
Malam itu, Ben tidur memeluk Belinda dengan posesifnya. Entah hatinya terasa nyaman kala memandangi wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Ponselnya berdering, tertulis nama Red Lili mengirimi pesan di whatsapnya.
"Ben, temui aku sekarang di lantai tiga! Aku tunggu" Pesan itu seakan sebuah ancaman.
"Baiklah" jawab Ben.
Ben sedikit mengguncang-guncangkan tubuh sang istri. Dia lega karena Belinda telah tertidur pulas. Ben pun beranjak dari kamar itu menemui Tiffany di lantai tiga.
Tanpa di ketahui olehnya, Belinda bangun lalu mengikuti langkah Ben.
Sebuah ruangan mini bioskop menjadi tempat yang Tiffany tunjukan.
Ben masuk, Tiffany sudah menunggu disana.
"Fany"ucap Ben.
" Ben kau benar-benar tega sekali padaku.. Hihikhik" Tiffany menangis.
"Fany kau kenapa?" Ben heran dengan sikap Tiffany.
"Kenapa kau memberikan bunga dan cokelat pada Kak Bella? Kau tahu aku sangat cemburu padamu" Tiffany menangis sembari memukul-mukulkan tangannya ke dada Ben.
"Fany tenanglah! Aku memberikan bunga itu hanya sebagai ucapan permintaan maaf karena ku tak mengabari Bella seharian" ucap Ben berkata apa adanya.
"Sejak kapan kau harus meminta maaf pada Kak Bella?" Tiffany sangat sinis.
"Karena dia istriku. Sudah sewajarnya aku memberikan kabar untuknya Tiffany" Ben sudah mulai kesal.
"Kau sudah berubah Ben! Kau tidak mencintaiku lagi" tangis Tiffany semakin menguar.
Ben dengan sedikit kasar mencengkram bahu Tiffany.
"Apa kau bilang, aku sudah tak mencintaimu? Bilang sekali lagi!" sentak Ben.
"Ya kau sudah tak mencintai dan menginginkanku lagi Ben" Tiffany mengulang perkataannya.
"Enteng sekali kau berucap. Apa selama ini aku kurang memberikanmu perhatian hah? Di malam pengantin pun aku datang menemuimu sampai mengabaikan Bella dan aku memarahinya. Aku juga tak menyentuh Bella sampai detik ini karena janjiku padamu. Setiap malam aku berusaha menahan hasratku mati-matian untuk tak menyentuh Bella dan aku lampiaskan padamu. Ketika Bella pergi ke America, aku pun selalu menemanimu, memberikan kasih sayang cinta dan ketulusan padamu Fany! Hingga tadi seharian kita bermain di hotel, melupakan semua pekerjaanku di kantor, Kau bilang aku sudah tak mencintaimu? Dimana otakmu dimana?" Ben kesal dengan sikap Tiffany yang seenaknya.
Luruhlah air mata Tiffany kala mendengar Ben membentaknya. Dia seakan tidak mau di salahkan dan seakan dialah si paling tersakiti.
"Tapi kau memberikan bunga padanya! Aku tidak suka" Tiffany masih egios.
__ADS_1
"Bella itu istriku, di depan umum aku harus memperlihatkan bahwa aku mengasihi istriku. Nama baikku di pertaruhkan disana. Dan aku pun tak pernah berjanji padamu bahwa aku tidak akan memberikan hadiah pada Bella. Jadi stop bertingkah kekanak-kanakan" Ben di buat kesal bukan main pada kekasihnya itu.
Belinda hanya tersenyum miris mendengar percakapan mereka berdua. Dia melihat dari balik pintu. Tak munafik hatinya sakit, batinnya remuk mendengar semua itu. Tapi dia harus tegar demi satu tujuan yang akan membahagiakannya nanti.
"Terdengar sangat menggelikan" ucap Belinda dalam hatinya.
Ben lalu melangkah meninggalkan Tiffany.
Belinda segera pergi dari tempat itu menuju kamarnya untuk berpura-pura tidur kembali.
Kini menyisakan Tiffany sendiri menangis di tempat itu. Dia tidak menyangka Ben akan memarahinya.
"Apa aku terlihat kekanak-kanakan? Aku begini karena aku tak ingin kau berpindah ke lain hati Ben!" ucap Tiffany dengan nafas berat.
Saat Ben memasuki kamarnya, dia melihat sang istri tertidur dengan damainya. Ben pun mengelus kepala sang istri.
