun tentang kebusukan Ben dan Tiffany.
Dhanu yang baru tahu kondisi sang putri sangat syok luar biasa. Dirinya tidak menyangka nasib buruk akan menimpa keluarganya terutama anak yang paling diharapkannya.
Semua orang yang ada di ruangan rawat Belinda, di suruh keluar oleh Andreas karena dia ingin memeriksa mata Belinda lebih jauh.
Pintu itu di tutup dan hanya menyisakan Andreas dan Belinda yang bergelung dalam kegelapan.
"Bella ini gue Andreas! Keluarga loe udah gue suruh keluar semua" ucapnya.
"Ndre, gue buta sekarang! Huhuhuhu" Tangis Belinda pecah.
"Badan gue serasa remuk! Bahkan kaki gue sakit sekali. Ndre apa kaki gue di amputasi?" tanya Belinda karena kakinya tak bisa di gerakan.
"Tidak Bella! Kaki loe masih utuh. Itu hanya benturan saja dengan terapi nanti juga normal kembali. Gue cuma mau nanya sama loe, kenapa bisa sampai kecelakaan begitu? Gue sangat tau gimana loe kalau bawa mobil, selalu hati-hati dan pelan" tanya Andreas pemasaran.
"Ini memalukan untuk gue ceritakan pada orang lain" lirih Belinda.
"Bella, please gue bukan orang lain. Gue sahabat loe sayang" ucap Andreas sembari memegang tangan Belinda dengan erat.
"Malam itu, gue ingin membongkar perselingkuhan adek gue dan suami gue" ucapnya tercekat.
"Hah? si Fany selingkuh sama suami loe? Terus-terus gimana lagi ceritanya?" Andreas semakin kepo.
"Gue udah gak kuat lagi menanggung rasa sakit ini sendirian, malam itu gue juga ingin mengakhiri pernikahan gue dan bilang sama papa apapun yang akan terjadi kedepannya. Pikiran gue kalut saat itu dan ya gue kecelakaan untung saja Tuhan masih berbaik hati memberikan gue kesempatan hidup" Tutur Belinda sembari menangis.
"Bella, loe tidak sendiri sayang! Loe ada gue yang selalu tulus mau bantuin loe. Apapun yang loe butuhkan selagi gue mampu akan gue lakuin" Andreas memeluk Belinda.
"Loe udah banyak bantu gue Bella! Saatnya gue balas budi sama loe. Ceritakan semua masalah yang membebani hidup loe, sampai plong di hati" ucap Andreas si dokter kemayu tapi normal itu.
__ADS_1
"Terimakasih Ndre, loe sudah mau mendengar curhatan gue" Belinda balas memeluk sahabatnya itu.