Tragedi Daster Ungu

Tragedi Daster Ungu
Ben Berbuat Ulah


__ADS_3

Aldo sudah menepikan mobilnya didepan rumah Belinda.


"Masuk dulu!" ajak Belinda sembari bergelayut manja di bahu kokoh itu.


"Sudah malam, kamu istirahat saja ya" balas Aldo.


"Yasudah aku masuk saja" Belinda hendak melangkahkan kakinya tetapi Aldo langsung menarik tangan itu lalu mendekapnya.


"Sayang, aku sebenarnya masih ingin dekatmu tapi masih ada hari esok" ucap Aldo melepaskan pelukan itu lalu memegangi wajah Belinda dengan kedua tangannya.


"Besok jemput aku berangkat kerja" balas Belinda dengan tatapan penuh cinta.


"Kemanapun Nyonya Bella pergi, aku akan mengantarmu" Aldo seketika mendaratkan bibirnya pada bibir ranum sang pujaan. memagut dan merengkuh manisnya benda ranum itu.


Lama mereka mengekspresikan cintanya lewat luma*an yang menggelora, lalu Aldo melepaskan pagutan itu.


"Aku sudah nafsu kembali, bahaya jika diteruskan" lirih Aldo.


"Aku merasakannya" kekeh Belinda sembari mencolek benda keras yang menyembul dari dari dalam celana Aldo.


"Eughhhh stop sayang jangan nakal tangannya" ucap Aldo sembari meraih tangan Belinda.


"Sensitif sekali pak" Belinda tertawa dengan reaksi tubuh Aldo.


"Namanya juga masih ori! Yasudah masuk rumah sana. Aku langsung pulang saja! By my love" Aldo mengecup kening Belinda lalu masuk kedalam mobilnya.


"Terimakasih untuk malam ini. Hati-hati" Belinda melambaikan tangannya pada Aldo.


Tak disangka seseorang melihat adegan itu dengan perasaan yang murka. Marah dan cemburu berbaur jadi satu. Tangannya mengepal seakan ingin memukul apa saja yang ada dihadapannya.


"Aku tidak rela jika Bella semakin dekat dengan Aldo" geramnya sengaja berjalan kearah sebalik tembok.


Belinda masuk kedalam rumahnya, tanpa diduga sebuah tangan kekar mencekalnya lalu membawa kedalam kamar tamu.


"Ben, apa yang kau lakukan?" Belinda sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh mantan suaminya.


"Bella aku mengetahuinya dan aku tidak terima apa yang kau lakukan dengan Aldo" ucap Ben dengan nafas terengah menahan kekesalan.

__ADS_1


"Lantas apa hubungannya denganmu Ben? Aku dan Aldo sudah menjadi kekasih, dan kauh hanyalah bagian dari masa laluku" Tolak Belinda.


"Tidak seorang pun yang bisa memilikimu kecuali aku Bella. Aku sangat mencintaimu sayang, Aku akan menikahi mu kembali lalu kita pergi sejauh mungkin. Aku yakin kita akan bahagia!" ungkap Ben dengan penuh percaya diri.


"Ckkk!! Percaya diri sekali kau, aku akan bahagia denganmu jika kembali. Ben, kisah kita sudah terkubur jauh. Lagipula yang menodai pernikahan kita itu kau. Aku dan Aldo sudah bahagia kami sama-sama saling mencintai. Maka dari itu terimalah takdirmu Ben" Belinda masih bisa mengontrol emosinya dan bersikap tenang.


Lalu ujung netra Ben melihat tangan Belinda yang memakai perhiasan pemberian dari keluarga Aldo. Seketika tangan Belinda ditariknya.


"Jadi benda ini yang sudah buat kau jatuh cinta dengan Aldo? Ckkk!!! Semurah itu hatimu Bella bisa dibeli dengan perhiasan. Oke jika begitu aku bisa memberikanmu lebih dari ini. Bercintalah denganku maka aku akan memberikan apapun" ucap Ben seolah menganggap Belinda wanita yang paling rendah.


Darah Belinda seketika mendidih, jantungnya memompa dengan sangat cepat. Kilatan amarah seakan bak tsunami yang akan menerjang apapun yang dilaluinya. Ben bukan saja telah membuatnya terluka, tetapi telah menyepelekan Aldo dan yang lebih parahnya dia sudah menempatkan Bella sebagai wanita yang sangat rendahan.


Tangan Belinda mencengkram kerah baju Ben, menatapnya dengan rasa kengerian yang membuncah.


"Dengar breng*ek, kau yang sudah menorehkan luka dihatiku selama pernikahan. Kau juga sudah membuat hari-hariku menjadi wanita yang bodoh selama satu tahun terakhir. Kau itu pria sampah tak punya arti apapun dalam hidupku. Sampah seharusnya dibuang bukan dipertahankan. Aldo itu pria istimewa bahkan dia mencintaiku jauh sebelum kau mengenalku. Aldo mengerti tidak murahan seperti dirimu yang selalu berzi*a dikala kau sudah ada istri dirumah. Sadarlah Ben kau itu pria pecundang! Pe-cun-dang!!!! Kau seharusnya tak pantas menilai seberapa murahnya diriku. Kau bahkan lebih murah dan mungkin kau tak punya nilai. Jangan ganggu hidupku" Belinda berkata dengan berapi-api.