"Bella, maafkan aku! Aku sudah banyak menyakitimu dan Tiffany. Hatiku bercabang Bella. Antara mencintai Tiffany dan menginginkan dirimu terus berada di sampingku" Ben pun merebahkan dirinya di ranjang sembari memeluk Belinda.
Tak terasa pagi pun hadir. Ben dan Belinda pergi bekerja berangkat bersama tinggal menyisakan Tiffany dengan wajah yang tak sedap di pandang.
"Fany, kamu kenapa gak berangkat ke kantor?" tanya Haruni.
"Mager ma! Aku mau cuci mata dulu" jawabnya sembari melengos meninggalkan sang mama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mall Taman Melati, Tiffany sedang menikmati cuci matanya. Perutnya pun terasa lapar. Dia kemudian mendatangi resto makanan Jepang yang bernama Resto Yamate Kudasai.
Tiffany memesan semangkuk ramen panas.
Dia begitu lahap menyantap kuah mie itu.
Selesai memakan ramen, dia pun melanjutkan jalan-lalannya di mall itu. Tanpa di duga dia beradu dengan seseorang.
Tiffany marah dan menghampiri wanita yang sedang meringis.
"Jalan itu pake mata" Tiffany membentak pada wanita itu.
Wanita itu pun menatap Tiffany. Seketika bola mata keduanya terpaku.
"Viona?" gumamnya.
"Hei,.Pelakor apa kabar? Bertemu di sini ternyata" Viona berkata dengan nada ejekan.
__ADS_1
"Jaga mulut loe. Ben nyatanya lebih memilih gue di bading cewek kaya loe" Balas Tiffany.
"Kalau Ben tak di berikan umpan apem loe, mungkin dia takan tergoda sama cewek murah kaya loe Tiffany. Sukurin loe di tinggal nikah sama Ben. Gue tahu kemarin kalau Ben menikah dengan wanita yang sangat cantik. CEO pula. Ya anggap saja itung-itung karma buat loe"Viona mengeluarkan unek-uneknya pada rivalnya itu.
"Tapi gue yang menang bisa menyingkirkan loe dari hidup Ben! Ben itu sangat mencintai gue" ucap Tiffany dengan berkacak pinggang.
Karena situasi sudah tidak kondusif, akhirnya keduanya di lerai oleh keamanan mall itu.
"Awas ya loe gue belum selesai dengan loe" geram Viona.
"Gue gak takut. Dasar cewek gak laku. Gak bisa move on dari cowok gue..puihhh" Tiffany tak mau kalah..
"Sudah jangan buat keributan disini" ucap keamanan yang langsung mengusir mereka berdua.
Mereka berdua pun pulang dengan menggunakan mobil masing-masing.
Tiffany pun membelokan mobilnya ke arah kantor Ben karena dirinya merasa rindu dengan pria itu sekaligus ingin meminta maaf soal semalam.
Tiffany langsung saja masuk ke dalam ruangan Ben. Tampak Ben sedang berkutat dengan setumpuk map dan laptop yang memperlihatkan data-data perusahaan.
Tiffany memeluk Ben dari belakang sontak membuat Ben terkejut.
"Sayang!" ucap Tiffany dengan nada manjalita.
"Ada apa Fany kamu kemari di saat jam bekerja?" tanya Ben seketika menghentikan seluruh pekerjaannya.
"Aku rindu padamu sayang! Aku juga ingin meminta maaf soal hal yang semalam" ucap Tiffany ragu-ragu.
Ben menepukan tangan di atas pahanya memberi isyarat agar Tiffany duduk di pangkuannya.
"Aku sudah memaafkanmu, tetapi jangan begitu lagi ya! Aku suka Tiffany yang dewasa" ucap Ben sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih.
"Ya sayang! Ciumnya mana" ucap Tiffany manjalita.
Cup!!! Sebuah ciuman mendarat di bibir Tiffany.
Ben memperdalam ciuman itu hingga yang di bawah sana seketika mengacung bak menantang dunia.
"Sayang, ke kamar yuk!" ucap Ben dengan suara paraunya.
"Dengan senang hati baby" balas Tiffany yabg segera beranjak dari pangkuan Ben.
"Sedang apa kalian?" ucap suara dari depan pintu kala melihat Ben dan Tiffany sedang bercumbu dengan liarnya.
__ADS_1