Ben hanya bisa diam, cengo seperti seseorang yang kalah dalam pertarungan. Rasa percaya diri dalam hatinya yakin bahwa Belinda masih mencintainya seketika runtuh bak istana pasir terkena ombak dilautan.


"Buang rasa percaya dirimu bajingan. Karena aku sudah tak punya perasaan apapun terhadapmu" Belinda mendorong tubuh Ben hingga terhempas keatas ranjang dan dia buru-buru keluar dari kamar itu.


Sesampainya dikamar, Belinda menangis. Sungguh sangat tajam perkataan Ben padanya. Tidak cukup rasanya dulu Ben menyakitinya sedemikian rupa dan sekarang pun sesudah menjadi mantan suami, Ben masih saja menyakitinya.


Ben masih didalam kamar itu. Dirinya amat menyesal sudah membuat Belinda semakin membencinya. Niat hati ingin membujuk agar Belinda mau bersamanya malah membuat dia semakin jauh. Rasa cemburu melihat Belinda dan Aldo berciuman dengan ganasnya membuat akal sehat Ben seketika lenyap, hanya emosi yang menguasai dirinya hingga harus berakhir seperti ini.


"Bella, maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu semakin membenciku" Ben terduduk diatas ranjang sembari menyugar rambutnya dengan putus asa.


Sementara Aldo merasa perasaannya tidak enak. Dirinya teringat terus pada Belinda sejak pulang mengantarkannya.


Aldo pun segera menghubungi sang kekasih. Tak butuh waktu lama, Belinda segera menerima panggilan itu.


"Hallo, sayang" ucap Belinda terdengar parau.


"Bella, kenapa dengan suaramu" tanya Aldo was-was.


"Aku tak apa!" jawab Belinda.


Aldo tak percaya, dia langsung mendial tombol video call membuat Belinda gugup tapi tetap dia terima.

__ADS_1


Terlihat wajah Belinda memerah dan matanya sembab.


"Bella, ada apa?" tegas Aldo merasa khawatir.


"Tidak apa-apa. Aku hanya kelilipan, ya kelilipan debu saja" jawab Belinda berbohong yang sayangnya Aldo tahu.


"Jangan membohongiku atau aku kesana sekarang juga. Bicaralah sayang" Aldo dengan tegas ingin tahu dengan apa yang sekarang sang kekasih rasakan.


"Ben tidak terima dengan hubungan kita, dia merendahkan mu dan aku" Belinda pun bercerita apa yang tadi terjadi sewaktu Ben menariknya keruang tamu.


"Breng*ek bajingan. Aku harus membuat perhitungan pada dia. Cukup sudah dia selalu berada di atasku selama ini. Aku tidak akan membiarkanmu diperlakukan seperti itu. Aku tidak terima. Sayang, jika adikmu dan Ben masih tidak pulang saja, aku mau kamu pindah ke apartemen saja. Aku tidak mau Ben terus ada di dekatmu. Jika perlu, aku yang akan bilang pada om Dhanu" Aldo berbicara dengan nada geram terkepal tangan dengan sempurna.


"Aku pun begitu maunya. Aku akan tinggal di apartemen papa saja" jawab Belinda.


"Syukurlah jika begitu. Besok aku akan datang ke kantor Ben, aku akan memperingatinya agar tidak mengganggumu lagi. Sekarang istirahatlah jangan sampai terlalu banyak pikiran" Aldo berkata dengan sangat perhatian.


"Yasudah aku istirahat saja. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman" balas Belinda.


"Sudah seharusnya aku melindungi mu sayang" jawab Aldo lalu memutus panggilan itu.


Paginya Belinda tak ikut sarapan. Dia hanya diam saja dikamar menunggu Ben pergi untuk bekerja. Rasanya enggan untuk bertemu dengan pria itu, bayangan semalam masih menghantui pikirannya.


"Bella kok gak keluar sih ma?" tanya Dhanu.


Seketika wajah Ben menjadi pucat seperti vampire.


"Entahlah pa, semenjak dia pulang bersama Aldo tadi malam, dia menjadi begini. Apa mereka berdua bertengkar ya!" ucap Haruni.


"Mama akan panggilkan dia ke kamarnya" Haruni pun melenggang pergi menuju kamar Belinda.


"Bella, mama boleh masuk?" tanya Haruni dibalik pintu kamar Belinda.


"Masuk saja ma" jawab Belinda.


Haruni pun masuk kedalam kamar Belinda dan betapa terkejutnya sudah ada berjejer koper yang penuh dengan barang-barang milik sang putri. Lemarinya pun telah kosong.


"Ya Ampun Bella, kamu mau kemana dengan membawa semua barang-barang mu?" Haruni duduk ditepi ranjang sembari memandang lamat-lamat sang putri.

__ADS_1


"Aku mau pergi. Lebih baik tinggal sendiri daripada harus bertemu pria breng*ek itu. Aku lelah dengan sikap Ben. Aku muak! Kenapa mama tidak menyuruh mereka pulang sih? Kenapa Tiffany harus terus tinggal di rumah ini? Kurang baik apa aku pada dia, bahkan rumah gono-gini yang Ben berikan padaku aku berikan kembali pada Tiffany, kenapa dia tidak pergi juga dari sini" Belinda berkata dengan berapi-api.


"Sabar sayang sabar. Jalan satu-satunya agar Ben dan Fany pulang kerumahnya, mama akan bicara dengan Pak Listyo" ucap Haruni sembari memeluk sang putri.


__ADS_2